
Episode 213: Tiga Pria
Ray tetap meninggalkan kantin tidak memperdulikan teriakan Naresh. Ia datang hanya ingin melihat Farah. Ia kembali mendatangi ruang ICU lalu berpapasan dengan sekertarisnya.
“Bapak! Bapak dari mana saja? Saya lelah harus berlarian menuju ruangan ini,” ucap Karis yang sedikit ngos-ngosan.
Ray tidak menjawab dan mengabaikan Karin. Ia memilih memasuki ruang ICU tempat di mana Farah terbaring.
Karin mengembuskan napas sebal karena diabaikan oleh atasannya. Ia memilih meredam sendiri kesebalannya sambil melihat Ray yang menghampiri seseorang yang sedang duduk menunggu seseorang yang terbaring. Lamat-lamat ia mengenal wajah itu.
“Itu Farah?” Karin menutup mulutnya terkejut melihat apa yang tersaji di depan matanya.
Seorang pria dengan susah payah berlari dari arah timur dan berhenti di depan ruang ICU. Ia juga mengintip sama seperti yang dilakukan oleh Karin. Perempuan itu menatap Naresh dari atas ke bawah kembali lagi ke atas. Karin bisa menyebut jika pria ini cukup tampan dan menarik.
“Anda siapa?”
Naresh yang tak merasa dirinya ditanyai memilih tidak menjawab. Ia lebih memilih mengatur napasnya karena berlari dari kantin untuk mengejar Ray.
Karin yang merasakan diabaikan dua kali memilih duduk di kursi yang telah disediakan untuk menunggu. Ia memanyunkan bibirnya, sepagi ini ia harus merasakan kekesalan karena diabaikan dan rasanya itu sakit! Catat ya!
Di sisi lain, dalam ruangan ICU, Ray berjalan perlahan. Tatapannya nanar ketika melihat kondisi Farah dari dekat. Ada rasa sesak yang membuncah di dadanya. Ia ingin menangis berteriak kepada siapapun yang ada di sini, tapi niat itu hanya sekedar angan. Bunga yang selalu ia nantikan, hari ini terlihat layu tak berdaya. Ray menepuk lembut pundak Ilham seakan memberikan energi.
__ADS_1
Ilham yang tersadar akhirnya menatap siapa yang menyentuh pundaknya. Ia amat terkejut jika Ray hadir di saat seperti ini. “Apa maumu?”
Ray bergeming menatap sahabat lamanya. Ia bisa melihat jelas, jika pria di hadapannya ini sudah menangis dan putus asa. “Bagaimana keadaan Farah?”
“Kamu bisa melihat sendiri,” jawab Ilham tak acuh. Ia lebih baik memalingkan wajahnya daripada harus bersitatap dengan Ray.
Dengan perlahan tangan Ray ingin menyentuh Farah. Tapi belum sempat bersentuhan, Ray sudah dicegah oleh Ilham yang menatap nyalak.
“Kalian bukan mahram! Jangan sentuh istriku.” Ilham menyingkirkan tangan Ray secara kasar.
Ray bisa memahami kondisi sekarang ini. Ia lupa jika Farah bukan siapa-siapa. Pria itu memang mengakui jika ia mencintai Farah demi apapun, tapi ia hanya sebatas mencintai. Farah tidak pernah membalasnya, perempuan itu hanya mengganggap Ray sebagai teman, tak lebih.
“Maaf.”
Dalam sudut hati yang tedalam, Ray iri ketika melihat Ilham dengan leluasanya mendekati perempuan yang ia cintai. Tapi ia tak bisa protes apalagi marah. Sadar dengan posisinya saat ini.
“Ilham, apakah kamu akan menjebloskan Anneline ke penjara?”
Pandangan Ilham beralih pada pria berjas itu. “Bukankah dia harus bertanggung jawab? Dia sudah melukai asisten rumah tanggaku, dia juga melukai Kinanti, bahkan dia juga tega membuat istriku jadi begini! Ditambah calon anakku juga dinyatakan gugur. Apakah kamu lebih memilih melindungi pembunuh?”
Ray menunduk malu. Ia mengerti perasaan Ilham, ia juga merasakan hal yang sama. Lebih tepatnya merasakan kesesakan ketika Farah terluka. “Bisa kita bicara sebentar? Aku tak ingin Farah terganggu dengan keributan kita.”
__ADS_1
“Harusnya aku yang bilang seperti itu,” protes Ilham. Sebenarnya ia ingin melancarkan bermacam-macam protes terhadap pria itu, tapi menilik dari raut wajah Ray yang serius, Ilham batal melakukannya. Ia lebih memilih mengekor pada Ray yang sudah keluar dari ruang ICU. Ray dan Ilham melihat Naresh yang sedang duduk menunggu di luar dan Karin yang duduk begitu jauh dari Naresh seperti orang yang bertengkar padahal mereka tak saling kenal.
“Yori, ikuti aku,” ucap Ray dingin.
“Pak Ray! Aku ingin ikut!” Karin bangkit setelah Naresh ikut bangkit. Ia merasa perlu menemani bosnya.
“Kamu tunggu di situ saja, Karin.”
“Tapi, Pak ....”
“Aku bilang tunggu ya tunggu saja! Jangan protes! Aku akan kembali.” Nada Ray meninggi menandakan Karin memang tidak boleh ikut.
Karin mendesah pelan. Ia akhirnya duduk kembali harus menunggu lagi. Sementara ketiga pria itu berjalan menuju belakang gedung. Entah apa yang ingin mereka bicarakan yang jelas Karin tetap merasa kesal.
________________________
Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah! Kalo ada poin lebih jangan lupa vote yaaaa!
Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa. Untuk kejelasan tentang update ataupun bersilaturahmi dengan author yang super ngeselin. Hahahahaha!
Terima kasih telah membaca kisah ini.
__ADS_1
Salam Hangat,
Ilamy Harsa