Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 192


__ADS_3

Episode 192: Kejutan-kejutan


Pagi yang memukau. Farah yang menemukan sebuah kotak paket yang ukurannya tidak terlalu besar. Farah mengambil kotak itu dan melihat dengan saksama siapa pengirimnya.


“Aneh! Tidak ada nama pengirimnya.” Farah menggoyangkan kotak paket itu. “Ringan sekali. Kira-kira isinya apa ya?”


Karena diliputi rasa penasaran akhirnya Farah membawa paket itu. Ia ingin mengambil gunting terlebih dahulu yang tersimpan di laci meja. Dengan perlahan, Farah membuka perekat yang menjadi kunci kotak kardus itu. Setelah behati-hati dalam membuka kotak paket itu, Farah terkejut dengan isi di dalamnya.


“Mas! Aaaaaaaaaakkkkkk!” Farah menjerit sejadi-jadinya hingga Bu Tin dan Ilham datang.


“Ada apa, Nyonya?” tanya Bu Tin.


“Farah, ada apa?” Ilham mendekat pada Farah yang wajahnya sudah pucat pasi karena terkejut. Ia melihat sebuah kotak paket yang terlihat baru saja dibuka. Ilham sama terkejutnya dengan Farah saat melihat paket itu.


Di paket itu tertulis dengan jelas sebuah kalimat ancaman ditambah boneka kecil yang kepalanya ditusuk paku dan sedikit berwarna merah. Kalimat itu tertulis,


SIAPA YANG MENGINGKARI JANJI, MAKA ORANG KESAYANGANNYA HARUS MATI!


Sebuah kalimat yang cukup menakutkan ditambah dengan tinta berwarna merah darah. Farah menangis sejadi-jadinya. Ia menangis di pelukan Ilham. Ia ketakutan.


Bu Tin yang menyingkirkan kotak paket misterius itu dari jangkauan Farah agar keadaan tidak semakin memburuk. Ilham masih menenangkan istrinya yang histeris. Ia mengusap-usap punggung Farah dan menganjurkan untuk beristghfar.


Ilham tahu maksud dari kalimat yang tertulis di kotak paket tadi. Itu pesan untuknya yang dikirim oleh Anneline. Semalam, ia memang tidak memenuhi permintaan Anneline.


Jadi ancaman Anneline tidak main-main. Aku harus bereskan semua ini.


***


Di sela siang yang panas, Ilham datang ke rumah penginapan yang baru dibuka beberapa minggu yang lalu, alamatnya tak dari perumahan tempat ia tinggal. Ilham kali ini harus menyelesaikan semuanya, ia tak mau Farah yang menjadi korban. Ia tak mau lagi ada sesuatu yang disembuyikan. Ia tak mau kebohongan yang sudah tertutup rapat lalu mencuat menyakiti siapa pun yang ia sayangi.


Tiba di rumah penginapan. Ilham mengetuk pintu dan mengucapkan salam seperti adab orang bertamu. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Terlihat wajah Anneline yang begitu antusias jika yang datang adalah pangeran es-nya.

__ADS_1


“Selamat datang, Sayang.” Anneline tersenyum begitu menggoda.


Ilham mendorong Anneline ketika ingin memeluk tubuhnya. “Aku tegaskan lagi, JANGAN PERNAH GANGGU ISTRIKU!” Suara Ilham menggelegar keras.


Anneline hanya tersenyum. Ia yakin, dengan cara mengirim paket misterius akan membuat lelaki yang ia cintai datang. “Kenapa Sayang? Sudah diterima pesan cintaku? Mungkin jika aku tak mengumpankannya seperti itu, kau pasti tak datang.”


“Tolong jangan pernah meneror istriku lagi! Kamu terlalu kekanak-kanakan, Ann.” Ilham mendengus kesal. Hal ini memantapkan jika Anneline yang sekarang adalah orang yang sangat jahat. Dia berbeda dengan Anneline, teman satu bangkunnya.


Anneline tertawa keras. Ia mendekati Ilham dan mengendus bau maskulinnya. “Daripada marah-marah, lebih baik kita lanjutkan di kamar.”


“Jaga sikapmu! Kamu sudah menikah! Aku juga sudah menikah. Bisa kita akhiri kegilaan ini? Bagaimana jika suamimu tahu? Bukankah dia akan marah besar padamu? Terlebih lagi, suamimu orang terpandang.” Ilham mengingatkan.


“Sayangnya aku tak peduli dengan suamiku, Sayang. Aku lebih tertarik padamu.”


Ilham tahu, perempuan itu sedang menggodanya. Matanya terasa panas melihat pakaian yang dikenakan Anneline kelewat seksi.


“Bagaimana jika kau menghukumku di ranjang. Aku sangat ingin melakukan hal itu kepadamu.” Anneline langsung mendorong Ilham yang tak sigap untuk menahan serangannya.


Ilham terjatuh dengan Anneline yang sudah duduk di atasnya. Ia memaksa membuka kancing kemeja yang dikenakan oleh Ilham. Tak sampai disitu, Anneline juga membuka kancing bajunya hingga tubuh bagian atas terekspose. Anneline yang sudah tidak sabar akhirnya mengecup dengan kasar leher Ilham hingga meninggalkan bekas.


Anneline terjatuh, keningnya menghantam kaki kursi hingga kursinya bergeser jauh dari tempat semula. Ia mengaduh kesakitan.


Ini kesempatan untuk Ilham. Ia bangkit dan langsung berlari meninggalkan Anneline yang masih terkapar kesakitan memegang kepalannya.


Sesampainya di mobil, Ilham lansung mengatur napas. Ia baru kali ini melihat Anneline yang begitu mengerikan. Sifat kelembutan telah hilang. Ia melihat jejak kemerahan yang terpampang jelas di lehernya. “Aku harus menutupi tanda ini. Jangan sampai Farah tahu.”


***


Anneline masih tertawa walaupun keningnya terasa sakit. Hari ini, Ilham sudah masuk dalam perangkapnya. Kotak paket itu memang ia yang mengirimkan agar Ilham datang kepenginapannya. Bibirnya telah meninggalkan jejak di leher Ilham yang bisa membuat istrinya menaruh curiga.


“Aku memang gagal untuk menikmati tubuhmu, Ilham.” Anneline mengambil kamera yang sedari tadi menyala di meja yang tak jauh dari tempatnya mencumbu Ilham. “Tapi aku tak pernah kehabisan akal untuk membuat kau kembali kemari, Ilham.”

__ADS_1


Kamera itu berisi video yang menampilkan Ilham yang datang di penginapanya. Tak hanya itu, aksi bercumbu dan melepas kemeja juga terekam jelas.


“Kita tunggu tanggal mainnya, Sayang.”


****


Ilham akhirnya kembali ke cafenya. Ia meminta gelas yang berisi es batu untuk menghilangkan bekas kemerahan di lehernya ini. Seorang pelayan datang membawakan pesanannya lalu kembali ke tempatnya bekerja.


Ilham mengompres jejak kemerahan yang dilukiskan oleh Anneline dengan es batu. Rasanya begitu dingin dan basah. Ia juga melihat ada bekas lipstik dikerah bajunya. Ia mendesah lemas, itu berarti dia harus mengganti kemejanya nanti saat pulang. Ia harus berpikir untuk menghilangan jejak-jejak ini sebelum Farah curiga.


Nada dering tanda pesan masuk terdengar dari benda kota itu. Ilham mengambilnya dan mengetuk layar ponsel dengan jari yang sudah tahu letak di mana ia menekannya. Sebuah pesan baru dari nomor yang tak dikenal masuk dan mengirim video.


Ilham mencoba melihat video yang dikirim itu. Ia terkejut ketika isi video itu adalah dirinya yang datang ke rumah penginapan Anneline dan tertampil adegan yang tak pantas. Di video itu dia adalah korban, tapi tidak dengan pandangan orang lain. Mereka mungkin menganggap bahwa Anneline-lah yang menjadi korban. Atau persepsi lain, dua orang di dalam video itu sama-sama suka. Sudah ada beberapa adegan di video itu terpotong.


Sebuah pesan baru dari nomor itu, bertuliskan:


Hay, Sayang. Kuharap istrimu melihat ini. Aku yakin sekali Farah akan membencimu terlebih lagi setelah mengetahui, kalau suaminya sedang ‘jajan’ dengan wanita lain. Jika kamu melanggar janji, akan kupastikan video ini tersebar ke semua teman-temanmu. Aku juga akan mengirim video ini kepada istrimu, Farah.


Turuti permintaanku atau rumah tanggamu akan hancur, Ilham.


Ilham menelan salivanya. Ia tak tahu jika Anneline akan berbuat sejauh ini. Pesan itu bernada ancaman. Ia telah salah mengabaikan perempuan itu. Ternyata Anneline lebih licik dan pintar. Tak menunggu waktu lama, Ilham menelepon nomor misterius tersebut.


“Sebenarnya apa permintaanmu, Ann?”


________________________


Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!


Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa. Untuk kejelasan tentang update ataupun bersilaturahmi dengan author yang super ngeselin. Hahahahaha!


Terima kasih telah membaca kisah ini.

__ADS_1


Salam Hangat,


Ilamy Harsa


__ADS_2