Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 216


__ADS_3

Episode 216: Lelah


Naresh mematikan ponselnya. Ia menghempaskan tubuhnya ke sofa yang berada di kamar inap Anneline. Perempuan itu masih tertidur karena obat penenang yang masuk ke tubuhnya setelah mengamuk dan mengancam akan bunuh diri. Jun menjadi korban, tapi tak separah. Dia masih bisa melawan beruntung tak sampai terjadi pertumpahan darah.


Naresh mengembuskan napas berat. Telepon tadi berasal dari kepolisian Kota Zen yang meminta Anneline untuk datang dua hari lagi, karena kasusnya harus segera berjalan.


“Aku ingin menemui Kinanti.” Naresh bergegas. Ia yakin Anneline tak akan bangun dalam waktu yang singkat.


Sesampainya di kamar Kinanti, Naresh langsung duduk dan meletakkan kepalanya di pangkuan Kinanti. “Aku lelah.”


Kinanti yang sedikit terkejut dengan sikap manja Naresh akhirnya mengalah. Ia meletakkan ponselnya di nakas. Tangannya sekarang sibuk mengelus kepala Naresh memberikan kenyaman tersendiri.


“Ini ujian, Kak. Aku percaya kita dapat melewatinya.”


Naresh mengangguk. Minggu ini ia benar-benar lelah merasakan semuanya. Ia ingin sekali berteriak, tapi ia takkan melakukannya. Itu dapat memancing stigma jika dia mengalami gangguan kejiwaan.


“Dua hari lagi, aku harus kembali ke Kota Zen bersama Anneline. Kau tak apa-apa jika aku tinggal sebentar?” Naresh mengangkat kepalanya. Ia menatap sepasa mata Kinanti agar segera memberikan jawaban.


“Aku ingin ikut, Kak.”

__ADS_1


Naresh menggeleng. “Kau tetap di Milepolis. Terlalu berbahaya jika kembali ke Kota Zen. Ditambah kau belum sembuh benar, Kinan.”


Wajah Kinanti memberengut. Ia tidak selemah yang Naresh kira. “Aku sudah sehat, aku ingin ikut denganmu, Kak!” Ia tetap bersikeras. Baginya, Naresh harus ada yang menemani.


Naresh menyentuh kedua pipi Kinanti.“Aku tak ingin ayahmu menuntutku, jika terjadi sesuatu hal yang mengerikan, Kinan.”


“Tapi ....”


Naresh langsung menempelkan keningnya di kening Kinanti. Baginya, Kinanti adalah suntikan penyemangat di dunia ini. “Aku hanya ingin calon istriku aman. Aku tak ingin ada yang merenggutmu dari siapapun atau apapun itu.”


Kinanti memeluk pria yang sangat ia cintai. “Aku akan menunggumu, Kak.”


Naresh melepaskan pelukannya dan mencubit gemas pipi Kinanti. “Aku ingin tahu, calon adik iparku sekolah di mana?”


“Iya, Reno. Aku ingin menjemputnya. Dia sekolah di mana?”


“Untuk apa? Dia bisa pulang sendiri, Kak. Tak perlu mengkhawatirkan dia.”


Naresh menggeleng. “Aku harus mengajaknya bicara, kalau perlu bertarung untuk mendapatkan kakaknya. Aku yakin dia masih belum mau melepaskan kakaknya.”

__ADS_1


“Dia bersekolah di Yayasan Pelita Kasih. Ada di Jalan Candramawa nomor 18. Kakak tahu tempatnya, kan?” Kinanti sedikit ragu dengan peragai Naresh. Ia takut, alih-alih menjemput malah tersesat. Terlebih lagi Naresh belum paham benar tentang jalan di Kota Milepolis.


Naresh mengangguk. “Aku tahu tempatnya, Kinan. Aku akan berangkat sekarang.”


Kinanti mengangguk menatap sosok Naresh yang hilang di balik pintu. Ia berharap pria itu dapat meredakan Reno yang agak rewel untuk ukuran bocah berumur dua belas tahun.


Naresh harus menyelesaikan masalah sekecil ini. Ia sudah menelepon Jun agar mengawasi Anneline lagi. Ia yakin Jun sedang ada di kantin rumah sakit untuk sekedar mengisi perutnya atau berbincang dengan petugas di sini.


“Yayasan Pelita Kasih, Jalan Candramawa.” Naresh sebenarnya tak tahu di mana tempat itu. Namun tekadnya untuk menyelesaikan masalah di kota sangatlah besar. Ia berharap semoga esok jauh lebih baik dari hari ini.



________________________


Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah! Kalo ada poin lebih jangan lupa vote yaaaa!


Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa. Untuk kejelasan tentang update ataupun bersilaturahmi dengan author yang super ngeselin. Hahahahaha!


Terima kasih telah membaca kisah ini.

__ADS_1


Salam Hangat,


Ilamy Harsa


__ADS_2