Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 165


__ADS_3

Episode 165: Sirena dan Philo


Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar sana, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!


Terima kasih telah membaca kisah ini.


Salam Hangat,


Ilamy Harsa


Selamat Berimajinasi


____________


Philo sudah bertarung habis-habisan. Wajahnya sudah berdarah hampir seluruhnya. Ia masih berkeingian untuk membawa kabur perempuan yang tergolek lemah itu.


Dom melayangkan tinjunya ke arah Philo, disusul pukulan anak buah Dom yang lainnya. “Anak bang-sat! Kenapa kamu ingin menyelamatkan tawanan itu?” Dom berteriak.


Suara dering ponsel Dom mengambil alih. Sang pemilik tak jadi memukul Philo. Ia membiarkan pemuda itu terkapar di lantai.


“Selamat malam, Nyonya,” ucap Dom.


“Bunuh perempuan itu sekarang, Dom. Buang mayatnya ke tangki air di pabrik.”


Apapun yang dikatakan sang Nyonya Besar adalah perintah untuknya. Tak masalah jika ia harus menghilangkan berapa nyawa asal bayarannya setimpal. “Baik, Nyonya.”


Dom segera mematikan ponselnya. Ia melihat ada dua anak manusia yang harus ia bunuh malam ini. Dom segera memerintahkan dua anak buahnya untuk membuang tubuh Philo yang sudah terkapar tak berdaya. Ia tak ingin Philo hidup dan membeberkan semua hal yang ia lihat walaupun pemuda itu sudah diangkat sebagai anaknya sendiri.


Dua orang laki-laki menyeret tubuh Philo. Tak jauh dari tempat mereka menyiksa Sirena, terdapat sebuah jurang yang sangat curam. Dua orang lelaki itu membuang begitu saja tubuh Philo. Diperkirakan jurang itu memiliki kedalaman sekitar 30 meter.


“Pasti kepala Philo sudah pecah menghantam batu,” ucap salah satu laki-laki itu.


“Yang pasti kita akan dapat bayaran lebih banyak karena Philo telah tersingkirkan. Sekarang lebih baik kita kembali, aku tak mau jika bos itu marah-marah lagi.” Dua laki-laki itu kembali ke rumah kayu yang sedikit reyot. Pekerjaan mereka belum selesa. Masih ada satu orang lagi yang harus diurus.


Sirena kembali mendapat perlakukan buruk dari Dom. Pria itu menjambak rambutnya agar bisa berdiri tegak seperti yang ia mau. Rambut Sirena sudah kusut sana sini, banyak helai yang berjatuhan karena tarikan yang kasar. Ia sudah tidak berdaya untuk melawan. Dalam kepalanya terekam bahwa perjalanannya menemui kekasih tercinta akan segera terwujut. Entah kekuatan dari mana, Sirena menyunggingkan senyumnya.

__ADS_1


Sekali lagi, Dom merasa jijik dengan senyuman gadis itu. Ia bertambah bengis. Dom memasukan dengan kasar tubuh Sirena yang sudah tak berdaya ke dalam mobil dengan bak terbuka. Dua laki-laki yang telah membuang tubuh Philo datang membantu Dom.


“Mengapa perempuan ini tidak dibuang saja seperti Philo?” tanya salah satu laki-laki itu.


“Tak usah banyak bicara! Ikuti saja perintahku!” Dom berseru.


Dua laki-laki itu lebih memilih untuk membungkam mulutnya. Mereka tak mau jadi sasaran kemarahan Dom. Mereka tak mau berakhir seperti Philo. Setelah menutupi tubuh Sirena yang meringkuk terluka parah dengan terpal. Hal ini bertujuan agar orang tidak curiga dengan apa yang mereka bawa. Di bak terbuka itu hanya juga terdapat sebuah koper yang lumayan besar.


Dua laki-laki itu naik ke mobil dan menyalakan kendaraan itu. Dom sudah duduk manis di samping kursi kemudi. “Kita ke pabrik sekarang.”


Mobil dengan bak terbuka itu menuruni jalan menuju pabrik milik perusahaan majikannya. Dom mendapat perintah agar tubuh Sirena yang menjadi biang permasalahan yang sudah direncanakan oleh Nyonya Fernando.


Mobil bak terbuka berhenti beberapa meter dari pintu gerbang pabrik yang sedikit karatan. Dua laki-laki itu sudah turun dari mobil. Mereka harus melupuhkan sistem pengaman dari pabrik itu. Dom tak perlu ikut campur. Dua anak buahnya cukup mahir untuk mengatasi hal ini.


Setelah dirasa aman, Dom memakai sarung tangannya agar sidik jarinya tidak menempel di sembarang tempat. Ia turun dari mobil dan mengambil koper milik Sirena yang berada di sebelahnya. Tak hanya itu, baju-baju milik Sirena terpaksa harus disingkirkan karena Dom membutuhkan koper itu.


Setelah koper itu kosong, barulah tubuh Sirena yang sudah tak berdaya dimasukkan ke dalamnya. Dua puluh menit lebih empat puluh detik, dua laki-laki anak buah Dom telah memberikan sinyal tanda sistem keamanan sudah dilumpuhkan.


Dom mengambil alih mobil bak terbuka itu. Ia memasuki pabrik yang sudah sepi. Para penjaga terlihat terkapar di tempat. Dom patut membayar mereka dengan upah yang cukup tinggi. Sesuai perintah dari majikannya, ia membawa koper yang berisi tubuh Sirena ke tangki air yang berada di lantai paling atas pabrik itu.


Dom hanya menurut. Ia tak mengerti bagaimana jalan pikiran Nyonya Fernando. Tak hanya itu, beberapa hari ke depan, ia juga sudah mendapat perintah untuk membunuh seseorang lagi. Untuk upah, malam ini Nyonya Fernando sudah memberli sebanyak 60% dari upah yang seharusnya dalam perjanjian. Itu berarti jika pekerjaan ini selesai, Dom akan mendapat 40% sisanya.


Dua laki-laki itu telah menentukan tangki mana yang akan menjadi tempat terakhir bagi Sirena. setelah itu, mereka membuka penutup tangki walau sedikit susah payah. “Sudah terbuka, Bos,”


Dua laki-laki itu turun dari tangga kecil yang menghubungkan ke tutup tangki. Dom membuka koper dan mengankat tubuh Sirena dibantu oleh dua anak buahnya itu. Sirena hanya merasakan jika tubuhnya diangkat. Tubuhnya lemas karena kehabisan oksigen saat berada di dalam koper.


“Apakah Bos yakin ingin membuang gadis ini di tangki air?” ujar salah satu anak buah Dom.


“Bukankah air yang ada di sini bisa tercemar? Lebih parah lagi tubuhnya akan membusuk jika tidak ditemukan dengan segera.” Anak buah Dom yang lain menimpali.


“Lakukan seperti apa yang diperintahkan Nyonya Besar!” Dom sudah memasukkan tubuh Sirena ke dalam tangki yang ketinggiannya hampir tiga meter itu. “Selamat tinggal.”


Suara riak terdengar berderu. Tubuh Sirena telah masuk ke dalam tangki. Dua laki-laki anak buah Dom menutup tangki itu. Mereka harus bergegas atai sistem pengaman akan segera kembali seperti semula.


***

__ADS_1


Braaakkk!


Dom menabrak Jun ketika berada di belokan. Jun tersentak kaget melihat Dom baru kembali. Padahal ia sedari tadi menghubungi Dom selalu gagal.


“Kau kemana saja?” tanya Jun curiga. Ia merasa akhir-akhir ini Dom selalu menghilang begitu saja. Ditambah kondisi yang terbilang genting ini. Semua penjagaan di rumah ini harus diperketat.


“Aku sudah izin kepada Nyonya Fernando jika aku menjenguk istriku di rumah sakit,” jawab Dom.


Jun tak jadi curiga. Ia mengetahui persis jika istri Dom tengah sakit keras. Beberapa bulan yang lalu istrinya harus menjalani operasi. Dom tidak memiliki anak hingga ia tergerak untuk mengadopsi anak jalanan.


“Bagaimana kabar Philo? Aku sudah lama tidak bertemu dengan anak itu.” Jun tersenyum. Terakhir ia bertemu dengan Philo, anak jalanan yang dibesarkan oleh Dom.


Dom terkejut Jun menanyakan hal itu. Ia harus berpura-pura dalam situasi semacam ini. “Anak itu sedang belajar sambil menjaga ibunya.”


“Dia anak yang baik.” Jun menepuk pundak Dom. “Kau harus bangga memilikinya. Untuk malam ini, kau beristirahat saja.”


Dom menaikkan alisnya sebelah. “Memangnya ada apa?”


“Tuan Yori ingin semua penjaga memperketat pengamanan di rumah ini.” Jun tiba-tiba mengendus sesuatu. “Ada bau darah tercium.”


“Aku tidak merasakannya. Mungkin kau sedang berhalusinasi,” kilah Dom.


“Kau benar.” Jun berlalu. Ia melambaikan tanganya kepada Dom. Jun mengenal Dom saat mendaftar menjadi maid di rumah ini. Namun bakatnya tidak dibidang dapur melainkan pengamanan. Akhirnya Naresh memindahkan Dom di bagian pengamanan.


Dom tersenyum. Ia lupa untuk mandi sebelum melaporkan bahwa pekerjaannya telah selesai. Beruntung hanya Jun yang memergokinya, mungkin jika berpapasan dengan Naresh mustahil untuk mengelabuhinya.


Dom berjalan menuju kamar pribadi milik Anneline. Sesampainya di sana, ia disambut baik oleh sang nyonya besar itu. “Selamat malam, Nyonya. Semua sudah beres.”


Anneline tersenyum. “Kerja bagus.”


...****************...


Peran Sirena sudah selesai di Novel ini. Terima kasih kepada kalian yang sudah bersimpati pada tokoh Sirena.


Bunga itu memancarkan sinar seperti gambaran matahari dengan crayon warna orange, lengkap dengan binar kelopak yang indah di kertas putih.

__ADS_1


Matahariku adalah Ayah. Cinta pertama yang aku rasakan dari Ayah. Dia tidak melahirkanku, tapi dia menjagaku seperti kuatnya rahim ibu. Baginya, aku adalah putri tercantik seperti di negeri dongeng.


Sirena.


__ADS_2