Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 67


__ADS_3

Mobil Ilham telah memasuki lahan parkir kedainya. Ia cakap menghentikan mobilnya di sebelah kanan dekat dengan pohon. Ilham merasa sudah lama tidak berangkat ke kedai. Waktu pagi ini kedainya sudah sangat ramai. Saat ia memasuki kedainya, banyak sekali karyawati yang menyapanya.


Ilham tersenyum, ia harus segera ke ruangan Akmal untuk melihat kondisi managernya. Ruangan Akmal terletak di lantai 4. Ia naik ke lantai 4 menggunakan tangga. Ilham sedikit terkejut melihat Akmal sedang meringis merasakan nyeri akibat pertarungannya melawan Ray.


“Selamat pagi,” sapa Ilham.


“Selamat pagi Pak Ilham.” Akmal sudah duduk depan layar laptopnya. Sesekali mengelus pipinya sendiri yang berwarna biru lebam.


“Hari ini biar aku saja yang menjaga kedai. Beristirahatlah.”


Akmal memandang sekilas bosnya. Pandangan itu mungkin bermakna, apakah saya tidak salah dengar?


Ilham tersenyum penuh penghargaan kepada Akmal. “Ikutin saja perintahku, atau kamu mau gajimu dipotong?”


“Baik Pak, saya laksanakan.” Akmal mengangguk. Ia bisa menganggap hari ini adalah hari libur spesialnya. Ia bisa tidur seharian penuh.


“Oh ya, aku ingin bertanya sebentar.” Kalimat Ilham membuat Akmal membatalkan niatnya untuk keluar dari ruangan ini.


“Iya pak?”


“Selama aku tidak berada di Milepolis, apakah Ray sering dekat dengan istriku?”


Pertanyaan dari Ilham membuat Akmal bergeming. Ia tidak mau disebut mengadu dan lebih parahnya lagi membuat suatu hubungan hancur.


“Mengapa diam?” Ilham melihat raut wajah Akmal yang sedikit mengisyaratkan kebimbangan.


Akmal masih terdiam.


“Aku hanya butuh kesaksianmu saja, bicaralah.”


Dengan kemantapan hatinya, Akmal mengungkapkan semua yang ia ketahui mulai dari Ray yang sering mengantarkan Farah dan menjemput Farah pulang. Serta kenekatan Farah mencari Ilham di Kota Numa, dan ternyata Ray juga mengikuti Farah ke kota itu.


Ilham terdiam. Ia merasa ini salahnya karena tidak mengabari atau meninggalkan pesan kalau ia tidak pergi ke Numa, melainkan ke Kota Zen. Ilham sadar selama 5 hari itu, ia telah meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Ia bisa memaklumi kenekatan Farah untuk mencarinya ke Numa.


“Kau boleh beristirahat.” Ilham mengusaikan perbincangannya dengan Akmal.


Akmal mengangguk, ia pergi dari ruangannya sendir menuju lantai 5. Di sana adalah tempat mess bagi Akmal dan teman-teman karyawan lainya.


Ilham termenung, menyadari kesalahannya. Kalau saja ia tidak bernafsu untuk mencari Anneline mungkin Ray tidak akan mengenal Farah. Ilham mengembuskan napas panjang. Ia teringat tentang kalimat yang pernah Bunda ucapkan saat Ilham masih bersama dengan Anneline.


Jika perempuan adalah tulang rusuk, maka jantung adalah kekasihnya. Si tulang rusuk akan melindungi apapun yang akan menyakiti organ penting ini. Jika sang jantung tidak ada, lalu ia akan melindungi apa? Akan ada ruang kosong. Tulang rusuk menyukai gerakan dan irama detak jantung, jika jantung tidak ada apa yang akan ia dengar? Mungkin sebabnya perempuan jauh lebih memilih berkorban dari pada harus kehilangan detakan hidupnya.

__ADS_1


Dan hal itu dibenarkan oleh Ilham di masa sekarang. Dulu ia menganggapnya tidak seserius ini sekarang Ilham tahu bagaimana perasaan sunyi perempuan ketika di tinggal detakan hidupnya. Bahkan saat badai menyerang Kota Numa, Farah tetap nekat mencarinya.


Apakah detakan hidup Farah sudah terganti oleh Ray?


Tidak! Tidak boleh hal ini terjadi. Ilham akan membuat detakan itu karenanya bukan karena pria lain.


Untuk pertama kalinya Ilham merasakan ketidak-relaan terhadap perasaan. Ia tidak ingin tergantikan oleh siapapun. Tidak ada yang boleh tulang rusuknya melindungi jantung yang lain. Sekarang Ilham mengerti, perasaan kasih yang coba Farah berikan. Namun tidak pernah digubris oleh Ilham. Ia sekarang mengerti, mengapa Farah lebih memilih merasakan lelah untuk bekerja di kedai. Karena alasannya jelas jantungnya ada di sini.


***


Ray memegang pedang kayu dengan genggaman yang mantap. Matanya mengisyaratkan kekuatan dan keahliannya. Insting pembunuh Ray bergejolak hebat di sana. Ia mengayunkan pedang kayunya dengan teknik yang baik. Ia sangat suka dengan permainan ini, sekarang ia hanya butuh lawan yang seimbang untuk melakukan permainan ini.


Ray sudah merasakan kekalahan di masa lalu. Sekarang ia tidak ingin mengalah lagi. Hasratnya haus akan kemenangan. Ia sudah mengalah di masa lalu memberikan Anneline gadis yang pernah ia sukai. Dan kali ini Ray menginginkan Farah sebagai keharusan yang ingin ia miliki, seutuhnya.


Biar bagaimanapun, bayangan Farah tidak bisa terlepas dari Ray. Ia mencintai secara utuh sejak pandangan pertama. Ray sangat berharap Farah gadis belia itu mampu menutupi luka-luka lamanya. Gadis itu membangkitkan harsat kasih sayang yang ingin Ray curahkan kepada Farah.


“Sebentar lagi, kau akan jadi milikku.”


***


“Masuk!” Ilham menyuruh seseorang yang telah mengetuk pintu ruangannya. Ia melihat ada salah satu karyawannya datang membawa pesan.


“Maaf Pak Ilham, ada seseorang yang ingin menemui Bapak. Beliau bilang bahwa dia membawa pesan dari bapak Rayhan,” ucap karyawan itu dengan sopan.


Mengapa Ray melakukan hal ini?


“Bilang padanya, bahwa dia diterima untuk memasuki ruangan ini.”


Karyawan itu mengangguk. Ia pergi untuk menyampaikan pesan dari Ilham. Tak berapa lama, seorang laki-laki utusan Ray masuk ke dalam ruangan Ilham.


Lelaki itu hanya membawa sepucuk surat dan dia bilang bahwa ia akan menunggu jawaban dari Ilham.


Ilham membuka sepucuk surat itu, lalu membacanya. Dalam surat itu berisi tantangan untuk beradu pedang. Sekilas ia melihat pelayan yang dikirm Ray untuknya.


“Bagaimana jawabannya, Tuan?” Pelayan itu akhirnya bersuara.


“Maaf saya sedang sibuk.” Ilham memilih mengabaikan tantangan dari Ray. Menurutnya ini sangat kekanak-kanakan.


“Pesan dari tuan Ray, jika Anda menolak, ada harga yang harus dibayar. Yaitu istri Anda.”


Mata Ilham terbelalak mendengar kata ‘istri anda’. Ilham yakin Ray tidak akan melepaskan Farah semudah itu. Ray adalah lelaki yang gigih memperjuangkan apa yang ingin ia miliki.

__ADS_1


Dengan sorot mata kebencian, Ilham menerima tantangan ini. Ia juga meminta agar pertarungan dilangsungkan esok hari.


Pelayan utusan Ray itu mengangguk, sekarang ia sudah pergi dari hadapan Ilham. Untuk kesekian kalinya, ia menyesal meninggalkan Farah waktu itu.


***


Farah hanya terdiam melihat dua orang cleaning service sedang membersihkan rumahnya. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah ini. Farah berjalan menuju pintu rumah. Ia tertegun melihat seorang pengantar bunga.


“Selama siang,” ucap pria itu.


“Siang, ada apa ya Pak?”


“Ini benar rumah Nona Farah?”


“Benar, saya Farah. Ada apa ya pak?” Farah sangat penasaran mengapa pengantar bunga ini bisa ke rumah ini.


Pria pengantar bunga itu menyerahkan seikat mawar merah yang sangat segar kepada Farah.


“Ada titipan dari seseorang untuk Anda,”


“Siapa?”


“Ini kartu ucapannya.” Pria itu menyodorkan kartu ucapan yang berwarna biru aqua. Bahkan bagian depan terlihat ada gambar pelangi.


“Kalau begitu tugas saya selesai, terima kasih.” Pria pengantar bunga itu berlalu pergi.


Farah masih penasaran siapa yang mengirim seikat bunga mawar merah segar. Bahkan Farah juga membaca kartu ucapannya, tidak tertera siapa nama pengirimnya. Hanya ia suka untaian kata yang ditulis di kartu ucapan itu.


Kau layaknya sekuntum mawar merah merona


Kau sejuk bagai embun pagi


Kau hangatnya bagai mentari di awal musim semi


Kau bagai serak cahaya yang terkumpul untuk menerangi gelapku


Dan terakhir


Kau cantik utuh bagai rembulan


Farah tersenyum setelah membaca semua kalimat yang tertulis dengan manis.

__ADS_1


“Ini pasti mas Ilham yang mengirimkannya.”


__ADS_2