
Yuk bantu Author untuk :
- Like/love setelah baca cerita ini
-Tinggalkan jejak di kolom komentar
-Beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena itu sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author
Jika ada yang ingin ditanyakan, kritikan dan saran silakan tulis di kolom komentar atau DM di Instagram saya @ilamyharsa
Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.
Terima kasih
Salam Hangat,
Ilamy Harsa🍀
Selamat berimajinasi
_________
APAKAH AKU MASIH GADIS BELIAN?
Ada perasaan yang membangunkan Naresh. Ia membuka matanya dan langsung bangkit. Kepalanya masih terasa berdenyut. Ia mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Sebuah jam tergantung di dinding menunjukkan pukul tiga pagi hari. Seketika ia meraba tubuhnya dan perasaan lega itu muncul, ternyata dia masih berpakaian lengkap walaupun jas yang ia kenakan tergeletak di kursi.
Naresh melempar pandangannya ke seluruh sudut kamar. Benar ia semalam tidur di tempat ini. Matanya menangkap Sirena yang tertidur meringkuk di sebelahnya. Dia bernapas sangat lembut dan pelan. Tubuhnya hampir sepantaran Kinanti hanya dia lebih menonjol di bagian tertentu.
Naresh harus segera keluar dari rumah ini, ia juga baru sadar jika Sirena tidaklah sakit melainkan berpura-pura. Baru kali ini ia merasa di permainkan oleh perempuan yang lebih muda itu.
“Bahkan dalam tidurmu pun kau masih saja menggodaku.” Mata Naresh menangkap tubuh Sirena yang memakai kemeja dan tidak mengancingkannya. Dengan perasaan terpaksa ia menghamparkan selimut untuk menutupi tubuh yang hampir terbuka itu. Ia juga menangkap pandangan yang sedikit memilukan, ada beberapa bekas luka lebam di pundak dan punggungnya. Naresh harus memaksa matanya agar segera menutup agar ia tidak berbuat yang macam-macam.
Tepat sebelum ia pergi, sebuah tangan menariknya seakan memberi isyarat agar jangan pergi dari tempat ini.
“Tuan, jangan tinggalkan aku.” perlahan Sirena bangun dan langsung mengancingkan pakaiannya agar lebih pantas.
“Apa yang kau lakukan padaku tadi malam?” Naresh menahan amarahnya. Ia ingin meminta penjelasan pada Sirena.
Perempuan itu hanya terdiam, ia menyibakkan selimutnya dan langsung membungkuk di hadapan Naresh. Membungkuk hingga menyentuh lantai. Ia juga menciumi kaki Naresh sambil terisak.
Naresh mundur selangkah menghindari Sirena yang melakukan hal yang merendahkan dirinya. “Jawab aku Sirena! Aku hanya butuh jawabanmu!”
Sirena bangkit, matanya tergenang air. “Maafkan aku, Tuan Yori. Maafkan aku ....” ia sukses menangis. “Jika kau ingin menamparku atau ingin melampiaskan kekesalanmu kau bisa menyiksaku atau memukuliku. Aku tak akan melawan Tuan. Mungkin ini sebagai penebus kesalahanku pada Anda!”
__ADS_1
Naresh terperenyak di ranjang. Ia begitu terkejut mendengar penuturan dari perempuan itu. “Apakah kau benar ingin menebus kesalahamu?”
Sirena mengangguk. Ia mengusap matanya yang basah.
“Ceritakan apa tujuanmu membawaku ke rumah ini dengan segala tipu dayamu.” Naresh menatap tajam ke arah Sirena.
“Aku ... aku hanya diperintah oleh Madam.” Sirena merunduk. Ia seperti menanggung malu di pundaknya.
“Siapa yang membayar kalian?”
Sirena tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Ia tidak mungkin membocorkan siapa dalang di balik ini semua, ia bisa dihabisi oleh Madam bertubuh gemuk itu.
“Kau tidak bisa menjawab? Sepertinya kau membuang waktuku!”
Naresh memakai kaus kaki dan sepatunya yang teronggok di sebelahnya. Ia bangkit dan mengambil jasnya yang tersampir di kursi.
“Tuan jangan tinggalkan aku!” Lagi-lagi Sirena menahan langkah kepergian Naresh. “Aku tahu, Anda sedang marah. Bahkan jika Anda ingin saya dihajar oleh istri Tuan, saya bersedia.”
Sirena menyeka air matanya. Ia hanya ingin Naresh mendengarnya walau sebentar.
“Sebenarnya apa maumu!”
***
“Kakak,” panggilnya lirih.
Naresh tersentak, ia tidak menyangka jika Kinanti sedang duduk terkantuk-kantuk di sofa menunggu kepulangannya.
“Apakah kau menungguku di sini?” Naresh menyentuh lembut pipi gadis itu.
“Kenapa baru pulang? Apakah Kakak sedang sibuk?”
Naresh menggeleng. Ia tersenyum melihat wajah lusuh Kinanti yang membuatnya semakin menggemaskan.
“Kalau begitu Kakak harus beristirahat. Ini masih sangat pagi, mungkin Kak Naresh harus tidur sebentar.”
Naresh menggangguk. Ia berjalan menuju kamarnya dan Kinanti juga menuju kamarnya. Naresh merebahkan tubuhnya ke kasur yang sangat empuk. Ia masih terngiang-ngiang ucapan Sirena, terlepas dari benar atau tidaknya.
“Mulai nanti aku akan memakai Jun untuk menjadi sopirku. Berbahaya juga jika aaku mengalami hal tadi.” Naresh berguman pada dirinya sendiri.
Apakah Sirena memang butuh bantuan? Bukankah dia perempuan yang terkenal di antara anak-anak induk semangnya? Mengapa ia memintaku untuk membelinya pada ibu germo itu? Tapi sorot matanya mengatakan bahwa dia tersiksa di rumah itu? Jika aku membelinya, apa yang akan dikatakan oleh Kinanti jika aku membawa Sirena ke rumah ini?
Pikiran Naresh menjalar ke mana-mana. Matanya tertutup, tubuhnya terlampau letih, tapi otaknya masih terngiang-ngiang permohonan Sirena. Bahkan perempuan itu bersedia mati agar bisa keluar dari jeratan ibu germo-nya.
__ADS_1
Di satu atap dengan ruang yang berbeda, Kinanti risih dengan pikirannya yang terngiang-ngiang oleh ucapan Nyonya Fernando. Sebenarnya ia ingin sekali bertanya kepada Naresh tentang statusnya di rumah ini.
Apakah benar jika aku hanya gadis belian sama seperti Nyonya Fernando?
Kinanti tadi melihat Naresh yang begitu lelah, ia tak ingin menjadi beban pikiran pria itu.
Apakah aku hanya dibeli karena di senangi? Apakah aku hanya menjadi koleksinya?
Kinanti mencoba menepis pikiran buruk itu. Ia mencoba memejamkan matanya berusaha melupakan, hanya pikiran itu terus menerjangnya bagai angin yang tak dapat ditangkap apalagi dihentikan.
“Ah! Mengapa aku jadi tidak percaya dengan kekasihku sendiri? Bukankah Kak Naresh selama ini baik padaku? Dia selalu mengutamakanku.” Kinanti berbicara kepada diriya sendiri.
Apakah benar dia kekasihmu Kinanti?
Bisikan tentang keburukan itu mengerikan, terlebih lagi jika muncul dari kepala kita seakan-akan memberitahu bahwa tidak ada yang sepenuhnya baik di dunia yang fana ini.
Suara denting ponsel miliknya berbunyi pelan, tanda ada pesan masuk. Dengan malas ia mengambil benda kotak itu yang tergeletak di nakas. “Siapa yang sepagi ini mengirim pesan? Apalagi dari nomor yang tak dikenal,” gumannya.
Kinanti menyetuh layar ponsel itu dan membuka beberapa foto yang dikirim untuknya. Seperkian detik ia menyadari jika dalam foto itu Naresh sedang berpelukan di ranjang dengan wanita lain.
Seketika dadanya sesak, ada rasa sakit yang mendera di hatinya. Ia menutup mulutnya agar tidak terdengar suara tangisan yang mulai merasuk dalam tubuhnya. Air matanya sudah tidak dapat ditampung lagi.
“Ini tidak benar ‘kan? Ini bukan Kak Naresh ‘kan?” Kinanti berusaha menyangkal hal ini.
***
Matahari menyemburatkan kisahnya di waktu pagi. Naresh bangun dari ranjangnya. Ia benar-benar tidak tidur dan sebaiknya segera membersihkan diri. Hari ini ia harus bekerja dan menyelidiki siapa Sirena itu dengan bantuan Jun, sopir sekaligus mata-mata terandal yang dimiliki oleh keluarga Fernando.
Air yang mengalir begitu segar membasuh tubuhnya. Ia teringat jika kemarin ia tidak mandi. Setelah selesai ia kemabli ke kamar untuk segera memakai pakaian seperti biasanya.
Dirinya hanya memakai handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Saat berhadapan pada cermin Naresh terkejut dengan dada bidangnya. Ada tiga jejak kemerahan bekas kecupan dari Sirena. Ia yakin jika perempuan itu yang memberikannya saat ia tidak sadarkan diri.
“Semoga Kinanti tidak mengetahui hal ini.” Naresh bergegas untuk memakai kemejanya dan segera di meja makan. Ia tidak akan melewatkan sarapannya bersama calon istrinya itu.
“Selamat pagi, Nona mesumku!” Naresh tersenyum lebar menampilkan giginya yang berderet rapi dan bersih.
Kinanti tidak menjawab.
Naresh baru sadar jika di meja makan tidak tersedia makanan apapun. Ia juga melihat raut wajah Kinanti yang sangat tidak cerah.
Ada apa ini?
“Tuan Putriku, mengapa tidak ada makanan? Padahal aku sedang lapar ingin memakan sesuatu yang dihasilkan oleh tangan mungilmu itu.” Naresh memohon seperti anak kecil dengan wajah melas yang dibuat-buat.
__ADS_1
“Saya harap Anda melepaskan saya, Tuan Naresh Yori Alvarendra. Biarkan saya meninggalkan rumah ini!”