Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 114


__ADS_3

Selamat berimajinasi


_________


Naresh mengamit tangan Kinanti dengan penuh rasa kasih. Kinanti yang sudah tersihir oleh bias tampan yang memancar dari wajah Naresh hanya mengangguk mengikuti alur. Mereka berdua pergi melangkah keluar dari ruang kamar. Lagi-lagi Kinanti disuguhkan dengan pemandangan nyeni di rumah ini.


Rumah yang sangat bagus dan tersentuh dengan seni yang menawan.


Namun ada yang pertanyaan yang menggajal dalam diri Kinanti ketika melihat sunyinya rumah ini.


Apakah Kak Naresh tinggal sendirian?


Lepas dari pertanyaan itu, Kinanti mengangumi interior rumah ini. Tidak mewah, tapi sangat tersentuh dengan seni yang memukau. Ditambah dengan lantai kayu beserta funitur kayu terbaik lainnya. Selain itu ia juga melihat ada dua ruang yang berhadapan, dan sepertinya kamar tidur. Naresh masih mengajaknya berjalan melewati ruangan ini. Ia tahu, mata Kinanti berbinar-binar dan sepertinya penuh dengan pertanyaan.


“Apakah kau suka dengan rumah ini Kinan?” tanya Naresh.


Kinanti mengangguk, ia suka dengan rumah yang tidak terlalu besar tapi rapi dengan penempatan yang tepat. Naresh tersenyum melihatnya, ia juga mengelus puncak kepala Kinanti dengan hati-hati seakan gadis itu adalah permata yang sanga langka.


“Ini rumahku Kinan.”


Mata Kinanti terbelalak, ia masih memastikan bahwa dirinya tidak salah dengan. “Apakah Kakak tinggal sendirian di sini?” Akhirnya Kinanti berani menayakan hal yang sedari tadi ingin ia tanyakan.


“Iya, aku sendirian.”


Mereka sudah berada di pintu utama. Naresh tak langsung membukanya, ia menyiapkan kain yang baru saja ia keluarkan dari balik saku celana. “Berbaliklah.”

__ADS_1


“Apakah mataku akan ditutup lagi? Aku tidak mau seperti tadi.” Kinanti menggeleng. Ia takut kejadian tadi terulang kembali.


“Aku tidak akan menyakitimu.” Naresh akhirnya memasangkan kain itu untuk menutupi mata Kinanti dan mengikatnya di belakag kepala.


Sekarang penglihatan Kinanti kembali gelap, ia berjalan dengan bimbingan tangan Naresh. Sangat hati-hati ia melangkah. Udara malam berembus menyisir pori-pori kulitnya. Dapat dipastikan Kinanti sudah keluar dari rumah itu. Naresh membimbingnya berjalan entah kemana yang jelas Kinanti merasakan tanah yang dipijak bukan tanah melainkan rerumputan yang sedikit menebal.


“Sudah sampai.” Naresh membimbing Kinanti untuk duduk di kursi. Ia juga perlahan membuka kain yang menutup mata Kinanti.


Tepat saat mata Kinanti terbuka, yang dilihat pertama kali adalah meja dengan hidangan yang tersaji. Langsung saja ia melihat Naresh yang baru saja duduk di hadapannya. Mereka hanya terpisah dengan meja. Seketika Kinanti tahu, ini adalah perjamuan makan malam seperti sepasang kekasih yang pernah ia saksikan pada suatu film romantis.


“Aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu.”


Setelah mengatakan hal itu, ia menepuk tangan tanda untuk memanggil maid. Seketika seorang main laki-laki datang dan membuka penutup makanan yang yang terbuat stainless dengan bentuk setengah bola. Makanan tersaji adalah Baked Salmon dengan daging terbaik. Kinanti yang sudah pernah berlatih memakai pisau dan garpu tidak gugup dengan cara memakannya. Naresh tersenyum, ia bisa melihat perkembangan gadis di hadapannya sudah berubah menjadi perempuan yang didik seperti keluarga konglomerat.


Sepertinya adik iparku mengajarkan Kinanti untuk menjadi pantas. Tak salah aku mengajukanya sebagai pendamping. Setidaknya dia mendapat ilmu dari orang yang tepat.


“Ada apa Kak? Mengapa kau memandangiku seperti itu?” Kinanti memergoki sepasang mata pengintai milik Naresh.


Naresh hanya menggeleng lalu melanjutkan makannya. Suasana yang romantis seperti sepasang kekasih, sesekali canda tawa menghiasi meja itu. Setelah selesai menyantap makan malam, Naresh memutuskan untuk mengajak Kinanti mengelilingi rumah ini.


Gadis itu terpana dengan tumbuhan yang tinggi menjulang seperti pagar. Tumbuhan itu mengelilingi rumah Naresh sehingga membuatnya seperti labirin. Rumah itu sempurnah tertutup dengan pagar tumbuhan. Menurut cerita Naresh, ia memang sengaja membuat pagar yang tinggi dari tananman itu karena menganggap itu akan jauh lebih aman dibanding membuat pagar dari besi.


Mereka akhirnya berhenti di belakang rumah dan memutuskan untuk duduk di rerumputan sambil memandang pekatnya langit malam. Baik Naresh maupun Kinanti sudah tidak peduli jarum jam yang terus berputar. Hanya satu hal yang membuat mereka tak bisa lari dari larutnya malam yang menelisik ini.


“Apakah Kak Narest tidak kesepian tinggal di rumah sendiri?” tanya Kinanti yang kini sedang manja berbaring dengan berbantal paha Naresh.

__ADS_1


“Terkadang kesepian itu jauh lebih baik dibanding ramai karena keributan. Belasan tahun aku tinggal di rumah itu. Sejujurnya tempat itu lebih nyaman dan hangat ketimbang rumah yang mewah itu.” Naresh mendongakkan kepalanya dengan mata tertutup.


“Apakah Kakak tidak ingin menikah?”


Kali ini pertanyaan Kinanti membuat raut wajah Naresh menjadi kencang karena hawa serius. Ia terkesiap dengan pertanyaan yang belum tentu bisa ia jawab, dan sejujurnya ia tidak bisa menjawab. Hanya gelengan kepala sebagai jaminan atas pertanyaan itu.


“Padahal jika menikah, mungkin Kakak bisa terlepas dari pelukan kesendirian.” Imbuhnya. Sekarang Kinanti memandangi pola bintang, ia mencoba menarik garis khayar yang ia lukis di udara seperti menggabungkan bintang satu dengan bintang lainnya dalam garis lurus.


“Kau tahu Kak, sejak dulu aku selalu bermimpi tentang kehidupan yang bahagia tanpa kesendirian. Kehidupan yang berjalan dengan takdir yang manis.” Kinanti memejamkan matanya, ia tersenyum membayangkan apa yang ia sebut dengan ‘takdir manis’.


Naresh melihat ekspresi itu. Bisa dikatakan mereka adalah dua anak manusa dengan garis takdir yang lumayan lucu sekaligus suatu ironi. Naresh lahir dari keluarga yang berada tanpa kekurangan. Meskipun begitu, kebahagiaannya selalu terampas dengan keji oleh istri ayahnya yang lain. Kinanti, gadis yang lahir dari keluarga yang ketika menginginkan sesuatu harus bekerja dahulu. Meskipun begitu keluarganya sangat hangat bagaikan matahari yang memancar indah di kala pagi. Takdir ironi yang sama dari mereka adalah sama-sama kehilangan tonggak asal muasal kehidupan mereka. Tempat di mana rahim yang memeluk hangat selama sembilan bulan oleh manusia berhati malaikat, ibu.


Tangan kanan Kinanti terangkat ke atas seperti memetik sesuatu. “Bintang di atas sana sungguh indah ya, bersinar dalam kepekatan waktu semesta. Dia tinggi dan jauh di sana, dan aku tidak bisa menggapainya.” Kinanti hanya tersenyum penuh makna. Angin berembus namun dalam keheningan.


Naresh menggengam tangan Kinanti dengan hangat. “Kau tak perlu menggapai bintang di langit. Cukup menjadi seperti bintang yang mampu berkilau dipekatnya malam.”


________


Biasakan setelah selesai membaca kisah ini, pencet like, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author😆


Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.😊


Terima kasih


Salam Hangat,

__ADS_1


Ilamy Harsa🍀


__ADS_2