
Farah masuk ke ruangan milik Ilham yang berada di lantai lima. Biar bagaimanapun Farah memiliki akses ruangan ini. Akmal mengizinkan Farah untuk minta jatah libur. Namun Farah belum memberi alasan.
Farah duduk di dekat meja kerja milik Ilham. Ia sedang menatap tas kecil pemberian Ray. Ia membuka tas itu ada kotak makan da air mineral yang telah Ray siapkan.
Farah membuka kotak makan itu, ternyata ini yang membuat Ray terlambat. Dia telah memasak spaghetti bolognese. Hati Farah terasa perih, ia telah bersalah membiarkan Ray jatuh hati padanya.
Farah menutup kembali kotak makan itu. Ia sedang tidak berselera untuk memakan spaghetti itu dan menyimpannya di tas ransel miliknya. Farah membuka laci milik Ilham, ia mencari dokumen tentang kedai baru di Kota Numa. Farah pernah mendengar kota itu saat ia mencari perguruan tinggi swasta terbaik di mesin percarian, komputer perpustakaan sekolahnya bersama Balqis dan Jihan.
Akhirnya Farah menemukankan catatan kecil. Ia membaca tulisan di kertas itu. Tak salah lagi itu alamat kedai milik Ilham di Kota Numa. Farah membawa catatan itu, memasukkannya kedalam tas.
Sekarang Farah harus menemui Akmal. Ia akan berpamitan kepada Akmal. Farah harus bergegas menemukan Ilham, ia ingin menyelesaikan kesalahpahaman ini.
“Aku ingin ke Kota Numa,” ucap Farah saat ia menghadap Akmal di ruangnya.
“Mengapa Mbak Farah ingin ke kota itu?” tanya Akmal yang kaget.
“Ingin mencari bosmu,” jawab Farah.
“Maaf Mbak, jika alasan libur kali ini hanya untuk ke Kota Numa, saya tidak memberikan izin.”
Farah tercengang mendengar jawaban dari Akmal. “Mengapa Kak Akmal tidak mengizinkanku ke Kota Numa?”
“Akan ada hujan badai di Kota Numa nanti sore, apa Mbak Farah tidak mendengar berita ini?”
“Itu hanya perkiraan cuaca saja, saya hanya mencari mas Ilham.”
“Saya sarankan Mbak Farah tidak berangkat ke Kota Numa,” ucap Akmal dengan penekanan.
Aku mohon jangan ke Kota Numa, pak Ilham tidak ada di sana!
Farah berdiri, ia menatap Akmal dengan penuh kemantapan hatinya. “Dengan atau tanpa izin dari Kak Akmal, saya akan tetap pergi menemui suami saya.”
“Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh,” salam Farah lalu beranjak pergi dari ruangan Akmal yang berada di lantai empat.
Akmal tidak bisa mencegah keinginan Farah untuk pergi ke Kota Numa. Ia hanya melihat punggung perempuan itu hilang di balik pintu.
“Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.” Akmal menjawab salam dari Farah.
Akmal segera mengambil ponselnya dan menghubungi Ilham, tetap Ilham tidak bisa dihubungi.
Akmal tidak tahu bagaimana jadinya jika Farah mengetahui bahwa suaminya tidak berada di kota Numa. Akmal berharap agar Farah selalu dilindungi dari hal yang buruk.
__ADS_1
***
Farah menaiki bus menuju stasiun kereta yang jarakya sekitar lima kilometer dari kedai milik Ilham. Farah memang memilih kereta karena waktu tempuhnya lebih pendek dibanding naik bus. Ia sudah membaca jadwal kereta hari ini.
Farah sudah memiliki kartu elektronik tiket untuk naik kereta antar kota itu. Ia bergegas menaiki gerbong kereta itu sesaat setelah kereta berhenti di peron.
Farah duduk di dekat jendela. Tatapannya kosong, hatinya berkecamuk. Sekali lagi ia mencoba menghubungi Ilham. Masih sama tidak ada jawaban. Untuk kesekian kalinya Farah menghembuskan nafas panjangnya.
Kereta ini melaju menuju Kota Numa.
***
Ilham melajukan mobilnya ke daerah timur Kota Zen. Logika dan hatinya terus beradu. Ia hampir saja menyerah. Beberapa kali Ilham tergoda untuk menyerah saja, pulang dan hidup bersama Farah. Egonya tetap mempertahankan keinginanya.
Setiap kali Ilham merasakan hujan, setiap itu pula memorinya teringat akan Farah. Hari itu hujan turun membasahi Kota Zen. Ilham mendongakkan kepalanya melihat langit abu-abu yang pekat.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Ilham menatap langit yang mendung itu.
***
Ray sudah keluar dari ruangan meetingnya, masih banyak waktu untuk janji makan siang bersama Farah, ia memutuskan untuk duduk beristirahat di ruangan pribadinya.
Ray mulai bosan. “Aku ingin menjemputnya,” guman Ray.
Ray berjalan keluar dari gedung perusaahan, banyak orang yang menyapanya ketika ia hendak keluar. Ray sudah menunggu di pintu utama kantornya.
Sopir Ray dengan sigap sudah membukakan pintu mobil untuk Ray.
“Kali ini aku ingin menyetir mobil sendiri,” ucap Ray.
“Baik Tuan,” jawab sopir itu.
Ray melajukan mobilnya menuju kedai milik Ilham. Ia sangat menunggu moment ini, makan siang bersama Farah.
“Sebentar sayang, aku masih dalam perjalanan menjemputmu,” ucap Ray tertawa saat menyetir.
***
Farah menatap kosong pemandangan yang silih berganti dari balik jendela. Ia terlihat seperti perempuan yang sedang patah hati. Tidak menampakkan aura kecantikanya. Murung, seperti awan kelabu itu.
Farah tersadar ketika lambungnya mengirim signyal bawah tubuh ini belum memasukan asupan makanan. Ia memang tidak makan sebelum berangkat.
__ADS_1
Farah membuka tas ranselnya, ia teringat membawa bekal makanan dari Ray. Farah mengambil air mineral dan langsung meminumnya.
Perjalanan menuju Kota Numa masih jauh, Farah memutuskan untuk memakan masakan dari Ray. Ia mulai memakan spaghetti itu dengan penuh kehampaan.
***
Ray sudah tiba di depan kedai tempat Farah bekerja. Ia segera mungkin mencari Farah yang biasa bekerja di lantai empat. Ia mencoba bertanya pada pelayan-pelayan yang menggerombol itu.
“Pak Ray, selamat siang. Ada yang bisa kami bantu?” tanya salah satu pelayan itu dengan kesopanannya.
“Maaf, di mana Farah?” tanya Ray yang sepasang matanya sudah menyusuri tiap jengkal lantai empat ini.
“Hari ini kak Farah sedang cuti,”
Mendengar jawaban dari pelayan itu, Ray mengernyitkan dahi.
Bukankah dia datang ke sini tadi pagi?
“Tadi kak Farah memang sempat ke sini karena harus meminta izin kepada pak Akmal. Tadi saya sempat berbincang kalau kak Farah ingin pergi ke cabang kedai baru di Kota Numa,” jawab pelayan itu seakan tahu bagaimana isi hati Ray.
“Hari ini?!” tanya Ray yang kaget mendengar jawaban dari pelayan itu.
“Iya Pak Ray.”
Ray merasakan ada palu yang memukul hatinya sangat keras. Sakit tapi tak terlihat. Ia teringat berita perkiraan yang ia baca tadi. Akan ada badai di Kota Numa itu berita yang beredar sekarang ini.
Ray mencoba menenangkan diri, ia mengambil nafas panjang.
Aku harus menemukannya di Numa.
Ray langsung berlari menuju mobilnya, ia harus bergegas menuju Kota Numa, sebelum waktu sore.
***
Ilham mendengar berita dari radio yang menyala dalam mobilnya. Ia mendengar bahwa bahawa Kota Numa akan terjadi badai.
Tiba-tiba ada sengatan yang menjalar dari dada sebelah kiri Ilham. ia memegang dada kirinya, merasa ada sesuatu yang buruk akan terjadi. Pertama yang terlintas di pikiran adalah bagaiman keadaan Farah.
Ilham mulai resah dengan pikiran-pikiran buruk yang bermunculan di kepalanya.
“Semoga kau dilindingi dari marabahaya. Aamiin,” guman Ilham.
__ADS_1