Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 150


__ADS_3

Episode 150: Apakah Kau Ingin Pergi dari Sisiku?


“Apa! Tidak mungkin!” Naresh sangat terkejut saat membaca pesan itu. Ia merasa ada yang sakit di bagian dadanya. Ada sengatan yang luar biasa menjalar hingga ulu hati.


“Ada apa Tuan? Apakah ada masalah yang serius?” Jun ikut panik. Ia menurunkan kecepatan mobil yang dikemudikannya.


“Dia berhasil kabur.”


“Dia? Maksud Tuan, Nona Kinanti?”


“Iya, dia berhasil kabur dari rumahku. Gelangnya telah terlepas dari tangannya sekitar sepuluh menit yang lalu. Gelang yang aku berikan itu adalah alat pelacak untuk menandai dirinya sekarang mengirim pesan peringatan. Dan posisi gelang ini sudah bergeser beberapa langkah dari tempatku menyekapnya.”


Pasti gelang nila itu sekarang di kamarnya sendiri. Mengapa kau pergi Kinanti?


Tanpa perintah dari Naresh, Jun menambah kecepatan mobil yang ia kendarai. Ia harus sampai di rumah sebelum Nona Kinanti pergi dari rumah itu. Jun memprediksikan untuk keluar dari rumah yang besar itu diperlukan waktu sekitar 20 sampai 30 menit. Kamera pengawas sudah dipasang sejak dulu di setiap tempat. Belum lagi penjagaan dari bodyguard dan maid laki-laki. Mustahil sekali lolos dari rumah itu.


“Jun,” panggil Naresh,


“Iya Tuan Yori.”


“Tolong ikuti permainanku, Jun. Kita ringkus gadis itu.”


Jun yakin, saat ini Tuannya sedang kesal sekali bahkan marah. Tenangkan dirimu, Tuan. Saya akan membantu menyatukan Anda dengan Nona Kinanti.


***


Kinanti bersembunyi di balik semak-semak. Ia mengatur napasnya, sangat melelahkan sekali berlari di taman labirin malam seperti ini ditambah udara malam sangat tipis. Ia sedang mengintai, ada tiga penjaga yang sedang berpatroli di sekitaran tempat penjemur pakaian.


Apakah aku harus melawan ketiga orang itu? Atau harus menunggu agar keadaan aman? Sepertinya semua pilihan itu memiliki resiko. Jika aku menunggu itu berarti membuang waktuku di sini. Aku yakin Kak Naresh akan segera pulang. Jika aku melawan tiga orang itu, sanggupkah?


Kinanti memikirkan langkah selanjutnya dengan hati-hati. Ia hanya membawa belati disisipkan di pinggangnya dan pistol bius yang ia bawa dari lemari kamar milik Naresh.


Apakah aku harus menggunakan pistol ini? Aku bahkan sering meleset dari sasaran saat berlatih hingga membuat kesal Nyonya Fernando.


Di sisi lain ada seorang penonton yang sangat menikmati pertunjukan kaburnya calon istri Kakak Iparnya. Anneline mengamati keraguan yang terpancar jelas di wajah Kinanti dengan menggunakan teropong.


Lantai kamarnya lumayan tinggi untuk mengamati pergerakan gadis itu. Anneline tersenyum, rencananya hampir 80% berhasil. Ia hanya tinggal menunggu gadis itu kabur. Tujuannya agar Kinanti dan Naresh terpisah. Jika itu terjadi, Anneline yakin Naresh akan uring-uringan dalam kurun waktu tertentu sehingga ia bisa kabur dari rumah itu tanpa penjagaan.


“Kakak Ipar, kamu memang lelaki yang hampir sempurna. Cerdas dan kuat. Aku saja tak mampu melawanmu dengan senjata andalanku. Aku juga tak pernah menang dalam permainan catur denganmu, tapi ... apakah kau mampu melawan perasaan sakit karena kekasihmu sendiri?”


Anneline tahu ia tidak bisa melawan Naresh dari segi taktik maupun kekuatan. Tapi ia bisa menggunakan Kinanti sebagai kelemahan. Ia sangat yakin setelah kepergian Kinanti, ia akan berada di zona terpuruk dalam hidupnya sehingga dirinya bebas pergi ke mana pun.

__ADS_1


“Percepat pergerakanmu Kinanti, jangan gagalkan rencanaku.”


***


Kinanti melirik arloji yang memang sengaja tak dipakainya. Ia ingin melihat waktu sekarang. “Pukul tujuh lebih empat puluh lima menit. Sial! Aku menghabiskan sepuluh menit berdiam diri di tempat ini. Tiga penjaga itu belum juga pergi dari tempatnya.” Kinanti meradang, ia sedikit kesal dengan keadaan ini.


Bagaimana jika Kak Naresh pulang?


“Sepertinya tak ada pilihan. Aku harus menembak mereka dengan pistol bius ini. Setidaknya aku harus menumbankan dua dari tiga orang itu.” Kinanti mulai mengacungkan pistol yang berisi jarum bius itu. Seperkian detik, ia menarik pelatuk dan melesatlah satu jarum itu.


Bruk!


Satu penjaga telah tumbang ke tanah. Di tengkuknya telah tertancap jarum yang berisi obat bius.


“Siapa di sana!” teriak salah satu penjaga yang masih terjaga.


Kepalang tanggung, Kinanti akhirnya menampakkan diri sambil mengacungkan pistol itu dan menarik pelatuknya lagi. Satu jarum melesat mengenai lengan kanan penjaga lainnya. Dia jatuh sama seperti penjaga sebelumnya.


Seperkian detik Kinanti baru menyadari hanya ada dua penjaga yang terkapar di tanah. Kemana dia pergi?


Satu tendangan dari samping mengenai tubuh Kinanti. Ia tersungkur tak sempat menghindar apalagi bertahan. Pistol yang ia pegang tadi terjatuh entah di mana sekarang.


“Wah! Lihat siapa yang ingin kabur dari kediaman ini?” kata penjaga itu, “Nona Kinanti, apakah Anda ingin membuat Tuan Yori murka?”


“Maaf Nona, sepertinya Anda perlu sedikit hiburan malam ini.” Tanpa basa-basi ia melayangkan pukulan ke arah Kinanti.


Kinanti yang terlatih, ia menangkis pukulan itu dan langsung menendang dengan secepat mungkin mengenai tubuh penjaga itu. Tak hanya tendangan, Kinanti juga melancarkan serangan tiba-tiba ke arah wajah agar penjaga itu kehilangan sebagian kesadarannya.


Penjaga ini tidak begitu mahir menangkis pukulanku. Aku yakin dia sedang menahan sakit akibat pukulanku.


Penjaga itu mundur, ia tidak bisa membendung pukulan yang dilayangkan Kinanti. Walaupun dirinya membawa pistol, ia tidak bisa menembak Kinanti karena peraturan, “maid tidak boleh mengacungkan senjata kepada kerabat keluarga majikan, kecuali dalam waktu latihan”. Hal ini membuat penjaga itu tak leluasa kecauli bertahan dan membalas serngan Kinanti dengan tangan kosong.


Celah!


Penjaga itu berhasil mukul telak Kinanti hingga dia tersungkur. “Saya mohon hentikan Nona! Tolong kembalilah, jangan membuat Tuan marah.”


“Tidak!” Kinanti menatap garang. Tangan kanannya menyentuh sesuatu yang tidak saking baginya.


“Maaf Nona, saya harus memakai cara kasar agar Nona tidak pergi dari tempat ini.”


Penjaga itu melangkah maju membuat Kinanti harus menyeret tubuhnta mundur. Ia tidak ingin tertangkap secepat ini.

__ADS_1


“Maaf,” ucap Kinanti. Tanpa jeda napas, ia mengacungkan pistol bius yang terjatuh ke arah penjaga itu dan langsung menarik pelatuknya. Sebuah jarum yang berisi obat bius menancap di paha kiri penjaga itu. Dalam hitungan detik, tubuh penjaga itu ambruk, terkapar di tanah.


Malam ini Kinanti telah berhasil melumpuhkan tiga orang pria penjaga. Sekarang ia harus segera berlari menuju tembok pembatas di area penjemuran.


“Aku harus segera kabur sebelum Kak Naresh datang.”


Kinanti berlari dengan penuh tenaga. Ia harus segera sampai ke tempat tujuannya. Ia membutuhkan waktu lima menit. Ia yakin penjaga itu tidak mungkin mengejarnya. Tidak ada yang menjaga tempat penjemuran pakaian di malam hari.


Kinanti sampai di tempat penjemuran. Hanya ada tali-tali yang melintang yang biasa di gunakan untuk menjemur pakaian dan seprei. Pandanganya terbatas karena cahaya lampu hanya samar-samar menerangi tembok yang tingginya mencapai dua meter. Hanya tembok ini satu-satunya pembatas yang sangat rendah dibanding tempat lain.


“Apakah aku bisa melewatinya?” Ada keraguan yang menyelimutinya.


Apakah aku pantas meninggalkan Kak Naresh? Pria yang sangat baik?


Kinanti merenung sejenak. Ia mengingat semua kenangan yang telah terukir manis di sudut ruangan otak dan hatinya. Seringnya membukan kenangan itu, sebuah ingatan hitam mencampurinya. Ia mengatkan Kinanti jika pria yang ia anggap baik ternyata memiliki lebih dari satu wanita. Tiba-tiba air mata melesat dari tempatnya dan mengalir di pipi. Buru-buru Kinanti menyekanya.


Kinanti memantapkan hatinya. Ia mengambil ancang-ancang untuk melewati tembok pembatas itu. Satu kali percobaan, ia gagal. Dua kali percobaan, ia gagal. Tiga kali percobaan, ia tetap gagal.


Kinanti mengatur napasnya agar tidak terlalu sesak di rongga paru-parunya. Semoga Kak Naresh belum pulang ke rumah. Bisa mengerikan jika dia tidak menemukanku di rumah, bisa-bisa ia mengerahkan seluruh penjaga untuk menangkapku, pikirnya.


Sebuah suara tepuk tangan mengema menyambut Kinanti, sehingga membuat jantungnya berdegup kencang. Ia menoleh untuk mencari sumber suara itu. Namun, ia tak bisa melihat dengan jelas di mana orang yang membuat suara seperti itu di keremangan terbatas.


“Nona Kinanti,” panggil orang itu.


Mata Kinanti melebar. Ia merasa tak asing dengan suara ini.


Dia tertawa seperti mengejek usaha gadis itu. “Nona, Anda sangatlah hebat, tapi sangat disayangkan, semuanya sia-sia!”


_________________________________


Hay, aku up lagi nih. Biasakan meninggalkan Like dan komentar setelah membaca cerita ini. Jika memiliki poin, jangan ragu-ragu untuk berbagi dengan Author. Ini sebagai bentuk apresiasi ya ....


Terima kasih telah membaca kisah ini.


Salam Hangat,


Ilamy Harsa.🍀


Karena mendapat paksaan pesan dari author yang cantik, jangan lupa kunjungin chat story-nya ya!!!! Doain semoga dia bisa bersatu denga ceo impiannya


__ADS_1


Hahahaha.


Sekian.


__ADS_2