
Yuk pencet like dulu, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena itu sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author
Jika ada yang ingin ditanyakan, kritikan dan saran silakan tulis di kolom komentar
Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.
Terima kasih
Salam Hangat,
Ilamy Harsa🍀
Selamat berimajinasi
_________
Naresh dan Fernando telah sepakat agar dua perempuannya itu berpetualang sendiri. Terlebih Kinanti. yang mengingatkan pulang ke rumahnya. Semua berjalan sesuai rencana. Hari ini Anneline menyambut kepergian suaminya ke bandara. Ia memang meminta tidak ikut dan Fernando juga menyetujuinya.
Semua itu ada harga yang harus dibayar oleh Anneline. Sebuah malam pertama yang tertunda enam tahun yang lalu. Tak mengherankan jika Fernando langsung tunduk saja padanya. Sebuah harga yang sangat mahal, merelakan selaput daranya sobek dengan orang yang tidak ia cintai.
Hanya Naresh yang akan memimpin perusahaan beberapa bulan ke depan. Anneline juga sudah menyiapkan beberapa rencana agar liburannya di Kota Milepolis berjalan lebih lama. Namun biarlah hari ini dia menyelesaikan teater sandirwara di depan banyak orang. Ia menangis menumpahkan air mata kebohongan agar menghayati peran.
“Aku akan kembali, kita akan melakukan dansa.” Fernando menyentuh lembut tangan Anneline memberikan sebuah perasaan kecil.
Anneline hanya mengangguk. Ia melepas kepergian suaminya di bandara. Tangisnya makin terisak. Berharap masih ada air mata kepalsuan yang tersisa.
__ADS_1
“Kau harus menurut kepada Kak Naresh selama aku pergi. Biarkan Kinanti yang menjagamu, dia sudah mahir dalam mempertahankan diri.” Fernando tersenyum. Ia memang sedikit kecewa dengan keputusan Anneline yang tidak mau ikut serta. Namun ada yang membuat dia tidak perlu memaksa istrinya, kenikmatan batin yang sudah dilakukan tadi malam.
Fernando membawa satu orang kepercayaannya untuk ikut dalam perjalanan ini. Ia yakin istrinya sudah aman, mungkin tidak akan melakukan pembunuhan lagi. Ia juga sudah mencabut izin menggunakan senjata, jadi tidak terlalu masalah jika melepaskannya untuk berpetualang.
Fernando juga sudah melihat perubahan fisik Kinanti yang kian gesit dan mampu melindungi dirinya. Beberapa waktu yang lalu, ia melihat Kinanti dan istrinya bertarung dengan tangan kosong. Ini adalah bagian dari latihan. Mereka saling serang dan bertahan. Dalam pertarungan tangan kosong, Kinanti jelas mendapatkan kemenanganya, dia bertubuh kecil lebih lincah ketika membangun suatu serangan mendadak.
“Selamat tinggal, doakan aku.” Fernando mencium kening istrinya. Sebentar lagi kakinya akan bisa berjalan sama seperti orang normal lainnya.
Anneline balas memeluk. Sebenarnya, ia sudah sangat muak dengan tangisan pura-pura ini. Ia berharap waktu segera beralih hingga tubuhnya segera beristirahat, lelah karena harus merasa sedih walaupun hatinya sedang merekah senang.
Selamat tinggal suamiku, tidak pelu terburu-buru sembuh. Biarkan istrimu ini menikmati dunianya. Biarkan aku terbang bebas keluar dari sangkar emas itu. Semoga kamu senantiasa sehat, Honey.
Senyuman licik mengembang di lengkungan milik Anneline. Satu hambatan sudah hilang, tinggal bagaimana menyakinkan Kinanti agar segera pulang ke kota asalnya. Jika perhitungannya tepat, sepuluh hari lagi event di kota itu akan dimulai.
Aku akan mengejutkanmu Ilham dalam event itu. Tunggulah kedatanganku, Sayang.
“Hari yang melelahkan.” Naresh mengembuskan napas berat, ia merasa sangat kelelahan untuk hari ini. Pria itu membuka pintu rumahnya. Seperti biasa ada sambutan kecil dari Kinanti. Bagi Naresh senyuman gadis mungil bersweeter rajut putih dan memakai rok selutut itu sudah cukup meredakan rasa lelah.
“Sepertinya Kakak tampak lelah? Apakah pekerjaannya begitu banyak?” Kinanti sudah megambil tas kotak jinjing yang dibawa Naresh.
Ia tak perlu jawaban dari pria itu. Karena Kinanti tahu, pasti berat menjalankan perusahaan yang besar. Ditambah hanya dia sendiri yang memimpin.
“Apakah Kak Naresh ingin berendam air hangat? Sebentar, akan aku siapkan.” Kinanti sudah lebih dulu masuk ke kamar Naresh sambil membawa tas kotak jinjing.
Naresh mengangguk. Ia duduk di sofa untuk melepas penat. Matanya terpejam merasakan tubuh yang terlampau nyaman bersandar di sofa.
__ADS_1
“Kak, air hangatnya sudah siap.” Kinanti keluar dari kamar.
Naresh membuka matanya. Ia harus segera mandi karena kulitnya sangat lengket, sangat risih. Berendam air hangat bisa meredakan tubuh yang teramat pegal, begitu pikirnya.
“Terima kasih.” Naresh tersenyum mengelus puncak kepala Kinanti yang masih berdiri di depan kamar.
Gadis itu melihat Naresh melangkah gontai menuju kamar mandi. Ia tahu pasti sangat pria itu terlalu banyak beban pekerjaan yang dipikulnya. “Akan aku buatkan teh hangat untuknya.”
Kinanti senang bisa membalas kebaikan Naresh. Menurutnya, dia adalah pria yang baik terkadang bisa membuat rasa jengkel jika terlalu memaksakan kehendaknya.
Di dapur adalah ruang favorit Kinanti. Ruangan yang didesign modern tapi tetap dalam konsep minimalis. Ia memanaskan air untuk menyeduh teh. Dengan cekatan gadis itu menyajikan dua cangkir dan menuangkan kantong teh beraroma melati yang khas. Air panas telah siap, asap mengepul hangat. Ia menuangkan air itu ke cangkir dan berubah menjadi air kecoklatan khas teh. Aroma melati tercium segar.
“Semoga Kak Naresh suka dengan teh buatanku.” Kinanti tersenyum, ia membawa nampan yang berisi dua cangkir teh beraroma melati dan semangkuk gula dadu yang warnanya seputih salju. Ia akan memberikan teh ini di kamar Naresh. Ia yakin pria itu akan menceritakan hari panjangnya. Setiap malam ada kegiatan yang sangat tidak boleh dilewatkan, obrolan malam bersama teh hangat. Begitu penyebutan dari Naresh.
Tanpa mengetuk pintu, Kinanti lansung memasuki kamar. Sedetik kemudian ia melihat Naresh dengan pesona sehabis mandi, rambut dan kulit yang masih terdapat titik-titik embun yang menyegarkan. Pria itu mengusap handuk putih ke kepalanya agar butiran air itu mengering. Detik kedua, Kinanti baru sadar jika pria itu tidak memakai apapun, bersih seperti bayi.
“Aaaaaakkkkkkk!” Reflek Kinanti menjatuhkan nampan yang ia bawa agar kedua tanganya segera menutupi wajahnya dari pandangan itu. Naas, isi nampan jatuh berhamburan dan pecah. Air teh yang masih panas itu mengenai jenjang kakinya.
“Kinan!” Naresh tak kalah terkejut, ia tidak menyadari bahwa gadis itu masuk ke kamarnya tanpa peringatan atau ketukan pintu. Ia sudah terbiasa, jika selesai mandi tidak akan memakai handuk. Baginya bebas saja, toh ia masih merasa membujang. Tapi sekarang berbeda, ia lupa jika gadis kecil ini bisa masuk kapan saja. Bahkan lebih parahnya, ia lupa untuk mengunci pintu.
Naresh bergegas untuk melilitkan handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Ia melihat jenjang kaki Kinanti yang memerah akibat tersiram air kecoklatan yang ia bawa. Pasti itu air yang masih panas. Ia yakin bahwa gadis itu sedang kesakitan menahan rasa nyeri akibat air yang dia bawa. Dengan sangat hati-hati, Naresh menggendong Kinanti untuk melakukan pertolongan pertama. Penglihatannya harus cermat dan tepat, ia harus melangkah dan menghindari pecahan cangkir yang berserakan di lantai.
“Kakak! Mengapa Kakak menggendongku! Lepaskan!” Kinanti memberontak, ia juga masih menahan nyeri karena kakinya tersiram teh panas yang ia buat.
“Aku harus mengobatimu! Kakimu memerah dan melepuh.”Naresh belum berpakaian, ia menggendong gadis itu menuju kamar mandi. Ia harus segera menyiram kaki Kinanti dengan air yang mengalir.
__ADS_1
Naresh mendudukan gadis itu di closet yang sudah tertutup agar dia bisa duduk. Dengan hati-hati Naresh membuka kran air dan ia membantu agar Kinanti meredakan sakitnya. “Sabar ya, tahan sebentar.”
Ia melihat bahwa Kinanti masih meringis kesakitan. Walaupun dia sudah menguasai teknik bela diri, tetap saja ia akan merasakan kesakitan. “Mengapa kamu harus bersusah membawa minuman ke kamarku?”