
Episode 191: Arigatou Gozaimasu
Acara event telah selesai tepat pukul sepuluh malam. Sesuai janjinya, Ray dan karin datang ke stand milik komunitas papercraft Farah. Acara itu tak ubahnya seperti kesakitan bagi Ray. Jas yang ia berikan kepada Farah sudah berada ditanganya lagi. Mobil mewah melaju di kelamnya malam. Karin yang sedari tadi heboh karena terlalu aktif menjiwai peran akhirnya kelelahan sendiri. Ia tertidur di dalam mobil.
“Mengambil hati dari perempuan yang sudah bersuami ternyata susah juga.” Ray mendesah. Tiba-tiba Karin sudah memirigkan kepalanya ke pundak bosnya itu. Ray sedikit terkejut melihat sekertarinya yang sangat hyperaktif ternyata bisa sekalem ini saat tidur.
“Hei Karin, apakah kita terus seperti ini?” tanya Ray. Ia membetulkan posisi duduk Karin agar lebih nyaman di pundaknya. “Sepertinya kamu sangat lelah, dan jadi pekerjaan tambahan bagiku nanti. Karena aku harus menggendongmu lagi.”
****
Ilham dan Farah juga merasa lelah setelah seharian mengikuti acara event. Tapi keceriaan tak pernah lepas dari wajah manis milik Farah. Hari ini Ilham bersyukur karena istrinya masih tak berubah. Masih menggemaskan seperti biasanya. Entah sampai kapan senyum itu bisa menghias.
Ilham selalu memikirkan akibat buruk yang timbul karena pertemuaanya dengan Anneline tadi. Beruntung saat dia dan Farah kembali ke balai kota, Anneline telah pulang bersama Kinanti. Ilham mengetahui hal itu dari istrinya. “Semoga semuanya baik-baik saja.” Ia mendesah dengan penuh resah.
Seperti biasa, kegiatan sebelum tidur adalah menyisir rambut Farah yang kian memanjang. Farah sudah pernah meminta untu memotong rambutnya, tapi Ilham selalu menolak dengan dalih bahwa dia suka perempuan berambut panjang.
Malam ini Ilham tidak memenuhi permintaan Anneline. Ia tak terlalu memperdulikan perempuan itu, ia tak mau dicap sebagai lelaki hidung belang.
“Mas tau, enggak? Tadi Kinanti datang bersama majikannya,” ucap Farah. Ini adalah kebiasaan kecil yang mumcul ketika Ilham menyisir rambutnya, yaitu mengobrol soal apapun yang sudah dilakukan seharian penuh ini.
“Majikannya?” Ilham merasa sesak. Ia tahu yang dimaksud Farah pasti Anneline.
“Iya, namanya Nyonya Fernando. Tapi dia lebih suka dipanggil Anneline. Dia orang baik, walaupun sedikit misterius. Bahkan dia adalah istri dari salah satu Fernando bersaudara. Mas pasti pernah mendengar dua orang besar itu. Tak kusangka kehidupan mewah yang serba tertutup ternyata menyimpan kehangatan yang ramah. Kupikir orang-orang besar dan kaya itu pasti sombong. Ternyata semua itu dipatahkan oleh Kak Anneline, Mas.” Farah bercerita tentang bagaimana perasaannya terhadap orang yang baru ia temui siang tadi. Orang yang merupakan masa lalu Ilham.
Ilham hanya bisa menahan napas dan rongga dadanya terasa sesak karena dengan santainya Farah bisa menyebut nama Anneline. Itu berarti istrinya sudah berkenalan jauh dengan Anneline. Beruntung perempuan itu tida membeberkan rahasia yang masih tersimpan.
“Dia sudah menikah?” tanya Ilham memastikan. Karena kala siang itu, Anneline tidak membicarakan tentang bagaimana kehidupannya selama enam tahun ini.
__ADS_1
“Iya Mas. Kak Anneline sudah menikah dengan Tuan Fernando, itu kata Kinanti.” Farah harus menjelaskan dua kali. Ia tahu pasti suaminya sudah mengantuk, tapi masih ingin menuntaskan pekerjaannya setiap malam.
“Ah iya, aku ingin tau bagaimana bisa Kinanti mengetahui itu semua?”
“Kinanti pernah bekerja di sana sebelum dia menjadi koki di rumah yang pekarangannya mirip labirin.”
“Perkarangan mirip labirin?” Ilham menautkan kedua alisnya. Ia masih bingung untuk membayangkan bagaimana rumah dengan perkarangan yang mirip labirin. Pasti perkarangan rumah sangat luas dan terlebih lagi akan sangat menyusahkan ketika pulang kerja tapi harus melewati labirin untuk sampai di rumah.
“Iya, biasa rumah orang yang kelewat kaya. Mau dibikin apapun tetep aja bagus dan mewah. Jadi Kinanti bercerita kepadaku bahwa dia menjadi asisten rumah tangga untuk seorang tuan muda yang setiap hari memberikan kejutan dan kekesalan tersendiri. Tapi, dia tak mau menyebutkan namanya. Aku yakin tuan muda itu yang membuatnya berubah menjadi lebih ‘anggun’.”
Ilham telah selesai menyisir rambut Farah. Ia memeluk tubuh istrinya dari belakang. Farah bisa merasakan dekapan hangat dari suaminya. Embusan nafas Ilham terasa hingga ke belakang telinganya.
“Mas boleh menanyakan sesuatu?” tanya Ilham sedikit bermanja di tengkuk istrinya.
Farah sedikit merasa geli akibat perlakuan suaminya. “Mau tanya apa, Mas?”
Farah melepaskan pelukan Ilham. Ia menatap lekat mata Ilham. “Jika kesalahan kecil seperti meletakkan handuk di kasur atau sering mengambil baju tapi bikin berantakan, ya aku enggak bisa membenci. Rasa benci itu muncul karena sesuatu yang pernah aku inginkan.”
Ilham memeluk tubuh istrinya. Jawaban polos dari Farah begitu menusuk. Ia bersalah karena tak pernah terbuka kepada siapapun termasuk istrinya sendiri. Tapi Farah selalu menceritakan apa saja yang ia alami sepanjang hari, tanpa menyembunyikan apapun.
Farah merasa pelukan suaminya lebih erat. Ia bisa merasakan detak jantung milik Ilham. “Mas ada apa, sih? Dari tadi suka sekali bertanya hal aneh. Mas juga memeluk aku lama sekali, aku hampir sesak napas, tau!”
Ilham melepaskan pelukannya. Ia memcium kening Farah secara perlahan. “Jangan pernah tinggalkan aku, apapun yang terjadi.”
Mas Ilham hari ini aneh sekali. Tadi siang sempat marah-marah. Sekarang penuh misteri. Besok apa lagi ya?
Farah mengaitkan kedua tanganya ke pundak Ilham. “Sepertinya Mas Ilham terlalu lelah. Sebaiknya Mas segera tidur.”
__ADS_1
Ilham tak pernah merasa seberuntung ini. Perempuan yang gigih memperjuangkan dirinya selama tiga bulan agar pantas berada di samping Ilham. “Farah, terima kasih.”
Farah hanya membalas dengan senyuman manis.
****
Anneline sudah siap dengan pakaian sutra terbaik untuk menyambut sang pangerang es-nya. Beberapa kali dering teleponnya meraung tanda ada panggilan masuk. Sudah tentu panggilan itu bukan berasa dari Ilham, melainkan Fernando.
Anneline mendesah, ia malas menyentuh benda kotak itu apalagi harus menjawa panggilan telepon dari suaminya. Ia hanya ingin menunggu Ilham. Beruntung di penginapan ini Kinanti masih mau menuruti perintahnya jika ia ingin sendirian. Ia meminta Kinanti agar menikmati liburannya dengan keluarganya sendiri. Kinanti tentu tak mau melewatkan kesempatan ini.
Anneline tahu persis, bahwa Kinanti pasti bisa meninggalkannya di penginapan ini karena ia sadar kalau tidak lancar mengemudi mobil. Ia bisa menyetir tapi selalu ada objek yang menjadi sasaran untuk di tabrak ataupun kerusakan di bamper bagian depan.
Anneline memang tak mau belajar sungguh-sungguh tentang mengemudi mobil yang benar. Ia merasa bahwa suaminya memiliki banyak sopir jadi tak perlu belajar untuk mengemudi apalagi memiliki surat izin mengemudi. Ia tak butuh itu.
Jam menunjukkan pukul dua belas malam. Namun, Ilham tak kunjung datang membuat Anneline mendengus kesal. “Kau melanggar janjimu lagi, Ilham. Itu berarti bencana buruk bagi rumah tanggamu akan segera dimulai.”
________________________
Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!
Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa. Untuk kejelasan tentang update ataupun bersilaturahmi dengan author yang super ngeselin. Hahahahaha!
Terima kasih telah membaca kisah ini.
Salam Hangat,
Ilamy Harsa
__ADS_1