Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 25


__ADS_3

Keesokan harinya Farah sudah bersiap-siap. Ia sudah meminta izin dari bu Tin, bahkan berpesan jika Ilham pulang agar menyampaikan pesan dari Farah.


Farah berjalan menuju halte bus yang berada dekat dengan gapura perumahannya. Ia masih menunggu bus.


“Tujuanku yang pertama yaitu khursus mengemudi yang berada dekat dengan kawasan pasar grosir,” guman Farah. Sedari tadi ia sibuk mencatat di buku kecil miliknya. Ia melihat catatan agenda untuk hari ini.


Tak berselang lama bus jurusan pasar grosir tiba. Ia segera menaiki bus itu. Menunggu perjalann sekitar 20 menit, Farah sudah sampai di kawasan pasar grosir. Ia langsung masuk ke bangunan toko yang bernama ‘Khursus Mengemudi Ardan’.


***


Akmal terlihat sibuk dengan ponselnya, sudah kedua kali ini Ia menelpon dengan tujuan nomor yang sama.


“Ada apa Mal? Tak bisakah menelpon nanti?” jawab Ilham yang berada di seberang sana.


“Maaf Pak llham, maaf jika saya mengganggu. Hari ini mbak Farah sedang berada di tempat khursus mengemudi yang berada di Kawasan Pasar Grosir,” sahut Akmal.


“Saya sedang mengemudi, pokoknya kamu ikutin terus kemana dia pergi, nanti laporan saja saat di kedai,” balas Ilham langsung mematikan ponselnya.


Akmal masih tak percaya kepada bosnya. Hari ini ia ditugaskan untuk mengikuti istri bosnya. Sungguh menurut Akmal ini pekerjaan yang sedikit sia-sia.


“Kenapa pak Ilham tidak menanyai istrinya sendiri? Pergi kemana sayang? Mau ketemu dengan siapa? Itu lebih simple dibanding menyuruh orang untuk mengikuti istrinya,” gerutu Akmal.


Tiba – tiba ponsel Akmal berdering. Akmal mengambil benda kecil itu. Ia menjawab telepon dari bosnya.


“Oh ya jangan lupa foto dia ketika bertemu dengan orang atau mengobrol dengan orang lain, kalau perlu divideokan sekalian. Nanti kirim ke saya. Sudah saya sangat sibuk! Dan jangan mengumpat dalam hati, jika saya tahu kamu melakukan hal itu dalam tugas yang saya berikan, konsekuensinya gaji bisa dipotong separuh! Mengerti?!” kata Ilham dalam percakapan teleponnya.


Bagaimana pak Ilham bisa tahu aku mengumpat dan sedikit keberatan?


“Iya Pak, saya laksanakan tugas Bapak dengan sepenuh hati,” jawab Akmal sengan nada yang ramah dan menyakinkan.


Ilham lalu mengakhiri percakapan itu.


Akmal masih tak menyangka apa yang dikatakan bosnya, bagaimana Pak Ilham bisa tahu. Ia lalu memeriksa keadaan sekitarnya.


“Tidak ada yang mengikuti aku kan?" guman Akmal.


***


Farah sudah menyelesaikan satu tugasnya, ia segera mencari seseorang yang sudah memiliki janji bertemu dengannya di sekitaran Pasar Grosir. Benar saja seseorang itu tengah menunggu Farah di dekat penjual siomay.


“Kinan ...!” teriak Farah saat melihat Kinan.


Merasa namanya dipanggil, Kinan menoleh ke arah suara yang memanggilnya.


“Farah ...?” guman Kinan.

__ADS_1


Farah menghampiri Kinan yang berada di seberang jalan dekat penjual siomay.


“Kamu sudah bawa apa yang aku minta kemarin?” tanya Farah.


“Sudah, fotocopy kartu identitas diri, ijasah, daftar riwayat hidup dan amplop coklat besar,” jawab Kinan.


“Sekarang ayo pergi, hari ini kamu sudah tidak menjadi juru parkir,” seru Farah menarik tangan Kinan.


“Kita mau kemana Farah?!” tanya Kinan kepada Farah yang tanpa persetujuan darinya sudah menarik tangan Kinan untuk menuju halte dekat Pasar Grosir itu.


“Sudahlah nanti kamu akan tahu sendiri,” jawab Farah.


Akhirnya Kinan menurut saja. Ia tak tahu apa yang akan dilakukan Farah untuknya. Farah hanya berpesan saat menelpon malam itu, agar hari ini Kinan memakai baju terbaik tidak boleh terlihat seperti laki-laki. Dan Kinan harus membawa persyaratan untuk melamar pekerjaan beserta amplop coklat itu.


Bus masih melaju, dan sampai saat ini Farah tidak memberitahukan apa yang ia kerjakan. Itu membuat Kinan sebal. Ia memandang jendela bus.


Lambat laun Kinan tahu jalan ini.


Bukankah ini jalan menuju cafe yang terkenal itu? Tempat Ayah bekerja!


Bus berhenti di halte tepat depan kedai milik Ilham Farah mengajak Kinan untuk turun.


“Kita sebenarnya mau ngapain sih?” tanya Kinan yang sudah mulai sebal.


“Sudah, ikuti saja,” jawab Farah.


Farah menuju kepada seorang lelaki dewasa yang berdiri di sebelah booth container kecil berwarna merah mencolok dengan tulisan di atasnya, ’KARYA JUS’.


“Maaf, membuat Bapak menunggu,” salam Farah.


“Ini Mbak Farah kan, yang menelpon kemarin?” tanya lelaki itu.


“Benar pak, saya yang menelpon kemarin. Ini teman saya yang ingin bekerja,” jawab Farah.


“Selamat siang Pak, nama saya Kinanti,” kata Kinanti memperkenalkan diri.


“Saya Reza. Boleh saya lihat lamaran pekerjaan Anda?”


Kinanti menyerahkan amplop coklat yang ia bawa sedari tadi. Sekarang Kinan tahu maksud Farah mengajaknya kesini. Farah sedang menunjukkan pekerjaan untuk Kinan.


Setelah bernegosiasi dengan pak Reza, akhirnya Kinan diterima berekerja disini berjualan jus buah dan makanan ringan yang sangat disukai para mahasiswa.


Kinan bekerja paruh waktu dari jam 08.00 pagi sampai jam 15.00. sekarang Ia sudah memiliki pekerjaan tetap, tak harus menjadi juru parkir lagi.


Kinan membuatkan es teh satu gelas cup ukuran jumbo untuk Farah sebagai tanda berterima kasih untuk ini semua.

__ADS_1


“Kinan, sekarang kamu tidak perlu menjadi juru parkir lagi di pasar grosir. Sekarang Kamu sudah memiliki pekerjaan tetap,” ucap Farah ditengah Kinan sedang membuat es teh untuknya.


“Terima kasih banyak Farah, kamu sudah banyak membantuku,” balas Kinan menyerahkan es teh cup ukuran jumbo untuk Farah.


Farah menerimanya. “Bismillah,” ucapnya sebelum menyeruput es teh itu. Rasanya segar dan dingin.


“Jika minum es teh cup jumbo ini aku jadi ingat kedua sahabatku Kinan, Mereka sangat suka es teh dengan wadah yang besar,” ujar Farah mengenang Balqis dan Jihan.


Kinan tersenyum mendengar cerita itu. Ia sungguh kagum dengan Farah. Menurutnya dia adalah perempuan yang gigih.


Tiba -tiba Farah teringat sesuatu. Ia membuka tas selempangnya mengambil beberapa kertas yang berisi dokumen penting.


“Kinan, ini ada sesuatu untukmu,” Farah tersenyum memberikan beberapa lembar kertas itu.


Kinan mengambilnya dan membaca kertas itu. ‘Formulir pendaftaran khursus mengemudi’.


“Ini untuk apa Farah?” tanya Kinan tak mengerti.


“Kamu harus melanjutkan impianmu selagi bisa Kinan. Itu formulir pendaftaran khursus mengemudi, untuk administrasinya sudah aku lunasi. Jadi setiap sore saat kamu pulang dari pekerjaanmu ini, kamu bisa langsung belajar mengemudi,” jelas Farah.


Kinan tak percaya, ini semua untuknya. Ia memandang Farah dan memeluknya.


“Terima kasih Farah. Baru kali ini aku memiliki sahabat sebaik dirimu.” balas Kinan yang sekarang terharu bahagia.


***


Akmal melihat pemandangan itu. Hatinya tersentuh.


“Ternyata mbak Farah baik, tak seperti yang aku kira. Lalu mengapa pak Ilham begitu mengabaikannya?” gumannya sendiri.


Ia lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku. Hari ini Akmal sudah selesai untuk megikuti Farah. Ia harus segera kembali ke kedai dan melaporkan kejadian ini kepada Ilham.


Sesampaianya di kedai, Akmal langsung naik ke lantai lima menemui Ilham.


“Maaf Pak Ilham,” sapa Akmal.


“Masuk!” kata Ilham.


Akmal pun melangkah masuk kedalam ruangan Ilham.


“Bagaimana laporanmu, siapa yang dimaksud teman baik?” tanya Ilham langsung pada intinya.


“Teman baik mbak Farah itu bernama Kinanti yang akrab dipanggil Kinan. Bisa di simpulkan mbak Farah mengambil cuti untuk mencarikan pekerjaan untuk Kinan,” jelas Akamal. Ia juga sudah memperlihatkan video kepada Ilham saat Kinan dan Farah sedang berbincang di dekat kawasan kampus.


Ilham menonton video dan foto-foto Farah dan Kinan yang diambil secara sembunyi-sembunyi oleh Akmal.

__ADS_1


Dia benar – benar tindak sesuai kemauannya.


“Sebenarnya perempuan yang bernama Kinan itu adalah putri sulung pak Budi, petugas keamanan kedai ini,” jelas Akmal lagi.


__ADS_2