Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 21


__ADS_3

Farah terbangun karena suara azan subuh. Hari ini ia sangat santai, tak perlu berangkat pagi untuk ke kedai. Farah merasa ada keanehan. Ia baru sadar kenapa dirinya bisa bangun dari tempat tidur? Bukankah kemarin malam Farah sedang belajar sampai tertidur di meja.


“Lalu siapa yang membaringkanku di tempat tidur ini?” guman Farah.


“Atau jangan-jangan mas Ilham yang sudah memindahkanku? Ah sepertinya tak mungkin.”


Setelah sholat subuh Farah melanjutkan kegiatanya memasak sarapan sama seperti biasanya. Jika sudah selesai memasak, Ia akan menatanya di meja makan.


Seperti biasa Ilham sudah bersiap, sudah memakai baju kemejanya yang rapi. Ilham duduk dan Farah menghidangkan makanan. Sudah seminggu terakhir Farah tidak melakukan hal seperti ini.


“Kata Akmal, kamu mengajukan cuti hari ini?” tanya Ilham pada Farah.


“Soal itu. Iya Mas hari ini aku mengambil cuti sehari. Aku ada janji dengan dokter kandungan,” jawab Farah riang.


“Kamu sakit apa, sampai membuat janji dengan dokter kandungan?”


“Ini bukan untukku Mas, tapi mbak Rahma. Aku khawatir jika terjadi apa-apa terhadap kandungannya.”


Ilham tak percaya. Mengapa istrinya begitu bersimpati dengan perempuan kotor itu.


“Kamu bukan keluarganya, toh dia bukan perempuan baik-baik,” Ilham menjelaskan.


“Bukan perempuan baik – baik? Maksud Mas apa?” tanya Farah yang bingung dengan pernyataan Ilham.


“Iya, dia perempuan dari rumah prostitusi, dulu dia memohon pada Akmal agar diberi pekerjaan, apapun itu. dia meminta pekerjaan untuk membiayai dirinya dan bayi haramnya,” jelas Ilham yang ketus saat mendengar nama Rahma.


Hah?! Aku tak percaya Mas Ilham bisa berbicara sekasar itu!


batin Farah kaget terperangah


“Jangan menyebut bayi haram Mas. Aku tak peduli dengan masa lalu mbah Rahma, yang jelas aku peduli dengan bayi yang di kandungnya. Jika Allah memberikan kehidupan baru di rahim seorang perempuan maka Allah memberikan anugrah terindah,” balas Farah yang tidak menyukai nada bicara Ilham saat menyebut ‘bayi haram’.


“Aku justru kasihan jika bayi itu lahir. Jelas bayi itu tak akan tahu siapa bapaknya, bahkan bayi itu bisa dicemooh oleh lingkungan di sekitarnya. Ditambah dengan ibunya yang seorang perempuan tuna susila!”

__ADS_1


“Mas! mengapa Mas sekasar ini? Seakan-akan kamu menganggap perempuan hamil di luar nikah itu perempuan tidak baik! Jangan berprasangka buruk sebelum tahu kebenarannya Mas.” Farah tak terima dengan apa yang dikatakannya. Itu menusuk sekali. Bagaimana jika saudaramu atau mungkin aku berada diposisi seperti itu!


“Aku akan berdoa kepada Allah agar bayi mbak Rahma kelak memiliki ayah! Ayah yang sangat baik kepada bayi itu dan ibunya,” kata Farah tegas.


Ilham mendengar itu semua keluar dari mulut Farah.


Mengapa Farah sangat keras kepala! Aku hanya nggak mau dia ikut-ikutan seperti Rahmah, wanita murahan itu!


“Aku sudah selesai. Terima kasih atas makananya,” ucap Ilham datar. Lalu beranjak pergi meninggalkan Farah di meja makan. Ia tak mau berdebat panjang dengan Farah.


Ilham berangkat ke kedainya. Tanpa berpamitan seperti biasanya. Farah masih sebal atas perkataan Ilham. Itu sangat jelas sekali bahwa Ilham merendahkan derajat perempuan.


Farah melirik jam di dinding masih ada dua jam lagi. Ia masih bisa memasak untuk makan siang Ilham. Meskipun sebal, Farah masih tahu kalau Ia harus memenuhi kewajibannya.


Farah memasak menghabiskan waktu satu jam. Setelah itu Farah membungkus bekal makan siang. Farah berpesan kepada Bu Tin seperti biasa, kalau sebelum jam makan siang bekal makan Ilham harus sudah diantar ke kedai.


“Nona ini mengapa ada dua bekal? Yang satunya untuk siapa?” Bu Tin bertanya kepada Farah.


“Ini yang satunya untuk pak Budi satpam. Seminggu terakhir mas Ilham tidak pernah menyentuh bekal yang saya buatkan Bu, jadi pak Budi yang selalu bawa pulang makanan itu,” jawab Farah.


“Jadi, nanti kalau mas Ilham makan bekalnya, pak Budi bisa bawa bekal yang satunya Bu Tin. Saya kasihan dengan pak Budi, istrinya meninggal karena sakit, lalu memiliki dua anak yang harus dibesarkan sendiri. Dan pak Budi memiliki hutang pada rentenir membuat hampir seluruh gajinya habis untuk membayar bunga. Padahal pak Budi berhutang untuk membiayai istrinya sewaktu sakit,” lanjut Farah menjelaskan kepada bu Tin.


“Nona baik sekali. Saya baru tahu ada orang baik sekali dengan orang yang bahkan bukan siapa-siapanya Nona,” kata Bu Tin berkaca-kaca sudut matanya.


“Bu Tin, sudah seharusnya manusia saling membantu? Sudah ya Bu Tin saya harus segera berangkat ke kontrakannya mbak Rahma, karena jaraknya lumayan jauh.”


“Iya Nona, kalo saya pesankan ojek atau taksi online bagaimana?” tawaran Bu Tin.


Farah menggeleng sopan. “Tidak usah Bu Tin, saya ingin naik bus. Nanti saja jika akan ke rumah sakit, saya akan pesan taksi,” ujar Farah.


Farah akhirnya pergi menuju kontrakan milik Rahma yang jaraknya sekitar 8 Km dari rumah Ilham.


Sesampainya di kontrakan Rahma, Farah melihat Rahma yang sudah menunggunya.

__ADS_1


“Ayo Mbak kita ke Rumah Sakit Medika Center,” ajak Farah.


Rahma menunduk, ia menggeleng lemah. “Maaf saya tidak punya banyak uang,” jawab Rahma.


“Tenang Mbak, saya yang akan membayar semua,” jawab Farah menenangkan Rahma.


Rahma menunduk makin dalam. “Terima kasih, Mbak Farah baik sekali.” Rahma menangis.


Setelah bersiap-siap, kini Farah dan Rahma menunggu taksi online yang dipesan melalui aplikasi. Sekitar 15 menit kemudian taksi itu muncul di depan gang kontrakan Rahma.


Sejak saat itu Farah memiliki sahabat baru, Rahma. Mereka bercerita banyak. Sampai akhirnya mereka sampai di Rumah Sakit Medika Center.


Rahma sudah menjalani pemeriksaan. Bayi yang dikandungnya berjenis kelamin laki-laki dan usia kandungannya sudah memasuki bulan ketujuh. Hanya saja catatan dari dokter agar si ibu bayi ini tidak boleh stress berat, gizi harus diperhatikan karena kehamilan Rahma termasuk kondisi kurus, harus ditambah bobotnya agar bayi di dalamnya sehat. Dokter juga sudah menuliskan resep agar segera bisa ditebus di apotek.


Rahma duduk menunggu di taman rumah sakit dekat dengan apotek. Ia masih menunggu Farah untuk menebus obat.


Mbak Farah orang yang sangat baik. Dia sama sekali tidak menganggapku hina, malah menganggapku seperti saudara.


Pikir Rahma.


Tak berapa lama Farah datang membawa satu kresek kecil berisi obat unuk Rahma dan satu kresek besar berisi dua minuman ukuran cup jumbo.


“Ini obatnya dan jus alpukat untuk Mbak Rahma,” Farah memberi dua kresek itu untuk Rahma.


“Terima kasih ya Mbak,” jawab Rahma.


Farah tersenyum.


“Mbak Farah apa tidak merasa jijik dengan saya?” tanya Rahma.


Pertanyaan itu mengejutkan Farah.


Mengapa Rahma harus mengajukan pernyataan ini?

__ADS_1


“Maksudnya?”


“Saya hamil tanpa adanya pernikahan, saya perempuan tidak baik Mbak, saya wanita pezina!” jawab Rahma menangis


__ADS_2