Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 35


__ADS_3

Ray melajukan mobilnya pergi meninggalkan cafe milik Ilham. Ia mendengus kesal saat mengemudikan mobilnya.


“Mengapa harus dia yang mengalami ini?!” guman Ray pada dirinya sendiri.


Ray masih ingat betul ketika ia masuk ke toilet lantai empat. Ia sempat mendengar karyawan yang membersihkan toilet itu sedang bergosip tentang pesan broadcast yang dikirim oleh manager cafe karena kejadian yang menimpa salah satu karyawati cafe itu.


Ray yang sedang menguping saat dua karyawan itu membicarakan tentang seorang karyawati yang disiksa oleh karyawati lainnya hingga mengalami luka-luka.


Saat melihat Ray keluar dari salah satu bilik toilet, dua karyawan itu tidak membicarakannya gosip lagi. Akhirnya Ray memaksa dengan menyodorkan sejumlah uang untuk dua karyawan agar mereka mau menceritakan kejadian itu secara detil.


Ray terkejut saat tahu karyawati yang mengalami penyiksaan itu adalah Farah. Ternyata kejadian di lantai dua berdampak banyak masalah bagi Farah. Ray mengikuti jalur bus koridor 2A untuk mencari rumah perempuan itu. Tetap saja tidak ketemu.


Dua karyawan tadi juga tidak mengetahui pasti di mana rumah Farah, hanya mengetahui kalau Farah sering naik bus koridor 2A. Dan Farah adalah karyawati khusus karena menggantikan Rahma karyawati yang sedang hamil besar.


Ray mendengus kesal untuk kesekian kalinya.


***


Ilham mengecek semua yang terekam di CCTV beberapa hari ini saat dirinya tidak ada di kedai. Ilham menemukan kejanggalan, banyak video hasil perekaman yang hilang. Ilham menanyakan hal ini kepada Akmal, namun Akmal hanya menjawab jika beberapa hari ini CCTV di kedai mengalami eror. Akhirnya Ilham menyuruh untuk memperbaikinya.


Sekali lagi Akmal berbohong, ia sudah menghapus beberapa file video saat Farah bertemu dengan Ray di lantai empat maupun insiden di lantai dua.


Benar apa yang dikatakan Farah, bahwa Ilham akan lebih percaya kepada Akmal di banding istrinya sendiri.


Ilham kembali ke ruangannya sendiri dan mengunci pintu. Ia duduk di dekat jendela memandangi selembar foto dan kerajinan keramik yang berbentuk dua angsa yang menyatukan kepalanya hingga membentuk bingkai hati.

__ADS_1


“Ann, mengapa harus seperti ini? Tidak bisakah aku tahu alasan mengapa kamu harus menghilang seperti ini?” guman Ilham.


Satu titik partikel hydrometeor jatuh dari langit, melesat ke tanah disusul ribuan partikel-partikel hydrometeor lainnya.


Pandangan Ilham beralih ke jendela. Memandang tetesan air hujan, banyak orang berlarian masuk ke kedainya ada juga yang berlari mencari tempat untuk berteduh.


Ilham mengembuskan nafas beratnya. Satu lembar foto yang ia pegang membuat luka lama kembali menganga. Enam tahun menunggu dan mencari ternyata Ann berada di Kota Zen.


Ilham berpikir ingin mencari Ann, namun Kota Zen, kota yang luasnya 5 kali lipat dari kota ini, rasanya akan sangat memakan waktu. Hanya Ray yang beruntung bisa menemukan Ann walaupun hanya sekelebat saja.


Akhirnya Ilham memutuskan untuk pulang. Ia menyimpan foto Ann dan kerajinan keramik itu di laci dan menguncinya. Ilham tak ingin kalau orang lain menemukan barang ini terlebih lagi jika Farah menemukannya akan sangat bermasalah.


***


Farah telah selesai membersihkan rumah dan memasak untuk suaminya. Bu Tin sedang cuti sehingga Farah yang mengerjakan ini semua. Ia tidak keberatan karena ini kewajibannya. Ia duduk di depan dekat perkarangan rumah menunggu suaminya pulang.


Satu tetes air jatuh dari langit, disusul ribuan tetes menghujam tanah. Farah suka aroma khas tanah yang di jatuhi air hujan. Seperti tersihir Farah mendongak melihat langit abu-abu. Hujan tidak terlalu deras tidak terlalu gerimis. Ia suka dengan hujan yang turun.


Farah tidak peduli lagi, Ia melompat ke perkarangan. Ia membiarkan dirinya basah oleh air hujan. Dengan cara ini Farah bisa merasakan kebebasan yang murni. Melepaskan rasa kekanak-kanakan yang menurutnya masa yang sangat ingin diulang lagi. Dan Farah memakai cara ini, bermain hujan.


Ilham memasukan mobilnya ke garasi. Ia segera berlari menuju rumahnya. Baju Ilham sedikit basah. Sekarang Ilham sudah sampai di depan pintu.


Ilham hendak melangkah masuk, tapi ia mendengar suara tawa perempuan, ia mengurungkan niat untuk masuk ke rumah.


Ilham mencari sumber suara tawa itu, ia mendapati Farah sedang menari di bawah hujan. Senyum Ilham terbentuk di bibirnya.

__ADS_1


Ilham menjulurkan tangannya, menampung air hujan dengan telapak tanggannya. Ia memejamkan mata merasakan rinai hujan yang beriak di tangan. Menenangkan.


Tiba-tiba Farah menyentuh tangan Ilham. Farah menarik Ilham agar ikut merasakan basah oleh air dari langit. Ilham tidak menolak, ia hanya mengikuti tangan yang menyentuhnya dengan erat.


Ilham merasakan partikel hydrometeor yang turun menghujam dirinya, padahal tadi ia sangat menghindari percikan air hujan agar bajunya tidak basah.


Ilham melihat Farah yang sangat tertawa lepas, bahagia di bawah guyuran air dari langit. Dia membiarkan gamisnya basah, kerudungnya juga basah. Ilham hanya terpaku di tempatnya tidak kemana-mana, hanya memandangi Farah bermain di rinai hujan.


Farah sangat bahagia, sejauh ini dia tidak pernah meminta hal-hal yang mewah. Aku rasa dia sangat sederhana.


Tunggu! Mengapa Aku sangat memujinya? Mengapa harus aku yang merasakan ini! Harusnya di hatiku hanya ada Ann bukan Farah! Ann yang sudah aku tunggu selama 6 tahun ini apakah harus tergantikan oleh Farah yang baru masuk kehidupku beberapa bulan saja?


Tapi Farah setiap hari memberikan semua perasaannya untukku dan menerimaku. Walaupun aku dan dirinya terikat karena perjodohan.


Tidak! Aku belum menerima sepenuhnya. Ann sudah di temukan di Kota Zen! Aku harus ke sana, aku harus mencari keberadaanya.


Lalu bagaimana jika Ann tidak aku temukan?


Jika Aku gagal menemukannya lagi, kali ini Aku harus menyerah, melupakan Ann dan menerima Farah seperti dia yang menerimaku!


Logika dan hati Ilham begejolak dalam pikirannya.


Seketika cahaya kilat terlihat membuat suara gemuruh yang memekakan telinga. Farah berjongkok dan menutup telinganya. Dia berteriak kaget. Ilham menyadarinya langsung menarik Farah agar segera berteduh di rumah.


“Sudah, sekarang masuk ke rumah dan segera mandi agar kamu tidak deman,” pinta Ilham kepada Farah.

__ADS_1


Farah mengangguk lalu membersihkan diri di kamar mandi dalam kamarnya.


Ilham juga membersihkan diri di kamar mandi dalam kamarnya sendiri.


__ADS_2