
Episode 208: Berawal dari Janji
Sudah hampir sepuluh jam Ilham tak pergi dari tempat duduk yang disediakan untuk penunggu di ruang operasi. Memang jaraknya lumayan jauh, sekitar tiga meter dari pintu masuk. Wajahnya lusuh hanya terbasuh air dan beberapa kali ia mendatangi masjid kecil yang masih komplek dengan rumah sakit.
Bunda datang ketika mendengar berita ini. Ia tak henti-hentinya menangis karena “anak perempuannya” sedang menjalani operasi. Peristiwa ini sama seperti Kalista, saudara kembar Ilham yang meninggal saat kecelakaan. Ilham berusaha menguatkan hati Bunda walaupun saat ini hatinya sedang porak-poranda. Ia baru mencicipi kebahagiaan yang baru saja dititipkan di tengah keluarga kecilnya. Karena melihat wajah Bunda yang sudah kelelahan, Ilham memutuskan untuk menyuruh Pak Parmin—sopir pribadi Bunda untuk mengatar permpuan paruh baya itu ke rumahnya, agar Bunda bisa beristihatan.
Lagi-lagi rembesan air mata itu jatuh, membuat Ilham kembali menyekanya. Ia sangat berharap agar Farah benar-benar kembali. Ia tak ingin kehilangan perempuan yang sudah ia nikahi setahun yang lalu.
Di lorong yang sepi terdengar suara langkah kaki. Ilham refleks menoleh ke arah suara itu. Seorang pria yang memakai pakaian rapi menghampirinya. Sejujurnya, Ilham pernah mengenal sosok itu.
“Tuan Ilham?”
“Iya saya sendiri, Anda adalah Fernando bersaudara?” Ilham memicingkan matanya. Di saat seperti ini ia tak ingin diganggu. Ia ingin merenungi dan bersedih di lorong itu sendirian, karena air matanya selalu saja merembes tanpa perintah. Kehadiran pria ini sungguh membuatnya harus membangun ketegaran semu.
“Saya Naresh Yori Alvarendra. Tuan bisa memanggil saya dengan nama Naresh. Saya kakak ipar Anneline.”
__ADS_1
“Bisakah Anda memanggil nama saya Ilham tanpa embel-embel sebutan ‘tuan?’” Ilham sedikit risih dengan panggilan Tuan. Sejauh ini hanya Bu Tin saja yang memanggilnya seperti itu. Namun pria ini berbeda, ia bukan kalangan dari orang berstatus sosial rendah. Malahan pria bernama Naresh ini jauh di atas Ilham. Rasaya tak pantas seorang bos besar memanggilnya dengan sebutan tuan.
“Itu berarti Anda harus memanggil saya dengan nama Naresh. Boleh duduk?” tanya Naresh. Dalam jarak sedekat ini ia bisa melihat wajah pria yang sedang kesakitan. Pria yang sedang bersedih karena salah satu bagiannya menghilang.
“Boleh.” Ilham menjawab singkat dengan nada datar seakan tak ada semangat yang menggema di tubunya.
Naresh duduk dengan baik lalu menatap lawan bicaranya. Ia harus menanyakan beberapa hal mengenai hubungan Anneline dan istrinya Ilham. “Saya tidak menyangka Anneline bisa berbuat seperti ini. Saya akan bertanggung jawab atas kerugian semuanya yang disebabkan oleh Anneline.”
“Terima kasih.” Ilham tak acuh. Ia hanya ingin sendiri.
Sejenak Ilham menatap wajah Naresh. “Silahkan.”
“Tadi saya sudah menanyai asisten rumah tangga Anda, namanya Ibu Tin. Menurut penuturanya, Anneline datang sendirian dan mengatakan jika dia adalah teman Farah. Padahal, Anneline baru datang ke kota ini seminggu yang lalu, apakah secepat itu manusia memiliki dendam? Bagaimana dia bisa mengetahui alamat rumah Anda?”
Seketika ada rasa sakit yang menjalar di hatinya. Ia sudah tau ancaman dari Anneline tidak main-main. “Dia pernah meneror rumah kami dan Farah adalah korban dari janji yang tak pernah kutunaikan kepada Ann.”
__ADS_1
________________________
Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah! Kalo ada poin lebih jangan lupa vote yaaaa!
Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa. Untuk kejelasan tentang update ataupun bersilaturahmi dengan author yang super ngeselin. Hahahahaha!
Terima kasih telah membaca kisah ini.
Salam Hangat,
Ilamy Harsa
Surrogate Mother sudah ada 4 chapter di watpad. Aku kasih spoilernya chapter 3😁😁
__ADS_1