Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 108


__ADS_3

Mohon maaf cerita ini sedikit mengandung unsur kekerasan. Author sarankan pembaca sudah berusia di atas 18 tahun. Semoga pembaca bijak dalam menyikapinya


_________


Kejadian ruang putih itu membuat Kinanti semakin takut bilamana harus berdekatan dengan Nyonya Fernando. Setelah penyiksaan di ruang serba putih, siang itu Kinanti kembali berhadapan dengan kengerian yang luar biasa. Ia diminta untuk duduk tegak dengan buah apel yang berada di atas kepalanya. Para maid telah mempersiapkan tempat eksekusinya yang berada di taman dekat kebun bunga seroja.


Nyonya Fernando yang sedari tadi sudah mempersiapkan sebuah revolver. Ia memasukkan 5 peluru ke tabung berputar. Sesekali matanya tertuju pada gadis yang terlihat pucat pasi dan berkeringat dingin bercucuran deras mengalir di setiap sudut bingkai wajahnya.Sekarang Kinanti duduk dengan perasaan yang sangat khawatir akan keselamatannya. Salah satu maid sudah meletakkan buah apel di atas kepala Kinanti.


“Asal kau tahu Kinan, aku belum pernah memainkan permainan ini terlebih dengan manusia. Aku harap kau bisa bertahan jika salah satu peluru menembus kepalamu.” Nyonya Fernando tertawa riang tanpa beban.


Kinanti terkejut dengan pernyataan yang baru saja dilontarkan oleh sang nyonya. Ia belum bisa membayangkan bagaimana sebuah peluru akan menghujam dirinya tepat di kepala. Tiba-tiba ia teringat pada ayah dan Reno, ia takut jika permainan ini tidak berhasil ataupun tembakan yang meleset kematian bisa kapanpun terjadi. Jika pun Tuhan masih bermurah hati, peluru yang menembus hanya akan bersarang di tubuhnya.


“Kunci dari permainann ini adalah percaya,” ucap Nyonya Fernando.


Sekarang dirinya sudah memposisikan mantap revolver di tangannya. Moncong senjata api itu kini sudah mengarah pada kepala Kinanti. Saat ini gadis itu sedang berdoa agar peluru yang dilontarkan ke arahnya sangat tidak membahayakan.


Nyona Fernando telah menarik pelatuk revolver. Suara tembakan terdengar nyaring karena gesekan yang dilesatkan oleh sebuah proyektil. Kinanti telah menutup rapat kedua matanya. Seperkian detik yang cepat peluru itu menembus daging buah apel hingga terjatuh.


Setelah dirasa suara tembakan itu selesai dan tidak ada suara yang kedua, mata Kinanti sempurna terbuka. Namun yang ia lihat bukan suasana taman, tapi di tempat yang tak biasa. Ia merasa belum pernah ke tempat ini sebelumnya.Tubuh mungilnya bisa melayang di udara. Ia menembus portal lagi sama seperti saat di ruang yang serba putih, bedanya ia sekarang seperti di tempat dengan hamparan rerumputan nan hijau dan matahari tampak bersinar cerah. Hal itu sesuatu yang bisa ditangkap oleh indera penglihatannya.


Sayup-sayup terdengar suara yang bersahutan, Kinanti mencari sumber suara itu dan terbang seperti burung menuju arah suara, makin dekat kian terdengar, ia melihat ada sebuah acara yang masih dipersiapkan dekorasinya. Semua orang berlalu-lalang memasang kursi serta meja tanpa menghiraukan Kinanti yang sedang berdiri melayang di udara. Mereka manusia yang bisa berpijak di atas tanah. Kinanti mengedarkan pandangannya dan mulai menganalisis. Benar ini adalah tempat pesta pernikahan yang berada di samping kastil tua.


Indera pendengaran Kinanti menangkap suara tangisan seorang perempuan. Ia menduga bahwa suara itu berasal dari dalam bangunan yang mirip seperti kastil tua. Kinanti melayang menuju kastil itu, ia bisa terbang bebas di dalam keadaan ini yang mirip dengan kondisi dunia nyata.


Kinanti mencoba naik menuju kastil tua ada semacam jendela yang masih terbuka, lalu ia masuk ke dalam bangunan itu. Benar dugaanya, seorang wanita cantik tengah menangis.Dia memamkai gaun pengantin berwarna putih dengan kain veil agak transparan yang menutup seluruh kepala dan rambutnya. Kinanti pernah melihat perempuan itu, sangat tidak asing. Namun semakin diingat, ia justru tidak bisa menjelaskan siapa namanya.


Seorang wanita yang diperkirakan berumur 40 tahun datang menghampiri dia yang sedang menangis itu. Kinanti rasa itu adalah ibunda dari perempuan dengan veil dikepalanya. Ibu itu memeluknya dengan kehangatan, mungkin sebagai pereda agar tidak bersedih di hari yang membahagiakan ini.

__ADS_1


Ibu itu menjangkau lembut kedua pipi perempuan yang menangis itu.


"Sayang, bukankah ini hari bahagiamu? Hari ini kamu akan jadi pengantin dan putri yang sangat cantik bersandingan dengan sang pangeran yang tampan. Ibu sangat bahagia melihat anak gadis ibu menikah.”


Seketika tangisan perempuan itu terhenti, keadaan semakin sunyi dan sedikit mencekam. Ia melepaskan dekapannya lalu bangkit. Ia memandang ibu itu dengan tatapan yang sangat mengerikan. Auranya berubah sangat drastis, bukan lagi keharuan tapi atmosfir yang mencekam dengan penuh amarah.


Plakk!


Calon pengantin itu menampar sang ibu dengan sangat keras tanpa peringatan, membuat Kinanti nanar menatap peristiwa itu, ia menelan salivanya. Pengantin itu mencekik leher ibunya hingga sang ibu memberontak karena kekurangaan udara yang masuk. Cekikan itu makin lama kian terasa sakitnya. Napasnya terputus-putus, tidak bisa berteriak meminta tolong.


Kinanti yang ingin melerai kedua perempuan itu. Nihil, tangannya selalu tembus ketika menyentuh tubuh mereka. Beberapa kali ia mendorong calon pengantin itu, tetap saja usahanya sia-sia. Ia adalah bayangan yag tidak nyata dan sangat kasat mata.


“Apakah Ibu ingin bilang bahwa aku pengantin wanita yang cantik? Begitukah?” Calon pengantin itu berbicara dengan penuh penekanan. Kedua tangannya masih mencengkeram kuat leher sang ibu. Ia tertawa mengerikan, yang membuat bulu kuduk Kinanti merinding.


“Kenyataannya aku pengantin yang menyedihkan! Kau yang membuatku harus menikah dengan pria yang kondisinya tidak sempurna!” calon pengantin perempuan itu makin mengeratkan cekikannya, tak peduli bahwa ibunya hampir sekarat kehabisan napas.


“Hentikan! Tindakanmu bisa membuatnya kesakitan!” teriak Kinanti.


Tiba-tiba angin muncul membuat pandangan Kinanti kian menghitam. Ia hanya bisa melihat gelap, tangannya tidak bisa meraih apapun. Hingga ia terlempar jatuh, energinya terkuras habis, ia hanya bisa tersungkur di tanah. Kinanti melihat ada seberkas cahaya yang sangat terang sekali. Lalu ada bayangan yang menutupinya.


Siapa calon pengantin itu?


Bagaimana keadaan ibu yang tercekik?


Ini kenangan milik siapa?


Mengapa aku harus melihat itu semua?

__ADS_1


Banyak sekali pertanyaan yang muncul di benak Kinanti. Sudah dua kali ia melihat memori buruk seperti ini, ia masih bingung mengapa dengan mudahnya ia bisa masuk ke dalam mimpi buruk.


Ada dua maid yang mengangkat Kinanti yang bertubuh ringkih. Mereka membaringkanya ke gazebo yang memiliki pilar-pilar yang tinggi. Nyonya Fernando mendekati tubuh Kinanti. Ia melihat tangan Kinnanti yang bergerak seolah-olah sedang menarik sesuatu.


“Apa yang kau lihat?” tanya Nyonya Fernando.


“Calon pengantin perempuan yang sadis. Dia mencekik ibunya sendiri.” Kinanti hanya bisa melihat wajah nyonya besarnya. Tubuhnya tak kuasa untuk bangkit.


“Baringkan dia di kamarnya sendiri,” pinta Nyonya Fernando. Sekarang ia melangkah meninggalkan gazebo disusul beberapa maid lain.Hanya dua maid laki-laki yang sebelumnya mengangkat tubuh Kinanti, kini mereka melakukan lain dan membawanya ke mess khusus maid perempuan.


Nyonya Fernando kembali ke kamarnya dan merebahkan diri pada sofa yang melintang dekat ranjang. Ia tersenyum melihat pendampingnya sedikit menderita. Kemudian ia meminum sampanye untuk merayakan usaha mengenang yang harus dilihat oleh mata Kinanti.


“Sekarang kau tahu ‘kan, mengapa kepercayaan itu sangat penting? Maaf Kinan sebenarnya aku tidak membutuhkanmu, tapi nyalimu sangat tangguh merasakan kesakitan ini. Kau berbeda dengan pendamping lain yang sudah mundur saat pekenalan atau saat di ruang putih itu. Kau terampil dalam perasaanmu yang begitu bersimpati pada semua objek yang kau lihat. Setidaknya kau cukup kuat untuk aku jadikan teman.”


Nyonya Fernando menyesap sampanyenya.


________


Biasakan setelah selesai membaca kisah ini, pencet like, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author🤗


Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.😉


Terima kasih


Salam Hangat,


Ilamy Harsa🍀

__ADS_1


__ADS_2