
Ilham telah sampai di kedainya. Ruangan yang pertama ia tuju adalah ruangan milik Akmal yang berada di lantai empat. Ia hanya ingin melihat laporan dari Akmal tentang kedai miliknya di Kota Numa. Sesampaianya di ruangan itu, Ilham melihat ada dua buah gelas yang berisi kopi susu di atas meja milik Akmal.
Akmal tahu bahwa Ilham telah memasuki ruangan tanpa suara ketukan pintu. “Selamat pagi Pak?!”
“Pagi.” Ilham menjawab singkat. Ia langsung duduk di hadapan Akmal.
Akmal dengan sigap menyodorkan map yang berisi laporan penting. Ilham mengambilnya dan membaca semua laporan penting itu. Sesekali ia melihat Akmal sedang mencicipi kopi yang berada di hadapannya.
“Apakah itu menu baru?” tanya Ilham.
“Benar Pak, barista baru kita sedang mencoba membuat menu baru yang sedang viral ini. Dalgona coffee namanya,” Akmal menjelaskan.
Ilham melihat tampilan minuman itu. Dalam satu gelas terlihat susu yang diatasnya diberi kopi yang berwarna seperti karamel dan ada tambahan beberapa es batu. Sekilas tampilan minuman ini mengoda.
Setelah merasakan dalgona coffee, Akmal bangkit. Ia berjalan pada dispenser yang telah dinyalakan ke mode hot. Akmal membuka kopi sachet yang berada di dekatnya.
Ilham sedikit bingung dengan kebiasaan Akmal. “Bukankah kau sudah minum kopi dalgona? Apakah pagi ini harus minum kopi dua kali?”
Akmal masih menuangkan bubuk kopi sachetnya ke dalam cangkir dan menyeduhnya. “Itu bukan selera saya Pak.”
“Apakah menu ini tidak enak?” Ilham mengalihkan pandangannya kepada Akmal.
“Dalgona coffee memang enak dan kekinian , akan banyak orang yang memburu menu itu karena sedang viral di media sosial. Namun kopi itu tidak cocok untuk saya, Pak.”
Ilham mengernyitkan dahinya, ia meminta penjelasan ‘mengapa kopi itu tidak cocok untuknya?’
Akmal paham dengan tatapan Ilham kepadanya. “Dalgona coffee tidak cocok untuk saya yang lebih suka mengaduk kopi dengan bungkusnya Pak.”
Tangan Akmal cekatan, ia sudah melipat-lipat bungkus kopi sachetnya untuk dijadikan sendok pengaduk.
“Sepertinya kau harus segera menikah, agar kebutuhanmu tercukupi.” Ilham akhirnya bangkit dan membawa laporan dari Akmal. Ia akan memeriksanya di ruangannya sendiri yang berada di lantai lima.
Akmal hanya tersenyum kecut. Ia sudah memiliki segala hal, tabunganya cukup untuk membeli sebuah rumah hanya saja ia masih ingin memlih sendiri.
***
Farah dengan perasaan bahagianya membuat menu kesukaan Ilham yang berbahan dasar seafood. Udang saus pedas dan cumi asam manis kesukaannya. Farah sangat bersemangat membuat hidangan itu, ia sudah membayangkan bahwa suaminya akan makan dengan lahap hingga berkeringat.
__ADS_1
Farah telah selesai dengan kegiatan memasaknya, ia memutuskan untuk mandi dan sedikit berhias untuk menyenangkan hati suaminya. Ia melihat wajahnya yang masih natural tanpa make up dan masih ada sisa basah karena ia telah mandi. Ia sedikit memoleskan bedak dan perona bibir agar lebih cantik.
Farah telah selesai berhias, ia melihat jam yang tergantung di dinding kamarnya. Ternyata masih ada waktu satu jam sebelum jam makan siang. Akhirnya ia mempergunakan untuk membuat paper craft untuk hiasan dinding berupa bentuk bunga. Dengan keahlian dari mamanya dulu, Farah piawai membuat kerajinan itu.
“Semoga kelak aku bisa menjualnya. Semoga Mas Ilham memperbolehkan aku menekuni kerajinan ini.”
***
Ilham telah melihat semua laporan yang Akmal berikan tentang renovasi kedai kedua yang berada di Kota Numa. Memang benar, kedai Numa harusnya sudah cantik, mengingat selama lima hari Ilham pergi ke Kota Zen sehingga tidak sempat mengurusi kedainya yang kedua.
Kota Zen ....
Kota di mana aku mencari sosok Anneline sehingga aku mengorbankan banyak sekali hal yang berharga untukku. Kedai, kehidupaku dan yang terpenting Farah.
Apa aku boleh mencarinya lagi?
Tidak! Sudah cukup! Lupakan khayalan yang sangat semu dan menyakitkan itu. Seandainya sudah bertemu dengan Anneline, lalu kau harus apa?! Bukankah sekarang kau sudah memiliki istri yang menggemaskan yang sayang padamu? Lalu apa lagi yang kau butuhkah, Ilham!
Anneline belum ditemukan.
Sudah tidak perlu mencarinya! Dia sudah jauh tertinggal di belakang. Ingat kecerobohanmu meninggalkan Farah di Milepolis membuat Ray menyakitinya! Bahkan Ray tak segan untuk merebut Farah darimu!
Ilham melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Ah, sudah masuk jam makan siang ternyata. Aku harus pulang dan memenuhi janjiku kepada Farah.”
Ilham merapikan kertas-kertas laporannya dan membawanya pulang. Ia juga berpesan kepada Akmal untuk menjaga kedainya.
Akmal jadi curiga mengapa bosnya pulang di jam yang tidak seperti biasanya. Mungkin ingin menunaikan bulan madu yang tertunda. Iya! Setidaknya itu alasan yang Akmal temukan.
Ilham pulang mengendarai mobilnya menuju perumahan yang tidak jauh dari kedainya. Sesampainya di rumah, ia memasukkan mobilnya di garasi. Ini momen yang paling Ilham suka, ketika ia pulang disambut dengan senyuman manis dari seorang perempuan yang menggemaskan ini.
Ilham terpukau dengan kecantikan Farah.
Apakah ia memakai bedak hari ini? Dan polesan merah di bibirnya? Ah dia manis dan sudah ranum.
Farah menyambut kepulangan suaminya, ia senang bahwa suaminya tidak ingkar janji. Farah mencium punggung tangan suaminya dan Ilham mengelus puncak kepala Farah yang tertutup hijab.
Sedekat ini, dia sangat cantik sekali.
__ADS_1
Farah mempersilakan suaminya untuk duduk. Semua hidangan sudah tersedia di meja makan. Ilham membulatkan matanya, ia suka dengan menu makan siangnya kali ini. Benar saja Ilham makan dengan lahapnya. Farah tersenyum melihat itu semua.
Setelah selesai makan siang. Ilham dan Farah seperti imam dan makmum, membawa doa yang mereka panjatkan kepada Allah pada waktu dhuhur. Farah menyukai kelembutan dari suaminya yang lebih hangat dan perhatian ini.
Setelah selesai salat, Farah melanjutkan kegiatanyan untuk merangkai paper craft yang telah ia buat sebagai hiasan dinding kamar milik Ilham.
Ilham melihat karya seni dari Farah pun takjub, ia melihat keindahan yang di hasilkan oleh tangan-tangan mungil milik Farah.
“Sepertinya istriku memiliki bakat seni yang tinggi,” ucap Ilham.
Farah hanya tersipu mendengar ucapan dari Ilham yang menurutnya itu adalah pujian.
“Mungkin kau bisa menjualnya di situs jual beli online,” imbuh Ilham.
Farah mengejapkan matanya. “Boleh aku berjualan?” tanyanya sungguh-sungguh.
Ilham mendekatkan wajahnya. “Boleh asal jangan lupakan belajarmu, sayang.” Ilham mencubit gemas hidung Farah.
Seketika pipi Farah mengembang dan merona merah.
Ilham menggandeng Farah untuk masuk ke kamar baca yang berada di samping kamar tidur milik Ilham. Mereka duduk di kursi panjang yang mirip dengan dipan berkayu jati dan berpelitur. Ilham mengambil buku yang ingin ia baca, begitu pula dengan Farah.
Ilham duduk di atas kursi yang mirip dengan dipan itu. Namun berbeda dengan Farah, ia ingin tidur di pangkuan suaminya. Ilham tahu akan hal itu, ia tidak menolak dan juga tidak protes. Justru Ilham malah senang, tangan kanannya memegang buku serta tangan kirinya mengelus-elus puncak kepala Farah.
Sepertinya jelitaku sudah candu akan belaian tanganku, hingga kau bertingkah manja seperti ini.
Tak terasa Farah jatuh tertidur di pangkuan Ilham, dan Ilham tahu akan hal itu. Ia malah senang Farah tertidur, begitu tenang serta manis. Ilham tersenyum, ia mendekatkan wajahnya tepat ke depan wajah Farah. Ilham tahu jika Farah tertidur, maka dia tidak merasakan hal apapun. Hari ini ia mencicipi bibir lembut yang masih merah muda. Begitu lekat dan manis.
____________
jangan lupa setelah selesai membaca kisah ini, pencet LOVE dan kasih rating 5 bintang ya.. karena ini GRATISS😁
jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.
Terima kasih
Salam Hangat,
__ADS_1
Ilamy Harsa