
“Apakah kita akan berangkat Bu Farah?” tanya Akmal.
Farah sedikit terkejut mendengar panggilan barunya dari Akmal. “Tidak perlu memanggilku seperti itu Kak Akmal, panggil aku seperti biasanya. Kita berangkat sekarang saja Kak.”
Akmal mengangguk. “Iya Mbak.”
Akmal dan Farah akhirnya pergi menuju rumah kontrakan Rahma yang berada di Jalan Merdeka nomor 17. Mereka menuju arah barat Kota Milepolis. Sesampainya di alamat yang di tuju, Akmal menghentikan mobilnya di depan gang kontrakan Rahma.
Farah dan Akmal turun dari mobil. Mereka berjalan di gang sempit yang diapit oleh dua gedung tinggi menjulang. Siapa sangka kalau di balik kokohnya gedung-gedung ini masih ada banyak kontrakan-kontrakan kecil di bawahnya.
Sesampainya di kontrakan milik Rahma, Farah menjelaskan maksud kedatangannya kemari untuk mengajak Rahma agar tinggal bersamanya. Awalnya Rahma menolak, namun Farah terus mengajaknya. Ia takut ketika Rahma melahirkan tidak ada yang menolongnya, karena Rahma tinggal di rumah kontrakan yang kecil ini sendirian.
“Mbak Rahma ikutlah denganku, tidak perlu sungkan. Aku takut jika Mbak Rahma tiba-tiba melahirkan dan tidak ada seorang pun di rumah ini.”
Rahma masih menimbang ajakan Farah. Ia memang tinggal sendiri dengan perut yang sangat buncit yang tinggal menunggu hari kelahiran. Akhirnya Rahma bersedia tinggal bersama Farah. Ini adalah bentuk pertolongan Allah untuk manusia melalui manusia lainnya.
Farah dan Rahma akhirnya bahu-membahu mengemasi barang-barang milik Rahma. Ada satu tas besar dan tiga kardus yang berisi perlengkapan bayi yang masih baru. Akhirnya Akmal yang menganggut semua barang-barang itu, sedangkan Rahma dan Farah meminta izin kepada pemilik kontrakan bahwa kontrakan Rahma akan kosong beberapa minggu ini.
Akhirnya mereka berjalan menuju mobil yang terpakir di depan gang sempit. Akmal sudah berada di sana, ia menyeka peluh keringatnya. Akmal melihat dua perempuan itu berjalan ke arahnya, langsung saja ia membukan pintu mobil.
Seutas pandang, Rahma menganggukkan kepalanya dan tersenyum seakan menyapa Akmal. Akmal bergeming, ia tidak membalas sapaan itu.
“Yuk Kak Akmal, kita langsung ke rumah saja biar langsung berbenah kamar dan beristirahat. Kasihan dedek bayi yang masih di perut,” pinta Farah.
__ADS_1
Akmal mengangguk, ia langsung duduk di kursi kemudi. Dalam perjalanan pulang hanya dua perempuan yang berada di kursi penumpang belakang yang bercerita dengan riuh. Akmal hanya diam dan fokus untuk menyetir mobil ini. sesekali matanya melihat kaca kecil yang memantulkan kondisi di belakangnya.
Akmal tersenyum.
***
Ilham telah sampai di kedai keduanya yang berdiri kokoh di dekat kawasan Kota Numa. Hari ini adalah renovasi besar-besaran kedai. Ia menutup kedai agar renovasi berjalan dengan lancar. Ini bagian kesukaan Ilham, yaitu mengawasi semuanya pekerjaan dari awal. Baginya melihat proses lebih baik daripada menerima hasilnya, karena proses yang baik akan menuntun ke arah yang lebih baik.
Sekarang sudah masuk jam makan siang. Ilham tengah sibuk dengan ponselnya, ia mengecek apakah ada pesan yang masuk. Tidak ada. Sebenarnya dalam lubuk hati Ilham, ia mengharapkan pesan baru dari Farah. ia sangat menunggu akan hal itu.
Ah! Mengapa jadi seperti ini? Mengapa aku merasakan rindu ini lebih cepat!
Ilham hanya tersenyum, ia benar-benar memikirkan jelitanya.
***
“Mbak Rahma tidur di sini ya.” Farah menunjukkan kamar yang akan dihuni oleh Rahma. Sebenarnya kamar itu adalah kamar milik Farah sewaktu dulu ia belum tidur bersama suaminya.
Rahma mengangguk, ia sangat menyukai kamar ini. Bagi Rahma, perempuan yang sekarang berada di hadapannya adalah malaikat berwujud manusia. Dia sangat baik. Rahma mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar ini. Ada yang memancing sepasang matanya, yaitu sebuah foto. Ia berjalan mendekati foto itu. Sangat jelas sekali ini foto pernikahan. Dalam foto itu tergambar jelas mempelai wanitanya adalah Farah sedangkan mempelai prianya adalah Ilham, bos di kedai tempatnya bekerja.
Pak Ilham?!
“Mbak Farah sudah menikah?” Rahma menunjuk foto yang masih tergantung di dinding kamar itu.
__ADS_1
Farah tersenyum , ia mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Rahma.
“Mbak Farah menikah dengan pak Ilham? Bukannya Mbak Farah ini adiknya pak Ilham?” Rahma terus mencekoki pertanyaan kepada Farah. Ia merasa kebingungan atas keyakinan yang ia anut, bahwa perempuan yang baik bernama Farah adalah adik bosnya, bukan istrinya. Setidaknya itu yang ia dengar dari rekan-rekan karyawati kedai.
“Saya istri sah mas Ilham. Kami sudah menikah sekitar tiga bulan yang lalu Mbak.”
Rahma tercenung, ia baru mengetahui fakta ini. “Jadi Mbak Farah ini istri pak Ilham.” Rahma bersuara sangat rendah sekali. Ia merasa sangat sungkan kepada Farah yang merupakan istri bosnya.
Farah mengangguk. “Aku dan mas Ilham menikah karena perjodohan yang sebelumnya sudah direncanakan oleh kedua orang tua kami. Dulu ini kamar milikku, karena mas Ilham belum bisa menerimaku jadi kita berpisah dalam segala hal termasuk kamar. Namun sekarang sudah berubah, suamiku telah menerimaku dengan seutuhnya.” Farah menjelaskan perihal rumah tangganya kepada Rahma.
“Kebahagiaan selalu mendapat porsinya di saat yang tepat ya, Mbak,” Rahma tersenyum mendengar cerita rumah tangga Farah.
Aku ingin memiliki lelaki yang bisa menemaniku dan menerima bayi yang ada di rahimku ini.
Rahma mengelus perutnya yang buncit, sentuhnyan terasa sangat nyaman bagi si jabang bayi.
________________
jangan lupa setelah selesai membaca kisah ini, pencet LOVE dan kasih rating 5 bintang ya.. karena ini GRATISS😁
jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.
Terima kasih
__ADS_1
Salam Hangat,
Ilamy Harsa🍀