Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 177


__ADS_3

Episode 177: Dua Mayat Telah Ditemukan


Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!


Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa.


Terima kasih telah membaca kisah ini.


Salam Hangat,


Ilamy Harsa


Selamat Berimajinasi


____________


“Apa?” Mendadak ada yang menghantam keras dada Naresh. Bagai tersambar petir di sore hari yang cerah, kabar bahwa ada dua mayat yang ditemukan di lokasi pabriknya membuat keseimbangannya goyah. Ia hampir terjerembab jatuh.


“Halo ... Tuan masih di sana?” Jun memastikan apakah Naresh masih tersambung dengannya.


“Iya, aku masih di sini. Jelaskan siapa identitas dua mayat itu.” Dalam sudut hati kecilnya ada rasa ketakutan dengan logika yang menduga-duga.


“Saya jelaskan secara rinci, mayat pertama ditemukan dengan kondisi tertikam belati di bagian dada kiri. Mayat itu adalah Hugo, CEO baru Anda. Dia mati di ruang kerjanya. Mayat kedua kondisinya lebih mengenaskan. Dia seroang perempuan memakai gaun putih, tubuhnya sudah memutih dan hampir rusak karena terlalu lama terendam air di dalam tangki air.” Jun menjelaskan penemuannya.


Dugaan dari sudut hati kecil Naresh terbukti benar. Sirena telah mati, dan Hugo—pria muda yang baru ia pekerjakan sudah meregang nyawa. Butuh beberapa saat untuk membangun sesuatu yang telah runtuh.


“Apakah Tuan bisa kembali ke Kota Zen? Sepertinya akan ada urusan lain yang lebih penting.” Suara Jun membuyarkan sebagian kesedihan Naresh.


“Iya, aku akan segera kembali.” Naresh menutup sambungan teleponnya. Ia membiarkan dirinya jatuh ke lantai kayu kamar itu. Ia membutuhkan sedikit waktu untuk memulihkan diri.


***


Anneline mendengar semua percakapan itu dari luar kamar. Ia bersembunyi dekat meja. Ia tersenyum karena sebentar lagi kakak iparnya akan pulang lagi karena posisi perusahaan mengalami kekosongan. Setidaknya butuh dua sampai tiga minggu untuk menyelesaikan hal itu.

__ADS_1


Anneline juga tak merasa khawatir jika suaminya akan mencarinya. Menurut perhitungannya, Fernando akan pulang beberapa bulan lagi karena harus menyelesaikan latihan berjalan dengan kaki robot. Itu waktu yang cukup untuknya menjalankan aksi ini.


Pendengarann yang tajam membuat dia sigap untuk pergi dari tempat itu. Langkah kaki Naresh sangat khas, sehingga Anneline bisa meninggalkan meja itu.


Dua orang yang aku korbankan untuk membuat kondisi seperti ini. Pertaruhanku dan Dom hampir di ujung tanduk, mungkin hotel prodeo yang akan jadi kamarku. Ah ... ternyata berusaha untuk menggapai apa yang kita inginkan itu harus banyak berkorban.


Anneline mengatur napasnya, ia bersembuyi di toilet yang tak jauh dari kamar yang akan digunakan oleh Naresh.


***


Naresh turun dari lantai dua, ia ingin menemui Kinanti yang sedang asik merendam kakinya di kolam renang. Rencana untuk melamar gadis itu harus tertunda karena masalah di luar kendalinya.


“Kinan,” panggilnya lirih.


Sang pemilik nama menoleh. Wajah Kinanti yang tersorot pantulan air membuat Naresh terpesona. Ia merasa tidak tega meninggalkannya lagi. “Aku ingin memberitahu sesuatu.”


“Kakak, berhentilah berbicara. Aku tahu kamu sedang lelah, rendam kakimu di air ini. Aku jamin kakimu akan terasa sejuk.” Kinanti menarik tangan Naresh agar ikut duduk bersamanya. Tak tanggung-tanggung, ia juga melipatkan ujung celana Naresh agar kakinya bisa merasakan sejuknya air.


“Kinan, aku harus kembali ke Kota Zen sekarang,” ucap Naresh. Ia bingung harus bagaimana membicarakan hal ini, sejujurnya ia sudah merusak kebahagiaan kecil gadis yang berada di sampingnya.


Kinanti terdiam, ia menoleh ke arah pria yang berada di sampingnya. “Bukankah kita baru saja sampai? Katanya Kakak ingin bertemu dengan keluargaku?” suara Kinanti tercekat, ada sesuatu yang membuat dirinya harus bersedih.


“Ada sesuatu yang terjadi Kinan, semua ini di luar kendaliku!”


“Katakan apa sesuatu yang Kakak maksud itu, katakan!” Kinanti menuntut. Merasa jika Naresh tidak menepati janjinya pagi tadi di meja makan.


“Sirena telah ditemukan dan dia ....”


“Oh! Semua ini hanya gara-gara wanita itu? Kau kembali hanya itu Sirena?” Kinanti memotong ucapan Naresh.


“Iya, maksudku Hugo, mereka ....” Mendadak mulut Naresh menjadi kelu. Ia bingung menjelaskan bagaimana keadaan ini.


“Apa! bilang saja jika kau ingin mencari Sirena. Terserahlah! Aku sudah tidak peduli denganmu.” Kinanti bangkit dari duduknya. Ia ingin pergi dari tempat itu, ia bahkan sudah tak mau melihat wajah Naresh.

__ADS_1


Naresh bangkit dan langsung menarik tangan gadis.“Dengarkan aku dulu, Kinan.”


Kinanti berusaha melepaskan tangan Naresh. Ia mendorong tubuh pria itu. Tak disangka mereka malah tercebur ke kolam. Naresh menaik tubuh Kinanti dan menciumnya.


Kinanti merasa lemas, ia tak tau jika bibirnya sudah bertaut dengan bibir Naresh. Di bawah air yang sejuk, sebuah rasa yang tak bisa didefinisikan muncul. Tubuh mereka terangkat oleh air dan berusaha berenang untuk naik ke tempat semula.


Kinanti hanya diam, seluruh tubuhnya basah. Naresh tak ubahnya sama. Namun ia ingin meluruskan kesalahpahaman ini. Ia memegang kedua pipi gadis itu. “Lihat aku.”


Kinanti menatap mata itu lekat sekali. Sejujurnya ia kecewa, kenapa pria yang baru saja menciumnya. Sorot matanya seakan memberikan janji.


“Aku kembali ke Kota Zen karena Hugo, Ceo baru itu telah tewas. Sirena juga tewas dan ditemukan di tangki air. Tak ada alasan lain, Kinan.” Naresh menjelaskan dengan intonasi suara yang tenang.


Kinanti terdiam, ia merasa ada yang sakit dibagian dadanya. “Sirena sudah meninggal? Tapi ... kemarin aku baru saja berbelanja dengannya. Kamu bohong, kan?”


Naresh menggeleng. “Ini kenyataan yang terjadi, Sirena telah tiada.”


Kinanti yang semula membendung tangisnya, sekarang sudah pecah. Ia memang baru mengenal Sirena satu hari itu. Menurutnya, Sirena adalah perempuan yang baik, tapi takdir membuatnya harus merasakan duri yang tajam itu.


Naresh memeluk Kinanti erat, menenangkan gadis itu. “Kinan ....”


***


“Kita harus kembali pulang, Adik Ipar,” ucap Naresh ketika ia keluar dari kamar mandi. Ia harus membasuh dirinya karena sehabis berenang di kolam renang.


“Tidak!” Anneline melipatkan tangannya di depan dada. Ia tak menyetujui acara kepulangannya yang mendadak ini.


“Kenapa? Bukahkan kau harus ikut denganku? Sekarang perushaan sedang ada masalah, Hugo ditemukan tewas, dan kita harus pulang.” Naresh merasakan kepalanya pening. Sekarang kepulangannya mengalami sedikit kesulitan.


“Aku berlibur di sini saja! Pokoknya aku tak mau pulang!” Anneline sedari tadi mempertahankan keberadaannya di Milepolis. Ia tak boleh ikut dengan Naresh. Ia tak ingin rencanannya hancur.


“Tapi Ann, aku tak bisa meninggalkanmu bersama Kinan. Apa kau tak ingat bagaimana kau menyakiti Kinanti? Aku tak mau kejadian itu terulang kembali.” Naresh tentu tak ingin kelakuan buruk Anneline kambuh. Ia tak ingin Kinanti mengurusnya karena dia tak terbiasa hidup sendiri.


Anneline menangis, ia harus memaksakan matanya untuk memproduksi air mata itu. “Mengapa? Mengapa kau masih menganggapku gila!”

__ADS_1


__ADS_2