
“Ibu! Aku tidak ingin ikut dengan Ayah! Tolong aku ibu!” Seorang perempuan berumur 20 tahun menangis histeris karena tubuhnya diseret oleh sang ayah dengan cara yang sangat kasar.
Sang ibu hanya hanya menangis tidak bisa berbuat apa-apa, terlebih lagi kakak laki-lakinya yang hanya diam di dekat ambang pintu dengan tatapan pilu. Malam ini hujan deras mengguyur di Kota Zen. seorang ayah tengah menyeret tubuh putrinya yang mungil untuk memasuki mobil yang berada di luar. Mereka keluarga yang baru saja pindah dari kota yang sangat jauh. Mereka datang ke Kota Zen untuk memenuhi janji.
Perempuan itu masih memberontak hingga lengan bajunya sobek. Ia tetap tidak peduli. Ia hanya ingin di dalam kamarnya yang hangat. Sang ibu hanya bisa menangis tidak bisa menolong. Namun sang ayah masih menyeret putrinya.
“Ayah aku masih ingin kuliah! Aku akan bekerja agar tidak membebani ayah! Aku janji akan bekerja, tolong jangan bawa aku ke mereka!” Perempuan itu masih saja menolak ajakan ayahnya.
Tanpa banyak bicara, sang ayah mengikatnya dengan tali yang telah dibawa oleh sang kakak laki-lakinya. Dia diikat seperti binatang buruan. Sekarang perempuan itu tidak bisa leluasa memberontak. Kulit putihnya akan lecet jika ia masih berusaha melepaskan diri dari tali tambang yang mengikatnya itu.
“Sekarang bantu ayah untuk membawa adikmu ke dalam mobil!” Sang ayah menyuruh anak laki-lakinya untuk membantu menganggat tubuh adiknya yang sudah terikat seperti binatang.
Setelah selesai memasukkan tubuh perempuan yang terikat itu, ayah duduk di belakang bersama anak perempuannya dan sekarang dia menangis menatap sang ibu yang hanya bisa menangis melihat kepergian putrinya dari balik kaca mobil yang basah karena air hujan.
Kakak laki-laki yang memegang kemudi mobil. Ia harus melajukan kendaraan beroda empat menerobos hujan. Mereka akan menuju ke sebuah kediaman mewah yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Baru separuh jalan, perempuan itu berteriak kalap. Ia menangis sekaligus memberontak karena ikatan tali yang mulai kendur. Dengan ganas ia menyerang sang kakak yang sedang mengemudi mobil, hingga kendaraan itu sempat oleng.
Dengan sigap sang ayah menampar pipi anak perempuannya hingga terdiam dalam isaknya. Dia juga menyumpal mulut anak perempuannya dengan sebuah sapu tangan yang terikat hingga ke belakang kepalanya. Ikatan talinya mulai di kencangkan lagi agar hal-hal yang serupa tidak terjadi.
Gadis berusia dua puluh tahun itu diam dalam isakannya, hingga mobil memasuki kawasan elite yang berada di tengah kota. Hanya orang-orang yang memiliki uang, penjabat yang korup dan orang yang memiliki perusahaan besar yang bisa memiliki hunian mewah di situ. Untuk pertama kalinya gadis itu melihat bangunan yang sangat mewah seperti kerajaan eropa, sangat high kelas.
Setelah mobil berhenti, perempuan itu dibawa oleh ayah dan kakak laki-lakinya seperti hasil dari berburu. Mereka memasukin ke dalam rumah yang arsitekturnya mirip seperti istana. Lalu sang ayah meletakkan tubuh anak perempuannya di lantai pualam yang sangat bernilai mahal. Gadis itu bersimpuh di lantai dengan kondisi yang masih terikat dan mulut yang tersumpal kain saputangan.
Seorang wanita yang berpenampilan sangat modis bak nyonya besar keluar dari salah satu pintu yang pegangan pintunya berwarna emas. Ia bejalan mendekati gadis yang tergolek di lantainya. Ia memandang dengan sadis, tangan kanannya menjepit dagu gadis itu dan merapikan rambut yang menutupi wajah sang gadis. Wanita yang seperti ratu itu memandanginya cukup lama. Ada bekas tangisan yang baru saja keluar dari sangkar matanya.
“Dia cantik, hanya perlu beradaptasi diri. Aku ambil gadis ini, untuk imbalan datanglah besok di perusahaanku.”
Sang ayah tersenyum, sekarang masalah krisis keuangan sudah teratasi. Sang kakak laki-laki tidak memasang wajah puas, namun wajah yang larat hati. Salah satu maid, membuka kain saputangan yang mengikat mulut sang gadis.
__ADS_1
“Kau akan tinggal di sini,” ucap sang ayah kepada anak gadisya.
“Tidak! Jangan tinggalkan aku, Ayah!”
“Jangan tinggalkan aku, Theo!”
***
Tiba-tiba kelopak mata terbuka, keringat bercucuran deras mengalir di sisi bingkai wajahnya. Ia terperanjat bangun dari tidurnya seorang maid membuka kelambu kamar itu, sinar mentari menyelinap masuk di penjuru kamar.
“Kau sudah bangun, Sayang?” tanya seorang laki-laki yang tersenyum lembut kepada dirinya.
Seorang perempuan berumur 26 tahun hanya diam, ia masih berusaha menyingkronkan pikiran dan keadaan sekitar. Ia masih mengingat dengan detil mimpi buruknya dan itu adalah dendam yang sampai sekarang masih membara walaupun semua sudah berbeda sejak pertumpahan darah.
“Kau masih saja cantik.” Seorang laki-laki yang sedari tadi membangunkan istrinya pun masih mengagumi anugrah yang Tuhan berikan kepadanya.
“Mengapa kau datang kemari?” Aura perempuan itu berubah menjadi dingin jika di hadapan suaminya. Sangat dingin, hingga terasa seperti sepasang orang asing ya tinggal dalam satu rumah.
“Aku ingin sarapan di kamar.”
Hanya sebaris kalimat penolakan yang sangat dingin baru saja dilontarkan istri kepada suaminya. Lelakinya hanya tersenyum meskipun hatinya sangat sakit. “Ya sudah kalau begitu, biar para maid yang mengurusi hindangan yang akan tersaji di atas ranjangmu.”
Tak lama kemudian, beberapa maid berdatangan menyiapkan hidangan makan pagi untuk sanga nyonya besar. Sang suami hanya diam dan duduk di kursi khusus, ia ingin melihat istrinya menyantap panekuk yang sangat lezat.
Andai sekali saja kau ingin makan bersamaku, sekali saja. Apakah harus seperti ini?
“Selamat menikmati,” ucap suaminya dengan tersenyum. “Tolong bawa aku menuju gazebo, ya ....” Dia meminta kepada salah satu maid untuk mendorong dirinya beserta kursi khusus yang ia duduki menuju taman.
__ADS_1
“Baik, Tuan Fernando.”
Setelah kepergian suaminya, sang nyonya besar menatap dingin panekuk yang sangat menggiurkan itu, tapi ia tak lekas memakannya. Ia masih mengingat segar kejadian malam itu saat dia yang masih berumur dua puluh tahun dan dijual oleh keluarganya sendiri. Api dendam menyala dalam diri gadis itu hingga ia berani mengangkat pedang—katananya dan dendam itu menjadi kuasa atas pikiran dan perbuatannya.
____________
Jangan lupa setelah selesai membaca kisah ini, pencet like, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya😂😂
Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.😀
Terima kasih
Salam Hangat,
Ilamy Harsa🍀
________
Taqabbalallahu Minna wa minkum
Minal ‘Aidin wal-Faizin🙏
Maafkan Author ya guys! Jika banyak chapter yang kadang biking kesel saat bacanya. Hahahhahah🤣
Semoga kita dipertemukan kembali di ramadhan selanjutnya. Tetap jaga kesehatan ya gaes di tengah pandemi yang belum usai ini. Jangan pernah bosen cuci tangan apalagi memakai masker ya!🤗
Jangan keluar rumah jika tidak ada dalam kondisi ya mendesak atau penting banget, author aja tiga bulan ini hanya memandang layar kotak laptop yang selalu menjerit minta dibelai, hehhehhhe😉
__ADS_1
Sekian,
Terima kasih🍀