Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 163


__ADS_3

Episode 163: Segera Bergerak Jun!


Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!


Terima kasih telah membaca kisah ini.


Salam Hangat,


Ilamy Harsa


Selamat Berimajinasi


____________


“Tunggu!” Naresh berseru.


Madam pura-pura tidak mendengar. Ia masih terus berjalan. Ia tak mau berurusan dengan orang-orang yang kenal dengan Sirena.


Kinanti mencegah Naresh untuk tidak mengejar ibu berbadan gemuk itu. “Sirena pasti sudah bahagia bertemu dengan ayahnya, Kak.”


“Tapi ....”


“Sirena pernah bercerita padaku jika dia punya keyakinan ayahnya akan menjemputnya untuk pulang. Dia bisa sampai di sini karena dijual oleh neneknya sendiri,” ucap Kinanti. Sebenarnya ia sangat gelisah melihat pandangan para lelaki yang mengarah pada tubuhnya. Ditambah ia hanya memakai gaun selutut berwarna hitam. Rasanya ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini.


Naresh tidak percaya jika Sirena telah dijemput ayahnya. Tidak mungkin seorang ayah baru menjemput putrinya setelah tiga tahun bersaran di rumah bordil ini, kan? Aku yakin ada hal lain.


“Bisakah kita pergi dari tempat ini, Kak?”


Permintaan Kinanti membuyarkan lamunan Naresh. Gadis ini memegang lenganya dengan erat seakan pertanda jika dirinya sedang tidak nyaman dan ketakutan.


“Iya, kita pergi dari sini.” Naresh tersenyum dan mengelus punggung tangan Kinanti untuk memberikan rasa aman. Naresh menggandeng tangan Kinanti agar berjalan lebih cepat untuk sampai ke tempat mobilnya parkir.


Sesampainya di mobil mereka sejenak beristirahat. Naresh masih berpikir bagaimana Sirena sudah pergi sebelum ia menjemputnya. Pasti ada seseorang dibalik ini semua.


“Kak Naresh,” panggil Kinanti. Pria yang ada di sampingnya tidak merespon, dia tampak serius dengan pandangan lurus ke depan.


“Kak?” Kinanti memanggil lagi, tetap saja tidak ada respon.

__ADS_1


“Kak!” Kinanti terpaksa mengguncang lengan Naresh.


Naresh tersentak kaget, kesadarannya kembali pulih. “Iya, Kinan.”


“Kakak sedang melamun? Kak Naresh masih kepikiran Sirena ya?” Kinanti meremas pinggiran gaunnya.


Naresh tahu, gadisnya sedang cemas. Tapi, ia tak ingin melibatkan Kinanti dalam hal ini. Resiko bahayanya tinggi. Naresh mengelus puncak kepala Kinanti. “Aku sedang memikirkan, apakah Nona Manis di sebelahku ini suka menonton film di bioskop? Seingatku, tempat itu tidak jauh dari sini.”


Mata Kinanti membulat. “Apakah Kakak ingin mengajakku kencan?”


“Bisa dibilang seperti itu.” Naresh tersenyum. “Aku ingin malam ini terus bersamamu.”


Kinanti mengangguk setuju. Wajahnya sudah tidak tampak kecemasan. Naresh melajukan mobilnya ke arah selatan. Perjalanan untuk sampai ke bioskop hanya memakan waktu kurang dari tiga puluh menit. Ia lalu memakirkan mobil dan turun bersama sang kekasih tercinta.


Kinanti menggamit erat tangan Naresh. Semua pasang mata pasti setuju jika mereka adalah pasangan yang cocok. Mereka melihat jadwal pemutaran film di gedung bioskop itu.


“Kamu suka film horor?” tanya Naresh.


Kinanti menggeleng, tanda tak menyukai jenis film itu. Menurutnya, pasti hanya ada penampakan hantu dan efek dengung yang menegangkan. “Bagaiamana dengan film ini?” Ia menunjuk sebuah poster film.


“Rosewald? Kamu ingin menonton itu?” tanya Naresh. Ia sedikit mengernyitkan dahinya.


“Baiklah! Kamu pesan tiket dan beli popcorn ya. Aku ingin ke toilet dulu.” Naresh hanya tersenyum. Sebenarnya ia tidak terlalu menyukai film jenis fantasi. Tapi, apa boleh buat, tujuannya ke tempat ini adalah agar Kinanti lebih aman.


Naresh berjalan agak cepat menuju toilet. Ia harus segera menelepon Jun tanpa diketahui oleh Kinanti. setelah sampai di tempat, ia mengeluarkan ponselnya dan jarinya lincah mengetuk layar. Setelah menemukan nomor milik Jun, ia langsung menghubunginya.


“Jun!”


“Ada apa, Tuan?” jawab Jun diseberang sana. Sebernarnya ia berada di ruang perawatan selama ini. Ia harus berpura-pura sakit karena aksi konyol yang dilakukan beberapa sebelumnya.


“Tingkatkan keamanan rumah. Setelah itu cari Sirena sampai ketemu!” Naresh berkata tegas.


Jun sedikit terkejut dengan permintaan Naresh. Pasalnya, yang ia tahu hari ini tuan dan nonyanya sedang menjemput perempuan iu di rumah bordil. Lalu mengapa harus dia yang mencari?


“Sirena?” Jun mengulang nama perempuan pekerja se-ks komersial itu.


“Iya. Hari ini dia tidak ada rumahnya. Kata ibu bertubuh gemuk, dia disudah diambil oleh keluarganya. Tak hanya itu, apakah kau percaya? tanya Naresh.

__ADS_1


“Tunggu! Maksud Tuan mendapati Sirena telah pergi sebelum jam penyewaannya habis? Dan itu terjadi malam ini?” Jun memastikan.


“Benar! Sekarang lekaslah bergerak. Jangan ada yang terluka,” titah Naresh. “Tolong pastikan Anneline berada di rumah.”


Jun menyanggupi. Ia bangkit dari kegiatan rebah tubuh. Ia harus segera mencari informasi tentang Sirena.


***


Naresh merapikan bajunya. Ia harus tampil sebaik mungkin agar tidak terlihat cemas. Naresh keluar dari toilet dan berjalan menuju Kinanti yang sedang duduk membawa dua bucket berisi popcorn dan dua botol minuman bersoda.


“Maaf ya agak lama.” Naresh menggaruk belakang kepalanya walaupun tidak terasa gatal.


Kinanti menggeleng lalu menyerahkan satu bucket popcorn kepada Naresh. “Sebentar lagi filmnya akan tayang.”


Naresh tersenyum melihat keringaan kembali ke wajah manis gadisnya. Sepertinya kau akan sering mendapat ancaman saat bersamaku.


***


Jun bergerak. Pria empat puluh tahun ini selalu cepat dan tanggap dalam menhadapi situasi. Ia sudah berada di depan kamar Anneline dan masih meminta izin untuk menemui pemilik kamar ini.


Setelah Jun mengantongin izin, ia lalu menghadap Anneline yang sedang tenggelam dalam buku yang ia baca.


“Ada apa?” Anneline menutup bukunya dan melihat Jun yang memberikan hormat. Ia tak suka basa-basi dalam pesan.


“Saya diperintahkan oleh Tuan Yori agar menyampaikan pesan beliau kepada Nyonya. Tuan Yori berpesan agar Nyonya tidak pergi dari tempat ini. Para penjaga akan bersiaga di setiap sudut yang menuju kamar Nyonya,” ucap Jun.


Anneline hanya menunjukkan ekspresi wajah dingin seperti tidak peduli dengan pesan itu. Ia hanya menggangguk dan menuyuruh Jun pergi dengan isyarat tanganya. Lagipula, ia tidak bisa pergi selain bersama Kinanti.


Pastinya ia tak mungkin keliuar dari rumah yang penuh dengan penjagaan, ditambah tak ada izin dari Naresh.


“Pesan yang kau kirimkan itu sangat sia-sia, Kakak Ipar.” Anneline menghela napas dan melanjutkan bacaannya. Ia sesekali melihat jam yang berada di pergelangan tanganya untuk memastika sesuatu tidak terlewat begitu saja.


***


“Aaaaakkkk!” pekik seorang perempuan yang diseret rambutnya. Sedari tadi ia sudah berusaha untuk melepaskan diri dari jeratan penjahat yang ada disekitarnya.


“Jangan bermimpi jika kau bisa pergi dari tempat ini, Sirena!” ucap seorang pria yang berwajah garang.

__ADS_1


Sirena mengaduh kesakitan. Sekujur tubuhnya kini terdapat luka menganga yang cukup lebar dengan darah yang sudah mengering. Sedari tadi ia mendapat penyiksaat dari empat orang pria dan salah satunya pernah bertemu.


“Me-nga-pa kau me-nyik-sa-ku, Tu-an?” Suara Sirena terdengar lirih dan terbata-bata. Ia tampak tak kuat lagi. Pelipis kanannya robek, bahkan ia sudah muntah darah dua kali dalam malam ini.


__ADS_2