Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 89


__ADS_3

Suara dering ponsel nyaring terdengar, ada panggilan telepon masuk meminta dijawab. Farah mendengar suara ponselnya, ia menuju nakas mengambil ponselnya yang sekarang menjerit keras. Farah mengetuk layar ponselnya, ia melihat nama “Kinan” muncul di layarnya. Ia pun menjawab panggilan dari Kinanti.


“Assalamu’alaikum," Kinan memberikan salam kepada Farah.


“Wa’alaikumussalam. Ada apa Kinan?”


“Hari ini kamu bisa datang ke stan-ku? Sudah lama kamu tidak mengunjungiku Farah.”


Farah berpikir, hari ini ia ada acara di jam 15.00. Masih lima jam lagi untuk menuju acara itu.


“Insya Allah aku akan ke sana, Kinan.”


“Aku tunggu kedatanganmu! Wassalamu’alaikum.” Terdengar jelas suara antusias dari Kinanti.


“Wa’alaikumussalam.”


Farah bersiap, ia bisa mampir ke kedai milik suaminya. Hari ini adalah hari perdana Farah untuk mengajarkan keterampilan di balai kota. Paper craft yang ia buat sudah laku di pasaran membuat nama Farah melejit seperti perempuan belia yang terampil. Banyak komunitas yang ingin menjadikan Farah sebagai pengisi materi tentang kewirausahaan dan keterampilan.


Ilham sangat mendukung sepenuhnya. Ilham juga bangga bahwa istrinya bisa seterampil ini. Menurutnya, Farah memang masih sangat muda, dia masih ingin menitih karirnya. Ilham tahu akan hal itu. Mungkin pendekatan yang perlahan yang bisa ia lakukan. Farah masih belum mengerti bagaimana menafkahi secara batin. Ilham bisa cukup bersabar tentang hal ini.


Farah telah bersiap dengan memakai baju terbaiknya. Ia berpamitan dengan Bu Tin sebelum melangkah keluar dari rumah. Farah berjalan sejauh 200 meter menuju halte yang berada di dekat gapura perumahannya. Tujuan pertamanya adalah kedai milik Ilham.


Farah menatap lekat bangunan halte yang kokoh itu. Dengan langkah yang sedikit dipaksakan, ia berteduh sendirian di halte sambil menunggu bus koridor 2A. Sepasang matanya liar menatap setiap jengkal kenangan yang tercipta di halte itu. Benar, Farah dengan mengenang semua tentang Ray di halte itu.


Mana bisa aku melupakanmu Ray? Setelah kejadian itu, sosokmu tak pernah muncul. Kau bagai tenggelam dalam palung yang tiada berdasar.


Farah menghela napasnya. Ia menenangkan hatinya yang sedikit berkecamuk. Namun kewaspadaan Farah meningkat. Ia menatap tajam lingkungan di sekelilingnya. Farah menoleh ke segala arah memastikan bahwa saat ini masih kondisi yang aman.


Tak lama bus koridor 2A berhenti tepat di depan halte yang berada di dekat gapura. Dengan sesegera mungkin Farah menaiki bus itu. Sebelum kakinya mantap berpijak, ia menoleh ke arah belakang. Entah apa yang membuat sedemikian rupa. Yang jelas, Farah tidak menemukan apa yang ia cari. Lalu Farah melanjutkan perjalanannya.


Farah hanya mengawasi sekitar, namun ia tidak benar-benar menganwasi seseorang yang berada di balik pohon besar dekat dengan halte itu. Seorang manusia yang memakai jaket dengan hoodie yang menutup kepalanya. Manusia itu juga mengenakan masker. Manusia itu melihat dengan pasti saat Farah menaiki bus yang baru saja pergi. Ia melihat ada sedikit yang Farah cari sebelum kakinya berpijak pada lantai bus.


Apakah kau tak merindukanku?


Farah menikmati perjalanan ini, sebentar lagi ia akan turun di halte depan kedai milik suaminya. Farah sudah bersiap, tibalah bus berhenti di jalte tujuan Farah. Dengan hati-hati Farah melangkah keluar dari bus.


Halte tempat tujuan Farah juga sepi. Tidak ada yang duduk di halte itu. Kemudian ia berjalan menyeberangi jalan raya untuk sampai ke kedai suaminya. Sesampainya di kedai, Farah di sambut sapaan dan senyuman beberapa karyawan dan karyawati yang berpapasan dengannya. Farah membalas tersenyum.


Farah naik ke lantai lima. Ia ingin menemui suaminya dahulu sebelum menuju ke stan jual Kinanti yang berada di depan kawasan perguruan tinggi. Sebelum berangkat Farah telah menyiapkan french toast untuk Ilham. Sekarang Farah bisa bebas ingin menemui Ilham tanpa harus meminta izin dari siapapun.


Dengan wajah yang sumringah Farah membuka pintu ruangan Ilham. “Assalamu’alaikum!”

__ADS_1


Ilham sedikit terkejut dengan kehadiran Farah yang sangat tiba-tiba. Ilham tersenyum melihat Farah yang mengenakan gamis berwarna soft blue senada dengan khimarnya. Itu warna Favorit dari istrinya. Farah mencium lembut punggung tangan suaminya.


“Wa’alaikumussalam, tumben kesini nggak bilang-bilang Mas?”


Farah yanga tertawa masih memperlihatkan deretan gigi putih yang rapi. “Ingin buat kejutan saja. Oh ya aku bawa french toast untuk Mas Ilham.” Farah menyodorkan sekotak bekal makanan kepada Ilham.


“Terima kasih, Sayang.” Ilham mengelus puncak kepala Farah.


“Oh ya, aku ingin ke stan penjualan Kinanti yang berada di depan perguruan tinggi itu. Boleh, Mas?” Farah meminta izin kepada suaminya.


Ilham belum memberikan jawaban. Ia sedikit mendapat pikiran liar yang cenderung licik. Ia tersenyum penuh arti.


“Boleh, tapi ada satu permintaan.” Ilham mendesis di setiap kata yang ia ucapkan.


Mata Farah melebar, ia berpikir tentag izin yang bersyarat itu. “Apa Mas?”


Ilham mendekatkan wajahnya, ia menunjuk-nunjuk pipi kananya sendiri dengan jari telunjuk. Farah tak tahu maksud dari gerakan Ilham. Ia berpikir sebentar, sekarang Farah tahu apa maksud dari suaminya. Farah mencubit pipi kanan Ilham.


“Awww! Sakit, Sayang!” Ilham berseru.


“Loh katanya minta cubit?” Farah heran bukankah suaminya sendiri yang meminta hal itu.


“Bukan cubitan!” Ilham sekarang menggosok-gosok pipi kanannya sedikit sakit karena ulah istrinya.


“Itu bukan isyarat untuk meminta cubitan, melainkan meminta ciuman.” Ilham langsung saja mendaratkan bibirnya ke pipi Farah. Semu merah merona mewarnai pipi sang pemilik.


Ilham melepas ciumannya. Ia melihat pipi Farah yang kemerah-merahan. Ilham tersenyum melihatnya.


“Lakukan seperti itu padaku,” ucap Ilham.


“Hah?!” Farah tertegun, ia masih berusaha mencerna kalimat yang baru saja diucapkan oleh suaminya.


“Aku sudah mencium pipimu, sekarang gantian kamu mencium pipiku.” Ilham menunjuk lagi pipi kanannya.


Farah menatap suaminya. Ilham sudah menempatkan posisi pipinya mendekati Farah. Hanya tinggal menunggu kapan momen itu tercipta.


Ini suatu perintah atau kewajiban! Arrghhh! Mengapa jadi seperti ini!


“Kok bengong? Ayo, jangan sampai aku melakukan lebih dari sekedar cium pipi!” Ilham berbicara dengan nada sedikit mengancam. Ia tahu tak mudah bagi Farah yang belum pernah melakukan hal ini sama sekali.


Farah mendekati tubuh Ilham, ia meraih kedua pipi Ilham dengan tangnnya. Dengan perlahan Farah mencium pipi kanan Ilham. Ia mendaratkan dengan mulus bibirnya. Terlalu cepat, Farah melepasan jangkauan itu.

__ADS_1


Sekarang Farah menunduk, ia sedikit malu setelah melakukan hal ini. Rona kemerahan tanpa jelas seperti blush on yang menghias pipinya.


“Sudah? Aku boleh pergi, Mas?”


Ilham hanya mengangguk mengisyaratkan jawaban ‘boleh’. Farah kemudian pamit untuk menuju stan penjualan tempat kerja Kinanti. Ilham hanya melihat punggung Jelita-nya pergi, hilang di balik pintu.


“Sebenenarnya ciumannya tidak begitu dalam. Sepertinya aku harus mengajarinya, dia telalu polos untuk melakukan hal semacam ini,” Ilham berguman sendiri. Ia meraih kotak bekal dan mengambil french toast, kemudian Ilham mulai memakannya.


Farah sudah berada di dekat kawasan perguruan tinggi. Ia melihat Kinanti yang masih melayani pesanan pelanggan. Farah memutusan untuk duduk di salah satu meja yang berada di depan both countainer yang berwana kuning bertuliskan “Karya Jus”.


Setelah selesai dengan pesanan-pesanan pelanggan, Kinanti segera datang mendekati Farah dengan membawa dua cup es teh dan sepiring kentang goreng. Kinanti duduk berhadapan dengan Farah, hanya meja yng mejadi batasnya.


“Pelangganmu ramai sekali Kinan, apakah ada yang bisa aku bantu?” Farah menawarkan diri untuk membantu Kinanti.


Kinanti menggeleng. “Tidak perlu Farah, kedatanganmu ke sini sudah lebih dari cukup.”


Mereka tertawa. Mereka mengobrol walaupun terkadang di tengah obrolan itu ada satu atau dua pelanggan datang untuk membeli jus dan camilan. Farah melihat Kinanti yang sangat bahagian dengan pekerjaan barunya. Setidaknya dia tidak harus menjadi juru parkir di kawasan Pasar Grosir.


“Akan aku tunjukkan sesuatu padamu. Aku memiliki dua pelanggan yang setia, mungkin sebentar lagi mereka akan datang kemari,” ujar Kinanti.


Farah hanya mengangguk. Ia berpikir bahwa pelayanan Kinanti sungguh baik tidak terkesan judes walaupun masih terlihat tomboy. Tak berapa lama kemudian, dua orang mahasiswi datang ke both countainer stan penjualan Kinanti. Mereka memesan dua es teh ukuran cup jumbo dan keripik kentang.


Sekilas Farah mendengar suara yang sangat tidak asing dari kedua mahasiswi itu. Ia menoleh ke arah sumber suara. Benar saja, Farah langsung mengenali suara mereka.


“Balqis, Jihan!” Panggil Farah, ia sedikit berseru untuk memanggil kedua mahasiswi itu.


Balqis dan Jihan refleks menoleh ketika nama mereka dipanggil. Alangkah terkejutnya mereka saat melihat bahwa sahabtanya juga berada di sini. Mereka saling berpelukkan. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu walaupun masih satu.


Tempat kost Balqis dan Jihan tidak jauh dari tempat ini. Ketiga orang sahabat itu sedikit berisik seperti merayakan sesuatu. Kinanti yang datang dengan membawa nampan yang berisi dua es teh dengan cup yang berukuran besar dan semangkuk keripik kentang siap tersaji di atas meja.


Kinanti sempat kanget bahwa kedua pelanggan setianya sudha mengenal Farah jauh sbeelum dirinya. Farah, Balqis, dan Jihan tertawa. Mereka menjelaskan kepada Kinanti tentang persahabatan mereka yang dimulai dari kelas satu Sekolah Menegah Akhir.


Percakapan di atas meja itu segera lenyap ketika Ilham datang untuk menjemput Farah. Kemarin ia sudah berjanji untuk mengantarkan istrinya ke balai kota. Farah memang ada janji sore ini, dan akhirnya memutuskan untuk pamit kepada Balqis, Jihan dan juga Kinanti.


______________


jangan lupa setelah selesai membaca kisah ini, pencet LOVE dan kasih rating 5 bintang ya.. karena ini GRATISS😁


jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.


Terima kasih

__ADS_1


Salam Hangat,


Ilamy Harsa🍀


__ADS_2