
Yuk pencet like dulu, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena itu sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author
Jika ada yang ingin ditanyakan, kritikan dan saran silakan tulis di kolom komentar
Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.
Terima kasih
Salam Hangat,
Ilamy Harsa🍀
Selamat berimajinasi
_________
Kondisi Kinani sudah 70% pulih hanya tinggal luka-lukanya. Pagi ini ia sudah disuapi bubur oleh Naresh. Lelaki ini mendadak seperti ibu yang merawat anaknya yang sedang demam. Dia juga tak lupa membersihkan luka-luka Kinanti.
“Sudah Kak! Aku sudah tidak ingin memakannya lagi,”protes Kinanti.
“Ini tinggal sedikit lagi, kau harus menghabiskannya.” Naresh tak mau kalah. Ia tetap menyodorkan sesendok bubur ke arah Kinanti.
Kinanti menggeleng, ia menutup mulutnya dengan kedua tangan tanda ia tidak mau menerima bubur itu lagi. Naresh menyerah, ia sudah tidak memaksa gadis itu untuk memakan bubur ini lagi.
“Kalau begitu, kau haru meminum obat ini.” Naresh mengambilkan empat pil yang berasal dari tabung obat yang berbeda.
Kinanti langsung memayunkan mulutnya dan mengembuskan napas kasar. Ia paling benci dengan rasa obat yang pahit itu. “Haruskah aku meminum benda yang disebut pil itu? Rasanya sangat tidak enak sekali.” Kinanti yang merasa lesu ketika harus menelan empat pil dengan aturan tiga kali sehari. Itu berarti ia harus menelan dua belas pil dalam sehari.
Naresh menjitak kening Kinanti hingga ia mengaduh kesakitan. “Kau harus meminumnya agar cepat sembuh.”
Sekarang Naresh mengomel seperti ibu yang membuat nasihat dari abjad A hingga Z. Dengan terpaksa dan rasa mual yang terlebih dulu mampir, Kinanti menelan satu persatu pil itu dan melancarkan dengan air. Ia melakukan itu sebanyak empat kali.
“Sudah aku minum semua, Tuan Yori.” Nada bicara Kinanti seperti maid yang memberi laporan kepada tuannya.
Naresh hanya menyunggingkan salah satu sudut bibirnya. “Aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Selama dua hari tidak sadarkan diri, kau mengigau memanggil empat orang dengan sebutan yang berbeda.”
__ADS_1
Hah?! Aku mengigau? Empat orang?
Kinanti memandang seolah tidak pernah melakukan hal itu.
“Kau memanggil ‘Ayah, Reno, Farah dan Kak Naresh’. Aku pernah mendengar ceritamu tentang Ayah dan Reno, mereka adalah keluargamu. Lalu siapa Farah?”
Kinanti tak sadar memanggil orang-orang yang ia sayangi. Ia memang belum menceritakan tentang perempuan yang bernama Farah. “Dia perempuan baik. Sebaik malaikat, Kak.”
Naresh mengerutkan keningnya. Ia ingin mendengar cerita tentang perempuan itu. “Bisa kau menceritakannya?”
Kinanti mengangguk. “Farah adalah perempuan seumuranku yang hatinya sangat baik. Dulu aku pernah menguntit di minimarket dekat rumahnya. Dia yang menyelamatkanku. Dia juga membuatku mengikuti khursus mengemudi. Aku dulu juga pernah bercerita jika aku pernah bekerja berjualan jus di depan kampus, itu berkatnya. Farah perempuan yang baik.” Kinanti tersenyum memperlihatkan giginya. Ia tampak bahagia mengenang perempuan yang bernama Farah.
“Kalian seumuran? Apakah dia sedang berkuliah atau sedang bekerja?” Naresh sedikit tertarik denga rekam jejak Farah.
“Dia sudah menikah, dia perempuan yang lemah tapi mampu menjadi setegar karang karena takdir. Dia juga bekerja di kedai milik suaminya dan belajar untuk masuk kuliah tahun ini.”
Naresh tersenyum.
***
Setiap pagi, mereka selalu menikmati sarapan bersama. Pun saat Naresh pulang kerja, Kinanti masih setia menunggu. Naresh sekrang tahu, bagaimana hidup bersama orang terkasih. Ia tahu rasanya dinanti-nanti, lalu ketika ia datang sebuah seyuman manis menyapanya. Tak jarang Kinanti terlelap tidur di sofa saat menunggnya pulang.
Sudah satu minggu setelah kejadian penyiksaan itu, Anneline datang untuk meminta maaf kepada Kinanti. Angin baik membawanya, Naresh yang semula menolak Anneline datang kahirnya luluh meilihat Kinanti yang begitu baik memaafkan padahal lukanya belum sembuh benar.
Sekarang beberapa waktu ke depan Anneline tidak diperbolehkan membawa senjata apapun termasuk pistol. Ia akan dikawal oleh bodyguard pilihan yang terpercaya ketika ada keperluan untuk keluar dari rumah. Akses jangkauannya diperketat, itu semua agar ia tidak semena-mena lagi dalam bertindak.
Kinanti sudah pulih total. Naresh menyarankan agar ia mengikut pelatihan fisik, cara berkelahi dan menggunakan senjata. Ia bebas memilih senjata yang ia sukai sesuai kemahirannya. Setiap hari ia diajar ilmu cara mempertahakan diri dan cara menyerang.
Anneline hanya bisa melihat. Ia tidak diperbolehkan untuk ikut karena pembatasan itu. Suatu siang Kinanti yang telah selesai berlatih mendekati Anneline yang sedang membaca buku di sudut ruang senjata. Hari itu Kinanti diharuskan memilih model senjata yan menurutnya cocok untuk dirinya.
“Carilah senjata yang sejiwa denganmu,” ucap Anneline.
Kinanti tersenyum. “Apakah saya boleh meminta Nyonya untuk menjelaskan bagaimana cara kerja senjata yang dipanjang di lemari kaca ini?”
Anneline menutup bukunya, ia bangkit dan mendekati Kinanti. “Jangan memanggilku dengan sebutan nyonya. Aku dan kau, posisi kita hampir sejajar. Bukankah kau sudah ditandai oleh Kakak ipar?”
__ADS_1
Kinanti mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti. “Ditandai? Saya tidak paham, bisakah Nyonya menjelaskan kepada saya?”
Anneline mengembuskan napasnya. Ia harus menceritakan bagaimana posisi wanita yang ditandai dirumah ini. Ia membuka kancing atas kemejanya memperlihatkan bekas luka yang sedikit timbul.
“Saat pertama kali aku masuk di rumah ini, aku mendapatkan sebuah chip di leher ini. Dengan ini mereka bisa tahu bagaimana keadaan dan posisiku. Mereka mengira jika chip itu ditanan dekat leher aku tidak bisa merusaknya. Mereka salah besar, aku pernah mencoba bunuh diri dengan mengiris chip itu. Benda kecil itu berhasil rusak, aku kira akan segera mati tapi ternyata kontrakku dengan kehidupan ini masih lama. Aku tidak mati hanya harus dirawat berminggu-minggu hingga sembuh.”
Kinanti sedikit iba mendengar Anneline yang begitu menyedihkan. Pasti Nyonya memiliki kisah yang sangat menyiksa batinya. Bahkan ia tidak segan untuk bunuh diri. Kemarahan yang terbentuk pasti ada sebab yang sangat melukainya. Apakah dia butuh teman?
“Setelah itu aku tidak mereka tidak memasangkaku chip aneh itu. Ibu mertua dan Nando setuju jika aku menguasai ilmu bela diri dan cara memakai senjata.”
Lamunan Kinanti pudar ketika Anneline melanjutka ceritanya. “Bagaimana Nyonya bisa tahu saya telah ditandai?”
Anneline tertawa kecil. “Saat aku menyakitimu, kakak ipar datang. Aku yakin dia memiliki pendeteksi bawa perempuan yang ia tandai sedang terluka. Di mana kakak ipar memasangkan pendekteksi itu?”
Kinanti mengingat-ingat awal masuk di rumah ini. Di tubuhnya pun tidak ada bekas luka operasi kecil. Ia mengeleng tanda tidak bisa menjawab pertanyaan dari Annelien.
“Kau tak tahu ya, apakah Kak Naresh pernah memberikanmu sesuatu? Biasanya saat awal memasuki rumah ini.”
Kinanti mengingat-ingat kembali. Pertama yang dilakukan oleh Naresh terhadap dirinya adalah sebuah ciuman di mobil!
Pasti bukan itu! Mengapa pikiranku selalu mengarah ke situ?! Argghh! Pasti aku sudah gila, kenapa kejadian itu yang muncul pertama kali di pikiranku!
Kinanti menggeleng kepalanya. Ia benci memikirkan hal yang memalukan itu.
“Kenapa? Ada yang salah?” Anneline merasa aneh ketika Kinanti menggelengkan kepalanya.
“Tidak Nyonya.” Kinanti tidak bisa menjelaskan keadaan ini karena ini sangat memalukan.
“Percayalah meskipun mereka bersaudara, kepribadian Naresh dan Nando jauh berbeda. Aku yakin kakak ipar memperlakukanmu dengan baik.” Anneline mengulas senyum. Ini senyum tulus pertamanya yang diperlihatkan kepada Kinanti.
Dia kelihatan kesepian. Selama ini aku baru berbicara seperti ini dengannya. Apakah dia sudah menyesal? Dia seperti tidak punya teman.
Kinanti tahu itu senyuman pertama yang ia lihat selama di rumah ini. Ia tahu, Nyonya Fernando sangat dingin peragainya tidak semudah itu memberikan senyuman tulus. Ada yang mengusik pikirannya akan sebuah pertanyaan.
“Nyonya, apakah Anda memiliki teman atau sahabat?”
__ADS_1