
Episode 210: Penolakan dari Pria Kecil
Naresh kembali dari tempat Ilham menunggu istrinya. Ia ingin mengunjungi kekasihnya, Kinanti. Tepat saat memasuki kamar inap, Naresh tertegun melihat ayah Kinanti membawa adik laki-lakinya yang memakai seragam sekolah. Tadi malam ia sudah berbincang banyak hal dengan ayah Kinanti. Naresh kira, ia akan mendapat beberapa pukulan karena telah membuat anak gadisnya terluka, ternyata ayah Kinanti malah memeluknya dan menyuruh agar Naresh memanggilnya dengan sebutan “ayah”. Langkah yang bagus, karena Naresh sudah menangkan hati calon mertuanya.
“Selamat pagi,” ucap Naresh ramah. Tepat jam dua pagi, Kinanti tersadar dan meminta air untuk membasahi kerongkongannya yang kering. Naresh dengan sabar mengambilkan air mineral dari botol dengan menggunakan pipet. Walaupun beberapa tetes, setidaknya sedikit menghilangkan rasa haus.
“Pagi.” Salam Naresh dibalas oleh Pak Budi yang tak lain adalah Ayahnya Kinanti. Dia memakai seragam satpam.
“Ayah tidak berangkat kerja?” tanya Naresh, ia juga memberikan senyuman manis pada adiknya Kinanti. “Reno sudah sarapan?”
Reno mengerutkan wajahnya. Ia tidak suka pada lelaki yang selalu diceritakan oleh kakanya. “Tidak perlu bertanya seperti itu padaku!”
“Reno!” Kinanti memeringati adiknya yang menjawab dengan buruk. Ia bahkan memelototi adiknya agar tidak bertingkah seperti itu.
“Kak Anti jahat! Ayah, aku mau berangkat sekarang! Aku benci Kak Anti kalo deket-deket ama Om ini!” Reno mendengus kesal.
Pak Budi merasa tak enak hati ketika anak laki-lakinya berucap sangat kasar. “Reno, enggak boleh gitu!”
“Pokoknya Reno mau pergi dari tempat ini! Reno mau berangkat sekarang, nanti telat!” Beberapa kali ia harus menghentakkan kakinya ke lantai. Ia sangat benci dengan lelaki yang ia sebut Om itu. Ia tak suka jika kakaknya direbut oleh Naresh.
“Kinan, Ayah berangkat dulu ya. Biar Nak Naresh yang menungguimu. Semoga lekas sembuh, Nak.” Pak Budi mengulurkan tangannya. Uluran tangan itu disambut oleh Kinanti lalu menciumnya.
“Hati-hati, Ayah.”
Pak Budi mengangguk. Sedangkan Reno dengan wajah cemberutnya sudah menunggu di bingkai pintu.
__ADS_1
“Ayah, biar Jun yang mengantarkan Ayah dan Reno. Sebentar, saya panggil dia.” Dengan sigap Naresh mengambil ponselnya. Dalam sekali tekan, ia langsung tersambung pada Jun.
“Cepat datang kemari, tolong antarkan Ayah dan Reno.”
“Kamu tidak perlu repot-repot, Nak Naresh. Saya dan Reno bisa naik bus.” Pak Budi merasa tak enak hati. Ia baru mengenal calon menantunya, tapi dia sudah berbuat seperti ini.
“Tidak apa-apa Ayah.” Naresh tersenyum.
Jun datang dengan pakaian rapi. “Silahan Tuan, dan Tuan kecil.”
Akhirnya Pak Budi dan Reno menerima bantuan dari Naresh. Jun dengan senang hati mengantarkan calon keluarga tuannya. Mereka bertiga berjalan keluar dari rumah sakit.
“Maafkan adikku yang sedikit kurang ajar padamu, Kak. Dia tak biasanya seperti itu.” Kinanti menunduk malu, ia selalu membanggakan Reno di depan Naresh. Tapi hari ini anak laki-laki itu jauh dari ucapan Kinanti. Apalagi ini pertama kalinya Reno bertemu calon kakak iparnya.
“Dia memang kesal kalau kakaknya sudah punya ‘calon’. Entahlah, aku takut jika dia terus memberontak seperti itu.”
Seorang petugas pengantar makanan mengetuk pintu sebelum memasuki kamar Kinanti. “Selamat pagi, ini sarapannya. Semoga lekas sembuh,” katanya sambil meletakkan satu nampan berisi semangkuk bubur, buah jeruk dan air susu. Ditambah dengan kotak kecil berisi tiga obat butir bentuk pil dan dua butir obat bentuk kapsul. Kemudian petugas itu pergi mengantarkan makanan untuk pasien yang lain.
Naresh bangkit dan mengambil semangkuk bubur. Ia harus menyuapi Kinanti agar kesehatannya lekas pulih. “Oke Nona Mesumku, sekarang waktunya sarapan. Buka mulutmu, aaaaa ....”
Kinanti mendesah pelan. “Haruskah? Aku tidak suka makanan rumah sakit yang terlalu sehat tanpa vetsin. Rasa gurihnya hilang.”
“Justru ini bagus, kau mau sembuh, kan? Ayo jangan banyak protes, buka mulutmu.” Naresh menyendokkan bubuk dan mengarahkan ke bibir Kinanti.
Mau tak mau Kinanti membuka mulutnya dan menerima sesuap bubur dari Naresh. Ia sudah menduga jika rasanya akan hambar. Ia hanya mampu menghabiskan separuh mangkuk bubur. “Sudah, Kak.”
__ADS_1
Naresh menurutinya, tidak memaksa. Setelah itu, Kinanti harus meminum lima butir obat dengan terpaksa. Tiba-tiba seorang perawat datang memberitahukan kepada Naresh jika pasien yang bernama Farah sudah dipindahkan ke ruang ICU
“Terima kasih atas informasinya, Suster.” Naresh bangkit dari tempat duduknya. Ia harus melihat kondisi Farah. Setidaknya harus menguatkan Ilham yang benar-benar dalam keadaan terpuruk.
“Kakak mau kemana? Aku ingin ikut, aku ingin melihat Farah.” Kinanti mulai merengek. Dia bahkan sudah membuka selimutnya agar bisa pergi.
“Kau tetap di sini, Kinan. Kondisimu belum pulih sepenuhnya. Nanti saja jika sudah benar-benar sehat. Kau dapat menjenguknya.” Naresh dengan sabar menyelimuti kaki Kinanti lagi.
“Tapi ....”
Naresh akhirnya mencium kening gadisnya dengan lembut. “Kau tetap di sini ya, jangan kemana-mana.”
Kinanti mengangguk. Ia melihat punggung Naresh hilang dari balik pintu.
________________________
Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah! Kalo ada poin lebih jangan lupa vote yaaaa!
Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa. Untuk kejelasan tentang update ataupun bersilaturahmi dengan author yang super ngeselin. Hahahahaha!
Terima kasih telah membaca kisah ini.
Salam Hangat,
Ilamy Harsa
__ADS_1