
Episode 168: Menjiwai Peran
Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!
Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa.
Terima kasih telah membaca kisah ini.
Salam Hangat,
Ilamy Harsa
Selamat Berimajinasi
____________
“Oke, mari kita datangi mereka.” Tanpa aba-aba Karin menarik lengan Ray dan langsung berlari ke arah tiga perempuan yang ditunjuk oleh bosnya.
“Eh!” Ray hanya menurut. Ia sedikit sebal jika Karin melakukan hal dengan tiba-tiba, bahkan tidak dirancang dulu apa yang harus dia perbuat.
Tepat saat Ray dan Karin mendekati tiga perempuan itu, Farah langsung bisa mengenali siapa tiba-tiba datang tanpa diundang. “Ray?” Ia tersenyum.
“Kamu kenal dia, Far?” tanya Jihan. Ia merasa penasaran dengan lelaki yang menurutnya sudah berumur tapi menggandeng perempuan yang penampilannya seperti kanak-kanak. Ia sempat berpikir jika perempuan itu adalah adiknya.
“Dia temanku, Jihan,” balas Farah. “Kebetulan kita bertemu di sini. Dia ....” Farah menoleh kepada peempuan yang sedari tadi memeluk lengan Ray.
“Oh! Dia ....”
“Aku kekasihnya!” Karin langsung menjawab pertanyaan yang harus ya dijawab oleh bosnya. “Namauku Sasmita!” Karin langsung mengulurkan tanganya.
Farah menjabat tangan Karin. “Aku Farah.”
Setelah itu, Karin juga menjabat tangan Jihan dan juga Balqis. “Wah! Senang berkenalan dengan kalian!”
“Senang berkenalan denganmu, Kak Sasmita,” sahut Farah.
“Sayang! Katanya Farah kamu ini temannya, bagaimana kalian berkenalan! Kamu belum menceritakan kepadaku, Sayang!” Karin memberengut. Ia berlagak seperti anak kecil yang harus segera dijawab pertanyaannya.
__ADS_1
Ray sedikit gelagapan dengan sikap sekertarisnya yang tiba-tiba berubah drastis. Ia menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. “Ehmm, itu, aku kenal ....”
“Ray adalah teman suamiku, Kak Sasmita.” Kali ini Farah lebih cepat menjawab. Ia yakin jika sebuah kejujuran yang terungkap malah membuat Ray kehilangan pasangannya lagi.
“Wah!” Mata Karin membulat. “Kenapa kamu tidak cerita kepadaku jika memiliki teman secantik Farah!”
Ray hanya tersenyum. Mengapa peran Karin sangat menjiwai sekali! Dia jadi lebih berisik daripada biasanya!
“Apakah Kak Ray dan Kak Sasmita mau menonton film bersama kami?” tawar Balqis. Ia lebih tepatnya mencairkan suasana agar lebih tenang.
“Wah! Menonton! Aku ingin nonton film, Sayang! Boleh ya ... ya! Ya! Pokoknya harus boleh!” Karin menggoyang-goyangkan lengan Ray seperti anak yang meminta permen kepada ibunya.
“Iya, Sayang. Kita akan nonton bersama kalian.” Ray akhirnya mengikuti semua alur yang dibangun oleh sekertarisnya walaupun ia merasakan pening. Jika diperbolehkan, mungkin Ray akan memarahinya agar jangan kelewat seperti anak kecil.
“Hore!” Karin berseru lebih kencang sampai orang-orang disekitar mereka ikut menoleh. “Terima kasih, Sayang!” Karin memeluk tubuh Ray. Sebenarnya, ia menahan tawanya melihat ekspresi Ray yang sedikit bingung. Kapan lagi bisa mengerjai seorang bos!
Ray mengacak-ngacak rambut Karin untuk menjiwai sebuah peran. Farah hanya tersenyum lega melihat itu semua. Baginya, Ray sudah berubah. Buktinya ia telah membawa seorang kekasih di hadapannya.
Ray menghentikan kegiatannya setelah melihat Farah tersenyum. Apakah kamu cemburu? Senyumanmu tidak seperti biasanya.
Ray yang melihat itu tanda itu langsung mengerti taktik selanjutnya. “Iya, Sayang.”
Tanpa perlu izin, Karin seperti biasa langsung menyeret lengan Farah untuk membeli tiket dan camilan. “Sebentar lagi aku kembali, Sayang!”
Ray hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya. Tak hanya menjiwai peran, tapi kau sungguh norak, Karin!
***
Karin harus mengakui jika selera bosnya cukup baik. Iya cukup, karena biar bagaimana pun perempuan yang berada di sampingnya sudah milik orang lain. Di loket, Karin memesan lima buah tiket.
“Farah, boleh aku bertanya sesuatu padamu?” Karin menoleh ke arah Farah.
“Silakan.”
“Bagaimana pertemuanmu dengan pacarku?” tanya Karin. Ia ingin tahu seberapa jauh hubungan antar dia dan bosnya, sampai-sampai Ray berbuat sejauh ini.
Farah terdiam cukup lama. Ia masih memilah kata agar lebih pas dan tidak menyakiti kekasih Ray. “Kami bertemu di kafe milik suamiku.”
__ADS_1
“Wah seperti itu! Kau masih bergitu muda, mengapa sudah menikah? Maksudku terlalu muda untuk menikah.” Kini Karin dan Farah sedang mengantri untuk membeli popcorn.
“Mungkin skenarionya seperti ini. Sejujurnya aku tak tahu ingin menjawab apa.” Farah menuduk menatap sepatu yang ia pakai.
“Wah! Aku juga ingin menikah!” Karin sedikit mengalihkan topik pembicaraan.
Farah hanya tertawa kecil. “Kalian sangat cocok. Ray adalah orang yang baik, Kak.”
“Sepertinya begitu.” Karin menyunggingkan mulutnya. “Bagaimana jika kita bagi tugas?”
Farah sedikit menyernyitkan dahinya. “Bagi tugas?”
Karin mengangguk. “Iya, kamu mengantri untuk popcorn, aku akan mengantri untuk minuman.”
Farah mengerti maksud Karin. Ia mengangguk tanda menyetujuinya. Hanya tinggal lima orang lagi dalam antrian.
Karin segera keluar dari barisan antrian. Ia berjalan menuju tempat penjualan minuman yang tak jauh dari tempat Farah berdiri. Karin memesan lima buah minuman. Setelah selesai, ia mempunyai rencana yang cukup licik agar bosnya bisa lebih leluasa bersama Farah.
***
“Sayang! Aku kembali!” dengan bawaan yang penuh menuman, Ray membantu Karib agar tida terlihat kerepotan.
Sekali lagi Karin mengedipkan sebelah matanya di balik bingkai kacamata yang membuat penampilannya sedikit norak. Ray yang peka terhadap tanda itu hanya menggangguk kecil dan membiarkan Karin beraksi.
Karin mengambil dua cup popcorn dan dua buah minuman lalu ia berikan kepada Balqis dan Jihan. Ternyata dengan senang hari menerima camilan teman untuk menonton film.
Pemutaran film akan segera di lakukan. Para penonton yang memiliki tiket segerda memasukin studio. Mereka harus melewati petugas ‘penyobek tiiket’ setelah itu mereka akan duduk sesuai bangku yang tertera pada tiket masing-masing.
Jika diurukan dari sebelah kanan, tempat duduk Ray dan Farah hanya terhalang satu kursi yang telah ditempati oleh Karin. Begitu lampu bioskop diredupkan, dengan cepat Ray beralih tempat duduk.
Karin sengaja meminta bosnya agar lebih dekat dengan perempuan yang ia sukai. Sekarang ia bisa menyimpulkan jika Bosnya orang yang sanbat lemah di hadapan Farah. Ia merasa kehilangan hasrat emosional dari Ray yang biasa diperlihatkan oleh semua orang.
Farah tak menyadari jika di sebelahnya ada Ray. Ia terlarut dalam film yang sedang ditayangkan. Ray tidak peduli soal bagaimana alur cerita film itu. Pandangannya terpusat pada perempuan yang berda di sebelahnya. Jika diberi kesempatan, ia ingin sekali memeluk Farah. Merasakan harum tubuhnya. Atau bahkan ia ingin sekali menggamit tangan Farah dan menyuapkan popcorn kemulutnya. Tentu saja ini hanya ilustrasi yang dibuat oleh otak Ray sendiri.
Karin yang melihat bosnya hanya terdiam dengan pandangan yang mengarah kepada Farah, hanya bisa prihatin. Harusnya bosnya bisa mendapat perempuan seribu kali lebih baik daripada Farah.
Mungkin ada tantangan tersendiri jika perempuan itu sudah bersuami. Maka dari itu Pak Ray tak mudah menyerah, karena beliau sangat suka terhadap tantangan, pikir Karin.
__ADS_1