
Selamat berimajinasi
_________
Malam ini mungkin hari lacurnya seperti malam yang sebelumnya pernah gadis itu lewati. Ia pulang ke kamar mess maid perempuan dengan rasa lelah yang selalu membelenggu sekujur badannya. Sesampainya ia di dalam kamar hal pertama yang ia lakukan adalah menjatuhkan tubuhnya ke kasur yang empuk karena beban lelahnya sangat berat. Gadis itu seperti mayit bernyawa dengan hiasan wajahnya yang masih menempel.
Setelah cukup memeluk empuknya kasur, sekarang ia bangkit lagi dan memandangin dirinya yang sangat letih lewat pantulan cermin. Wajahnya masih terlukis produk kosmetik, dengan segera mungkin ia bersihkan. Kulitnya sudah tertutup lengketnya bedak dan lipstik membuat sel dipermukaanya sulit bernapas. Begitu dibersikan ada perasaan yang ringan menyertainya.
Setelah polesan itu luntur dan hilang, gadis itu bangkit dan menuju kamar mandi untuk membasuh dirinya. Ia begitu lelah hingga ingin sesegera mungkin masuk ke dalam pelukan kasur dan selimut yang hangat dibawah lampu yang sedang meremang. Ia ingin tertidur dan mencoba menutup mata.
Belum sampai pada tahapan mimpi, suara ketukan pintu yang kian terdengar mengusik ketentraman jiwa. Dengan paksaan dari pusat pengendalian memerintahkan untuk tubuh lelah ini bangun dan membuka pintu kamar. Sebenarnya dalam hati ada kedongkolan yang membuncah karena ketukan yang timbul dari daun pintu yang dihantam tidak begitu keras.
Gadis itu membuka pintu dan ia melihat tidak ada seorang pun yang bertamu ke kamarnya. Ia terkejut, matanya liar menatap keadaan sekitar yang sepi dan tenang. Lantas ia berpikir, lelucon macam apa ini? Mengapa selalu ada yang mengganggu keinginan untuk terlelap.
“Ah sudahlah ... mungkin hanya orang iseng,” guman Kinanti. “Lebih baik aku tidur saja!” Ia mendengus kesal.
Tepat saat Kinanti menutup pintu, tubuhnya disergap. Ia diringkus dengan mudah karena kalah cepat. Ditambah mata Kinanti ditutupi kain dan mulut yang disumpal sehingga ia tidak bisa berteriak. Tubuhnya menggeliat memberontak, kakinya menendang ke segala arah.
Sial! Kenapa aku diringkus seperti ini!
Kinanti hanya bisa mengerang, penglihatannya gelap total. Tubuhnya hanya bisa menggeliat tidak leluasa. Ia merasa ada seseorang yang menyeretnya dari kamarnya sendiri. Kinnati bisa merasakan kulit tubuhnya menyetuh kasarnya permukaan tanah dan batu kecil, terkadang ia merasakan rumput yang sedikit basah.
Tiba-tiba seseorang itu berhenti, tubuh Kinanti hanya diletakkan begitu saja di atas rerumputan yang basah dan mungkin saja berlumpur. Kinanti merasa sangat kesal karena ia baru saja mandi, dan tubuhnya harus diseret melewati terjalnya jalan yang kotor. Ia merasa jauh sekali seseorang itu menyeretnya. Bahkan kakinya terasa perih, mungkin bergesekan dengan batu yang ujungnya lancip.
Kinanti mendengar pintu yang diketuk dan suara engsel yang menandakan pintu itu terbuka. Saat ini ia hanya bisa mengandalkan indera pendengaran dan penciumannya. Semua masih terasa gelap, mulutnya sudah mengelurakan air liur yang banyak karena tersumpal oleh kain yang diikat ke belakang kepala.
“Sudah saya laksanakan perintah dari Tuan.”
Kinanti mendengar ada suara berat khas laki-laki, tapi ia tidak bisa memastikan siapa dibalik suara itu. Suara yang tidak ia kenali.
Seorang pria melangkah mendekati Kinanti, tentu dia bisa mendengar suara derap langkahnya. Ia merasa orang itu makin dekat, bau tubuhnya sangat familiar bagi hidungnya. Pria itu langsung menjepit rahang Kinanti, sedang memeriksa apakah yang dibawanya adalah gadis yang ia maksud.
“Bawa gadis itu masuk!” ucap pria yang sudah melepaskan jangkauan telapak tangannya.
Kinanti akhirnya mendengar suara itu, sangat familiar dengan nada khasnya.
__ADS_1
Apakah dia Kak Naresh?
“Baik Tuan!” Tanpa aba-aba kedua, laki-laki itu kembali menyeret tubuh Kinanti. Gadis itu hanya bisa memberontak. Sekarang tubuhnya bisa merasakan permukaan yang halus tidak lagi rerumputan yang basah dan dingin. Ia mengerang memberontak.
“Saya permisi, Tuan!” setelah laki-laki bersuara berat itu pergi. Kinanti bisa merasakan langkah kaki yang menjauh dari jangkauanya dan suara pintu yang ditutup. Kinanti hanya merasa tempat ini lebih hangat dibanding saat di luar.
“Haruskah aku menculikmu setiap malam agar bisa bertemu?” tanya pria itu.
Kinanti mengenal sekali suara pria itu, ia mengerang minta dilepaskan. Ia yakin itu adalaha Naresh. Ia memberontak minta dilepaskan.
“Kau mengenalku dengan baik, Kinanti. Diamlah, sebentar lagi akan aku lepaskan.”
Pria itu merasa iba melepaskan kain yang menyumpal di mulut mulut Kinanti. Ia memandang tubuh gadis kotor. Dia hanya mengenakan gaun tidur tipis berwarna putih, berlengan pendek dengan penuh renda-renda kecil yang menutupinya. Pikirannya liar, sebetulnya ia ingin sekali mempreteli renda-renda kecil itu agar tubuhnya sempurna terlihat.
“Apakah kau Kak Naresh! Mengapa kau berbuat seperti ini! Lepaskan aku, Kak. Aku mohon!” Kinanti hanya bisa berteriak. Matanya masih tertutup kain, tangan dan kakinya diikat kuat.
“Lepaskan aku, Kak! Lepaskan ....” Kinanti terisak, ia memohon agar dilepaskan.
“Kamu kotor sekali.” Pria itu tidak suka dengan tubuh gadis yang bau lumpur dan seluruh tubuh kecoklatan hingga mengenai gaun tidurnya. Ia menggendong Kinanti menuju kamar mandi.
Kinanti tidak bisa berkutik saat digendong pria itu. Ia diletakan di lantai, kemudian terdengar suara air mengalir. “Apa yang ingin kau perbuat?!” Kinanti menyentak. Ia mencoba melepaskan diri jari jeratan tali.
“Kau harus mandi.” Naresh tersenyum, ia menggedong tubuh kecil Kinanti dan dudukkan di pinggir bathtub. Perlahan ia membuka ikatan tali yang melingkar kencang di kaki gadis itu, kemudian disusul membuka ikatan tali yang berada di tangan.
Kinanti hanya diam mengikuti alur dan sedikit menuggu saat yang tepat. Seperkian detik setelah jeratan tali yang itu lepas, ia mendorong tubuh Naresh hingga terjatuh. Kesempatan ini ia manfaatkan untuk lari. Belum sampai ke pintu utama, Naresh dengan lihainya menghadang pintu itu, ia memasang wajahnya sangat marah. Ia tak suka dengan gadis yang tidak penurut.
“Apakah kamu mau menghindariku lagi?” Naresh perlahan berjalan maju membuat Kinanti mau tak mau harus mundur.
“Jangan pernah keluar dari kamar mandi sebelum tubuhmu bersih. Jangan menguji kesabaranku.” Nares mendesiskan ucapanya. Dengan sigap, ia meringkut tubuh Kinanti menyeretnya dengan paksa untuk kembali ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya.
“Lepaskan aku Kak, mengapa kau begitu kasar padaku!” Kinanti tetap memberontak dalam dekapan Naresh. Sampai di bibir bathtub, Kinanti berusaha melepaskan diri. Namun Naresh tak kalah kuatnya hingga ....
Byuurrr!!
Mereka jatuh ke dalam bathtub yang berisi air hangat. Kinanti berada di atas pelukan Naresh. Sesaat waktu terasa berhenti, mereka menikmati dekapan yang penuh emosi itu dalam air yang hangat. Sangat nyaman dan menenangkan. Hingga Naresh tersenyum nakal, sepasang binar matanya menemukan pemandangan yang elok yaitu Kinanti yang mengenakan gaun tidur yang basah hingga mencetak jelas lekukan tubuhnya.
__ADS_1
Kinanti yang semula memperhatikan senyuman pria itu dengan mata yang tertuju pada sesuatu. Lalu ia mengikuti sorot mata Naresh yang sedang asik menikmati pemandangan tempat terlarangnya yang sedang menggantung indah ditambah gaun yang basar membuatnya nampak jelas.
“Aaaaaaaaakkkkkk!! Dasar pria mesum!” Seketika Kinanti bangkit dari posisinya dan meringkuk berduduk jongkok menutup tubunya yang sudah basah.
Naresh hanya tertawa, ia juga bangkit dan duduk di dalam bathtub bersama gadis kecilnya. Bisa dikatakan mereka masuk ke dalam bathtub bersama walaupun masih memakai busana yang lengkap.
“Aku menyuruhmu untuk mandi, tapi sepertinya kau lebih suka dimandikan olehku.” Naresh tersenyum penuh makna yang mengartikan tentang kemesuman. Matanya bak singa yang kelaparan dan melihat rusa kecil yang cantik.
Langsung saja Naresh menyergap tubuh Kinanti dan menenggelamkannya ke air sampai batas kepalanya. Kinanti sulit melawan karena tenaganya tidak sebesar pria yang menindihnya saat ini. Ia harus memohon untuk agar tidak diperlakukan lebih gila lagi.
“Baik! Aku akan mandi. Aku juga akan menuruti semua kemauanmu!” Kinanti memohon.
Naresh tetap saja menenggelamkannya hingga gadis itu menahan napasnya. Kepalanya bergerak seakan harus mengambil oksigen lagi, karena paru-parunya tidak kuat berada lama di dalam air. Naresh hanya memandang dingin, tapi otaknya sedang mencerna kalimat yang baru saja diucapkan Kinanti.
“Kau mau menuruti semua permintaanku?” Naresh mengangkat kepala Kinanti. Hal itu langsung dimanfaatkan untuk mengambil udara.
“Iya Kak,” Kinanti buru-buru mengiyakan karena tidak mau ditenggelamkan lagi seperti tadi.
Naresh mendekatkan wajahnya dan sedikit mengasurkan bibinya di sisi pipi Kinanti. “Kalau begitu jadilah maid yang menuruti semua perintah majikannya tanpa protes.”
Jantung Kinanti berdegup lebih kencang, ditambah lagi cara Naresh yang membisikkan perintahnya menambah ketakutan kian memuncak. Nyalinya menciut jika melihat marah yang sedang ditunjukkan oleh pria ini.
“Sekarang mandilah, gunakan sabun yang terbaik dan parfum yang paling mahal. Sudah tersedia di meja itu.” Ujung jari telunjuknya terarah pada meja yang penuh dengan produk toiletries ternama dan tentunya ekslusif yang hanya dimiliki oleh segelintir orang.
“Kehadiranmu akan aku tunggu di kamar yang terhubung lansung kamar mandi ini. Jadilah maid yang menurut dengan perintah majikannya.” Naresh bangkit dan keluar dari kamar mandi ini dengan kemeja putih dan celana yang basah. Ia akan meninggalkan gadis itu untuk membersihkan dirinya agar lebih pantas.
Kinanti hanya mengangguk pasrah. Ia sudah tersudut dari sisi manapun, tidak ada yang bisa dimintai pertolongan. Naresh, pria yang dulu membawanya dengan penuh pengharapan ternyata sama seperti pria pemerkosa diluar sana, hanya bisa menikmati kehangatan ranjang yang harus ia berikan kepada Naresh. Setidaknya itu yang dipikirkan oleh dirinya kini.
_______
Biasakan setelah selesai membaca kisah ini, pencet like, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author😁
Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.🤗
Terima kasih
__ADS_1
Salam Hangat,
Ilamy Harsa🍀