Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 49


__ADS_3

Farah menemmpuh perjalanan sekitar 3 jam untuk sampai ke tujuannya yaitu Kota Numa. Ia turun di stasiun kota itu. Hal pertama yang Farah lakukan ketika sampai di stasiun adalah mencari Mushola,untuk menjalankan kewajibannya.


Farah berdoa meminta kepada Sang Maha Kuasa agar Ilham selalu dalam perlindungan dan segera dipertemukan dengan Farah. Setelah selesai menunaikan ibadah wajibnya, Farah bergegas keluar dari stasiun kereta itu. Sekali lagi Farah melihat alamat cabang kedai Ilham yang baru.


Farah belum pernah ke Kota Numa, hanya pernah mendengar namanya yang terkenal dengan perguruan tinggi swasta terbaik dan hutan buatan dalam kota yang menjadi destinasi yang wisata.


Farah mencoba memesan taksi online melalui ponsel miliknya. Ia mengatur tempat tujuannya, selesai, kemudian Farah menunggu untuk penjemputan.


Farah merasa hawa tidak menyenangkan, ia mendongakan kepalanya menatap langit. Farah melihat matahari tertutup awan kelabu. Gumpalan-gumpalan awan gelap itu seperti membentuk pusaran-pusaran yang mengerikan. Pekat. Membuat merinding.


Tiba-tiba mobil putih berhenti tepat di depan Farah. Sopir mobil itu keluar, “Apa benar ini dengan Mbak Farah yang memesan taksi online?” tanya sopir itu.


“Iya Pak, benar saya yang memesan taksi online.” Farah langsung masuk ke dalam mobil.


Ternyata perjalanan memakan waktu hampir satu jam, menurut sopir taksi online Kota Numa sedang berbenah, dulu daerah dekat dengan stasiun kereta itu adalah pusat kota. Namun sekarang pusat Kota Numa telah dipindahkan di dekat perguruan tinggi swasta dan wisata hutan buatan. Farah mengangguk mendengarkan sopir taksi online berbicara.


Tanpa disangka, sebuah pohon amburuk di tengah jalan, membuat sopir mobil itu sigap menghentikan dan mengerem mobil ini dengan mendadak, membuat terkejut penumpangnya. Beruntung tidak ada kendaraan yang berada di belakang mobil yang Farah tumpangi. Sopir taksi online itu meminta maaf kepada Farah, lalu berbalik arah mencari alternatif jalan lain.


“Pohon itu mungkin sudah tua dan rapuh Mbak, padahal tidak ada angin. Mohon maaf kita memutar jalan alternatif lain ya,” ucap sopir taksi itu.


Farah mengangguk. Hatinya makin tak tenang.


“Maaf Mbak, saya ingin menginformasikan, mungkin beberapa jam lagi akan ada badai yang menerjang kota ini, mohon Mbaknya harus berjaga-jaga,” ujar sopir itu.


Farah mengangguk, ia juga sudah mendengar perkiraan cuaca jika Kota Numa akan terjadi badai dari Akmal. Namun Farah tetap nekat ingin mencari suaminya yang sudah beberapa hari tidak ada kabar.


Jalan alternatif yang di lalui Farah sedang ditutup karena ada perbaikan saluran pipa air. Sopir taksi online itu sedikit mendengus kesal.


“Apakah jarak ke cafe itu masih jauh?” tanya Farah yang ingin segera menemui Ilham.


“Sekitar 500 meter lagi Mbak,” jawab sopir taksi online itu.

__ADS_1


“Saya akan jalan kaki dari sini,” Farah membulatkan tekadnya.


“Tapi Mbak ...”


“Saya akan membayar sesuai dengan nominal yang tertera di aplikasi.” Farah langsung mengeluarkan uang dari dalam tasnya dan memberikannya kepada sopir taksi online itu.


“Terima kasih Mbak ...” ucap sopir itu setelah menerima uang dari Farah.


Faarah mengangguk.


“Tunggu Mbak, saya harap Mbak segera mencari berlindung, saya tidak tahu kapan badai akan datang,” ucap sopir itu sesaat sebelum Farah keluar dari mobilnya.


Farah tersenyum, mengangguk. Ia berpikir bahwa ia sudah memiliki tujuan untuk berlindung yaitu cabang kedai baru milik Ilham.


Farah berjalan menyusuri jalan itu.


***


Ray tak ingin bunga hatinya layu karena badai itu. Ia sangat mencintai Farah. Ia sangat berharap Semesta berpihak kepadanya hari ini.


***


“Maaf, Anda ingin bertemu dengan siapa?” tanya salah satu karyawan kedai baru itu.


Bangunan kedai ini sudah jadi hanya saja belum tersentuh seni yang menakjubkan untuk berswafoto.


“Saya ingin mencari pemilih cafe ini, mas Ilham,” jawab Farah.


“Maaf, apakah sudah ada janji sebelumnya?”


“Saya tak perlu membuat janji terlebih dahulu, saya adalah istri pemilik cafe ini.” suara Farah tegas. Ia tak ingin menyembunyikan identitasnya seperti dulu, yang baru pertama kali membawakan makan siang untuk Ilham.

__ADS_1


“Baik, sebentar saya sambungkan telepon kepada manager cafe ini,” jawab karyawan itu sopan.


Tak perlu waktu lama seorang pemuda yang mungkin hampir sepantaran Ilham keluar dari lantai atas menuju tangga.


“Saya manager di cafe ini, ada yang bisa saya bantu,” tanya pria itu.


“Saya ingin bertemu dengan mas Ilham, saya istrinya. Apakah mas Ilham disini?” tanya Farah yang tidak sabaran.


“Maaf, pak Ilham sudah beberapa hari tidak terlihat di cafe ini, mungkin sedang sibuk dengan cafe yang satunya di Kota Milepolis.


Sepert tersambar petir mendengar jawaban dari manager itu. Farah tidak menemukan suaminya. Manager itu menyangka jika Ilham berada di kotanya. Namun dia salah. Farah sudah terjebak gelisah dan tangisan di kota Milepolis selama empat hari ini setelah kepergian Ilham.


Lalu di mana mas Ilham? Jika di Milepolis tidak ada dan di Numa juga tidak ada, lalu mas Ilham di mana sekarang?


Farah yang sudah lebih dulu menangis dibanding matanya. Ia masih membendung air matanya. Farah tidak ingin menangis di sini.


Tanpa sepatah kata pun Farah akhirnya berjalan keluar dari kedai ini. Ia sudah merasa kosong. Ada rumpang diantara hatinya. Bagian itu hilang.


“Tunggu Nona,” ucap manager cafe itu.


Langkah Farah terhenti. Ia berbalik kepada orang yang memanggilnya.


“Saya harap Nona tetap di sini, sebentar lagi akan ada badai,” ujar manager itu.


Farah menggeleng. Ia ingin pulang dan menangis di kamarnya. Hatinya telah terlanjur remuk mendengar bahwa Ilham tidak ada di sini. Bahkan setelah empat hari tanpa kabar. Farah tentu mengerti apa itu badai, namun Farah lupa jika badai bisa menghancurkan apapun.


Farah tetap berjalan keluar kedai itu. Ia merasa hawa dingin menusuk pori-pori kulitnya. Langit yang biru sudah dipenuhi awan-awan yang berwarna abu pekat. Farah harusnya tidak melakukan perjalanan ini jika tahu jawabannya akan seperti ini. Hati yang penuh harap sudah terlampau serak, larut dalam kekecewaan. Lara menyelimuti hati, pikiran dan raganya.


Farah tetap berjalan walau rintik hujan turun. Ia tak peduli. Raganya sudah lupa akan rasa letih karena terbiasa letih. Hatinya juga sudah lupa akan rasa perih karena terbiasa perih. Tepat saat itu Farah menangis. Banyak orang yang berlarian menghindari hujan mencari tempat berteduh. Namun tidak dengan Farah, ia memilih untuk menangis di tengah hujan. Hingga ia sadar akan sesuatu.


Farah merasa aneh dengan hujan ini. Ia merasa tidak hanya air yang jatuh mengenai pipi yang bercampur dengan air mata. Tidak hanya air, ada benda lain yang jatuh. Farah menadahkan air hujan yang turun di tanganya. Benar dugaanya, tidak hanya air yang turun melainkan butiran es yang jatuh dari langit abu-abu yang pekat itu. Semakin lama butiran es yang jatuh makin besar ukuran partikelnya. Badai datang lebih cepat dari perkiraannya.

__ADS_1


__ADS_2