
Episode 206: Semua Mawarku Sedang Berdarah
Kinanti berusaha keras meraih ponselnya yang sedari tadi berdering. Kesadarannya makin menurun. Tangannya kirinya berusaha menutupi perutnya yang berlubang tertembus peluru. Tangan kananya meraih benda kotak itu dan ia berhasil. Matanya sudah buram, tapi ia masih bisa menbaca siapa penelpon itu. Dengan perlahan ia menjawab panggilan itu.
“Halo ....” Suaranya begitu lirih, ia sangat berharap sang penelpon ini mendengarnya.
“Kinan! Kinan! Kau baik-baik saja, kan? Jawab aku!”
Kinanti menyungging senyum tipis walaupun ia merasakan perih yang luar biasa di bagian perutnya. Lelaki yang menelepon ini pasti tahu jika dirinya sedang tidak baik-baik saja.
“Aku akan menyusulmu! Tunggu sebentar, bertahanlah lebih lama. Aku juga sudah menelepon ambulans. Jangan banyak bergerak, tetaplah di tempatmu!”
Suara Naresh begitu khawatir. Kinanti yakin, gelang yang penah dia berikan selalu bereaksi ketika sang pemilik terluka. Sama seperti kejadian dulu. Saat ini, tubunya benar-benar lemas. Tangannya sudah tidak kuat menggengam ponsel itu lama-lama dan akhirnya, benda kotak itu terjatuh.
Apakah ini hari kematianku?
Sayup-sayup terdengar suara bising. Kinanti tidak dapat memastikan siapa yang datang. Ia hanya merasa ada banyak orang melewati tubuhnya. Secara perlahan, tubuhnya terasa diangkat ke tempat yang datar. Ada tangan besar yang mengusap kepalanya.
“Bertahanlah, Kinan!” Naresh harus menerima kenyataan bahwa Kinanti diambang kematian. Bahkan perempuan itu sudah tidak dapat merespon apapun yang berada di sekitarnya.
__ADS_1
Naresh dan Jun datang tepat saat dua mobil ambulans berhenti di rumah berpagar hijau. Dua korban yang bersimbah darah segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Naresh juga telah menghubungi polisi. Tepat saat tubuh Kinanti diangkat oleh dua petugas medis, ia menemukan revolver tanpa peluru. Ia yakin, ini revolver milik Anneline.
Sekarang dia ada di mana?
****
Anneline menyetir mobil dengan buruk. Ia beberapa kali menyenggol pejalan kaki dan cone oranye yang berada di tengah jalan. Sedari tadi Farah memegang handle grip yang berada di sisi pintu. Beberapa kali juga, dia meminta Anneline untuk menghentikan kegilaannya ini.
“Aku mohon lepaskan aku! Berhentikan mobil ini!”
Anneline tak menggubris. Ia melajukan mobil itu dengan kecepatan kencang. Anneline sedang menantang maut bersama Farah. Ia berharap malam ini malaikat pencabut nyawa sedang duduk di kursi kemudi belakang agar lebih mudah mengambil nyawanya berserta Farah.
Anneline tidak tahu jika ia sudah melaju sangat jauh sekali, ditambah jalan yang ia lalui sudah masuk jalan raya yang lebar. Truk-truk bersar berlalu lalang, ditambah bus malam yang sarat penumpang.
“Jangan lakukan ini, Kak! Jangan mati konyol!” pekik Farah.
“Tujuanku memang mati bersamamu.” Anneline menjawab dengan nada santai. Tak peduli dengan situasi super genting ini.
Truk yang tadi mengklakson dari arah belakang akhirnya mendapat jalan untuk menyalip mobil kecil itu. Pasti si sopir truk sangat kesal dengan gaya mengemudi Anneline.
“Kak, dengarkan aku! di dalam mobil ini ada tiga nyawa! Kumohon berhentilah, aku tak mau kita semua celaka!” Farah berteriak. Ia harus melakukan ini untuk mengais belas kasihan yang ada di hati Anneline. Walaupun tak yakin taktik ini akan berhasil setidaknya sesama perempuan pasti memahami.
__ADS_1
Anneline melambatkan laju kendaraannya. Barusan ia mendengar ada tiga nyawa di mobil ini. Ia sesekali menoleh kepada Farah yang memegang perutnya. “Apakah itu anak dari Ilham?”
“Iya, saya hamil.”
Anneline tersadar akan sesuatu, kehidupann kecil di rahim Farah tentu masih murni, belum berbalut dosa. Tapi, takdir berkata lain. Sebuah truk melaju kencang dari arah yang berlawanan. Brak! Tabrakan itu tidak dapat dihindarkan.
Tubuh Farah terlempar ke depan melewati kaca mobil. Tubuhnya bersimbah darah, sebagian pecahan kaca menggores kulitya. Mulutnya mengelurakan cairan merah, matanya tertutup sempurna. Semuanya menjadi gelap.
Anneline bisa melihat itu semua. Kepalanya berdarah karena menghantam stir mobil. Dadanya sesak karena tabrakan itu. Tapi, dia beruntung tidak terlempar keluar dari mobil karena ia memakai sabuk pengaman. Beberapa kali tanganya meraih Farah yang sudah tergeletak dengan wajah dipenuhi darah. Kesadaranya semakin menurun. Pandangannya buram.
Apakah Farah masih hidup? Bagaimana calon buah hatinya? Apakah hari ini aku membunuh seorang ibu dan calon anaknya?
________________________
Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah! Kalo ada poin lebih jangan lupa vote yaaaa!
Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa. Untuk kejelasan tentang update ataupun bersilaturahmi dengan author yang super ngeselin. Hahahahaha!
Terima kasih telah membaca kisah ini.
Salam Hangat,
__ADS_1
Ilamy Harsa