
Matahari telah bersinar, sinarnya masuk ke celah-celah jendela kamar Farah. Ia terbangun merasa cahaya sangat terang.
Apakah ini sudah siang?
Benar Farah membuka matanya, ia melihat sudah jam setengah tujuh. Ia terbangun, badannya terasa sakit semua. Kepalanya sakit. Farah baru sadar sekarang ia berada di kamarnya. Ia mengingat-ingat bukankah sebelumnya ia tertidur di sofa ruang tengah. Dan ia mengingat ada Ilham yang membangunkannya saat mimpi buruk itu muncul.
Tunggu sebentar ada Ilham?
Apa Mas Ilham tadi malam pulang?
Farah tersadar, ia memegang kepalanya yang tidak berhijab. Farah langsung mengambil kerudungnya di lemari dan memakainya. Ia harus memasak untuk suaminya.
Farah berjalan menuju dapur. Ia melihat Ilham yang memakai celemek dan sedang memasak.
Hah?! Mas Ilham memasak.
Farah sedikit terkejut melihat Ilham sedang memasak nasi goreng.
Ilham telah selesai memasak nasi goreng dan telur mata sapi. Ia menyadari Farah yang berdiri di belakangnya.
“Sudah bangun?” tanya Ilham tanpa membalikkan badannya. Ia masih memindahkan nasi goreng yang telah ia buat ke mangkok besar.
Tak ada jawaban dari Farah.
Apa ini alasan mengapa aku tidak boleh mengambil jatah libur atau cuti di hari minggu. Ternyata Mas Ilham memiliki kegiatan ini.
Ilham membawa nasi goreng dan telur mata sapi ke meja makan, menatanya seperti Farah yang menata sarapan untuk Ilham.
“Jangan berdiri di situ, ayo sini kita sarapan bersama,” ajak Ilham yang melepas celemek yang biasa di pakai Farah dan Ia menarik tangan Farah untuk duduk bersama di meja makan.
“Aduh.” rintih Farah yang merasa kesakitan saat Ilham memegang tangannya.
“Aku ingin berbicara padamu. Bagaimana kamu mendapat luka memar di pelipis kananmu, tangan dan kaki itu?” tanya Ilham.
Bagaimana Mas Ilham tahu letak luka memarku?
“Kenapa diam? Jawab Farah, bagaimana kamu mendapat luka-luka itu? Ada yang menyakitimu? Katakan?!” suara Ilham sedikit meninggi.
“Aku terjatuh saat membersihkan toilet Mas. Aku terpleset dan aku menghantam wastafel. Itu asal muasal luka ku ini,” jawab Farah.
Ilham yang meragukan jawaban dari Farah.
Apa gadis ini berusaha menutupi apa yang menimpa dirinya? Nanti biar aku ke kedai untuk menanyai Akmal dan mengecek CCTV.
__ADS_1
“Lain kali kalau bekerja hati-hati. Ya sudah, sekarang ayo sarapan. Cobain masakanku,” kata Ilham yang mengajak Farah duduk dan Ilham menyajikan sepiring nasi goreng dan satu telur mata sapi untuk Farah.
Maaf Mas, aku terpaksa berbohong. Sebenarnya luka-luka ini akibat penyiksaan yang dilakukan karyawati lantai empat. Bahkan Aku diseret saat lantai empat sepi pengunjung. Mereka membawaku ke wastafel yang telah di isi air penuh dan menahan kepala di dalam air itu. Aku memberontak dan pelipisku terkena pinggiran wastafel marmer itu. Mereka iri kepadaku karena lelaki yang bernama Ray lebih memilih aku daripada mereka. Bukan cuma itu saja yang mereka lakukan padaku. Aku juga di kunci di toilet, beruntung Akmal datang untuk menyelamatkanku. Maaf Mas Ilham aku berbohong padamu.
Ilham melihat tidak ada yang beres dari sikap Farah hari ini. Dia hanya mengaduk-aduk makanannya. Tidak dimakan hanya diaduk-aduk saja.
“Kenapa tidak dimakan? Ada apa? apa rasanya kurang enak?” tanya Ilham yang sedari tadi melihat Farah yang tidak menyuapkan nasi ke mulutnya.
“Apa aku boleh tidak bekerja hari ini? Aku tahu peraturannya aku tidak boleh mengambil jatah libur ataupun cuti pada hari minggu. Tapi aku mohon hari ini saja izinkan Aku untuk tinggal di rumah. Jika Mas keberatan, aku akan berada di kamar sepanjang hari dan aku berjanji tidak akan mengganggumu.”
Mengapa Farah minta hal ini? Tidak seperti biasanya. Dia terlihat ketakutan dan luka-luka itu pasti bukan karena terjatuh. Aku harus segera memastikannya.
“Kamu di rumah saja, hari ini aku ada janji dengan rekan bisnisku di kedai. Kamu istirahat saja, jangan keluar dari rumah.”
Farah mengangguk, sekarang ia bisa makan nasi goreng buatan Ilham.
Eh? Mengapa rasa nasi goreng ini enak sekali. Lebih enak dari yang biasa aku masak!
***
Ilham berangkat menuju kedai. Ia memiliki janji dengan rekan bisnis sekaligus sahabatnya sejak di bangku kuliah.
Setelah sampai, Ilham langsung memanggil Akmal untuk datang ke ruangnya.
“Iya, aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu. Mengapa ada banyak luka memar di tubuh istriku?”
Akmal terdiam, ia mengingat permintaan Farah untuk tidak membocorkan hal ini kepada bosnya.
“Kemarin Mbak Farah membersihkan toilet di lantai empat, namut terjatuh ditambah pintu toilet rusak membuat Mbak Farah terkunci di dalam toilet itu. Beruntung kami bisa mengeluarkan Mbak Farah dari toilet itu. Dan pintu toilet lantai empat sudah di perbaiki kemarin malam, untuk menghindari kejadian yang serupa,” jawab Akmal dengan penuh ketenangan agar bosnya tidak tahu kalau Ia sedang berbohong.
Cerita Akmal hampir sama dengan Farah, hanya lebih detil. Apa mungkin Akmal berbohong? Rasanya tidak mungkin. Nanti Aku cek CCTV saja untuk mengetahui kebenarannya”
“Seperti itu. Hari ini biarkan dia untuk mengambil hari libur,” ujar Ilham.
Akmal mengangguk. Satu masalah sudah tertutupi.
Tiba-tiba ada seorang karyawan masuk untuk menyampaikan bahwa ada yang ingin bertemu Ilham.
“Siapa?” tanya Ilham?
“Bapak Rayhan,” jawab karyawan itu.
Ilham lalu beranjak mengajak Akmal untuk mengobrol santai. Ilham tahu kalau Ray akan datang mengunjunginya. Sahabat lama.
__ADS_1
“Hay Ilham bagaimana kabarmu?” tanya Ray yang sudah duduk di meja nomor tujuh dekat dengan jendela.
“Alhamdulillah baik,” jawab Ilham.
“Beberapa hari yang lalu aku datang ke kedaimu, ternyata Kamu buka cabang baru di kota sebelah,”gurau Ray.
“Maafkan Aku Ray. Beberapa hari ini aku sibuk sekali.”
“Nampaknya kamu harusnya segera menikah Ilham, agar beban pikiranmu sedikit terbagi,” kata Ray dengan tertawa khasnya.
Aku sudah menikah Ray.
“Bukankah kamu juga harus segera menikah Ray? Biar hidupmu sedikit terurus?” gurau Ilham.
“Mungkin sebentar lagi, dengan karyawatimu,” jawab Ray bangga.
Akmal hanya diam tidak menyela pembicaraan mereka. Hanya saja Akmal sekarang terfokus dengan kalimat yang baru saja diucapkan Ray.
“Karyawatiku? Siapa tunjukkan orangnya Ray?”
“Nanti saja jika aku sudah berkenalan dengannya. Akan aku ajak ke rumahmu nanti,”
“Benar itu Ray, tepati janjimu.”
“Maaf Akmal, bisa tinggalkan kami berdua saja di sini?” ucap Ray yang sedikit terganggu dengan kehadiran Akmal.
Akmal akhirnya mengangguk meninggalkan Ilham dan Ray di meja nomor tujuh. Akmal sangat yakin sekali kalau perempuan yang dimaksud Ray adalah Farah, istri bosnya.
“Apa kau mengetahui di mana Ann sekarang Ray?” tanya Ilham.
Ray membuka jasnya, mengambil sesuati di balik jasnya. Sebuah foto dengan potret seorang perempuan yang sedang berbelanja di mall.
“Bagaimana kamu mendapatkan foto ini?” tanya Ilham yang terkejut dengan potret perempuan di dalamnya.
“Beberapa waktu lalu, aku di berada di pusat perbelanjaan di Kota Zen. Aku melihat Anneline sedang berbelanja di sana. Anne juga melihatku dan langsung berlari ketika mendapatiku sedang memfoto dirinya. Dia menghindariku. Namun aku kehilangan jejaknya,” jawab Ray.
Ilham melihat foto itu lamat-lamat kerinduannya menyeruak di relung hatinya. Bagaimana tidak? Anneline seorang gadis yang mampu menarik Ilham dari jurang keterpurukan. Dan Anneline adalah cinta pertama Ilham yang sangat sulit dilupakan.
“Kenapa dia menghindariku dan menghilang selama enam tahun ini? Ann juga menghindarimu,” ucap Ilham.
Ray menggeleng.
“Kapan kamu akan memperkenalkanku dengan calon kekasihmu?” tanya Ilham mengalihkan topik pembicaraan.
__ADS_1
“Nanti ketika sudah tepat pada waktunya,” jawab Ray.