Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 26


__ADS_3

Di siang yang terik dua mahasiswi berjalan keluar dari kawasan kampus. Mereka berniat segera pulang ke kost masing-masing. Mereka berjalan bercakap-cakap tentang topik apapun yang terlintas di pikiran mereka.


“Semenjak aku kuliah, serasa enggak punya waktu untuk olahraga Balqis,” kata Jihan yang mengeluh kepada sahabat di sampingnya.


“Bukannya nggak punya waktu, kamunya aja yang males,” balas Balqis.


“Sepertinya aku butuh motivasi atau semacam dorongan gitu biar bisa olahraga lari-lari santai gitu.”


“Aku tahu motivasi apa yang bisa bikin kamu semangat buat olahraga lari.” Balqis terlihat menahan tawanya.


“Apa Balqis?” tanya Jihan antusias.


“Gini, besok kita ke pasar modern. Terus aku teriak maling, kamu langsung lari ya.” Tawa Balqis pecah setelah mengatakan itu..


“Apaan sih Balqis.” Jihan sebal karena jawaban yang ditunggu tenyata tak sesuai harapan.


“Lho itukan sebuah motivasi yang sangat jitu Jihan,” balqis tertawa melihat muka sebal Jihan.


“Tahu gitu, aku enggak nanya ke kamu Balqis.”


Mereka berjalan melintasi para penjual makanan berjualan di sekitar kawasan kampus.


“Eh itu booth container ‘Karya Jus’ sepertinya ramai sekali ya Balqis, sudah beberapa hari buka sih, tapi kita belum mampir ke sana,” ujar Jihan yang melihat container kuning itu.


“Mau ngapain sih Jihan?”


“Ya beli minuman di situ. Mumpung masih tanggal muda,” kata Jihan, kemudian langsung menarik tangan Balqis.


“Ehh ...” Balqis tersentak kaget tangannya sudah ditarik oleh Jihan menuju booth container kuning itu yang bertuliskan ‘Karya Jus’.


Sesampainya, mereka langsung melihat-lihat menu yang tetulis di daftar menu. Kemudian Jihan dan Balqis serempak memesan minum.


“Es teh ukuran cup jumbo!” ujar Jihan


“Es teh ukuran cup jumbo!” ujar Balqis.


Mereka tertawa karena serentak memesan minuman yang sama.

__ADS_1


“Eh iya Mbak, sekalian kripik kentangnya itu ya,” tambah Jihan.


Akhirnya mereka menunggu pesanan yang sedang dibuat oleh seorang perempuan yang sedikit bergaya tomboy.


Jihan memperhatikan perempuan yang meracik minumannya. Terlihat perempuan itu sedang mengenang sesuatu yang menyenangkan.


“Mbak, kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Jihan yang sedang memperhatikan perempuan yang membuat pesanannya.


“Tidak Kak, hanya teringat cerita seseorang, kalau dia mempunyai dua sahabat yang suka sekali dengan es teh ukuran gelas jumbo.”


***


Hari berlalu seperti biasa, Ilham dengan segala kesibukanya dan Farah juga dalam kesibukannya, hampir setiap hari tak ada waktu untuk bertemu. Bila Ilham pulang ke rumah sebaliknya Farah masih dalam jam kerjanya. Jika Farah pulang, Ilham malah pulang lebih larut dari Farah bahkan tidak pulang sama sekali.


Sampai mereka tak ada ruang untuk berbincang hangat. Hampir setiap hari Farah mencoba menghubungi Ilham atau mengirim pesan singkat, namun tetap saja tidak ada jawaban dari Ilham. Farah sering menangis memohon kepada Sang Maha Baik agar jarak dalam rumah tangganya bisa hilang. Farah menginginkan rumah tangga yang hangat seperi layaknya rumah tangga pada umumnya.


Di sisi lain Ilham masih teguh pada prinsipnya bahwa ia tidak akan berhenti sebelum pekerjaanya selesai. Ilham hanya berfokus pada pembangunan kedai barunya. Hanya sesekali ia menanyakan kabar atau kegiatan apa yang dilakukan Farah dari pihak lain yaitu Akmal.


Kehidupan Farah dan Ilham seperti bertolak belakang. Seperti labirin yang memisahkan mereka. Hidup dalam satu atap namun seperti tidak saling kenal. Farah hanya ingin meminta waktu sebentar. Sebentar saja untuk memandang Ilham. Diam dalam cinta. Farah selalu ingin menyiapkan sarapan untuk Ilham, bercengkrama diatas meja makan walaupun berakhir dengan perdebatan.


Di sisi Ilham. Ia suka dengan rasa masakan Farah. Ia suka Farah menyiapkan sarapan untuknya. Ia mungkin sedikit rindu dengan pertengkaran kecil pada waktu pagi. Namun semua ini belum cukup menyakinkan hati Ilham untuk benar-benar berlabuh kepada Farah. Ilham masih menunggu sosok lain yang mungkin tak tergantikan sampai sekarang. Dan menurutnya, Farah tidak bisa menggantikan sosok Ann di hati Ilham.


***


Kinan tersenyum mengelus puncak kepala adik kesayangannya Reno.


“Kak Anti bawa apa itu?” tanya Reno polos.


“Ini bakso, pasti Reno belum makan ya? Ini makanlah.” Kinan tersenyum


Kinan membawa tiga bungkus bakso yang ia beli saat perjalanan pulang dari khursus mengemudinya.


Saat Kinan dan Reno mulai memakan bakso, ayah mereka baru saja pulang dari pekerjaannya. Sang Ayah tersenyum melihat Reno makan semangkuk bakso. Kinan lalu menyiapkan semangkuk bakso untuk ayahnya.


“Ini untuk Ayah?” tanya sang Ayah saat Kinan menyodorkan bakso untuknya.


Kinan mengangguk, hari ini ia mendapat bonus dari bosnya karena hampir seminggu ini booth container Karya Jus selalu ramai sampai-sampai Kinan memiliki teman kerja untuk menyelesaikan pesanan-pesanan mereka.

__ADS_1


“Sekarang Kinan sudah punya pekerjaan tetap Yah. Kinan bekerja di kampus negeri itu Yah, dekat dengan cafe tempat Ayah bekerja,” jelas Kinan sebelum ayahnya menanyakan dari mana Kinan mendapatkan makanan ini.


Sang ayah bangga dengan apa yang disampaikan Kinan. Sekarang beban ekonomi mereka sedikit berkurang karena Kinan sudah memiliki pekerjaan tetap.


“Ayah percaya masih ada orang baik di dunia ini?” tanya Kinan setelah selesai menyantap semangkuk bakso.


“Iya, Ayah percaya. Terkadang Allah mengutus orang baik itu untuk menolong orang yang lebih membutuhkan,” jelas sang Ayah.


“Ayah, sebenernya Kinan bekerja paruh waktu, tidak sampai malam. Sekarang Kinan juga mengikuti khursus mengemudi Ayah.”


“Apa? uang dari mana Kinan. Kita tidak punya uang untuk mendaftar khursus itu.”


“Ada orang baik yang membantu Kinan mendapatkan pekerjaan dan membiayai khursus mengemudi itu Yah.”


“Siapa orang itu Kinan?” tanya Ayah penasaran.


“Namanya Farah Yah, dia pernah bilang kalau dia juga bekerja di cafe tempat Ayah bekerja. Ayah kenal orang itu?”


Sang ayah belum menjawab, ia berusaha mengingat karyawati yang bernama Farah di cafe tempatnya bekerja.


“Seingat Ayah, yang bernama Farah itu cuma satu. Mbak Farah yang selalu berbaik hati memperbolehkan Ayah membawa pulang bekal makan siang suaminya.” jawaban sang ayah menohok hati Kinan.


Seketika Kinan teringat akan sesuatu.


Sungguh dia seorang istri yang malang.


Ia pernah mengatakan bahwa Farah adalah seorang istri yang malang, yang selalu membawakan bekal makan untuk suaminya, namun tak pernah dimakan dan pada akhirnya ayah yang membawa pulang makanan itu.


“Mbak Farah pasti belum tahu kalau kamu anak Ayah,” sahut Ayah membuyarkan lamunan Kinan.


“Iya bisa jadi Yah.”


“Mbak Farah baik, ternyata dia juga mencarikanmu pekerjaan yang baik bahkan membiayaimu untuk khursus mengemudi Nak.”


“Iya Farah sangat baik bagi keluarga Kita.”


“Bagaimana kalau kita beli kue untuk mbak Farah sebagai tanda terima kasih karena sudah baik membantu Ayah, dan juga membantu kamu juga. Sebentar lagi ‘kan Ayah gajian,” kata Ayah meminta pertimbangan.

__ADS_1


“Ide yang bagus Ayah.” Kinan menyetujui.


__ADS_2