Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 113


__ADS_3

Selamat berimajinasi


_________


“Semuanya telah disiapkan di halaman samping rumah, Tuan Yori,” ucap maid laki-laki dengan memakai pakaian khas untuk pelayan perjamuan.


“Iya, terima kasih.” Narest tersenyum.


Maid itu pergi meninggalkan Naresh yang masih merapikan bajunya, ia sedang mempersiapkan dirinya. Ia juga sudah mandi dan memakai pakaian yang rapi kemeja puih dan celana yang memiliki warna yang senada, tampak menawan seperti model. Hari ini ia memang sudah merancang makan malam yang sempurna untuk dirinya dan Kinanti.


“Maaf ya aku membuatmu takut. Sebenarnya aku hanya ingin menikmati malam ini bersamamu Kinan. Sayang sekali aku tadi sedikit kasar, setidaknya itu membuatmu jadi gadis yang penurut.” Naresh berbicara kepada pantulan dirinya di cermin. Ia juga sudah mempersiapkan segalanya di kamar yang akan dipergunakan Kinanti untuk mempercantik penampilannya.


“Jangan mengecewakanku, Kinanti.”


***


Bau harum semerbak menguar dari tubuh gadis itu. Produk toiletries mahal dan eksklusif membuat aroma yang dikeluarkan sangat mewah, bukan seperti sabun murahan pada umunya. Kinanti yang sudah selesai membersihkan diri, kini justru kebingungan mencari sesuatu untuk menutupi tubuhnya yang masih basah. Ia hanya menemukan beberapa handuk yang masih terlipat dan terlihat bersih lalu mengambil dua buah untuk menutupi tubuhnya dan membungkus rambut yang basah.


Kinanti masih tampak ragu untuk keluar dari kamar mandi yang interiornya saja sudah mewah. Ia membayangkan hal yang sangat tidak ia inginkan. Ia takut, ingin kabur pun rasanya sulit. Kinanti menguatkan hatinya, ia membuka pintu kamar mandi berharap apa yang ia pikiran itu tidak terjadi.


Pintu terbuka, ruangan kamar yang luas dengan ranjang mewah berseprai putih dan interior kamar yang nyeni membuat Kinanti terkesima. Matanya menjalar mencari sosok Naresh. Nihil, ruangan itu sempurna kosong. Ia melangkahkan kakinya menuju ranjang. Ada yang menarik perhatiannya yaitu secarik kertas dan setangkai bunga mawar merah yang tampak berbeda di hamparan selimut berwarna putih.

__ADS_1


Ia membaca surat itu. Tertulis bawah dirinya harus mengenakan busana yang telah disiapkan dan berhias diri agar kecantikannya setara dengan mawar merah yang saat ini ia pegang. Setelah membaca surat itu, ia kembali disuguhkan dengan produk kosmetik dengan merek terkenal dan biasa digunakan artis-artis. Tentu saja Kinanti tahu soal ini karena beberapa hari, Nyonya Fernando memperkenalkan cara ber-make up untuknya.


Di samping meja rias, tergantung dress pendek selutut, berlengan panjang warna hitam. Ada renda yang berwarna putih sebagai pemanis dibagian kerah leher dan ujung pergelangan tangan. Kinanti tersenyum, menurutnya ini adalah busana yang terbaik. Sejenak ia melupakan tentang pria mesum itu. Hatinya sedang merajut kesenangan sebagai seorang wanita yaitu mencoba dress yang lucu ini dan berhias.


Perlahan ia menanggalkan handuknya dan berganti dress hitam dengan panjang selutut. Rambut yang panjang dan basah juga tak luput dari pengering rambut. Kinanti juga memoles bedak beserta perona bibir untuk menunjang penampilannya. Ia menerapkan ilmu yang pernah didapat saat mendampingi Nyonya Fernando.


Pantulan cermin menampakkan bayangan yang ditangkapnya. Kinanti berdandan secukupnya sesuai umur yang masih belia. Benar, sekarang Kinanti sudah mahir memoleskan produk kosmetik sesuai kebutuhan dan perpaduan warna. Rambut yang tergerai panjang dan hitam hampir mengering.


Tanpa mengetuk pintu, Naresh terkesima dengan penampilan Kinanti yang berubah drastis seperti perempuan metropolitan. Gaun pendek hitam itu melekat indah di tubuh mungil Kinanti, sangat pas mengikuti lekuk tubuhnya. Sepasang bola matanya enggan berkedip melihat keindahan ini.


“Kak ... maksudku Tuan,” ucap Kinanti, ia sedikit gugup dengan kehadiaran pria yang tiba-tiba masuk ke kamar ini. Ia bangkit dari kursi dan menunduk memberi hormat.


Naresh mendekati Kinanti dengan senyuman terbaik miliknya. Pemandangan ini sungguh menawan seluruh raga, rasa ingin memiliki muncul melebur dalam kesyahduan malam. Kinanti hanya bisa menunduk melihat lantai dan jenjang kakinya sendiri.


Kinanti memperhatikan pria yang semula penuh amarah kini berubah menjadi pria dengan penuh perhatian. Dengan sabar Naresh mengobat luka di lutut Kinanti.


“Auhhh! Sakit,Tuan.”


“Sejak kapan aku memberimu izin menanggilku dengan sebutan itu?” Naresh bertanya, ia masih sibuk menempelkan sebuah plester untuk menutupi luka di lutut gadis berdress hitam itu.


“Maaf ....”

__ADS_1


Belum selesai Kinanti menuntaskan kalimatnya, sebuah pelukan mendekat tubuhnya yang mungil. Ia merasakan tubuh yang besar, kuat dan tentunya nyaman. Pelukan yang sangat serat entah dengan apa perasaan ini terikat. Tak hanya itu, ia merasa pelukan ini memiliki janji yang tidak dapat diingkari.


“Maafkan aku, jangan menghindar lagi. Jangan buatku terus merasakan ketakutan akan kehilangan lagi.” Naresh mengeratkan pelukanya lebih dalam.


“Kak ....”


Naresh melepaskan pelukannya. Kedua tangannya sempurna menjangkau lembut pipi Kinanti. Sepasang matanya menatap lekat wajah ayu milik gadis ini. “Jangan terluka lagi, aku akan sangat marah jika kamu tidak menurutiku.”


Seperti mantra yang berembus, Kinanti menganggukkan kepalanya sangat ringan sekali pertanda ia mengiyakan sebagai jawaban.


“Sekarang mari kita menikmati malam ini di bawah formasi bintang dan indahnya rembulan.” Naresh tersenyum.


________


Biasakan setelah selesai membaca kisah ini, pencet like, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author😉


Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.🤗


Terima kasih


Salam Hangat,

__ADS_1


Ilamy Harsa🍀


Nb : Maaf ya baru bisa update hehheheh, semoga masih setia dengan kisah ini.😆😆😆


__ADS_2