Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 86


__ADS_3

Suara mobil masih terdengar, pemiliknya mungkin sengaja tidak mematikan mobilnya. Akmal masih terduduk di kursi kemudi. Ia telah sampai di depan pagar rumah tujuannya. Ia memantapkan hati untuk niat yang suci. Akmal melihat Bu Tin yang muncul setelah membukakan pagar. Akmal kemudian mematikan mobilnya, ia segera turun untuk menemui Bu Tin. Ia sempat berbincang sekedar basa-basi untuk keramah-tamahannya. Perbincangan itu terhenti ketika ada seseorang yang bertanya dengan nada yang sedikit berteriak.


“Itu siapa Bu Tin?” suara lelaki yang berdiri di teras rumah.


Akmal sangat mengenal lelaki itu. Ia tersenyum. “Ini aku Pak Bos!” Akmal berseru menjawab pertanyaan yang serharusnya untuk Bu Tin.


Ilham bernapas lega. Ia sempat mengira bahwa lelaki yang datang itu adalah Ray, ternyata Akmal manager andalannya. Ilham sedikit merasa aneh dengan kedatangan Akmal. Pasalnya jika ada suatu masalah di kedai pasti Akmal akan menelponnya. Namun kali ini Akmal datang langsung ke rumah Ilham.


Apakah kedaiku dalam masalah besar?


Ilham melihat Akmal berjalan beriringan bersama Bu Tin. Mereka akhirnya masuk ke rumah dan duduk di ruang tamu. Bu Tin tanpa di suruh pun langsung ke dapur untuk membuatkan minuman serta kudapan kecil.


Di ruang tamu itu hanya ada tiga orang, Ilham bersama Farah duduk dalam satu sofa yang panjang. Lalu Akmal duduk berhadapan dengan Bos berserta istrinya. Hanya ada meja kaca yang menjadi batas antara mereka.


“Tumben sekali kamu mampir ke sini, ada apa? apakah kedai dalam masalah?” tanya Ilham yang tepat pada intinya tanpa diselingi kalimat basa-basi.


Akmal menggeleng. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Pak. Semua dalam keadaan stabil.”


“Lantas apa yang membuatmu datang ke sini?” Ilham menaruh sedikit penasaran dengan gelagat Akmal.


Bu Tin datang membawa tiga cangkir minuman dan satu piring penuh dengan kue kering. Ia meletakkan semuanya di atas meja kaca, kemudian berlalu pergi meninggalkan obrolan di ruang tamu itu.


“Saya kemari karena ada niat baik yang ingin saya sampaikan.” Akmal menjawab pertanyaan Ilham sesaat setelah Bu Tin pergi.


Ilham memincingkan mata menatap sosok Akmal yang sedikit gelisah. “Ada apa?”


Akmal menghela napas, ia menguatkan hatinya meluruskan niat. “Saya ....”


“Ah pasti kamu mau minta izin untu berlibur?” Ilham langsung menyambar ucapan Akmal yang belum sepenuhnya di tuntaskan.


Akmal menggeleng, ia melanjutkan ucapannya yang terpotong. “Saya ingin melamar Rahma, Pak.”

__ADS_1


Mata Ilham melebar, ia sedikit tidak percaya atas ucapan Akmal. Setahu Ilham, Akmal hanya ingin melajang hingga waktu tertentu. Farah juga tak kalah terkejutnya mendengar alasan mengapa Akmal datang ke sini.


“Sebentar, aku panggilkan mbak Rahma dulu,” ucap Farah kemudian ia berlalu pergi menuju kamar Rahma.


Terdengar sayup-sayup Ilham berbicara dengan Akmal, sementara Farah sudah berada di ambang pintu kamar Rahma. Saat ini Rahma sedang menina-bobokkan malaikat kecilnya, Baby Argian. Terlihat Bu Tin yang juga duduk di samping Rahma, ikut menemani.


“Mbak Rahma bisa ikut denganku sebentar? Ada hal penting yang harus dibicarakan,” ucap Farah yang masih di berdiri di ambang pintu kamar.


Rahma hanya mengangguk, ia sedikit merapikan gamis dan kerudungnya. Lalu Farah dan Rahma berjalan beriringan menuju ruang tamu. Sekilas Rahma tidak merasa ada hal yang bergejolak. Namun setelah memasuki ruang tamu, mata Rahma dan mata Akmal bertemu. Ia langsung menundukkan kepalanya.


Akmal yang tadi terkesima dengan sosok Rahma hanya menempelkan ujung cangkir ke bibirnya. Mata mereka bertemu, ada gejolak yang berteriak lantang dalam dadanya. Lalu Akmal memaksakan tangannya untuk menuangkan benda cair dalam cangkir untuk masuk ke mulutya. Dengan kesusah payahan ia menelan air itu, hampir tersedak.


Rahma duduk di dekat Farah. Ia masih menundukkan kepalanya menatap ujung gamis. Ada perasaan tidak menentu. Pertanyaan selalu muncul lewat kepalanya. Hati dan logikanya bertanya-tanya.


Ada apakah ini? Mengapa Akmal datang ke rumah ini. Apakah ada maksud tertentu, sampai-sampai aku di undang dalam percakapan ini?


“Ehm,” Ilham berdehem untuk mencairkan suasana yang terasa kian canggung.


“Rahma, ada yang ingin Akmal sampaikan padamu.”lanjutnya.


“Ada apa?” tanya Rahma lirih.


Akmal tidak segera menjawab, ia menarik napasnya. Untuk pertama kalinya sesuatu yang bernama hati sedikit memberontak untuk segera menyatakan cinta, sedangkan logika berusaha keras untuk menenangkan sahabatnya. Logika tahu jika pemiliknya lebih mengekspresikan tingkah hati maka bisa membuat malu.


Sabar Hati! Aku tahu kamu menginginkannya, tapi sabarlah sebentar! Jangan merusuhkan diri!


Aku tidak sabar ingin mengikat dia di tulang rusuk pemilik kita, Logika!


Namanya juga Hati, mahkluk paling pecicilan. Jika sudah menyangkut tentang rasa terutama rasa cinta, Hati bisa bertindak tanpa tahu haluan, bisa membuat sang pemilik memiliki sifat salah tingkah secara mendadak atau kecanggungan yang luar biasa. Hanya Logika, makhluk berkacamatan tebal yang terkadang memeluk erat Hati agar tidak gegabah dalam bertindak.


“Kedatangan saya kemari untuk melamar Rahma.”

__ADS_1


Seutas kalimat yang baru saja di ucapkan oleh Akmal mampu mengubrak-abrik hati Rahma. Ia merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Akmal. Kanget, terkesima dan tidak percaya.


Bagaimana mungkin bisa Akmal menyatakan hal seperti ini? Sedangkan aku hanya perempuan yang sudah memiliki anak sebelum adanya pernikahan.


Rahma mengisi paru-parunya dengan udara yang mengalir dari rongga-rongga yang bercabang. “Mengapa Anda memilih saya untuk menjadi pasangan hidup?”


Benar dugaan Akmal, bahwa Rahma tidak akan langsung menjawab iya atau tidak. Akmal tahu, benar-benar tahu bahwa Rahma merasa tidak pantas bersanding denganya karena kesalahan yang pernah Rahma buat. Akmal harus menyakinkan hati Rahma bahwa ia akan menerima apapun kekurangannya. Mencintai apapun kecacatannya.


“Hatiku menginginkan kamu. Aku ingin mencintai kamu karena Allah. Aku menerima semua kekuranganmu tanpa terkecuali. Aku ingin membangun keluarga bersamamu. Dan aku akan menerima Argian sebagai anak laki-lakiku.” Akmal menjawab dengan kemantapan hati.


Rahma yang mendengar jawaban dari Akmal merasa haru. Baru kali ini ada yang berani mengajaknya untuk membangun sebuah keluarga yang sangat ia mimpikan. Tak terasa derai air mata sudah membandang membasahi pipi. Rahma buru-buru menghapusnya.


“Aku memintamu atas keteguhan hati,” ucap Akmal.


Rahma semakin menunduk lebih dalam. Farah hanya bersitatap dengan suaminya. Ia seperti memberikan kode kepada Ilham untuk segera mencairkan suasanya yang sedikit mengharukan ini.


“Niatmu sudah sangat baik Akmal, namun keputusan tetap di tangan Rahma.” Sekarang Ilham menatap Rahma. “Apakah kamu bersedia dipersunting oleh Akmal?”


Rahma menenangkan hatinya, air masih menetes. Ia masih terharu dengan peristiwa yang paling didambakan oleh semua makhluk hawa. Ia mengangguk mantap untuk menjawab pertanyaan ini.


Akmal melihat anggukkan yang anggun dari Rahma yang menandakan dia siap di persunting olehnya. Untuk hari ini Akmal merayakan pernyataan cinta yang akan membawa kepada ikatan yang halal. Sekarang Hati Akmal bersorak-sorai dalam kegembiraan. Logika sekarang tahu dan tersenyum melihat pemiliknya berbahagia.


Farah dan Ilham yang melihat pernyataan bahagia ini menjadi senang. Pasalnya, Argian akan mendapat ayah yang baik seperti Akmal. Terlebih sekarang Rahma akan memiliki seseorang yang akan melindunginya dan putranya.


____________________


jangan lupa setelah selesai membaca kisah ini, pencet LOVE dan kasih rating 5 bintang ya.. karena ini GRATISS😁


jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.


Terima kasih

__ADS_1


Salam Hangat,


Ilamy Harsa🍀


__ADS_2