
Mata Kinanti melebar, seolah tanda tidak percaya bahwa lelaki yang terduduk di kursi khusus seperti kursi roda yang modern adalah Tuan Fernando.
Dia masih muda, tampan dan ... lelaki itu cacat?
Tuan pemilik kediaman ini hanya membalas dengan senyuman. Ia melihat Kinanti dari ujung rambut hingga ujung sepatu hitam yang dikenakannya. Namun ada pemandangan yang sangat mengganjal indera penglihatan, tak lama kemudian ia sedikit menahan tawanya.
“Mau sampai kapan berpegangan tangannya, Kak?” tanya Fernando.
Seketika Kinanti sadar, tangan Naresh masih mencengkeram tangannya. Ia buru-buru melepaskan paksa cengkeraman tangan itu. Terlihat sekali para maid yang berada di sekitarnya juga menahan tawa. Memalukan! Kata itu yang sekarang ada di pikiran Kinanti saat ini.
“Maaf, Tuan.” Kinanti membungkuk untuk mengucapkan kata maaf-nya di hadapan Fernando.
“Kamu tak perlu meminta maaf, Kinan. Memang aku sengaja memegang tangannya lebih lama karena ada kenyaman di sana. Apakah itu mengganggumu, Tuan?” Naresh berbalik menanyakan hal ini dengan nada sedikit menantang.
Namun tak satu pun maid yang menegur Naresh, bahkan Fernando hanya tertawa menyadari ada sesuatu yang berbeda dalam diri kakaknya. Karena dia baru melihat kakaknya menyentuh tangan seorang perempuan.
Kinanti menundukkan wajahnya setelah Naresh berbicara seperti itu. Sekarang kadar malunya bertambah dua kali lipat. Ia masih tak habis pikir, mengapa ada maid yang berani berbicara seperti itu di depan penguasanya. Bahkan Tuan Fernando pun tidak marah sama sekali. Mulai detik ini Kinanti sangat penasaran dengan siapa sebenarnya pria yang menggenggam tangannya tadi.
“Apakah kau yang bernama Kinanti, yang akan menjadi pendamping istriku?” tanya Fernando kepada Kinanti yang sedari menundukkan kepalanya menatap rerumputan hijau yang ia pijak.
Kinanti mengangkat sedikit kepalanya, ia masih merasa malu sekaligus takut karena sudah berbuat salah pada hari pertamanya bekerjam. “Benar, Tuan Fernando. Saya Kinanti yang akan menjadi pendamping nyonya.” Kinanti berkata dengan penuh santun.
Fernando hanya tersenyum, ia sudah bisa menilai karakter gadis itu seperti apa dan kebenaran jika kakaknya mulai merasakan perasaan suka.
“Apakah kau kekasih dari Tuan Yori?” Fernando bertanya lagi.
“Tidak Tuan!” Kinanti sedikit menekankan nadanya. Ia memang bukan kekasih Naresh.
“Oh ... sepertinya kakak harus lebih erat mengikatnya.” Fernando berucap kepada Naresh yang sedari tadi hanya cengar-cengir mendengarkan jawaban Kinanti.
“Pagi ini perkenalannya sudah cukup, selamat bekerja Kinanti.” imbuhnya.
__ADS_1
“Baik, Tuan Fernando,” jawab Kinanti sambil membungkuk. Sekarang ia sudah memutar tubuhnya bersiap untuk pergi dari taman itu menuju tempat nyonya besar.
Naresh hanya bisa melihat punggung Kinanti yang kian lama kian menjauh. “Apakah masih ada sedikit waktu? Bolehkah aku mengantarkannya?” pinta Naresh kepada Fernando.
“Silakan, Kak.” Fernando hanya tersenyum lebar. Baru kali ini ia melihat kakaknya begitu peduli pada seorang gadis. Ia yakin bahwa Kinanti tidak hanya menjadi pendamping istrinya melainkan sesosok calon penghuni ruang hati kakaknya.
Naresh langsung berlari ke arah Kinanti yang belum sepenuhnya menghilang dari pandangan. Ia ingin memberikan sesuatu kepada gadis itu. Saat dirinnya sudah sampai di samping Kinanti, ia mencengkeram pergelangan tangan gadis itu dan mengajaknya sedikit berlari.
“Ikuti aku!”
“Eh ....!” Kinanti terkejut saat Naresh melakukan hal yang memalukan lagi, padahal dia masih berada di taman itu hingga para maid masih bisa tertawa melihat tindakan Naresh yang begitu agresif. Sekarang kadar memalukannya pada hari pertama bertambah menjadi tiga kali lipat.
Naresh melangkah masuk ke dalam rumah mewah itu, ia mencari kamar yang sedang kosong. Ada banyak sekali pintu-pintu yang tersebar di rumah bak istana ini, hanya ini membutuhkan kejelian apakah kamar itu aman dari para maid yang berjaga. Beruntung waktu masih pagi, ia yakin jika para maid sedang melayani istri adiknya. Ia yakin, karena Fernando sendirian dalam acara perjamuan panekuk tadi di gazebo.
Setelah lama mencari, akhirnya ada satu kamar yang kosong, dan jauh dari keramaian. Segera mungkin ia mengajak Kinanti untuk memasuki ruangan itu dan menutup pintunya. Sejenak ia mengambil napas setelah melepaskan cengkeramannya.
“Kenapa kakak membawaku ke tempat ini!” Kinanti berteriak, ia sedikit ketakutan karena Naresh mengajaknya ke kamar. Ditambah pikirannya sedang menjalar dengan memikirkan tindakan apalagi yang akan dilakukan seorang pria dan wanita yang berada dalam satu kamar.
Sekarang Kinanti sempurna terkunci, kaki dan tangannya tidak leluasa bergerak. Mulutnya sempurna dibungkam. Ia melihat wajah Naresh kian mendekati wajahnya. Tanpa komando, sepasang mata Kinanti tertutup. Ia hanya bisa mengerang lirih disela-sela tangan yang menutup mulutnya.
“Sudah selesai,” ucap Naresh.
Kinanti yang semula akan membayangkan dirinya akan dipaksa beradegan panas pun terkejut. Ia membukan matanya, tangan dan mulutnya sudah jauh dari jangkauan tangan kuat Naresh. Hanya sekarang posisi pria itu masih menindih tubuhnya dan belum juga menjauh.
“Kau pasti takut ya, jika aku akan berbuat jahat padamu? Tenang aku hanya memasangkan gelang itu di tangan kananmu.” Jari telunjuk Naresh pengacung ke arah pergelangan tangan Kinanti.
Ia langsung melihat tangan kanannya. Di situ ada gelang berwarna nila yang berasal dari ikatan tali-temali. Sepertinya dibuat dengan tangan seperti gelang kerajinan pada umumnya. Kemudian Kinanti silih berganti melihat Naresh yang masih berada di atas tubuhnya dan belum turun. Ia meminta penjelasan tentang gelang ini.
Naresh juga menujukkan pergelangan tangan kanannya. Ada gelang tali-temali yang persis seperti yang Kinanti pakai hanya warnanya lebih gelap.
“Ini gelang yang akan mengikatmu denganku. Anggap saja ini sebagai jimat yang akan melindungimu dari bahaya yang bisa mengancammu. Pastikan gelang ini selalu berada di tanganmu. Kemanapun kamu pergi, aku akan selalu menemukanmu. Ingat itu baik-baik.”
__ADS_1
Semua kata yang diucapkan Naresh seperti memiliki kekuatan janji yang tulus bukan bualan belaka. Kinanti hanya merasakan hawa kenyamanan serta rasa ingin melindunginya. Entah darimana datangnya rasa percaya itu muncul, hati seperti mengikat. Waktu terasa terhenti untuk dua anak manusia yang sedang dihantam angin cinta. Melamban, Naresh terbuai hingga wajahnya kembali mendekati wajah ayu milik Kinanti. Gadis itu tidak memberontak, ia seperti diam dan ingin menikmati sentuhan perasaan itu.
Belum sampai wajah Naresh mendarat, suara ketukan pintu membuyarkan aksi mereka. Wajah kinanti menjadi pucat pasi, ia sangat takut jika terpergok di dalam kamar berduaan dengan posisi yang sangat tidak wajar.
“Siapa di dalam! Keluar kamu!” seru maid perempuan yang sedari tadi menggedor-gedor pintu.
Naresh juga terkejut dengan keadaan ini, langsung saja ia memanjat ke atas lemari yang sangat tinggi yang berada di samping pintu. Ia memberikan isyarat kepada Kinanti untuk tenang dan diam. Seperkian detik, pintu kamar dibuka paksa oleh maid laki-laki. Si maid perempuan kaget hanya melihat Kinanti sendirian.
“Bukankah kamu pendamping Nyonya Besar yang baru? Mengapa ada di kamar ini?” tanya maid perempuan itu menyelidik.
“Sa ... saya tidak tahu di mana kamar Nyonya Fernando. Saat sama masuk ke sini ternyata pintu tiba-tiba tertutup dan tidak bisa dibuka dari dalam.” Kinanti sedang berakting. Memang di kamar ini yang terlihat hanya ada ia seorang, tapi Naresh juga ada dia bersembunyi di atas lemari yang tinggi dengan posisi tiarap. Dia juga memperhatikan keadaan sekitar.
“Mengapa tidak minta tolong? Sekarang lupakan kejadian ini dan segeralah menuju kamar Nyonya yang berada di ujung lorong ini. Pastinya kau sudah ditunggu, bergegaslah!” ucap maid perempuan.
“Baik,” Kinanti membungkuk, sekilas ia menatap Naresh, tapi pria itu memberi isyarat agar Kinanti bergegas pergi dari kamar ini. Dia juga memberi isyarat bahwa jangan mengkhawatirkan dirinya.
Kinanti mengerti, ia keluar dari kamar ini. Maid perempuan tadi langsung menutup pintu kamar. Dirasa sudah aman, Naresh kemudian turun dari lemari dan merapikan busananya. Ia sedikit kecewa dengan waktu, hampir saja ia mendapat kebahagiaan pagi ini.
“Sayang sekali, banyak pengganggu di rumah ini. Lain kali aku akan mengecupnya lagi! Hari ini aku kurang beruntung!” guman Naresh.
____________
Biasakan setelah selesai membaca kisah ini, pencet like, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya 😁... karena sebagai bentuk apresiasi kalan kepada author🤗
Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.😉
Terima kasih
Salam Hangat,
Ilamy Harsa🍀
__ADS_1