Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 12


__ADS_3

Sebenarnya Ilham adalah pemilik cafe lima lantai. Ia lebih menyukai memakai istilah kata ‘kedai’ dibanding cafe, terkesan lebih sederhana dan klasik. Ia juga berencana membuka cabang kedai baru di daerah dekat perkantoran.


Saat ini kedainya berseberangan dengan sebuah perguruan tinggi favorit di kotanya. Ilham pun juga sudah memiliki rumah sendiri, terpisah dengan bunda. Rumah yang ia bangun tak begitu jauh dengan lokasi kedainya.


Kedai milik Ilham juga bisa dikatakan kedai yang ramai dengan pengunjung. Dari pagi hingga malam tak pernah ada kata sepi. Semua ini berkat usahanya lima tahun lalu, ketika ia memasuki semester akhir perkuliahan.


Sekarang usahanya berkembang pesat, yang dulunya hanya bisa membangun kedai kecil sekarang sudah berkembang menjadi kedai lima lantai dan akan membuka cabang baru. Jika di deskripsikan kedainya sangat mewah memakai gaya modern dan klasik, yang membuat tempatnya cocok untuk berswafoto.


Dari kelima lantai, hanya lantai lima yang dipakai Ilham untuk ruangan pribadi, dan tempat operasional kamera tersembunyi. Empat lantai lainnya diperuntukan untuk pelanggan.


***


Mobil hitam itu baru saja memasuki tempat parkir kedai. Ilham, sekali lagi ia terlambat menuju kedainya di waktu yang tidak seperti biasanya. Ia mendengus kesal. Ia melangkah masuk menuju ruang pribadinya.


Mengetahui bosnya sudah berada di meja kerjanya, Akmal membawa beberapa dokumen penting yang akan ditunjukkan kepada bosnya.


“Permisi Pak,” ucapan Akmal yang berada di dekat pintu kantor Ilham.


“Masuk!”


“Maaf Pak, ini berkas perjanjian yang Bapak inginkan,” kata Akmal menyodorkan beberapa map dokumen.


Ilham melihat isi map itu. Sama perisi seperti apa yang ia mau. Akmal memang bisa diandalkan.


Akmal, dia adalah manager di kedai ini, termasuk orang kedua yang berpengaruh di kedai ini. Umur Akmal masih terbilang muda, yaitu 22 tahun. Ia mulai bekerja di kedai ini empat tahun lalu, saat ia mulai masuk perkuliahan. Akmal menjalani kuliah sambil bekerja di kedai ini. Sebelum menjabat sebagai manager kedai, Akmal pernah menjadi salah satu barista di kedai ini.


Ilham memilih dia menjadi manager di kedai karena dia termasuk anak yang cerdas, walaupun berasal dari panti asuhan. Dia bisa berkuliah karena beasiswa dan lebih hebatnya dia bisa lulus dalam waktu 3 tahun dibanding masa waktu mahasiswa pada umumnya saat umurnya yang ke 21 tahun.


Ilham mengenalnya pertama kali saat dia bersedia kerja paruh waktu menjadi barista. Ilham tahu bahwa dia adalah anak yang jujur. Ilham terkesan saat tahu bahwa Akmal berkuliah jurusan manajemen.

__ADS_1


Jika Ilham sibuk, Akmal lah yang menjadi tangan kanannya untuk mengelola kedainya. Dia selalu bisa diandalkan. Banyak ide-ide cermelang tentang konsep kedai ini. Lagi-lagi Ilham terkesan, dia pandai dalam mendesain ruangan agar pelanggan bisa tertarik untuk mengunjungi kedainya.


“Aku akan cari tender terbaik untuk mengurusi pembangunan kedai baru kita, tolong urus kedai ini Mal,” perintah Ilham.


“Baik pak.”


Ilham berlalu menuju mobilnya, ia benar – benar sibuk.


***


Mas Damar sudah berangkat pada penerbangannya menuju Bali. Siang itu bunda memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah, tapi berbelanja bulanan karena banyak stok barang kebutuhan di rumah yang mulai habis.


Departement store itu yang dipilih bunda untuk berbelanja. Bunda memilih beberapa barang, Farah mengikuti sambil mendorong troli belanjaan. Banyak sekali kebutuhan rumah tangga yang di beli bunda, ada sabun mandi, sabun cuci, pasta gigi, pengharum ruangan dan masih banyak lagi. Farah tidak keberatan mengikuti ibu mertuanya berbelanja. Lagipula ia sudah beberapa kali menemani bunda untuk berbelanja.


“Farah, Ilham tidak membuatmu jengkel kan?” tanya Bunda yang mendadak.


“Tidak Bunda, mas baik. Memang kemarin mas Ilham sangat lelah, jadi dia datang langsung tertidur Bunda,” jawab Farah tersenyum.Ini salah satu cara agar bunda tidak curiga atau tidak menambah masalah baru bagi Ilham.


“Bunda, apa makanan kesukaan mas Ilham?” Farah balik bertanya.


“Hmmm, Ilham suka makanan seafood seperi udang saus pedas atau oseng cumi,” jawab Bunda.


“Kalau hari ini kita masak seafood kesukaannya mas Ilham bagaimana Bun, boleh?”


Bunda tersenyum antusias. “Boleh sayang.”


Akhirnya Farah dan bunda menuju tempat penjualan aneka bahan masakan laut.


***

__ADS_1


Farah bersuka cita memasak udang saus pedas bersama bunda, Farah membayangkan betapa senangnya Ilham saat tahu Farah memasak makanan kesukaanya. Setelah selesai memasak, Farah mempersiapkan semuanya di atas meja makan. Bunda sudah makan malam tidak menunggu Farah dan Ilham, sementara Farah masih menunggu suaminya pulang. Farah menunggu di sofa ruang tamu.


Sudah beberapa jam Farah menunggu Ilham pulang. Sudah beberapa kali ia menelpon nomor Ilham, bahkan beberapa kali mengirim pesan singkat untuk Ilham, tak ada respon dari sang penerima. Terkadang Farah berharap cemas suaminya akan datang membuka pintu yang berada di hadapanya. Namun sayang semua itu tidak terjadi.


Malam semakin larut. Farah tertidur di sofa demi menunggu Ilham pulang. Farah bangun saat azan subuh berkumandang. Langsung mengecek kamarnya berharap suaminya sudah pulang dan langsung menuju kamar, tanpa membangunkan dia.


Dugaannya salah besar, Ilham tidak pulang hari ini. Kecewa. Farah menunggu semalaman suntuk, namun Ilham tidak pulang. Farah mengecek ponselnya, tidak ada balasan apapun dari Ilham. Tiba – tiba ia menangis.


***


Farah menjalani harinya seperti biasa, ia bekerja lagi di toko kue milik bunda. Farah tak bisa diam di rumah, itu akan sangat membosankan baginya.


Sesekali Farah menghubungi Ilham lagi, tetap sama tidak ada jawaban. Ia juga mengirim pesan singkat mengingatkan agar jangan lupa makan. Tetap sama tidak ada balasan dari pesan yang ia kirim. Tidak ada respon.


Farah terduduk lemas disalah satu kursi meja pelanggan. Toko kue itu tidak terlalu ramai. Ia bisa duduk sebentar di situ. Farah memandang langit dari balik jendela. Terlihat gumpalan awan yang berjalan cepat digiring angin.


Kamu di mana mas? Bagaimana keadaanmu? Apakah kamu pulang malam ini? Mengapa aku memikirkan dirimu yang bahkan dirimu belum tentu memikirkanku. Harusnya aku tahu diri mengapa aku bisa menyukaimu mas. Bukankah sebelum kita menikah, kita tidak sedekat ini. Aku juga tidak mengarap kepulangamu. Mengapa harus seperti ini?


Hati Farah berbicara. Raganya diam, matanya masih menatap awan yang berjalan itu.


“Ya Allah tolong jaga dia dari marabahaya, semoga dilancarkan segala urusanya, agar dia segera pulang.” doa yang Farah panjatkan sambil menatap langit.


***


Ilham beristirahat untuk makan siang. Hari ini Ilham sedang mendiskusikan tentang tata letak bagian-bagian dalam kedai yang akan dibangun. Ia sedang tidak berselera untuk makan. Ilham menatap langit, terlihat gumpalan awan bergerak untuk berkumpul dengan gumpalan awan lainnya. Kemarin ia memutuskan tidak pulang ke rumah bunda tapi pulang ke rumahnya sendiri.


“Sepertinya hari ini aku tidak bisa pulang. Aku harus menyelesaikan semuanya sebelum benar-benar beristirahat,” guman Ilham.


Bahkan saking sibuknya, Ilham hanya melihat pesan dari Farah dan bunda, lebih banyak pesan Farah. Bahkan dia juga menelpon Ilham berkali – kali. Tetap sama Ilham berusaha tidak menggubrisnya.

__ADS_1


__ADS_2