Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 64


__ADS_3

“Aku mohon, jangan sakiti aku! Aku tidak mau ikut denganmu!” Farah berteriak pada sosok yang ia anggap itu adalah Ray.


“Akhirnya aku menemukanmu,” ucap sosok itu.


Farah mencoba menggerakkan kakinya yang sudah terjerembap pada lubang jalan yang dipenuhi air. Sia-sia usahanya, kini sosok itu kian mendekati Farah. Lebih dekat.


“Aku mohon jangan sakiti aku lagi!” Farah menangis, suaranya lebih keras dari irama hujan yang turun.


Sosok itu mencengkram kedua bahu Farah. Ia sedikit mengguncang-guncangkan tubuh Farah.


“Farah sadarlah! Ini aku Ilham, suamimu.” Ilham bersuara lebih keras mengalahkan suara hujan.


Mas Ilham?


Farah merasa lega karena suara itu milik Ilham, suaminya. Kepanikannya berangsur pergi. Ia sekarang merasa aman karena suaminya telah pulang.


“Mengapa kamu bisa berada di sini?” Ilham menatap penuh keprihatinan. Ini salahnya mengapa dengan begitu mudahnya ia bisa meninggalkan Farah. Ilham akhirnya menggendong Farah masuk ke dalam mobil.


Saat di dalam mobil, Farah sudah menggigil kedinginan akibat terlalu lama ada di bawah guyuran hujan. Ilham melihat kondisi Farah yang lemah, bahkan baju yang Farah kenakan juga robek. Kening Farah masih mengeluarkan sedikit darah.


Untuk pertama kalinya Ilham merasa bersalah telah meninggalkan istrinya. Ia lalai dalam tanggung jawabnya. Harusnya ia tidak bertindak konyol mencari Anneline yang sukar ditemukan di Kota Zen.


“Dingin,” ucap Farah lirih. Bibirnya pucat dan gemetar. Ilham mencoba memegang pipi Farah, dingin rasanya. Ia lalu mengambil jaket yang berada di kursi belakang dan membalutkan ke tubuh Farah.


“Bertahanlah Farah, kita akan segera pulang.”

__ADS_1


Ilham melajukan mobilnya menembus hujan yang lebat. Ia harus segera sampai di rumah sebelum Farah menderita makin parah. Ilham sangat menyesal dalam hatinya. Ini penyesalan terburuknya.


***


Ray pulang dengan kehampaan. Ia memasuki istananya dan langsung disambut dengan pelayan setianya, Pak Sudiro. Penampilan Ray sangat kacau, ia basah kuyup. Keningnya ada luka membiru terkena benturan. Mata tajam mengisyaratkan bahwa ia marah sekaligus kecewa.


“Maaf Tuan Muda, tadi tuan Ilham datang kemari mencari Tuan Muda,” ucap Pak Sudiro pelayan setia Ray.


Langkah Ray terhenti mendengar nama Ilham. Ray memandang pelayan setianya.


“Kapan?” Ray menatap tajam ke arah Pak Sudiro yang masih berdiri di ambang pintu.


“Sekitar 20 menit yang lalu,” jawab Pak Sudiro.


Kemarahan Ray memuncak lagi, sekarang ia merasa sakit. Perempuan pujaannya sudah dikhianti. Dia selalu menunggu Ilham bahkan menitihkan air mata hanya untuk lelaki yang mencari perempuan lain. Dan Ray tidak suka itu.


Ray sudah mengumpulkan emosinya, ia mengambil salah satu vas bunga yang mahal. Ia membanting vas bunga itu hingga semua hancur berkeping-keping seperti hatinya.


“Mengapa! Mengapa harus dia yang ditakdirkan untuk lelaki zalim seperti Ilham. Mengapa bukan aku saja yang ditakdirkan untukmu!”


Ray berteriak kalap. Tangannya sudah meraih vas bunga selanjutnya, dan membanting vas itu seperti sebelumnya. Para pelayan yang menyaksikan kemarahan Ray hanya bisa menunduk pasrah. Mereka takut mencegah kemarahan Ray.


Hati kecil Ray terasa perih. Ia tersakiti oleh harapan-harapan yang ia buat. Ray selalu melempar doa kepada Farah, agar gadis itu selalu dalam lindungan Semesta. Hanya Ray yang menggaungkan sendiri doa-doanya. Hanya Ray sendirian yang meminta bersatu antara dirinya dan Farah. Namun Farah tidak ikut menggaungan doanya untuk Ray, dia lebih memilih menggaungkan doa untuk suaminya.


Ray sangat menyesal dengan takdir yang harus ia jalani. Ray mengambil serpihan beling dari vas bunga yang ia pecahkan. Ia menggenggam erat pecahan beling itu, hingga pecahan yang tajam menembus kulit halus telapak tangannya.

__ADS_1


***


Ilham sudah sampai di rumahnya, ia membuka pintu dengan kunci yang selalu ia bawa. Ilham menggendong Farah dari mobil hingga kamar milik Ilham. Mata Farah tertutup sepenuhnya, namun suaranya terdengar menggigil. Bibirnya putih pucat, tangan dan kakinya terdapat luka lecet.


Ilham membaringkan Farah ke ranjang kamar miliknya. Ia ragu-ragu untuk melepas hijab milik Farah. dengan hati-hati Ilham melepas hijab Farah, dilihatnya rambut Farah yang basah karena kehujaan. Ilham mengambil handuk kering di lemarinya. Lalu ia memasangkannya tepat di atas bantal yang Farah gunakan.


Ilham melihat wajah Farah yang pucat dan tubuh yang terasa dingin. Ini akibat baju yang Farah kenakan basah. Mau tak mau Ilham juga harus mengganti baju yang Farah kenakan. Ia menggambil salah satu kemeja panjang miliknya.


“Kelihatannya ini lebih dari cukup untuk membuat hangat,” guman Ilham.


Di sini perasaan Ilham sangat diuji. Ia memutuskan untuk mematikan lampu kamar saat mengganti pakaian yang Farah kenakan. Perlahan namun pasti, Ilham sudah berhasil melepaskan semua busana yang melekat di tubuh Farah. Lalu menggantinya dengan kemeja yang bersih dan juga kering.


Dengan hati-hati Ilham merekatkan semua kancing kemeja yang sekarang Farah pakai. Kemudian Ilham kembali menyalakan lampu kamar. Kemeja itu bisa menutupi tubuh Farah bagian atas sampai paha. Ilham sudah mencoba membuka kamar milik Farah namun terkunci. Ia tidak tahu di mana Farah menaruh kunci kamarnya sendiri.


Terlihat jenjang kaki milik yang kotor dan penuh luka. Ilham ke dapur untuk membuat minuman hangat dan air hangat untuk Farah. Tak berapa lama Ilham kembali membawa secangkir teh hangat dan baskom yang berisi air hangat dan waslap.


Ilham secara hati-hati membersihkan wajah Farah yang sedikit kotor. Keningnya juga terluka, Ilham juga mengobatinya dengan membalut lukanya. Sekarang giliran kaki Farah yang akan llham bersihkan. Terlihat banyak luka lecet dan memar yang menghiasi jenjang kaki milik Farah.


Untuk kesekian kalinya, perasaan Ilham diuji. Ia juga membersihkan kaki Farah dengan hati-hati. Setelah selesai, Ilham sedikit mengubah posisi Farah agar dia terduduk. Ia ingin Farah meminum, teh hangat buatannya. Dengan kesadaran yang sedikit, Ilham memaksa Farah untuk meminum teh hangat ini. Farah menerimanya, namun tidak dihabiskan.


Ilham mengerti, sekarang ia membantu Farah untuk meluruskan tubuhnya. Farah tertidur kembali. Ilham menyelimuti Farah dengan selimut yang tebal. Ia juga mengelus puncak kepala Farah.


Sekarang wajah Farah sudah lebih memerah dibanding tadi yang putih pucat. Ilham menyesal mengapa ia sangat tega membiarkan Farah sendirian di Kota Milepolis.


“Maafkan aku atas semua kesakitan yang kamu rasakan saat ini.”

__ADS_1


__ADS_2