Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 27


__ADS_3

Suara azan subuh sudah menggema di penjuru kota ini. Farah bangun dari tidurnya. Ia merasakan badannya teramat letih, karena semalam ia harus lembur karena ada yang menyewa kedai milik Ilham untuk pesta ulang tahun dan Farah bekerja sampai pesta itu selesai.


Farah merasa pusing, namun ia harus melaksanakan kewajibannya yaitu shalat subuh. Setelah itu Farah berjalan menuju dapur. Ia ingin meminum segelas air putih.


Bu Tin mendapati kalau Farah sangat pucat sekali, terlihat kelelahan.


“Nona Farah sepertinya sakit, pucat sekali wajah Nona Farah,” ujar Bu Tin saat melihat Farah masuk ke dapur.


“Saya tidak apa -apa Bu Tin. Tadi malam mas Ilham pulang Bu Tin?”


“Tidak Nona, tuan belum pulang.”


Farah tersenyum kecut. Sudah tiga hari ini suaminya tidak pulang. Sepi memaksa Farah untuk merasakannya lagi. Ia harus bersiap-siap untuk berangkat ke kedai.


“Nona benar tidak apa-apa. Sebaiknya Nona istirahat dirumah, soalnya wajah Non pucat sekali.” Bu Tin yang sedari tadi khawatir dengan kondisi Farah.


“Saya tidak apa-apa Bu Tin. Sudah saya harus bersiap ke kedai.” Farah memaksakan senyumnya.


Farah memang tidak ingin mengambil cuti, karena dua hari lagi ia harus menemani Rahma untuk memeriksakan kandungannya lagi dan memberikan uang gajinya bulan ini.


***


Farah bekerja seperti biasa di kedai milik Ilham. Hanya saja semakin lama Farah menjadi tidak fokus, ia sering menabrak pelanggan saat membawa nampan penuh dengan makanan. Atau sering salah mengantarkan pesanannya kepada pengunjung kedai.


Farah benar -benar merasa sangat pusing dan nyeri di tubuhnya. Farah memandang jam dinding, masih tiga jam lagi ia baru boleh pulang. Farah merasa hari ini waktu berjalan sangat lambat.


Akmal menyadari bahwa hari ini Farah sangat ‘kacau’ dalam pekerjaanya sudah hampir delapan pelanggan yang mengomel kesal atas kesalahnya. Dan Akmal melihat kalau wajah Farah pucat.


“Sepertinya mbak Farah harus segera dipulangkan. Sepertinya dia benar -benar sakit,” guman Akmal.


Akhirnnya Akmal memulangkan Farah lebih awal, karena takut akan terjadi apa-apa terlebih lagi jika Farah adalah istri bosnya. Akan jadi masalah kalau Farah sakit karena bekerja di kedai ini.


***


Kinan berjalan menuju cafe tempat ayahnya bekerja. Sepulang dari khursus mengemudi ia mampir ke toko kue untuk membeli kue coklat. Kinan meihat ayahnya yang sedang merapikan motor para pelanggan cafe.


“Ayah ...” panggil Kinan.


“Kinan, sudah pulang Nak?” tanya Ayah.


“Sudah Ayah, hari ini akuu ingin bertemu dengan Farah. Kinan sengaja enggak kasih tahu Farah, biar surprise Yah.” Wajah Kinan terlihat sangat antusias.


“Ya sudah, tunggu di sini. Nanti mbak Farah pasti ke sini.”


Kinan menunggu di dekat kedai tepatnya di pos keamanan kedai itu. Ia tidak sabar untuk memberikan kue coklat ini untuk Farah sebagai tanda terima kasih.


***


Farah berjalan sedikit sempoyongan. Ia merasakan pusing dan badan yang terasa remuk. Farah terus membujuk dirinya agar kuat sampai ke rumah. Ia tak ingin jatuh pingsan karena bisa merepotkan orang lain.


Farah terus berjalan menuju pintu keluar kedai di lantai satu. Pandangannya mulai buram. Ia masih terus memaksa tubuhnya untuk berjalan. Tepat di lahan parkir tubuhnya sudah tidak singkron dengan keinginan Farah. Ia merasa sekelebat melihat Kinan.


Brrrukkk! Tubuh Farah ambruk.


Gelap.


“Farah!” teriak Kinan yang panik saat Farah berjalan ke arahnya dan langsung ambruk begitu saja.


Pak Budi dan para pelanggan kedai yang melihat kejadian itu langsung berkerumun. Akmal yang mendapat laporan bahwa salah satu karyawatinya pingsan di depan kedai, langsung berlari menuju tempat kejadian.


Akmal tekejut bahwa yang pingsan adalah Farah. Ia langsung membawa Farah ke rumah sakit terdekat agar Farah segera mendapat pertolongan.


Akmal melajukan mobil kedai sedikit ngebut dari biasanya. Kinan yang menahan kepala Farah saat di mobil. Kinan berusaha menepuk-nepuk pipi Farah agar cepat sadar. Namun usahanya nihil.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit Farah langsung mendapat penanganan. Ia diberi cairan infus yang ditusukan di pembuluh vena di bagian punggung tangannya. Farah tampak tergolek lemas dan pucat. Dokter mengatakan bahwa Farah pingsan akibat kelelahan dan anemia. Lalu dokter menyarankan agar Farah dirawat intensif di rumah sakit ini. Akmal menyetujuinya.


Dari UGD, Farah ditransfer ke ruang perawatan kelas VIP di ruang yang Cempaka. Farah sudah sadar saat ia masuk di UGD, tapi ia sangat lemah untuk bisa bangun. Ia hanya bisa tergolek lemah.


Kinan yang sedari menunggui Farah, duduk di samping Farah tidak bergeser sedikitpun. Pak Budi datang bersama bu Tin. Akmal memang menyuruh pak Budi agar menjemput bu Tin asisten rumah tangga Ilham untuk menunggui Farah. Semantara itu Akmal masih mencoba menghubungi Ilham. Sudah tujuh kali Akmal mencoba menghubungin Ilham. dan mengirim beberapa pesan singkat untuk mengabarkan bahwa istrinya sedang dirawat di rumah sakit.


Saat panggilan kedelapan dari Akmal, barulah Ilham menjawab telepon itu.


“Halo! Ada Apa Akmal? Saya sedang sibuk, tidak bisakah menelpon nanti!” kata Ilham saat menjawab telpon dari Akmal. Ia kesal dengan panggilan telpon dari Akmal yang sedikit menganggu pekerjaanya.


“Maaf Pak tidak bisa, saya mau mengabarkan kalau mbak Farah sekarang di rumah sakit Pak!” jawab Akmal.


“Apa?! Dia kenapa?” tanya Ilham yang terkejut atas kabar yang Akmal sampaikan.


“Tadi mbak Farah pingsan saat hendak pulang dari kedai,” balas Akmal.


“Halo? Halo ...? Halo Pak Ilham?!” suara Akmal yang terdengar dari ponsel Ilham.


Ilham terdiam tidak menjawab. Sekarang pikirannya hanya ada kekhawatiran kepada Farah. Ia menutup telponnya dan langsung masuk ke mobil. Ilham bergegas ke rumah sakit. Ia sangat mengkhawatirkan Farah. Pikiranya hanya tertuju pada gadis itu.


“Aku mohon, jangan terjadi hal yang buruk pada dia Ya Allah,” gumannya saat melajukan mobil menuju rumah sakit tempat Farah dirawat.


***


Bu Tin masuk ke kamar inap Farah. Di kamar itu hanya ada dua orang perempuan. Ia tak mengenal perempuan yang sedang duduk itu, tapi ia sangat mengenal perempuan yang sedang terbaring lemah di tempat tidur itu.


“Nona ... Nona kenapa bisa jadi seperti ini?” Bu Tin yang menangis melihat kondisi Farah.


“Kamu siapa? Dan mengapa Nona Farah bisa seperti ini? tanya Bu Tin yang memandang perempuan yang sedang duduk di sebelah Farah.


“Saya Kinanti, saya temanya Farah Bu. Tadi ketika Farah keluar dari cafe, tiba-tiba langsung pingsan Bu,” jawab Kinan sopan.


Farah membuka matanya yang terasa berat, ia melihat Kinan duduk di sebelah kanannya dan bu Tin duduk di sebelah kirinya. Ia mendengar tangisan bu Tin. Pasti bu Tin khawatir terhadap dirinya.


“Kinan, Bu Tin. Aku baik-baik saja, tidak usah khawatir,” ucap Farah lemah.


“Kalau kamu sakit, harusnya nggak usah masuk kerja Farah. Lebih baik beristirahat di rumah. Sekarang kamu di rumah sakit. Aku tadi sempat panik saat kamu berjalan ke arahku terus kamu pingsan.” Kinan menjelaskan.


“Terima kasih sudah menolongku Kinan,” ucap Farah, “Bu Tin, saya mau pulang. Saya khawatir kalau mas Ilham sudah ada di rumah.”


“Jangan Nona. Nona di sini saja, Nona Farah masih sakit. Mungkin tuan tidak pulang malam ini.” Bu Tin yang mencegah Farah untuk pulang ke rumah.


Apa!? Farah sakit seperti ini masih memikirkan suaminya yang tega tidak pernah memakan bekal darinya. Bahkan dia harus bekerja dari pagi hingga malam di cafe sampai sakit seperti ini tapi suaminya jarang pulang?! Sungguh tidak bisa d percaya! Farah yang baik seperti ini masih saja ada yang menyia-nyiakan.


Batin Kinan berbicara.


“Nona Farah istirahat saja. Jangan banyak bergerak, biar saya yang menjaga Nona Farah.” ujar Bu Tin.


Farah mengangguk ia sangat kelelahan. Badannya masih terasa lemas. Tanpa sadar ia sudah tidur.


***


Ilham sampai di rumah sakit. Akmal sudah memberi tahu Ilham lewat pesan singkat di mana rumah sakit dan ruang apa yang di tempati Farah. Ilham berjalan sedikit lebih cepat mencari Ruang Cempaka.


Ilham sudah menemukan kamar inap Farah terlihat ada Akmal dan pak Budi satpam kedainya sedang duduk di luar kamar. Akmal mengetahui kedatangan Ilham.


“Bagaimana kondisi Farah?” tanya Ilham, ia bernafas sedikit tersengal.


“Tadi istri Pak Ilham pingsan, langsung saya bawa ke sini dan sudah di tangani oleh dokter. Kata dokter mbak Farah kelelahan dan anemia,” jawab Akmal.


“Apa? istri Pak Ilham? Jadi Pak Ilham ini suaminya mbak Farah?” tanya Pak Budi yang mendengarkan percakapan antara Akmal dan Ilham.


Ilham tidak menjawab pertanyaan dari pak Budi. Ia langsung masuk ke dalam kamar kelas VIP yang di tempati Farah seorang diri. Terdapat dua perempuan yang menjaga Farah, yaitu bu Tin dan yang perempuan satunya, Ilham sangat familiar dengan wajahnya, namun Ilham masih mencoba mengingatnya.

__ADS_1


“Tuan, Nona Farah ...” Bu Tin tidak melanjutkan kalimatnya. Ia terisak.


“Iya saya sudah tahu,” jawab Ilham datar.


Ilham masih terpaku dalam posisinya tidak bergeser sedikit pun. Ia masih tidak percaya bahwa wanita yang terkadang mengacaukan hidupnya tergolek lemas, tidak berdaya dan tangan yang dipasang selang infus.


Tuan? Itu pasti suaminya Farah. Dan dia masih diam! Raut mukanya tidak menujukan kekhawatiran sama sekali pada istrinya! Padahal Farah bekerja dari pagi hingga malam. Kinan menggerutu dalam hati. Ia amat benci dengan suami sahabatnya.


Sikap Ilham yang diam membisu tanpa perasaan bersalah itu membuat Kinan makin marah. Rasanya ingin memaki pria yang berada dihadapannya.


Kinan pun berdiri, menatap Ilham dengan air muka yang penuh kebencian.


“Istrimu sedang sakit, tidakkah kau sedikit saja khawatir? Istrimu bekerja dari pagi hingga malam, hanya untuk keluarga kecilmu! Tidakkah ada rasa kasihanmu terhadapnya!” bentak Kinan marah kepada Ilham.


Mendengar suara keras dari Kinan, Akmal dan pak Budi yang sebelumnya menunggu di luar kamar, akhirnya masuk ke dalam kamar inap Farah.


“Kau itu suami macam apa?! Setiap hari istrimu selalu membawakan bekal makan siang untukmu, tapi tak pernah kau makan! Jika aku boleh jujur kau sangat tidak pantas mendapatkan istri sebaik dan setulus Farah!” lanjut Kinan.


Farah terbangun karena merasa terganggu. Ia melihat Kinan sedang memarahi suaminya.


Ilham baru saja menyadari, bahwa perempuan yang memarahinya adalah Kinanti, teman baik Farah dan anak sulung dari pak Budi satpam kedainya.


Mengapa gadis ini memarahiku?! Dia bilang apa barusan? AKU SUAMI MACAM APA!


Ilham mendengar makian itu, ia masih bisa bersabar saat Kinan memarahinya.


“Kinan sudah, sudah cukup. Aku mohon jangan seperti itu pada suamiku,” kata Farah lemah melerai pertengkaran Ilham dan Kinan. Farah tahu jika Kinan memiliki solidaritas yang tinggi. Dia tidak ingin jika sahabatnya tersakiti.


Kinan menghentikan bentakannya kepada Ilham. Ia menangis, sudut matanya basah, “Anda sangat tidak pantas untuk wanita sebaik Farah,” kata Kinan yang kini nada bicaranya tidak semarah tadi.


“Pak Budi, mohon bawa pulang putri Anda sekarang,” perintah Akmal yang melihat kejadian ini.


“Iya Pak Akmal saya minta maaf karena putri saya sudah lancang berkata seperti ini dengan Pak Ilham,” jawab Pak Budi lalu menarik tangan Kinan agar pergi dari tempat itu.


“Sekali lagi saya minta maaf Pak Ilham. Mohon maafkan kelancangan putri saya,” lanjut Pak Budi lalu pergi meninggalkan tempat itu sambil menarik paksa tangan Kinan.


Ilham masih terngiang-ngiang perkataan dari Kinan. Dia menyebut Ilham tidak pantas untu Farah. Perkataan itu menusuk sekali untuk Ilham. Ia tertunduk seperti tersadar akan sesuatu.


“Mas aku mohon maafkan Kinan,” kata Farah yang sekarang menangis.


“Kita pulang saja ya Mas, Aku rawat jalan saja.”


“Jangan Nona! Nona Farah masih sakit,” tegur Bu Tin.


“Tidak Bu Tin, saya masih bisa jalan, saya masih kuat. Saya ingin pulang ke rumah dan saya rawat jalan saja. Kak Akmal, tolong panggilkan dokter untuk mengurus kepulangan saya,” ujar Farah.


Akmal menatap Ilham, apakah Ia harus menuruti permintaan Farah? Begitu mata Akmal berbicara. Ilham membalas dengan mengangguk kecil.


***


Sesampainya di rumah, pak Budi sangat kecewa dengan kelakuan putri sulungnya.


“Kinanti! Ayah tidak pernah mengajarimu untuk membentak orang lain,” kata Ayah dengan sangat kecewa.


“Lelaki yang menjadi suami Farah memang pantas diperlakukan seperti itu Yah! Dia tidak sedikitpun khawatir dengan kondisi Farah!” balas Kinan.


“Kamu tahu? Mbak Farah bekerja di cafe itu sebagai tenaga pengganti. Dan pak Ilham suami mbak Farah itu pemilik cafe tempat Ayah bekerja!”


Kinan terbelalak tentang apa yang dikatakan oleh Ayahnya. Ia baru mengetahui hal itu.


“Ayah tidak tahu, bagaimana nanti jika pak Ilham memecat Ayah karena kelakuan putri Ayah yang sangat lancang itu.”


“Maaf Yah, Kinan sungguh tidak tahu. Kinan menyesal.” Kinan sekarang terisak.

__ADS_1


“Besok, kamu harus meminta maaf kepada pak Ilham, agar pak Ilham masih berbaik hati untuk membiarkan Ayah bekerja di cafenya.”


Kinan tidak menjawab. Ia hanya mengangguk.


__ADS_2