Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 73


__ADS_3

Pagi adalah satu malam yang telah terlewati. Sang surya kembali dengan sinar hangatnya menggantikan ibu bulan di kala siang. Pagi itu setelah melewati dekapan yang hangat, Ilham memutuskan untuk mandi. Farah juga memutuskan untuk membersihkan dirinya sebelum memulai aktifitasnya.


Setelah Farah selesai membasuh dirinya, ia merapikan kamar Ilham, menatanya agar terlihat lebih indah. Farah juga membersihkan kamar ini. Tiba-tiba Ilham keluar dari kamar mandi. Ia hanya memakai handuk yang dililitkan di bagian bawah. Terlihat jelas tubuh Ilham yang bagus, bahkan sekujur tubuhnya masih ada sisa air tak terkecuali rambutnya.


Farah melihat pemandangan itu semua. Pipinya merona merah. Ia segera menutup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ilham yang melihatnya bingung. Mengapa istrinya harus menutupi wajahnya seperti itu.


“Ada apa?” tanya Ilham bingung, salah satu alisnya terangkat.


“Kenapa Mas Ilham tidak pakai baju?” Farah bertanya dengan suara yang sedikit terhalang oleh kedua telapak tangannya.


Ilham menyadari, ia hanya memakai handuk saja tanpa menutupi tubuh bagian atas. Ia tertawa kecil melihat kepolosan istrinya. Entah pikiran dari mana, Ilham ingin menjahili Farah.


“Bukankah semalam, kau yang membuka bajuku. Mengapa sekarang harus malu?” Ilham bertanya dengan nada yang menggoda.


Masih belum melepaskan kedua telapak tangan yang berada di wajahnya, Farah menggeleng. “Itu berbeda Mas! Aku hanya mengobati luka-luka itu. Tidak berbuat macam-macam. Tidak membuka semuanya.”


Ilham memegang dagunya. “Tidak membuka semuanya?” Ilham mengulangi kata-kata milik Farah. “Oh jadi istriku ini ingin balas dendam. Karena pada malam saat hujan deras itu, aku sempat membuka semua pakainmu yang basah lalu menggantinya dengan pakaianku yang kering. Bukan begitu?”


Apa! Jadi yang mengganti pakaianku waktu itu Mas Ilham.


“Aku juga tahu letak tanda lahirmu. Di pundak bagian kanan ‘kan?” Ilham masih menggoda Farah. Ia menahan tawanya.


Apa! Mas Ilham juga tahu di mana tanda lahirku?!

__ADS_1


“Jangan-jangan kau kemari juga ini melihatku dengan tubuh polos seperti bayi? Lalu memakaikan baju untukku? Dengan senang hati akan aku buka handuk ini.” Ilham tersenyum lebar menampilkan deretan giginya.


“Enggak! Enggak Mas! Aku ingin masak dulu.” Farah yang masih menutupi wajahnya, seketika bangkit. Ia berjalan cepat keluar dari kamar suaminya. Saat ini ia benar-benar malu, pipinya pun bertabur warna merah muda.


Ilham tertawa puas melihat istrinya yang masih menganggap ini tabu. Ia suka tingkah Farah yang masih polos. Sangat menggemaskan.


“Sepertinya aku harus mengajari istriku. Dia begitu naif soal hubungan intim. Setidaknya dari dasarnya dulu, tidak perlu terburu-buru.” gumannya.


Farah dengan cepat sudah sampai di dapur. Ia masih malu jika melihat tubuh milik suaminya. Farah akhirya membuat sarapan, nasi goreng dengan telur mata sapi. Ilham sudah bersiap dengan pakaian rapi. Ia menunggu sambil membaca berita melalui ponsel pintarnya di meja makan. Farah juga sudah menyuguhkan kopi untuk Ilham.


Sarapan pun siap. Farah menata hasil memasaknya di meja makan. Ilham tersenyum, ia merasa sangat di layani oleh urusan kepuasan perut. Mereka sarapan bersama. Ilham senang, semakin lama rasa masakan Farah semakin enak.


“Hari ini Mas jadi ke kedai?” tanya Farah di sela bunyi sendok yang beradu dengan piring.


“Ada apa? Bukankah sudah ada kak Akmal di sana? Jadi Mas tidak perlu ke keda hari ini. kondisi Mas belum pulih sepenuhnya.”


Ilham tahu bahwa istrinya mengkhawatirkan keadaannya. Ia tersenyum. “Apakah kau ingin aku jadi lelaki pengangguran, sayang? Lagipula aku harus mengurus kedua kedaiku, tidak macam-macam dan tidak akan bertarung lagi.”


Farah sedikit kecewa, ia sedikit menundukkan kepalanya.


Ilham melihat raut kekecewaan yang teganbar jelas di wajah Farah. ia sedikit menghela napas. “Baik, nanti jam makan siang aku akan pulang. Kita makan siang di rumah, setelah itu aku tidak kembali ke kedai lagi. Bagaimana?”


Seketika mendengar kalimat yang telah diucapkan Ilham, airmuka Farah menjadi senang dan sumringah. Farah mengangguk, ia dan menjulurkan kelingkingnya di hadapan Ilham.

__ADS_1


“Janji?” Farah ingin mengikat kata-kata Ilham dengan janji jari kelingking.


Ilham sedikit terkaget ketika Farah menjulukan tangannya. Ia tersenyum melihat tingkah istrinya yang masih kekanak-kanakan.


Ilham membalas janji jari kelingking milik Farah, ia mengikat kelingkingnya dengan kelingking Farah. “Insyaa Allah.” Ilham tersenyum.


Setelah menyelesaikan sarapan, Farah mengantar kepergian suaminya. Sudah menjadi kegiatan wajib, sebelum Ilham pergi pasti Farah mencium punggung tangan suaminya. Ilham juga akan membalas dengan mencium puncak kepala Farah.


Setelah mobil Ilham pergi, Farah melambaikan tangannya. Ia tersenyum sangat manis seperti mengantarkan kepergian suaminya.


Aku mohon agar waktu jangan lekas berlalu. Masih banyak hal yang ingin aku raih bersama kekasihku, ya Allah.


______________


*jangan lupa setelah selesai membaca kisah ini, pencet LOVE dan kasih rating 5 bintang ya.. karena ini GRATISS😁


jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE


Terima kasih


Salam Hangat,


Ilamy Harsa*

__ADS_1


__ADS_2