
“Mbak Farah apa nggak merasa jijik dengan saya?” tanya Rahma.
Pertanyaan itu mengejutkan Farah.
Mengapa Mbak Rahma harus mengajukan pernyataan ini?
“Maksudnya?”
“Saya hamil tanpa adanya pernikahan, saya perempuan tidak baik Mbak, saya wanita pezina!” jawab Rahma menangis.
Farah merasa kasihan dengan apa yang dikatakan Rahma.
“Mbak Rahma, tidak boleh seperti itu. Jangan pernah mengucapkan kata-kata kasar itu. Kasihan jika bayi di rahim mendengar semua ini dari ibunya.” Farah menengangkan Rahma.
“Ini memang kenyataanya, saya memang perempuan tuna susila. Saya pendosa!” Rahma menangis.
“Mbak Rahma harus tenang. Mbak, saya tidak peduli dengan masa lalu Mbak. Yang saya inginkan Mbak bisa lebih baik dari masa lalu Mbak itu saja,” kata Farah.
“Mbak Farah baik kepada saya. Dan sekarang saya menyesal Mbak, mengapa saya bisa terjerumus jurang setan itu,” balas Rahma.
“Mbak Rahma, hamil karena perzinahan itu memang dosa besar. Tapi bayi yang ada di kandungan ini tidak boleh disalahkan. Mungkin ini cara Allah untuk menghentikan perbuatan zina ini. Jika Mbak tidak hamil, mungkin Mbak Rahma tidak akan berhenti untuk melakukan dosa ini,” jelas Farah panjang lebar.
Farah memeluk Rahma.
Rahma membeku, terdiam berusaha mencerna kata-kata yang diucapkan Farah. Rahmah tertunduk mengelap air mata yang membasahi pipinya.
“Jika Mbak Rahma berkenan ingin bercerita, saya akan senang hati mendengarkanya, mungkin Mbak Rahma perlu berbagi untuk menanggung beban ini,” tawar Farah.
Rahma mengangguk. Aku bersyukur, Engkau mempertemukan aku dengan perempuan baik hati ini.
Rahma memperbaiki duduknya, ia meminum jus alpukat itu. Satu tegukan yang menyegarkan tenggorokan.
“Kamu tahu Mbak, ada tiga orang di dunia ini yang sangat baik padaku. Yang pertama ibu panti, Mbak Farah dan Akmal.” Rahma membuka ceritanya.
“Hah?! Kak Akmal?” tanya Farah tak percaya.
Rahma mengangguk, Ia menutup mata, mengembuskan nafas, bibirnya tersenyum, seperti mengingat sesuatu. Memori yang menyenangkan.
“Saat usia saya 10 tahun, setelah keluargaku meninggal karena kebakaran hebat yang melanda pemukiman padat penduduk yang membuat saya menjadi sebatang kara, saya terpaksa tinggal di panti asuhan. Tempat panti itu di pinggir kota yang jauh dari hiruk pikuk kendaraan. Seperti sebuah perdesaan. Saat pohon-pohon masih rindang, banyak anak kecil bermain di halaman panti, penuh tawa riang.”
__ADS_1
***
“Ini adalah anak korban kebakaran, keluarganya sudah meninggal dunia karena hangus terbakar. Dia juga tidak punya sanak saudara. Jadi dia akan tinggal di sini,” ucap bapak yang berseragam cokelat itu menyerahkan amplop berisi semua biodata anak perempuan itu.
Ibu panti memeriksa semua kelengkapannya. Ia memandang anak itu. Pucat, muram, menunduk memandang lantai yang dia pijak, dan lebih banyak diam.
“Baik, masih ada kamar untuk anak malang itu,” kata Ibu panti, sembari membereskan kertas-kertas itu lalu dimasukannya ke dalam amplop.
Setelah menyerahkan anak perempuan itu bapak berseragam coklat itu berpamitan pulang.
Anak perempuan itu memeluk tas kecilnya yang berisi pakaian yang masih bisa di kenakan. Ibu panti mengajak anak perempuan itu untuk menempati kamarnya.
“Siapa namamu Nak?” tanya Ibu panti itu.
“Rahma.” Anak perempuan itu menjawab singkat.
“Mulai sekarang Rahma tinggal di sini. Sebentar lagi waktu makan siang, nanti Ibu akan perkenalkan Rahma dengan kawan-kawan di sini,” ucap Ibu panti itu.
Rahma kecil hanya mengangguk.
Kehidupannya di panti sangat membosankan. Rahma hanya melamun dan diam. Tak ada kawan-kawan panti yang mau menemaninya. Jika ada pasti Rahma langsung menolak ajakan mereka untuk bermain.
Saat dirinya berada di ayunan yang terbuat dari ban mobil bekas, tiba-tiba ada seorang anak laki-laki berumur 12 tahun menghampirinya memberikan sesuatu yang berada dibungkus kresek itu.
Rahma menerima bungkusan kresek itu.
“Dari tadi kamu diam saja. Aku ngajak kamu bicara. Namaku Akmal,” ucap anak laki-laki itu. Ia juga menjulurkan tangan.
“Namaku Rahma,” katanya sambil menjabat tangan Akmal.
Sejak saat itu Rahma menjadi akrab dengan Akmal dan mau membuka diri. Ia bersekolah yang sama dengan Akmal hanya berbeda kelas saja.
Keakraban Rahma dan Akmal menjadi hal yang lumrah oleh penghuni panti. Bahkan jika mereka seperti tidak bisa dipisahkan. Di mana ada Akmal pasti di situ ada Rahma, begitu pula sebaliknya, di mana ada Rahma di situ pula ada Akmal.
Saat mereka menginjak usia remaja dengan seragam putih abu-abu, mereka berbincang di bawah teduhnya pohon yang besar.
“Bagaimana memiliki sebuah keluarga?” tanya Rahma.
“Entahlah, pasti menyenangkan. Ada ayah yang akan selalu berjuang membahagiakan keluarganya. Ada ibu yang pandai memasak dan mengajari tentang semua kepada anak-anaknya,” Akmal menjawab. Ia tersenyum lebar.
__ADS_1
“Aku sudah lama rindu akan masa itu Mal,” sahut Rahma.
“Suatu saat kamu akan mempunyai keluarga. Keluarga yang sangat indah,” balas Akmal.
“Setelah lulus sekolah, apakah kamu akan pergi dari panti ini? Melupakan panti ini, atau jangan-jangan kamu juga melupakan aku?” tanya Rahma yang mulai khawatir dengan perputaran waktu yang begitu cepat.
“Aku tidak akan melupakan panti ini beserta penghuninya. Aku mendapat beasiswa untuk berkuliah di kota besar, Aku tak ingin melewatkan kesempatan ini. Aku ingin memiliki masa depan yang lebih baik dari ini,” jelas Akmal.
“Apa kamu akan melupakan aku?” tanya Rahma yang menunduk.
“Tidak. Kelak aku akan datang untuk menjemputmu,” ucap Akmal.
***
“Berarti, kalian tumbuh bersama di panti itu?” tanya Farah yang penasaran akan cerita masa lalu Rahma.
“Benar Mbak, dulu saya satu panti asuhan dengan Akmal. Sejak lulus dari SMA, Akmal melanjutkan kuliah dan saya bekerja sebagai kasir disalah satu minimarket,” jawab Rahma. Ia menghela nafas panjang dan berat. “Sampai suatu hari saya terjerumus ke jurang setan, itu mengubah semua tatanan hidup saya,” lanjut Rahma.
Rahma menunduk, matanya tertutup. Air matanya mengalir di sudut mata membentuk sebutir partikel yang siap jatuh membasahi pipi. Memori yang menyakitkan.
***
Setelah lulus dari SMA diusianya yang dewasa muda 18 tahun, Rahma memutuskan untuk bekerja. Ia diterima menjadi kasir minimarket yang namanya sudah tidak asing di telinga masyarakat, bahkan cabangnya pun sudah menjamur diberbagai daerah di Indonesia.
Setahun Rahma menjadi kasir dengan upah yang dibayar sesuai UMR di kota itu, sebenarnya gaji Rahma sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun tidak bisa cukup untuk memenuhi gaya hidup.
Rahma dikelilingi oleh teman-teman hedon yang harus bergaya untuk kelas atas. Mau tak mau ia harus mengikuti kebiasaan hedon tersebut demi mendapat sebuah pertemanan.
Tatkala Rahma sering diajak teman-temannya untuk mengunjungin kelab malam. Rahma yang polos mau saja diajak untuk mengahambur-hamburkan uang, terlebih di meja kasino.
“Aku tak punya uang, aku nggak ikutan,” ujar Farah saat menolak ajakan temannya yang bernama Susi untuk masuk kelab malam.
“Aku juga tidak punya uang sama sekali. Tapi nanti aku akan mendapat uang di kelab malam itu,” jawab Susi.
“Kau mau berjudi?” tanya Rahma.
“Tidak, aku akan mendapatkan uang dengan cara yang menyenangkan,” jawab Susi tertawa.
Susi beranjak pergi dari kost tempat Rahma. Ia akhirnya berdiri dan mengekor pada Susi.
__ADS_1
“Aku kira kamu nggak mau ikut,” ujar Susi.
“Aku juga membutuhkan uang,” jawab Rahma.