
Yuk pencet like dulu, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena itu sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author
Jika ada yang ingin ditanyakan, kritikan dan saran silakan tulis di kolom komentar
Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.
Terima kasih
Salam Hangat,
Ilamy Harsa🍀
Selamat berimajinasi
_________________________
Pesta berakhir, Tuan dan Nyonya Fernando pulang ke rumah. Ada yang berbeda dari raut wajah Nyonya Fernando, ia hanya diam dalam kesuraman. Wajahnya mungkin berpoles bedak tapi pandangannya keruh. Tuan Fernando hanya merasa ada yang salah dari istrinya.
Begitu sampai di rumah, Anneline langsung berlari menuju kamarnya. Ia juga meminta beberapa botol sampanye untuk ia minum malam ini. Tuan Fernando tahu istrinya akan kesal beberapa hari ke depan, tapi ia tidak mau ambil pusing. Kekesalan Anneline akan segera berakhir dengan sendirinya.
Di kamar yang penuh kesunyian Anneline menenggak minuman beralkohol dengan porsi yang sangat banyak. Ia sudah tidak peduli lagi akan seperti apa baunya. Hari ini ia merasakan patah hati. Rasanya tertikam, sakit sekali.
“Apa aku harus menyusul ke Milepolis?” Ia bertanya pada diri sendiri.
Dua botol telah dihabiskan. Sekarang ia bangkit dari tempatnya dan berjalan dengan membawa tiga botol sampanye yang masih tertutup. Anneline menuju ruang senjata, tempat di mana ia belajar untuk berani membalaskan dendam.
Ruangan itu sangat kosong, hanya berisi senjata-senjata milik keluarga suaminya. Ada rahasia kecil dalam ruangan ini. Anneline pernah menyiksa salah satu maid karena kedapatan membeberkan tentang dirinya dalam khalayak publik. Tidak tanggung-tanggung ia bisa melakuan penyiksaan tanpa ragu, tidak seperti orang kebanyakan. Namun semua itu tidak terendus oleh media, yang publik tahu bahwa Kediaman Keluarga Fernando adalah kediaman yang damai.
Hari ini adalah hari lacurnya. Ia selalu berharap akan ada janji yang pernah terlukis indah itu menjadi nyata. Janji akan masa yang indah, tapi semua telah pudar. Ia sedang mencari cara untuk membangun puing-puing kehidupannya dulu.
“Aku, perempuan yang tidak gentar dengan rintangan apapun itu.” Anneline menenggak habis satu boto sampanye, sekarang ia akan meminum botol kedua.
***
Kinanti sedang melihat penampilannya sendiri di cermin. Ia merasa sudah pas dalam bersolek. Rambutnya yang panjang, ia kuncir kuda lalu tersenyum. “Semangat! Ini adalah pagiku, semoga bahagia selalu.” Itu kata-kata yang sering ia ucapkan pada dirinya sendiri saat mengawali hari.
__ADS_1
Ia sekarang sudah merasa nyaman hidup di rumah ini. Ia mampu beradaptasi dengan baik. Untuk ayah dan Reno kondisi mereka baik, Kinanti baru saja mengirimkan sejumlah uang yang jumlahnya lumayan banyak. Tentu saja uang itu berasal dari hasil pekerjaannya mendampingi sang Nyonya Besar.
Sekarang Kinanti sudah siap. Ketika ia membuka pintu terlihat Naresh sedang menunggnya. “Kakak!” Kinanti memasang wajah sumringah karena bisa melihat lelaki itu dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Ia sempat khawatir saat malam itu. Kinanti takut jika ia akan merasa kehilangan lagi.
Naresh dengan setelan jas dan celana kain senada warna hitam, menyambut senyuman yang tersulam di bibir mungil Kinanti. Ia senang jika gadisnya dalam keadaan baik. “Sepertinya kau sedang merasa senang?” Naresh membetulkan anak rambut yang menutupi pipi kanan Kinanti.
“Aku takut jika Kakak terluka! Sejujurnya hatiku tidak tenang malam itu,” protes Kinanti.
Naresh hanya tertawa kecil. Ia menggamit lembut tangan Kinanti dan berjalan. Sekarang pasangan yang sedang mabuk asmara ini sudah tampil apa adanya tanpa malu-malu. “Apakah kamu tidak ingin istirahat? Maksudku tidak usah bekerja lagi, kau hanya perlu menungguku pulang dan menyambutku saat aku pergi bekerja?”
Kinanti menoleh pada Naresh. “Di rumahmu?”
Naresh mengangguk. Tentu ia tidak ingin kekasihnya terus di anggap maid. Ia ingin agar Kinanti juga mendapatkan status yang sederajat seperti Anneline. Banyak maid perempuan yang merasa iri karena kehadiaran Kinanti yang hanya sesingkat ini saja bisa membuat pencapaian yang luar biasa.
“Aku tidak suka berdiam diri. Lagipula aku banyak belajar dari nyonya. Aku diajari cara berpakaian yang baik, cara memadu-padankan warna lipstik dan masih banyak lagi. Aku senang di posisiku saat ini, Kak.” Kinanti akhirnya menjelaskan alasan mengapa ia masih memilih bekerja.
“Jika itu pilihanmu, aku akan mengizinkannya. Adik ipar akan senang jika sebentar lagi menerima kakak ipar yang baru.”
“Maksud Kakak?” Kinanti bertanya. Ia merasa bingung dengan ucapan pria yang menggandengan tangannya.
“Kak lepaskan, aku harus bekerja dan kau harus berangkan ‘kan?” Kinanti menunjukan tangnnya yang masih dalam digengam pria itu.
“Aku menginginkan bagianku,” ucap Naresh.
“Bagian?! Bagian apa kak?” tanya Kinanti. “ayolah jangan membuatku semakin bingung.”
“Malam itu aku sudah memberikan bagianku, sekarang giliranmu.” Naresh tertawa licik, ia sempat ragu jika mengatakannya secara lansung.
“Jangan bermain teka-teki denganku, Tuan Naresh Yori Alvarendra.” Kinanti kesal, sebab bagaimanapun ia melepaskan genggaman tangan Naresh tetap saja masih terkunci.
Naresh menujuk pipinya dengan jari telunjuk kanan. “Aku mau kau melakukan sama seperti malam itu.”
Kinanti makin bingung. Ia menggeleng tanda tidak mengerti. “Jelaskan saja apa mau Kakak.”
“Cium aku.”
__ADS_1
“Apa kau sudah gila! Tidak bisakan ditunda? Aku harus bekerja, Kak.” Kinanti memohon agar tidak melakukan hal yang memalukan itu di sini.
“Jika tidak mau tak apa, tapi aku tidak akan melepaskanmu.” Naresh masih menunggu, ia tentu harus mendapatkan bagiannya.
Dasar pria mesum! Yang benar saja, pemintaannya sudah gila.
“Aku tak mau!” Kinanti menjawab ketus.
“Tidak mau ya ... baiknya tetaplah di sini bersamaku atau aku yang memulai dulu. Tentu sensasi ciumanku lebih ganas dari sebelumnya.” Naresh mengancam, dalam hatipun ia ingin tertawa melihat wajah Kinanti.
Kau imut jika seperti ini, Kinanti.
“Tik, tok, tik, tok! Waktu terus berjalan, Kinan.”
Kinanti tidak peduli. Ia masih berusaha melepaskan cengkeraman tangan Naresh. Astaga lelaki ini bebal sekali! Apakah ia tidak punya malu ketika meminta hal ini? Tolonglah aku belum bisa pernah melakukannya!
Kinanti menyerah. Kebebalan Naresh bisa membuatya terlambat pagi ini. Ia tahu bahwa pria ini tidak akan menyerah sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan. Kinanti memutar bola matanya secara malas. Ia mengembuskan napas kasar.
“Baik, akan aku lakukan. Sekarang tutup mata Kakak!” Kinanti sebal karena ia harus mau menuruti keinginna Naresh. Ia harus segera mungkin melakukannya dan pergi bekerja.
“Aku sangat tidak sabar menunggunya, Kinan.” Naresh tersenyum licik. Ia memang sedang menunggu momen ini dan kelopak matanya tertutup. Sebentar lagi ia akan menerima kecupan.
Kinanti mengamati keadaan sekitar, berharap tidak ada yang melihat aksi gila ini. Debaran jatung makin terasa. Dua anak manusa yang memiliki debaran seirama. Kinanti memberanikan diri, ia mendekat. Lebih dekat. Bibir mungil Kinanti menempel pada pipi Naresh kurang dari satu detik. Kecupan sekilas yang hanya berselang kurang dari satu detik. Kinanti menjauhan wajahnya. Naresh tahu, gadis ini masih malu untuk melakukan lebih lama. Terbukti singkat sekali rasanya, tapi membuat semangat lebih menyala bagai kobaran api yang ditambah baranya.
“Sudah.” Kinanti berbisik lirih.
Sudah puas ‘kan! Dasar pria mesum. Tolong hentikan penderitaan ini!
“Terlepas!” Naresh melepas cengkeraman tangannya. Walaupun sebentar rasanya tetap sejuta.
Kinanti akhirnya berlari menuju kamar Nyonya Fernando. Ia harus segera pergi dari tempat itu sebelum ada orang yang melihat dan sebuah isu akan segera menyebar seperti wabah virus. Hari ini ia melakukannya dengan cara terburu-buru.
“Kinan, kapan-kapan aku akan memminta dengan durasi lebih lama! Camkan itu!” seru Naresh kemudian tertawa melihat tingkah lucu Kinanti.
Kinanti masih mendengar seruan itu. Kekesalan dan malunya pun bercampur menjadi satu. Ia tak tahu mengapa pria mesum itu begitu menawan hatinya.
__ADS_1
Mentang-mentang orang berkuasa di sini, dia bisa berlaku seenak jidat! Kenapa aku harus terjebak dalam permainannya!