
Farah harus menerima kenyataan bahwa suaminya belum menerimanya. Sampai kapan akan begini? Entahlah. Hanya Allah yang mampu membolak – balikan hati. Farah hanya bisa berdoa, agar diberikan rasa sabar yang lebih dari biasanya. Dan rasa tabah yang lebih dari biasanya.
***
Pagi kembali menyapa, Ilham telah bersiap untuk berangkat bekerja. Farah dan bu Tin menyiapkan sarapan. Hanya kali ini Farah tidak ikut sarapan bersama Ilham, itu akan membuat perasaan benci suaminya pagi hari ini.
Ilham sudah menghabiskan sarapanya. Dia bersiap akan berangkat. Tiba waktu itu Farah ingin memberikan kotak bekal untuk suaminya. Persis di depan perkarangan rumah. Ilham melihat bahwa pakaian yang Farah kenakan sangat tidak pantas.
“Berhenti! jangan melangkah keluar rumah!” perintah Ilham sedikit berteriak.
Farah pun berhenti. Ilham menghampirinya dengan raut muka yang mengerikan. Membuat Farah ngeri.
Apa yang telah aku perbuat, sehingga dia harus marah pagi – pagi ini?
Nyali Farah menciut.
Ilham menarik paksa tangan Farah. Menggiringnya ke ruang tamu.
“Apakah kamu tidak sadar baju seperti apa yang kamu pakai?!” Ilham mendengus galak.
Apa yang salah? Aku juga memakai hijab seperti yang kamu inginkan, pakaianku juga serba panjang. Jadi salahku di mana? pikir Farah.
Farah hanya menggeleng tanda tidak mengetahui.
“Mulai sekarang di rumah, atau dirimu akan keluar dari pintu itu sejengkal saja. kamu harus memakai baju muslimah yang seharusnya, mengerti!” Ilham menatap galak.
Farah hanya mengangguk, tanpa berkomentar. Ilham melepaskan Farah lalu mengambil sesuatu dai dalam tas yang ia bawa.
__ADS_1
“Ini uang bulanan untukmu, sudah terpisah dengan kebutuhan dapur dan lainnya. Gunakan uang ini untuk membeli pakaian yang lebih pantas dari ini,” ucap Ilham datar, “Bu Tin tolong urus dia,” lanjut Ilham.
“Iya Tuan,” jawab Bu Tin sambil mengangguk.
Ilham berlalu pergi menuju mobil hendak berangkat bekerja.
“Nona, segeralah bersiap. Kita akan ke toko pakaian,” ucap Bu Tin tenang.
“Ada yang salah dengan pakaianku Bu Tin?”
“Maaf Nona, tuan tidak menyukai cara berpakaian anda.”
“Memang bagaimana berpakaian agar mas Ilham suka?”
“Nanti saya jelaskan, mohon sekarang Nona bersiap”
***
“Iya Nona. Tuan tidak suka Anda memakai pakaian seperti lelaki, misalnya memakai celana. Dan Nona saya sarankan memakai kerudung sedikit lebih panjang daripada kerudung yang Nona kenakan saat ini,” jawab Bu Tin menjelaskan.
Farah dan bu Tin sedang melihat baju-baju muslimah yang di pajang di toko pakaian itu. Banyak sekali ragam model baju di toko ini. Farah masih tak percaya bahwa suaminya mengingkan ia memakai gamis. Saat Farah mencoba berbagai macam gamis, dilihat dirinya dari pantulan cermin ruang ganti dalam toko itu. Terlihat Farah hampir menyamai seperti Balqis dalam hal berbusana.
“Apakah dia ingin menyuruhku berhijrah? Jika iya, berarti aku seperti dipaksa untuk ini. Dan uang yang dia berikan banyak sekali. Jumlahnya 10 kali lipat dari uang jajanku sebulan. Kalau aku memakai gamis ini mirip Balqis. Hahahaha atau sekalian saja aku memakai cadar, pasti Jihan bakal sulit membedakan antara aku dengan Balqis. Akan aku foto diriku, lalu aku kirim ke mereka berdua,” guman Farah.
Bu Tin dan Farah sepakat membeli gamis 10 set lengkap beserta hijabnya. Uang dari Ilham masih tersisa banyak sekali. Farah memilih menyimpannya. Setelah selesai pembayaran mereka memutuskan untuk segera pulang ke rumah.
***
__ADS_1
Di siang yang terik, membuat dua sahabat ini kehausan. Memilih untuk membeli dua es teh dengan cup yang berukuran jumbo. Mereka nampak sangat haus setelah menjalani hari pertama masa pengenalan perkulihan. Tiba – tiba secara bersamaan ponsel mereka berbunyi.
“Si Farah kirim foto apa sih ini?” tanya Jihan.
“Iya, dia juga kirim foto ke aku,” jawab Balqis.
“Apa!? mataku tak salah lihat kan? Farah memakai gamis?” tawa Jihan, tak percaya jika sahabatnya yang baru saja menikah, sudah mengalami perubahan fesyen.
“Masyaa Allah, Farah cantik ya Jihan. Semoga istiqomah ya.”
“Aamiin”
Mereka melanjutkan kembali menyeruput es teh cup ukuran jumbo di bawah rindangnya pepohonan yang tumbuh di halaman kampus.
***
Ponsel Ilham berbunyi. Ada pesan masuk dari bu Tin. Dilihat bu Tin mengirim banyak foto – foto Farah yang memilih baju muslimah, mencoba baju muslimah dan masih banyak yang lain. Ilham merasa bersalah semalam karena ia membentak Farah hingga menangis.
“Dasar cengeng,” guman Ilham. tersenyum tipis.
Ilham memang belum mencintai gadis itu. Yang perlu ia tahu, bahwa Farah adalah tanggung jawabnya. Ia berhak membuat Farah berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Mata Ilham melihat dua patung kecil kerajinan keramik, berbentuk seperti sepasang angsa yang kedua kepalanya menyatu membentuk bingkai hati. Dia masih teringat seseorang yang berharga baginya.
“Kamu di mana? Sekarang sudah enam tahun berlalu tak ada kabar darimu. Aku telah menikah, apakah engkau juga sudah menikah dengan pria terbaik? Jika aku boleh mengatakan yang sebenarnya, rasa resistensi rindu ini sudah rapuh terhadap diriku. Rasa yang dulu menggebu – gebu ingin bertemu sudah terkikis masa. Maaf aku mempunyai masa depan yang terus berjalan yang menyuruhku melupakanmu yang masih berdiri di bagian masa yang lalu. Bagian itu yang tak mau bergerak, tergerak atau menggerakan diri mengikuti alur maju masa ini.”
Ilham masih menatap patung sepasang angsa keramik itu.
__ADS_1
“Selamat tinggal.”