
Episode 174: Rahasia yang Disembunyikan
Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!
Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa.
Terima kasih telah membaca kisah ini.
Salam Hangat,
Ilamy Harsa
Selamat Berimajinasi
____________
Di satu meja persegi yang lumayan panjang menjadi tempat bagaimana kencan ganda itu dilaksanakan. Sama seperti tadi, Ilham duduk bersama Farah dan Ray duduk bersebelahan dengan Karin. Setelah menunggu beberapa saat, empat mangkuk ramen sudah tersedia di meja mereka lengkap dengan minuman yang dipesan masing-masing.
Seperti biasanya, Ilham menyuapkan kuah kaldu yang rasanya sangat lezat. Walau sedikit malu dan sedikit tak enak hati, Farah tetap menerima suapan itu. Jika orang lain melihat pandangan ini lumrah saja. Namun tidak bagi Ray, pemandangan membuat perasaannya begitu menyedihkan.
Karin tahu apa yang dirasakan oleh bosnya. Ia yakin jika Ray sedang dalam tempat kelam yang menyedihkan bernama cemburu. Ia yakin ini pasti terjadi, bahkan untuk mengantisipasi agar bosnya tidak merasakan perasaan yang menyedihkan itu, ia tak mau ikut.
Setelah semuanya tandas, mereka berempat sepakat untuk melanjutkan jalan-jalan. Farah dan Karin berjalan di depan Ray dan Ilham. Seperti perempuan pada umumnya, jika ada yang menarik Farah dan Karin akan segera melihat-lihat bahkan rela merogoh dompet untuk membeli barang kesukaannya itu.
Ilham sengaja berjalan lebih pelan, hal itu membuat Ray mengikuti ritme langkah kaki itu. Ray yakin ada hal yang ingin disampaikan sahabat lamanya itu.
“Apa rencanamu?” tanya Ilham dingin. Ia sudah menduga dari awal jika ada maksud tersembunyi yang dirangkai oleh Ray.
Ray tahu penekanan pertanyaan semacam ini. Ilham sedang mencari tahu dengan bertanya langsung dan bertanya dia sedang merasa terancam. Ray tertawa dalam hati kecilnya, tapi ia tetap menjaga ketenangannya. Ray tersenyum. “Rencana? Rencanaku hanya ingin menikah dengan perempuan yang aku sukai, Sasmita.”
__ADS_1
“Bohong! Tak mungkin jika hanya itu. Jangan coba-coba merusak rumah tanggaku, Ray.” Ilham mengancam dengan nada tegas. Mereka masih berjalan pelan di belakang Farah dan Karin.
“Apakah selama ini aku merusak rumah tanggamu, Ham? Aku rasa kau tahu siapa yang paling berkhianat di dalam pernikahamu.” Ray menjawab setenang mungkin. Ekspresinya datar walau sesekali tersenyum karena menjebak Ilham dalam permainan kata-kata.
Ilham tidak bisa menampik ucapan Ray. Pria itu benar, jika ditanya siapa yang paling berkhianat di antar dirinya dan Farah, pasti jawabannya Ilham. Karena masih ada rahasia besar yang tidak diketahui oleh perempuan itu. Hanya Ray yang mengetahuinya, selama lima hari di Kota Zen.
“Kau terkejut, ya? Santai saja Ilham, aku belum memberitahukannya kepada istrimu jika kegiatanmu selama lima hari di Kota Zen adalah mencari keberadaan Anne.” Ray tertawa lirih. Ia telah meng-skakmat rivalnya.
“Aku masih memiliki kebaikan dalam diriku. Jadi aku masih ‘belum’ mengatakannya. Harusnya kau berterima kasih kepadaku atas kebungkaman ini. Jadi, perlakukan aku dengan baik. Itu saja permintaanku.”
Ilham telah kalah telak! Alih-alih mengancam Ray, justru dirinya yang sedang terancam. Ray adalah kunci rahasiannya yang ia simpan berbulan-bulan dari Farah. Ia bodoh karena menelepon Ray pada pagi buta. Ia bodoh karena harus mencari Anneline di kota seluas itu.
***
Pada jam sepuluh malam, Ilham dan Farah kembali ke rumah. Ilham tampak tak berkomentar banyak setelah mendapat ancaman balik dari Ray. Ia juga memperlakukan Ray selayaknya teman untuk membungkamnya.
Setelah nembersihkan diri, Ilham dan Farah melakukan ritual yang tak boleh terlewatkan, yaitu menyisir rambut. Semakin lama, rambut istrinya semakin panjang. Farah pernah mengeluh agar rambutnya dipotong saja, biar suaminya tak harus menyisirnya setiap malam, namun usulan itu ditolak.
“Mas, aku ingin bertanya sesuatu,” ucap Farah.
Ilham masih sibuk dengan kegitanya menyisir rambut istrinya. “Tanya apa, katakanlah.”
Farah terdiam sejenak. Ia ragu untuk mengatakan hal ini, tapi pikirannya selalu tergerak untuk menanyakan hal ini kepada suaminya. “Bagaimana jika aku duluan yang diambil oleh Allah, apakah yang akan dilakukan Mas saat itu?”
Tangan Ilham terhenti membelai rambut Farah. Ia terhenyak dengan pertanyaan yang baru saja diajukan sang istri membuatnya sedikit takut. Di kepalanya sudah muncul beberapa potongan adegan “bagaimana jika istriku tiada”.
“Mengapa kamu menanyakan hal itu?” Ilham bertanya balik.
Farah mengembuskan napas beratnya. Pertanyaan ini muncul ketika ia melihat dua ekor kucing yang satunya tergelatak tak berdaya, yang satunya lagi meraung-raung memanggil kucing yang tergeletak di jalan saat ia pulang.
__ADS_1
“Jawab saja, Mas. Apakah Mas akan menikah lagi atau ....” Farah tak kuasa melanjutkan perkataannya. Ia meremas ujung daster yang dikenakannya.
Ilham mengambil napas. Pertanyaan yang cukup sulit jika ia ditanya seperti ini. “Entahlah, aku bingung harus jawab apa. Yang jelas, aku selalu berdoa agar aku memiliki keluarga sampai aku melihat anak dan cucuku, jika diperbolehkan sampai melihat cicitku lahir.”
Farah tertawa seperti ada yang dipaksakan. “Mas benar, kita belum memiliki keturunan untuk melanjutkan generasi dari kita.”
“Sekarang giliran aku yang bertanya pertanyaan seperti yang kamu katakan sebelumnya. Bagaimana jika aku yang lebih dulu menjadi jenazah?” Ilham mulai merampungkan kegiatannya menyisir rambut Farah.
“Mungkin aku akan meminta diberi umur panjang, karena aku ingin melihat keturunanku tumbuh. Melihat anak-anakku kelah, bagaimana mereka berproses dari merangkak sampai berlari. Pastinya aku ingin memiliki momen itu bersama Mas Ilham.”
Kegiatan Ilham telah selesai. Ia berdiri dan meletakkan sisir ke tempat semula. “Kamu tahu, Sayang. Aku pernah kepikiran untuk merenovasi rumah ini.”
Farah menoleh. “Merenovasi rumah?”
Ilham mengangguk. “Iya, Sayang. Aku kepikiran jika nanti kita memiliki anak, pasti kamu sedikit lebih gemuk. Aku ingin rumah ini memiliki banyak tangga, agar kamu bisa berolahraga di dalam rumah.” Ilhan tertawa.
Saking gemasnya Farah, ia mencubit suaminya dengan keras. “Gendut itu hal yang wajar!”
“Oke! Oke! Ampun, ampun! Jangan cubit lagi.” Ilham memohon.
Farah menghentikan aksinya. Sekarang ia memiliki kebiasaan baru, tidak akan nyenyak jika tidak tidur di bahu suami. Sedari tadi ia bermanja di tempat itu seakan malam ini hanya miliknya dan Ilham.
Malam yang syahdu, malam dengan bulan yang gompal. Sebuah hasrat muncul dari dalam diri Farah maupun Ilham. Mereka seakan tergerak untuk melepaskan busananya masing-masing. Sekarang Farah sudah tidak segugup dulu. Kegiatan ini sudah kesekian kalinya ia lakukan bersama Ilham.
Malam pertama terjadi setelah tiga bulan pernikahan. Saat itu Farah sangat gugup, jadilah Ilham yang mendominasi. Sekarang, baik Farah maupun Ilham memiliki porsi yang sama, bahkan bisa terjadi beberapa sesi dalam semalam. Mereka bergantian untuk mendominasi sesi bercinta untuk malam ini.
____________
Jangan protes jika author nggak menjabarkan kegiatan di atas. Cukup bayangkan saja. okeeee!🤣🤣🤣
__ADS_1
Aku lagi seneng nih, soalnya sehari bisa update tiga episode! Yeay patut untuk dirayakan. Semoga penyakit males menyingkir dari raga ini...🤩
Untuk kalian yang ingin mengetahui bagaimana kondisi SIRENA, bisa mampir ke novelku yang satunya. Novel SIRENA sudah tayang.... selamat membaca.😉