Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 107


__ADS_3

Mohon maaf cerita ini sedikit mengandung unsur slasher dan gore yang dapat membuat sedikit ngeri bahkan mual. Author sarankan pembaca sudah berusia di atas 18 tahun. Semoga pembaca bijak dalam menyikapinya


_________


Dunia bisa melihat waktu dan peristiwa yang terjadi di dalamnya. Seperti kejadian-kejadian yang berbeda dalam waktu yang sama atau kejadian yang sama dalam waktu berbeda, begitu pula kejadian yang sama dalam waktu yang sama. Tercatat dalam biro sensus Amerika Serikat (AS) atau United States Cencus Bureau (USCB) ada 7,61 miliar populasi manusia di muka bumi, dan akan mencapai 8 miliar pada tahun 2027. Sangat banyak jumlahnya, setiap manusia itu memiliki waktu dan peristiwa tersendiri.


Dalam waktu yang sama kelahiran baru saja terjadi, air mata kebahagiaan muncul menyambut kedatangan manusia baru. Di belahan dunia lain, pada waktu yang masih sama ada kematian yang hadir diiringin tangis haru, pilu untuk manusia yang telah ditinggalkannya. Kejadian berbeda pada waktu yang sama.


Dalam 7,61 miliar manusia selalu memiliki kehidupan yang berbeda dan berjalan dalam satu garis waktu yang sama. Ada seorang barista yang dengan cekatan membuat lukisan di atas cairan kopi. Di sisi lain ada pelukis juga yang sibuk memainkan kuas di atas kanvas. Itu terjadi dalam waktu yang bersamaan, saling tak terikat di muka bumi.


Pernah saat di suatu tempat saat kita berjalan dalam satu lajur di taman yang dipenuhi oleh rerumputan yang hijau, angin yang berembus memainkan anak rambut. Dua anak manusia yang satu bewujud sebagai perempuan dan yang lain berwujud sebagai laki-laki. Mereka hanya berjalan dengan hingga takdir mempertemukan mereka dalam seutas pandang. Mata mereka melebar, perasaan berbisik bahwa mereka pernah bertemu sebelumnya. Namun ingatan mereka sangat lemah untuk menjalar setiap sudut mesin pemindai ingatan. Hanya mereke merasa pernah bersua, seperti benang merah yang mengikat kuat jari kelingking mereka. Perasaan yang sama dalam waktu yang bersamaaan.


Seperti itu cara dunia bekerja, apapun yang terjadi ada sebab dan akibat yang selalu mengikuti si pelaku. Di Kota Milepolis, Farah dan Ilham saling hidup berdampingan, mereka telah melewati proses dari benci hingga menuju kasih yang mendalam. Keluarga kecil mereka baru saja dibangun di kota yang sangat menyenangkan ini. Kota yang menyatukan cinta mereka, kota yang sangat istimewa untuk dikenang.


Ilham sekarang sudah bisa berdamai dengan luka yang telah tergores cukup lama. Walaupun sesekali ia masih mencuri waktu untuk merindukan sang gadis yang bernama Anneline. Ingatan itu masih tersimpan rapi, sesekali mesin pemindai ingatan kembali bekerja. Mesin itu memutar semua kenangan yang pernah ia lukiskan dalam lembaran-lembaran hidup Ilham. Sangat nyata, bahkan Ilham berharap ingin sekali saja diberikan kesempatan untuk bersua lagi dengan gadis yang pernah mencuri hatinya semasa SMA.


Tentu saja keinginan ini selalu berdengung di hatinya, dan Farah tidak pernah mengetahui hal itu. Ilham selalu menyimpa rapi semua kenangan itu bahkan kerajinan keramik berbentuk seperti sepasang angsa yang kedua kepalanya menyatu membentuk bingkai hati, masih ia simpan di meja kerjanya yang berada di kedai. Baginya, hadiah itu adalah kenangannya yang sangat nyata dari Anneline.


Terkadang Ilham juga berbisik kepada awan yang menggumpal berjalan lamban di langit biru, agar keinginan bisa sampai entah di mana gumpalan kapas itu akan berhenti untuk mengguyurkan partikel hydrometeor. Ia sangat berharap bahwa Anneline bisa mengetahui kegundahan hati Ilham.


***


Sudah hampir dua minggu Kinanti bekerja menjadi pendamping Nyonya Fernando. Menurut Kinanti, wanita itu sangat unik serta tak banyak menunjukkan ekspresi tertawa ataupun tersenyum. Hanya ekspresi dingin yang selalu ditunjukkan. Meskipun begitu, Nyonya Fernando tetap cantik.


Pada hari pertamanya bekerja, Kinanti hanya menunggui wanita itu seharian penuh dengan melukis. Dalam ruangan yang hanya berwarna putih tanpa banyak perabotan permanis ruangan kecuali kanvas, dua kursi dan meja yang difungsikan sebagai tempat penyimpanan alat lukis dan cat warna.


Kinanti hanya diminta untuk duduk di salah satu sudut ruangan. Lalu Nyonya Fernando memulai kegiatan melukisnya. Ada yang mengganjal dibenak Kinanti yang membuatnya sedikit gelisah. Saat ia mengamati seisi ruangan, tidak ada jendela. Hanya terpasang satu mesin pendingin ruangan yang berada di sudut atas ruangan dalam keadaan menyala membuat .

__ADS_1


Saat Nyonya besar itu melukis, Kinanti juga merasakan gelisah yang teramat sangat. Ruang ini hanya berwarna putih, bahkan Nyonya Fernando sendiri memakai busana yang berwarna putih juga. Tidak ada percakapan yang terjadi selama hampir dua belas jam lamanya. Kinanti merasakan ada keanehan saat Sang Nyonya Besar melukis, padahal di hadapannya tidak ada pemandangan apaun kecuali tembok yang mulus berwarna putih.


Dalam lukisannya, tergambar hanya warna merah darah dengan siluet hitam. Hanya itu warna selain putih yang bisa ditangkap oleh indera penglihatan Kinanti. Selama dua belas jam ia sangat gelisah, terkadang dadanya sesak, bahkan saking heningnya ruangan itu ia bisa mendengar detak jantungan sendiri. Aliran dararhnya seakan bergejolak, Kinanti sedikit tersiksa denga keadaan sekitarnya. Namun semua itu seakan tidak berlaku kepada Nyonya Fernando yang masih saja tenang dan tidak merasakan sesuatu.


Tak lama kemudian tubuh Kinanti jatuh dari kursinya, ia sangat tak kuasa merasakan tekanan dalam ruangan yang semuanya serba putih ini. Walaupun keadaannya nampak sadar, tapi tidak dengan jiwanya yang seakan-akan menghilang. Tubuhnya terasa kaku, tidak bisa digerakkan karena efek ruangan ini.


Ia seperti terlempar di dalam ruangan yang sangat minim cahaya, dengan sepasang matanya, ia melihat ada empat orang yang terikat menggantung di ruangan itu. Mereka tampak meronta meminta tolong. Kinanti mencoba mendekati salah satu dari mereka dan berniat melepaskan tali yang menjerat tangan dan kaki mereka. Namun tidak semudah yang Kinanti bayangkan. Ia tidak bisa menyentuh tubuh manusia itu.


“Tolong ....” suara lirih dari salah satu manusia yang terikat.


Kinanti hanya menjadi bayangan, Dalam kondisi ini, ia seperti melihat rekam jejak perempuan yang berjalan dengan samurai tanpa sarung yang mantap digenggamnya. Wajah perempuan itu memang tidak terlihat karena ditutupi oleh rambut panjang yang menyibak ke depan. Saat itu Kinanti merasakan hawa yang mencekam yang keluar dari perempuan yang membawa samurai itu.


Ia melihat perempuan itu mengangkat samurainya lalu menebas dengan cepat kepala manusia yang tergantung di ruangan itu. Satu kepala manusia tergeletak di dasar lantai, menggelinding tepat di dekat kaki Kinanti. Seperkian detik, Kinanti berteriak histeris melihat kepala manusia yang terputus dengan tubuhnya serta bola mata yang menatap tajam ke arah Kinanti. Seketika darah bercucuran di mana-mana, bau anyir menyeruak masuk ke indera pernapasan membuat ngilu yang mencium aromanya. Bahkan ujung pedang itu sudah berlumuran darah. Lalu perempuan itu tersenyum bahagia setelah melakukan penjagalan itu.


“Cukup! Keluarkan pendampingku. Baringkan dia kamar yang bersebelahan dengan ruangan ini.” perintah Nyonya Fernando.


Para maid yang berdatangnya langsung menuju ke tubuh Kinanti yang sudah terkapar tidak berdaya. Kinanti merasakan bahwa tubuhnya seperti diangkat, antara sadar dan tidak sadar sangat sulit dibedakan.


Siapa perempuan itu? Mengapa dia menjagal kepala manusia yang tubuhnya diikat seperti binatang dengan pedang samurai? Siapa dia?


Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Nyonya Fernando masuk ke dalam dan melihat dengan tatapan dingin pendampingnya yang masih terkapar tak berdaya. Kemudian ia duduk di pinggir ranjang. Buru-buru Kinanti bangun, tapi langsung dicegah oleh sang nyonya.


“Tidak perlu bangun, beristirahatlah. Aku hanya ingin bertanya padamu, apa yang kau lihat?” tanya Nyonya Fernando dengan tatapan dingin namun mampu menusuk jiwa Kinanti.


Dengan tubuh yang gemetar Kinanti menjawab, “Se ... sesuatu yang sangat mengerikan ....” Kinanti masih tak dapat melanjutkan ceritanya. Ia masih ketakutan tentang ingatan itu.


“Mim ... mimpi bu ... buruk ....” suara Kinanti makin terbata, kemudian ia menangis seakan membenci penglihatannya tadi. Masih tercetak dengan jelas kepala manuisa yang menggelinding lalu berhenti di ujung kakinya.

__ADS_1


Nyonya Fernando tersenyum menyunggingkan bibir yang dipoles gincu berwarna merah. Itu senyum pertama yang dilihat Kinanti hari ini. Senyum yang memberi kesan sadis. Ia mengangkat satu jari telunjuknya yang ditempelkan ke bibirnya tanda untuk bungkam.


“Tak perlu diceritakan. Simpan saja untukmu, dan bawa ingatan itu sampai kau mati.”


Ucapan Nyonya Fernando benar-benar sangat sadistis dengan penuh tekanan dalam setiap kata-nya. Kinanti merasa bahwa perempuan yang duduk di pinggir ranjangnya adalah perempuan yang penuh dengan misteri. Ia hanya tahu bahwa nama asli Nyonya Fernando adalah Anneline Horation.


____________


Biasakan setelah selesai membaca kisah ini, pencet like, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author🤗


Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.😁


Terima kasih


Salam Hangat,


Ilamy Harsa🍀


_______


Novel rekomendasi saat menunggu Perempuan Pilihan update :


Novel Permaisuri Modern – Author Sisca Nasty


Novel Queen of The Earth – Author @ptrmyllln


Novel Bos Marco – Author Belinda Marchely

__ADS_1


Novel Cintaku Bukan Karena Uang – Author Muhammad Ridho


Hope you like it 😆


__ADS_2