Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 16


__ADS_3

“Bagaimana bisa tanah itu menjadi sengketa?!” tanya Ilham tak percaya pada laporan Akmal.


“Betul Pak, tanah sengketa itu sekarang masuk dalam urusan hukum, karena pemiliknya tersangkut kasus korupsi,” jelas Akmal.


“Oke, kita selesaikan masalah ini, aku tidak mau lahan yang akan dibangun bermasalah.”


“Maaf Pak, untuk lahan dekat perkantoran mungkin tidak ada. Kemarin saya sudah mencari lahan, mungkin Bapak berkenan melihatnya?” tanya Akmal.


“Sudah kamu survei lokasihnya Akmal?” Ilham tanya balik. Ia kagum manager mudanya sudah melakukan ini sebelum diperintah.


“Sudah Pak, memang lahannya tidak sedekat dengan perkantoran seperti dulu, akan tetapi dekan dengan perumahan, hotel dan perguruan tinggi swasta,” Akmal menjelaskan sedemikian rupa.


“Benarkah? Sepertinya itu lokasi yang strategis. Nanti kita survei. Kau ikut denganku Akmal,” ujar Ilham.


Akmal mengangguk tanda setuju.”Kalau begitu saya permisi dulu Pak.”


Sebelum punggung Akmal hilang dari ruang kantonya, Ilham memanggil Akmal kembali.


“Sebentar Mal, tolong pesankan omlet, antar ke sini.”


“Baik Pak.”


***


Farah memasak udang saus pedas sesuai resep dari bunda, berharap Ilham akan menyukainya. Ia tak sabar Ilham akan menyantapnya selagi masih hangat. Bu Tin bilang bahwa jarak rumah ini dan kedai milik Ilham hanya dua kilometer, bisa ditempuh dengan naik kendaraan umum atau pesan ojek online. Jika berjalan pun juga tak terlalu jauh.


Akhirnya Farah selesai memasak. Kini ia sedang menata nasi dan lauk pauk di kotak makan.


“Sebentar lagi jam makan siang Bu Tin,” sahut Farah.


“Iya Non, saya pesankan ojek online bagaimana?” tawar Bu Tin.


“Tidak usah Bu Tin, saya naik bus saja,”jawab Farah.


Alasan mengapa Farah tidak mau memakai ojek online karena kebanyakan para driver-nya laki-laki, itu bisa menimbulkan fitnah. Lagipula selama beberapa minggu Farah di kota ini, ia sudah mulai hafal kemana rute trasportasi bus itu.


Farah berangkat, Ia harus berjalan sekitar 200 meter untuk keluar dari perumahan ini dan menuju halte bus yang berada di dekat gapura tanda selamat datang. Tanda pintu masuk perumahan ini. Tak menunggu waktu lama, bus datang.


Sesampainya di kedai milik Ilham. Pertama kali yang Farah tatap dengan lekat adalah tulisan nama perguruan tinggi yang berada di seberang kedai milik Ilham.


“Balqis dan Jihan berkuliah kampus itu. Semoga tahun depan bisa nyusul. Aamiin,” guman Farah.


Lalu ia melengkah masuk menuju kedai itu. Seperti yang disampaikan bu Tin, kata ‘Kedai’ untuk kedai milik Ilham tidak seperti kedai pada umumnya. Tepatnya lebih seperti cafe.


Farah sudah ada di meja untuk pesanan. Ia tidak memesan, namum meminta ingin bertemu dengan pemilik kedai super mewah ini. Dua karyawan itu menelpon Akmal. Farah tak langsung bisa bertemu dengan Ilham. jika memang ada yang akan bertemu Ilham pastikan sudah memiliki janji terlebih dahulu.


Kata dua karyawan itu menyampaikan bahwa Farah harus naik ke lantai empat untuk bertemu store manager terlebih dahulu. Farah menurut dan naik ke lantai empat. Setelah naik menggunakan lift, Farah berjalan menuju meja pesan yang dekat sekali dengan meja kasir. Farah bilang bahwa ia ingin bertemu Ilham pemilik kedai ini.


“Ternyata untuk bertemu suamiku sendiri di kedainya harus memiliki izin yang berlapis-lapis,” gerutu Farah.


Tak berselang lama manager kedai itu datang menemui Farah.


Manager kedai ini masih muda.

__ADS_1


Pikir Farah yang terperanjat kaget melihat penampilan manager kedai ini.


“Maaf Pak Akmal, ada wanita yang ingin bertemu dengan pak Ilham. Sekarang dia duduk di meja nomor 7,” jelas salah satu karyawati itu.


Akmal mengangguk, lalu menghampiri perempuan yang dimaksud oleh karyawatinya.


“Maaf, apakah Anda yang ingin bertemu dengan pak Ilham?” Akmal mengkonfirmasi apakan benar itu perempuan yang ingin bertemu dengan bosnya.


“Iya benar, Kak ... Akmal,” jawab Farah yang membaca nama Akmal di name tag yang dikenakan.


“Anda memiliki hubungan kekerabatan dengan Pak Ilham?” tanya Akmal menyelidik.


“Iya, Kak.”


“Anda siapanya pak Ilham?”


“Saya ...” suara Farah terhenti. Ia teringat pada perkataan Ilham beberapa waktu yang lalu.


Jangan pernah bilang kepada siapapun bahwa kamu itu istriku. Jangan pernah! Ingat istri yang baik harus mematuhi perkataan suaminya, tanpa protes!


Farah masih ingat perkataan itu. Ia batal mengungkapan bahwa Ia adalah Istri sah Ilham.


“Saya adiknya mas Ilham,” kilah Farah.


“Oh adik, sebentar saya telepon pak Ilham dulu, apakah beliau bersedia menerima tamu,” balas Akmal yang sekarang dia sudah berada di meja kasir untuk menelpon Ilham.


Sesulit ini untuk bertemu dengan Ilham? Di kedainya sendiri pun ribet sekali untuk menemuinya.


Farah menggerutu dalam hati. Ia masih tak percaya bagaimana tertutupnya Ilham. Harusnya Farah mengaku saja kalau ia istrinya Ilham, jadi tak perlu serumit ini.


***


“Siapa?” tanya Ilham.


“Orang itu mengaku bahwa dia adalah adiknya Pak Ilham.”


Adik? Siapa yang dimaksud Akmal ini?


Ilham mengeryitkan dahinya.


“Bagaimana ciri – ciri orang itu Mal?” tanya Ilham yang sebenarnya penasaran siapa yang telah mengaku-ngaku sebagai adiknya.


“Dia perempuan, memakai pakaian muslimah, bermata coklat dan seperti mahasiswi. Perkiraan saya umur perempuan itu sekitar 20 tahun Pak,” jawab Akmal jelas.


Seperti ciri – ciri Farah! Tapi mengapa dia kemari? Ada apa?


“Suruh masuk ke ruangan saya.”


“Baik Pak Ilham,” Akmal menutup teleponya. Ia berjalan menuju perempuan tadi dan menyampaikan bahwa pak Ilham bersedia menerima tamu.


Mendengar hal itu Farah menjadi semangat.


Harusnya tak perlu izin, toh Ilham juga bagian dari dirinya. Pikir Farah.

__ADS_1


***


Ilham sedikt kaget melihat Farah bisa masuk ke ruanganya dengan membawa sesuatu di tasnya.


Tunggu, dia mengaku sebagai adikku? Kenapa dia tak mengaku saja sebagai istriku?


Tiba-tiba Ilham ingat perkataannya dulu, bahwa Farah tidak boleh mengaku sebagai istrinya.


“Assalamu’alaikum warahmatullah wabarkatuh,” salam Farah.


“Wa’alaikumussalam. Ada apa?” tanya Ilham langsung pada intinya.


“Aku membawa makan siang untuk Mas. Maaf tadi pagi aku tidak pamit kalau pergi ke pasar,” jawab Farah.


“Taruh saja di meja. Aku sedang sibuk!”


“Iya Mas,” Farah menaruh kotak makan siang untuk Ilham di meja dekat dengan Ilham.


Farah takjub dengan isi di kantor Ilham, banyak buku-buku seperti perpustakaan kecil. Langsung saja Farah mengampiri rak buku itu, memeriksa buku-buku itu mungkin ada judul yang menarik perhatian Farah.


“Ruangan kantor Mas Ilham ini unik ya, banyak buku-buku bagus disini,” kata Farah. Memang benar banyak buku-buku pengembangan diri dan strategi marketing di rak buku ini.


“Jika kamu suka, ambil dan baca,” jawab Ilham datar.


Mendengar itu Farah langsung memilih satu buku untuk di bacanya. Ia duduk disofa dekat jendela yang menghadirkan pemandangan gedung indah perguruan tinggi itu.


Diam-diam Ilham memperhatikan Farah yang sudah tenggelam dalam buku yang dia baca. Terkesan dengan kepolosan wanita yang ada di hadapannya.


Sebenarnya kamu cerdas hanya saja nasib kurang berpihak padamu


Ilham lama sekali memperhatikan Farah. Entah mengapa setiap kita memperhatikan gerak-gerik seseorang, pasti orang itu balik menatap kita seakan ada yang berbisik di telinganya. ‘Hey! Lihatlah dia memperhatikanmu sedari tadi!’ Itu membuat mata antar kita saling bertemu dan perasaan canggung itu muncul. Ilham dan Farah terlibat dalam permainan semesta klasik ini.


“Ada yang salah? Kenapa Mas memandang aku sampai seperti itu,” Farah memergoki sepasang dua mata bola Ilham memandangnya.


Sial, kenapa dia tahu? Bukankah dia sangat fokus membaca buku itu


“Tidak! Kalau kamu sudah tidak ada urusan di sini segeralah pulang. Aku sibuk dan tolong jangan ganggu aku!” tegas Ilham.


“Baik Mas, tapi sebelumnya aku ke toliet dulu boleh? Setelah itu aku langsung pulang,” jawab Farah.


“Silahkan.”


Farah bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan Ilham.


“Kalau dipikir-pikir dia lucu juga” guman Ilham sambil tersenyum mengingat kejadian tadi.


Tiba- tiba pintu terbuka tanpa diketuk. Membuat Ilham terkejut.


“Maaf Mas, toilet sebelah mana Mas, aku bingung mencari,” tanya Farah mengagetkan Ilham.


“Toilet khusus perempuan ada di lantai empat,” jawab Ilham datar, setenang mungkin.


“Iya Mas, terima kasih,” Farah menutup pintu kembali dan turun menuju toilet di lantai empat.

__ADS_1


Ilham masih tidak percaya.“Semoga dia tidak mendengar perkataanku tadi.”


__ADS_2