
**jangan lupa setelah selesai membaca kisah ini, pencet LOVE dan kasih rating 5 bintang ya.. karena ini GRATISS😁
jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.
Terima kasih
Salam Hangat,
Ilamy Harsa🍀**
_______________
Malam ini penuh sesak. Semua terasa sangat gelap dan pengap, hanya sorot sinar ibu bulan yang menyelisik diantara celah-celah kelambu kamar. Sudah dua malam ini Ray mengurung dirinya dalam kamar yang sangat gelap. Ia merasakan heningnya gelap. Sendirian dan tentu saja menyakitkan.
Jika di pagi hari ia bisa menipu banyak pasang mata dengan wajah tegasnya, namun tidak dengan malam hari. Ia seperti ingin ditelan dalam kegelapan, mengabaikan memori-memori yang yang terlintas.
Jika pada malam biasanya ia bermandikan sorot lampu jalan dan menunggu di halte menikmati penantian yang membahagiakan penuh cinta, sekarang ia tidak bisa merasakannya lagi. Ia ingin kegelapan menghapus semua ingatan dan rasa yang pernah ia pupuk dalam hatinya. Ibarat tumbuhan, rasa itu seperti pohon yang batangnya sudah besar dan akarnya kuat menjalar mencari zat hara.
__ADS_1
Seperti pohon yang besar, rasa cinta itu tumbuh. Dan saat ini Ray dipaksa untuk menebang pohon itu, ia harus membunuh semua rasa cintanya kepada kuncup bunga perawannya, yaitu Farah. Ray dipaksa untuk segera merayakan kematian perasaannya kepada Farah. Dan itu harus segera dilakukan.
“Haruskan tangaku berlumuran misik, agar doa yang aku panjatkan bisa semerbak wangi menguar menembus langit-langit?!” Ray mendesis.
“Mengapa aku harus merasakan kesakitan ini?”
“Mengapa Engkau begitu tega memberikan rasa ini! Membiarkanku terjerumus pada hal yang tidak bisa aku dapatkan! Matikan sekarang rasa ini! Matikan!” Ray berteriak lantang menembus seluruh ruangan di rumah ini.
***
Pagi ini Farah sudah menulis list daftar belanja bulanannya. Semenjak Bu Tin mengambil cuti, semua kebutuhan rumah ini Farah yang mengurusnya. Selesai sarapan Farah berencana akan berbelanja di swalayan.
Semula Farah tidak memperbolehkan Rahma untuk ikut denganya. Namun Rahma terus meminta ikut, dan Farah akhirnya terpaksa menyetujuinya. Ia juga meminta syarat kepada Rahma, jika Rahma merasa lelah harus segera beristirahat. Rahma mengangguk, tanda ia menyanggupi syarat ini.
Farah dan Rahma berjalan sejauh 200 meter untuk keluar dari komplek perumahan ini menuju halte. Mereka bercengkerama dalam perjalanan itu. Hingga tiba di halte, Farah terdiam. Ia berhenti melangkah melihat bangunan halte yang kokoh berdiri di hadapannya.
Mata Farah melebar, ia merasa sudah lama sekali tidak menunggu halte di sini. Farah masih mengingat dengan jelas bagaimana Ray sering mengganggunya. Sarapan bersama dengan sepotong roti isi coklat. Berjalan bersama layaknya teman.
__ADS_1
Jika kau tidak pernah jatuh cinta padaku, apakah kau akan melakukan kebodohan ini lagi, teman?
Rahma yang lebih dulu duduk di halte terheran melihat Farah hanya berdiri diam menatap bangunan halte. “Mbak Farah, ada apa? Apakah ada yang ketinggalan?” Rahma memastikan.
Farah tersadar dalam lamunannya, ia segera mungkin duduk mendekati Rahma. “Tadi aku sedikit lupa, apakah list belanjaku tertinggal. Tenyata sudah aku selipkan di dompet ini,” Farah berkilah.
Farah dan Rahma sedang menunggu bus koridor 3B yang menuju swalayan. Dengan sabar mereka menunggu. Sekitar 15 menit bus koridor 3B datang, Rahma naik dengan hati-hati lalu di susul oleh Farah.
Hanya ada dua penumpang saja yang menunggu di halte itu. Bus koridor 3B kemudian melaju menuju tujuannya. Farah duduk di dekat pintu, di samping kirinya ada Rahma yang sedang mengelus perutnya yang buncit. Bus berhenti di halte selanjutnya, ada lima orang penumpang yang naik bus ini. Farah melihatnya dari jendela.
Tiba-tiba, sepasang mata Fara menangkap sosok yang amat ia kenal. Sosok lelaki itu itu masuk terakhir dalam bus. Farah menajamkan matanya, sosok itu berdiri memegang handle grip. Farah berharap pria itu berbalik menghadapnya.
Ayolah lihat aku!
Benar saja, pria itu menghadap pada Farah, sepasang mata mereka bertemu. Namun Farah dengan cepat mengalihkan pandangannya. Ia mengembuskan napas yang berat, hingga Rahma yang berada di sampingnya mendengarkan embusan napas itu. Napas keresahan.
“Ada apa Mbak?” tanya Rahma.
__ADS_1
“Tidak Mbak Rahma, aku hanya sedikit haus.” Farah berbohong lagi.
Aku kira pria itu Ray, ternyata bukan.