
Selamat berimajinasi
_________
“Bibi Saka, mereka siapa?!” tanya Kinanti meminta jawaban secepatnya.
Pria jangkung dengan gaya lemah lembut angkat bicara, “Amboi ... kita akan memperbaiki penampilanmu agar lebih cantik saat pesta nanti.”
“Pesta? Pesta apa?!” tanya Kinanti yang mendadak semuanya jadi membingungkan.
“Sesuai perintah Tuan Yori, kau akan kami sulap menjadi promadona dalam pesta,” sahut perempuan yang rambutnya dicat ungu.
Perempuan yang bergaya rambut bob datang menghampiri Kinanti yang raut wajahnya sedang dilanda kebingungan. “Nona tidak perlu takut, kami hanya ingin menjalankan perintah klien. Perkenalkan nama saya, Cintya.”
Seperti sihir, pembawaan dan wajah perempuan membuat Kinanti terbuai dan masuk dalam ajakannya. Kinanti menuruti semua perintah dari Cintya, mulai dari membersihkan diri sampai mengubah rambut Kinanti agar lebih cantik. Dibagian rambut, pria jangkung dengan gaya yang lemah lembut dan warna rambut mirip kuning jagung, menyebutkan namanya adalan Dom memotong sebagian rambut Kinanti. Dia menunjukkan skill hair stylist-nya.
Setelah selesai, giliran perempuan yang rambut serta penampilannya serba ungu mengecat rambut Kinanti yang sebelumnya sudah dilumasi dengan berbagai macam produk kesehatan rambut. Perempuan itu bernama Willy, ia juga menanta rambut kinanti agar lebih tertata dan cantik. Sentuhan terakhir datang dari Cintya yang memoleskan berbagai macam produk kosmetik yang tempatnya pun warna-warni. Kuku Kinnati pun tak luput dari polesan warna cantik. Misi mereka adalah menyelesaikan hal ini sebelum Naresh pulang. Mereka harus mempercantik gadis itu.
Senja yang berganti malam. Semua telah selesai, perempuan berambut bob dengan poni itu mengajak Kinanti ke salah satu kamar yang pernah Kinanti tempati sebelumnya. Di kamar itu ada patung manekin tanpa kepala yang memakai gaun yang pernah Kinanti lihat di butik tadi. Gaun hitam yang menarik pandangannya hingga rasa ingin memilikinya.
“Bukankah ini gaun yang ....”
“Benar Nona, ini gaun yang akan Anda kenakan di pesta malam nanti,”jawab Cintya.
“Pesta yang mana? Kalian tidak menjelaskan pesta mana yang akan aku hadiri?” Kinanti meminta jawaban yang sedari tadi ingin ia tanyakan.
“Bukankah Nona yang akan menjadi pasangan Tuan Yori di pesta nanti?” ujarnya, “harusnya Nona sudah tahu pesta yang mana.” Cintya tersenyum, pipinya mengembang hingga membuat matanya menjadi sipit.
Apakah yang dimaksud Cintya adalah pesta yang akan dihadiri oleh Nyonya Fernando? Bukankah posisiku hanya seorang maid? Hanya pendamping saja tidak lebih dari itu. Mengapa Kak Naresh memilihku?
__ADS_1
“Nona, apakah Anda tahu, gaun ini dipesan oleh Tuan Yori sesuai dengan keinginan Anda,” ucap Cintya membuyarkan lamunan Kinanti.
Kinanti menatap lekat gaun itu. Gaun yang sangat ingin ia miliki dan sekarang ia akan memakainya malam ini. Apakah ini sebuah permintaan atau sebuah perintah? Terkadang aku tidak mengerti jalan pikiran pria mesum itu.
Cintya meninggalkan gadis itu sendirian di kamar agar bisa mengenakan sendiri gaun hitam pilihannya itu. Sempurna, Kinanti sendirian di kamar yang pena ia tempati sebelumnya. Ruangan yang masih tampak sama seperti terakhir kali ia meninggalkan kamar ini. sebenarnya Naresh sudah meminta Kinanti agar tinggal bersamanya, tapi gadis itu menolak dengan alasan bahwa dirinya adalah seorang maid dan tidak sepantasnya tinggal bersama dengan pria tanpa memiliki suatu ikatan.
Kinanti telah selesai memakai gaun itu. Sangat pas melingkar di tubuhnya. Dalam bayangan cermin pun dia tampak sangat cantik mengenakan gaun beserta polesan ini.
“Apakah itu diriku? Kau tampak cantik saat di cermin dengan penampilan ini.” Kinanti memuji diri sendiri.
Namun dalam hatinya ada pertanyaan yang selalu menggiring ke pikiran yang sangat buruk. Pertanyaan itu makin tajam baunya saat ia berhadapan dengan cermin memakai gaun bak perempuan konglomerat. Terkadang pertanyaan itu menghujam jarum air hujan yang turun menghujam bumi dengan deras.
Apakah aku hanya gadis mainannya? Apakah permainannya sudah selesai? Bolehkah aku mengakhiri ini? Aku tidak lelah, hanya ingin kembal ke kehidupan normalku.
Tiba-tiba pintu terbuka tanpa ketukan. Seorang pria yang wajahya sangat familier melekat pada kedua bola mata Kinanti. Tuan Yori telah memakai tuxedo hitam datang seperti kata perempuan dengan rambut bergaya bob. Dari sorot mata pria itu ada menangkap keindahan hingga ia bisa mencetak senyuman yang menawan hati.
“Ternyata kau di sini,” ucap pria itu. Dia melangkah masuk mendekati Kinanti.
Ruangan itu hanya ada dua orang, Naresh dengan senyum yang menawan mengelus rambut Kinanti yang telah tertata rapi. Ia puas akan kerja ketiga orang yang telah memperindah cantik yang sudah murni ada.
“Kau sudah siap?” tanya Naresh.
Kinanti menunduk, ia tidak kuasa melihat senyuman yang menawan dari pria itu. Ia menghindari kontak mata yang bisa membawa hanyut perasaan. “Pesta mana yang akan kau datangi? Perlukah mengajakku, Kak? Padahal jika dipikir-pikir aku hanya seorang maid, tidak pantas mendapat ini semua.” Mata Kinanti yang memaksa melihat lantai kayu yang ia pijak.
Naresh masih tidak memahami apa yang baru saja diucapkan oleh Kinanti. Ia melihat gadis itu tertunduk lesu seperti ada jeratan yang membelenggunya. Demi membuat kenyamanan, Naresh menjangkau pipi gadis itu dengan kedua tangannya.
“Kau bukan maid.”
Kinanti memandang penuh wajah pria yang menjangkau pipinya. Tersirat janji yang selalu mengalir dari celah giginya. Detakan jantung Kinanti makin kencang memompa cairan darah lebih cepat.
__ADS_1
“Kau cantik hari ini dan kau pantas mendapatkan semuanya,” ucap Naresh.
Sebuah waktu yang terhenti ketika dua anak manusia saling tatap penuh kasih. Mereka menghiraukan sekitar hanya dengan seutas pandangan yang memiliki ikatan. Kinanti tidak yakin akan ikatan itu karena belum pernah muncul ke permukaan, namun rona merah telah menghiasi pipi bak warna sakura yang mekar.
“Apakah kita tidak akan terlambat jika hanya seperti ini terus-menerus?” tanya Kinanti di sela-sela momen yang menakjubkan itu.
“Sepertinya kau sudah siap untuk pergi ke pesta itu, Kinanti,” ujar Naresh, “mari segera berangkat.” Naresh menggamit erat tangan gadis itu untuk segera menuju ke mobil.
Mereka hanya melewati ruangan dan sudah teronggok manis mobil yang akna membawa mereka ke pesta. Kinanti menarik tangan Naresh, ia menggeleng tanda ada keraguan.
“Ada apa?” Naresh yang sedari tadi gemas ingin menandai gadis itu, tapi urung ia lakukan.
“Jika Tuan dan Nyona Fernando hadir bukankah aku akan menjadi pendampingnya? Dan aku harus menjadi sopirnya ‘kan?” Kinanti hanya tidak ingin membuat masalah terutama kepada majikannya.
“Sudah aku bilang, kau bukan maid! Tapi kau kekasihku malam ini.” Naresh tertap menarik tangan Kinanti dan membukakan pintu mobil untuknya agar segera duduk dan menikmati perjalanan ini.
Kinanti hanya menurut, ia duduk dengan hati-hati takut gaunnya tersingkap. Ia hanya duduk seperti yang diingkan oleh pria yang akan melindunginya dan bersikeras menyebutnya maid. Setelah mantap dalam posisinya, Naresh menutup pintu mobil. Malam ini ia ingin berdua saja menikmati perjalanan mencetak kenangan manis.
________
Biasakan setelah selesai membaca kisah ini, pencet like, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author🤗
Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.😁
Terima kasih
Salam Hangat,
Ilamy Harsa🍀
__ADS_1