Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 103


__ADS_3

Mohon bacanya setelah berbuka puasa ya, jangan membayangkan hal-hal yang berbau mature 😳 Sudah diupdate malam semoga pembaca bijak dalam menyikapinya.😆


__________________


Di Kota Milepolis ....


Hujan membungkus malam yang mengalun syahdu bagai simfoni bagi penduduk kota. Air yang turun merinai dalam pelukan hawa dingin yang membuat lembab. Sebuah mobil melaju membelah hujan. Sekarang kendaraan beroda empat itu sedang berhenti di depan pagar rumah dengan mesin yang masih menderu. Seorang perempuan berhijab membuka pagar lalu masuklah mobil itu ke dalam garasi.


Ilham keluar dari mobilnya, ia buru-buru masuk ke rumah agar tidak terkena tampias air hujan. Farah yang tadi sedikit berlari mengambil handuk kering, sekarang ia memberikan benda itu kepada suaminya agar mengeringkan bagian rambut yang basah.


“Tumben, biasanya bu Tin yang membukankan pintu pagar.” Ilham merasa heran, karena Farah yang membuka pintu pagar itu.


“Tadi sore Bu Tin izin, Mas. Beliau ingin menjenguk anaknya yang sedang hamil muda. Karena aku merasa kasihan ya ... aku izinkan.” Farah mengambil handuk yang telah selesai digunakan suaminya.


Oh jadi bu Tin tidak di rumah. Lantas hanya ada aku dan Farah? Hmmm ... bisa jadi ini waktu yang tepat.


“Apa mas lapar?” tanyanya lagi.


Pertanyaan Farah membuyarkan lamunan Ilham, ia menggeleng. Ia sudah makan tadi di kedai. Sekarang ia berjalan menuju kamar dan mandi. Sementara itu, Farah menuju dapur untuk membuat dua gelas teh hangat untuk Ilham dan dirinya. Ia sedang mengaduk teh, tiba-tiba Ilham mendekapnya dari belakang. Hal itu membuat Farah kaget dan debaran jantungan semakin kencang.


Ilham mengangsurkan bibirnya mendekati telinga Farah yang masih tertutup kain hijab. Ia membisikkan sesuatu.“Segeralah mandi dan jangan lupa pakai parfum yang pernah aku belikan untukmu. Setelah itu datanglah ke kamarku, Sayang.”


Farah merasakan embusan napas Ilham yang sedikit memburu. Hal ini membuatnya merinding. Ia tahu betul kemana arah kegiatan ini.


Apakah Mas Ilham menginginkan sekarang?


Ilham membalik tubuh istrinya, ia menekan dagu Farah hingga dia mendongak ke atas. “Jangan lupa, pakailah sehelai kain.” Setelah mengatakan hal itu, Ilham pergi menuju kamarnya dan mempersiapkan permainan ini.


Farah masih berusaha untuk menguatkan hatinya. Sebenarnya ia takut, karena ini hal baru baginya. Memang sejak menikah hingga saat ini mereka masih masa dalam hubungan yang belum sepenuhnya menyatu. Namun Farah juga harus memenuhi kewajiban ini. Nafkah batin yang tertunda. Akhirnya Farah menuju kamar mandi untuk membasuh dirinya, dan ia melakukan sesuai permintaan Ilham.


Ilham sudah membersihkan diri, sekarang ia sedang menunggu Jelita-nya di ranjang. Tak lupa dia menyalakan lilin beraromaterapi yang sangat menenangkan menguar ke seluruh isi kamar. Ilham sekarang hanya duduk dengan kemeja yang dibiarkan terbuka sehingga lekuk tubuh maskulinnya terlihat.

__ADS_1


“Maaf Sayang, aku tidak bisa menunggu terlalu lama untuk masalah ini. Bukankah kita sudah menundah hal ini cukup lama?” Ilham berguman sendiri.


Farah telah menyelesaikan basuhan tubuhnya. Sekarang ia memakai wewangian yang harumnya sangat semerbak hingga tercium oleh hidungnya sendiri. Baru kali ini ia memakai parfum yang aromanya bisa membangkitkan hasrat kejantanan kaum adam.


Farah keluar dari kamar yang sebelumnya pernah ia tempati. Sekarang ia hanya membalut tubuhnya dengan sehelai kain selimut yang tidak begitu tebal. Ia berjalan menuju kamar milik suaminya. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Dengan langkah yang amat terasa takut, ia meneruskan untuk maju sampai masuk ke dalam kamar Ilham.


Ilham melihat istrinya yang baru masuk dengan wajah malu-malu. Ia melihat tubuh Farah yang hanya ditutupi oleh kain dengan rambut yang terikat ke atas. Lalu ia bangkit untuk menutup pintu kamar, serta menghampiri istrinya yang terlihat kikuk.


Farah mencium aromaterapi yang menenangkan dari lilin yang menyala. Sempurna romantis, suaminya membuat kamar ini dengan warna yang sedikit remang dan lilin yang disusun sedemikian cantik.


Ilham mendekap bahu Farah untuk lebih mendekat pada tempat permainan yaitu ranjang yang sangat nyaman dan empuk. Menurutnya, Farah sangat cantik bahkan tubuhnya sangat menggiurkan untuk mencicipinya. Ilham mengembuskan napasnya di tengkuk istrinya, lalu ia melepaskan ikatan rambut Farah. Sekarang tergerailah rambut indahnya.


Napas Farah memburu, ia gugup sekali dengan penampilan hampir terbuka. Sentuhan suaminya yang membuat darah berdesir merasuk ke rongga-rongga yang lebih kecil. Beban pikirannya hanya satu, ia takut jika tidak bisa memuaskan sesuai keinginan Ilham.


Malam ini suasana sangat mendukung. Hujan masih deras-derasnya, seperti hasrat yang menggebu-gebu dalam jiwa dua anak manusia yang ingin menyatukan sesuai semestinya. Ruangan kamar serasa lebih cocok untuk permainan klasik yang penuh irama.


Tanpa bicara, tapi saling berkata dalam hati masing-masing. Ruangan itu memang senyap, namun Ilham dan Farah bisa mendengar gaung dari suara hati mereka. Seperti sihir yang telah menyebar dalam gejolak diri, dua bibir mereka sangat anggun berayun dalam ritme dikara. Saling mendekat dan melekat. Jantung mereka tak seirama apakah ini luapan emosi?


Dua anak manusia yang berpaut dalam ikatan sakral, sekarang sedang menjalani kebahagiaan untuk mewujudkan cinta. Ini tentang rasa, debaran, sentuhan dan tubuh yang menyatu. Riak hujan menembus, bermain dalam deru napas yang memburu akibat bibir yang berpaut yang nyamannya semakin menggila.


Untuk malam ini, Ilham yang mengambil kuasa. Ia membuat kelembutan sekaligus kesakitan yang memuncak dalam kata nikmat. Sekarang mereka memejam dan tenggelam hanyut dalam kendali hasrat. Tubuh mereka lenggok berayun-ayun dalam kasih yang harus dipetik dan melepaskan sesuatu yang berharga milik Farah.


Merah dan sudah mengalir, tubuh mereka masih menari dalam kendali walau sesekali sang pemiliknya berteriak dalam meleburkan semesta ini. Semua terasa sangat nyata dan peluh keringat Ilham berjatuhan di kening Farah.


Malam masih tampak syahdu dengan hujan yang masih deras menggemakan suara khasnya. Semesta yang sangat romantis dalam leburan ini, meringkus keadaan yang sangat halal dan sakral. Perayaan kepemilikan yang sangat riuh bermakna dan berair.


***


Ilham terbangun karena jam alamiahnya berkerja. Ia melihat istrinya yang masih tertidur pulas karena kelelahan dalam permainan itu. Ia melihat tubuh istrinya yang mendapat kecupan merah yang sangat banyak. Ilham tersenyum merayakan permainan itu.


“Aku lupa, sudah berapa kali kita melakukannya tadi malam , Sayang.” Ilham mengelus puncak kepala Farah.

__ADS_1


Ilham mengetahui bercak merah ini milik istrinya yang ia rampas tadi malam. Momen yang sangat mengesankan. Sekarang ia bangkit dan menuju kamar mandi untuk bersuci dari hadas besar, lalu melaksanakan salat subuh.


Farah sangat merasa kelelahan akibat permainan semalam, tubuhnya yang kecil terasa remuk sampai ia tak sanggup untuk bangun. Tubuhnya hanya berbalut selimut tebal. Ada bagian yang masih terasa nyeri karena dihajar habis-habisan oleh Ilham. Apa boleh buat, ia juga merasakan kadar kenikmatan itu.


Ilham yang sudah selesai salat, merasa iba dengan kondisi istrinya. Ia menyiapkan air hangat di bathtub. Ia sangat yakin sekali kalau Farah masih kelelahan. Kemudian ia mengangkat tubuh Farah untuk dimandikan.


“Aku bisa mandi sendiri Mas,” ucap Farah. ia sedikit memberontak saat Ilham menggendong Farah menuju kamar mandi.


“Aku ingin memandikanmu, Jelita-ku. Kau terlihat sangat kelelahan akibat energi untuk semangat tadi malam yang terkuras habis.” Ilham meletakkan tubuh mungil Farah dengan sangat hati-hati seperti menjaga keramik yang sangat mahal ke bathtub.


Farah merasakan air hangat yang dapat merilekskan tubuhnya yang terasa sakit. Ia merasa sangat nyaman dan tenang. Ilham menggosok punggung istrinya. Ia juga memberi pijatan lembut untuk melemaskan otot-otok punggungnya yang tegang.


“Mas mengapa kau menandaiku dengan tanda yang sangat banyak sekali!” Farah baru sadar saat melihat hampir sekujur tubuhnya dipenuhi tanda merahnya cinta.


“Aku merasa gemas padamu, Sayang.” Ilham tertawa. Ia mencubi kedua pipi Farah hingga busa sabun menempel di sana.


“Sayang, teruskan mandimu. Aku ingin membuat sarapan.” Ilham bangkir dan keluar dari kamar mandi meninggalkan Farah yang terlihat masih ingin berlama-lama untuk merasakan air hangat itu.


Ilham sedang mempersiapkan bahan masakan. Kali ini ia akan memasak bubur ayam. Ia sangat tahu, ini salah satu menu favorit istrinya dan sekarang ia mulai memasak bahan makanan tersebut.


Farah sudah bersuci dari hadas besar. Sekarang ia sedang merapikan tempat tidur, namun tak lama kemudian ia menemukan jejak kemerahan yang tercetak jelas di seprei ranjang itu. Ia menatapnya dengan nanar.


“Apakah ini darah milikku? Jangan-jangan nanti ....” Farah menepis pemikiran instan itu. Tanpa menunggu merenungkan hal-hal yang belum tentu kejelasannya, ia membereskan seprei dan selimut dan menggantinya dengan yang lebih bersih.


____________


Jangan lupa setelah selesai membaca kisah ini, pencet like dan beri rating 5 bintang ya ... karena ini GRATISS.😁


Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.🤗


Terima kasih

__ADS_1


Salam Hangat,


Ilamy Harsa🍀


__ADS_2