
Yuk pencet like dulu, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena itu sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author
Jika ada yang ingin ditanyakan, kritikan dan saran silakan tulis di kolom komentar
Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.
Terima kasih
Salam Hangat,
Ilamy Harsa🍀
Selamat berimajinasi
_________
Benda kotak yang disebut ponsel itu berdering di meja. Ilham mengalihkan pandangnya yang semula sibuk membaca laporang yang dibuat oleh Akmal. Ia mengambil ponsel dan mengetuk layarnya dan menjawab pesan itu.
“Assalamu’alaikum ....” Ilham yang mengetahui siapa yang menelpon seketika menjauhkan benda kotak itu dari telinganya.
“Selamat pagi Ilham!! Nanti ada rapat di jam makan siang! Jangan lupa ya!” suara dari ponsel itu terdengar lebih keras meskipun tidak mengaktifkan fitur pengeras suara.
“Harus di jam makan siang ya?” Ilham sebenarnya tidak suka dengan tingkah berapi-api ciri khas Fransiskus Adit.
“Iya! Kau harus datang, karena sepuluh hari lagi event akan dimulai. Semoga tidak mundur dari yang kita harapakan.”
Ilham melihat jadwal dirinya untuk hari ini. Ia tahu saat jam makan siang, ia harus mengantar Farah untuk berbelanja.
“Jika rapatnya dimundurkan bagaimana? Sepertinya aku ada pekerjaan lain.” Ilham berusaha menegosiasi waktu.
“Apakah kau mau tahu apa jawabanku?” Adit mengambil jeda dengan tujuan membuat Ilham semakin penasaran. “Jawabannya tidak bisa, jadi kau harus hadir ya .... terima kasih!”
Adit mematikan sambungan teleponnya. Sekarang beban pikiran Ilham bertambah satu lagi. Ia memijat-memijat keningnya yang sedikit pusing. Ia menggerutu karena jam makan siang yang harusnya untuk Farah ternyata terampas oleh rapat event yang akan diadakan sepuluh hari lagi.
“Sepertinya aku harus menelpon Farah.” Ilham mengetuk kembali layar ponselnya, ia mencari nama Farah. Jarinya sangat lihai dan seakan sudah tahu mana yang harus disentuh. Ilham medekatkan ponselnya ke telinga.
__ADS_1
Ia menunggu beberapa waktu sampai Farah menjawab panggilan telepon darinya. “Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, Mas.”
“Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh, Sayang. Kalau nanti beli kertasny agak sore atau malam bisa? Soalnya siang ini Mas ada rapat sama teman membahas soal event yang akan diadakan, jadi ....”
“Tidak apa-apa Mas, aku berangkat sendiri,” ucap Farah melalui sambungan telepon.
“Sendirian? Bu Tin suruh ikut saja.” Ilham sebenarnya khawatir jika istrinya pergi sendirian. Sudah beberapa bulan ini seteleh kejadian bersama Ray, Ilham selalu mengantarkan Farah ke manapun. Jika tidak bisa ia akan meminta Bu Tin untuk menemani.
“Mas, aku kasihan dengan Bu Tin yang sudah mulai tua. Tidak perlu khawatir, aku bisa berbelanja sendiri.”
“Bagaimana kalau Akmal yang mengantarkanmu? Nanti kusuruh dia untuk menjemputmu di rumah.” Ilham menawar. Ia masih tidak tega membiarkan Farah berbelanja sendirian.
“Tidak perlu, Kak Akmal sudah menikah, aku merasa tidak enak dengan Mbak Rahma. Jika Mas Ilham tidak bisa mengantarkanku tidak apa-apa.” Farah mulai merajuk, ia bersikeras untuk pergi sendiri.
Ilham sangat mengetahui jika istrinya sangat keras kepala, ia tidak akan menurut seketika.
“Boleh ya Mas, pokoknya harus boleh!” seru Farah di seberang sana.
Pilihan yang berat.
Ilham merasa bersalah atas kekhawatirannya yang berlebihan. Ia sangat takut jika Ray masih menginginkan istrinya. Apapun keadaanya Farah tetap tanggung jawab yang tidak bisa diabaikan. Berbulan-bulan Farah hanya di rumah, terkadang membuat Ilham merasa merampas kebebasannya.
Semoga kau baik-baik saja Sayang.
***
Untuk pertama kalinya Farah bisa keluar rumah sendirian. Hatinya sangat senang, sudah lama ia tidak merasakan naik bis sendirian, berbelanja sendiran. Pagar rumah sudah ditutup, kali ini ia memakai gamis warna biru kesukaanya senada dengan warna jilbabnya berhias renda kecil putih di bagian pinggir. Ia juga membawa tas selepang berwarna hitam yang dibelikan oleh suaminya.
“Bismillah.” Farah melangkah menuju halte bis yang berada di dekat gapura perumahannya. Ia harus menempuh jarak 200 meter untuk sampai ke tempat tujuan. Sekitar lima belas menit berjalan, sekarang ia sampai di halte yang menurutnya sangat berkesan. Halte di mana ia pernah mengenal Ray.
“Mengapa aku teringat pada Ray ....” Farah tak habis pikir dengan isi kepalanya yang mendadak teringat sesuatu yang tidak boleh ia kenang. Ia memilih mengabaikannya dan menunggu bus koridor 1A yang akan melewati mall.
Apa kabarmu Ray? Masihkah kita bersahabat? Kau sebenarnya baik, hanya caramu membalas takdir pertemuan kita yang salah.
Seseorang yang memakai pakaian serba hitam. Dia tidak terlihat seperti laki-laki maupun perempuan. Wajahnya pun tertutup masker kain dan sedang memperhatikan Farah dari seberang jalan Tugasnya memang seperti itu. “Ternyata ini saat yang tepat,” gumannya. Dia mengambil ponsel dari saku celananya.
__ADS_1
Bus kota dengan tulisan di kaca tanda 2A berhenti di halte tempat Farah duduk menunggu. Ia naik bus itu dan memilih duduk di dekat pintu, tempat favoritnya. Bus melaju menuju jalur tujuannya.
***
Benda kotak itu bergetar singkat, Ray segera mengambil dan melihat layarnya. Ada sebuah pesan masuk. Dengan cepat ia mengetuk layar ponselnya seperkian detik pesan itu ditampilkan. Ray membaca isi pesan singkat itu.
Dia sedang berpergian sendiri tanpa pengawasan.
Seketika sudut bibirnya menyunggingkan senyuman. Hari yang ditunggu telah tiba, bagi Ray ini adalah kesempatan yang sangat berharga. Ia membalas pesan itu untuk segera mengikuti buruannya.
“Kau seperti putri yang lari dari tempat amanmu. Tapi dirimu tak pernah sadar jika ada banyak penjahat seperti di buku dongeng untuk mengambil apa yang ia sukai.”
Ray bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan ruangnya. Ia harus bergegas menemukan posisi perempuan itu. “Kau akan bersama denganku lagi, Bungaku.”
Ray memang bisa sabar menunggu Farah diperbolehkan keluar dari rumah. Selama ini ia selalu mengawasi Farah walaupun di dalam rumahnya. Ia juga tahu, Ilham tidak semuda itu melepaskan istrinya, dia selau mengantarkan istrinya ke manapun Farah pergi. Ini menjadi momok bagi Ray. Tapi tidak dengan hari ini, ia harus berhasil dalam rencanan yang sudah ia susun dengan kesabaran. Ray juga memiliki kesiapan jika sewaktu-waktu masa itu telah tiba.
“Sebentar lagi aku akan menyapa Bungaku.”
***
Ilham harus berangkat untuk menghadiri rapat yang berlangsung di coffee shop milik Adit. Ia menyerahkan urusan kedainya ke Akmal. Kali ini pikirannya sedang tidak tenang, entah ada angin apa yang menyerangnya. Lokasi coffee shop milik Adit terletak di sebelah utara Kota Milepolis. Tempat itu berada di dekat perkebunan kopi miliknya. Perjalanan memakan waktu sekitar dua puluh lima menit.
Ilham tiba di coffee shop milik Adit. Saat ia membuka pintu toko, aroma kopi tercium sangat nikmat sekali. Mungkin ini bisa disebut surganya pecinta kopi. Para barista berwajah tampan menjadi daya tari tersendiri sehingga tak jarang pengunjung di coffe shop ini rata-rata adalah perempuan. Coffe shop ini sama seperti cafe pada umumnya. Selain menjual kopi, mereka juga menjual aneka hidangan dan dessert.
Adit yang semula sedang memegang mesin kasir menghentikan pekerjaannya ketika melihat Ilham baru saja masuk ke tokonya. Ia tersenyum ramah menyapa Ilham.
“Aku kira kau tidak akan datang,” ucap Adit. Ia menyerahkan posisi mesin kasir kepad karyawan lainnya.
Deg
Deg
Deg
Nyeri menjalar di dada sebelah kiri Ilham. Seketika ia memegang dadanya, Ilham teringat tentang rasa sakit ini saat berada di Kota Zen.
__ADS_1
Rasanya sama persis! Apakah Farah sedang dalam bahaya?