
Ilham terganggu dengan suara dering yang berasal dari ponselnya. Ia lupa mengaktifkan mode silent pada benda mungil ini. Ilham sedang mengendari mobil menyusuri jalan di Kota Zen bagian selatan. Ia terpaksa harus berhenti di pinggir jalan untuk menghentikan suara dering ponselnya.
Ilham memeriksa ponsel itu, ia melihat ada 25 panggilan dari Akmal. Ilham tak habis pikir mengapa managernya yang satu ini sangat usil. Bahkan kini Akmal sedang mencoba menelepon ilham untuk yang ke-26 kalinya.
Ilham akhirnya menjawab panggilan itu. “Apakah ada masalah? Hingga kau menelponku berulang-ulang?”
Akmal tahu bahwa pesan yang ia kirim sudah terbaca, namun tidak dibalas oleh sang penerimanya. Ini yang membuat Akmal geram, mengapa bosnya tidak bereaksi setelah melihat video itu. Apakah Ilham belum melihat video aksi Ray di lantai 2.
“Ada hal yang sangat penting Pak. Apakah Pak Ilham belum melihat video yang saya kirim?” tanya Akmal di seberang sana.
“Belum, aku sedang sibuk. Tolong jangan ganggu aku!”
“Saya mohon Pak, segeralah pulang. Istri Anda, mbak Farah sedang dalam bahaya.”
“Kamu tidak usah membuat lelucon!” Ilham yakin ini hanya akal-akalannya Farah saja, agar ia segera pulang ke Milepolis.
“Ini bukan gurauan atau semacamnya. Ini keadaan darurat! Mbak Farah dan Pak ....”
“Sudah cukup! Aku masih sibuk. Tolong mengertilah Akmal!” Ilham langsung memotong kalimat Akmal sebelum dia menyelesaiakannya.
Akmal terdiam mendengar bentakan bosnya lewat ponsel.
__ADS_1
“Tolong jangan ganggu saya dulu.” Ilham langsung mematikan sambungan telepon itu dan menonaktifkan ponselnya. Ia tak mau ada yang mengganggu urusannya. Terutama urusan pribadinya.
Ilham yakin ini hanya rencana Farah, lagipula dua hari lagi ia akan pulang ke Milepolis. Tinggal dua hari lagi kesempatannya mencari Anneline. Hanya dua hari lagi.
Di sisi lain, Akmal tak habis pikir dengan jalan pikiran bosnya. Ia sangat kasihan dengan perempuan yang bernama Farah.
***
Rembang petang sudah muncul, amarah Ray sedikit terhenti. ia merasakan hari ini adalah hari lacurnya. Sangat sakit dan pedih. Ia merasa sesak dan hampir mati ditikam harapan yang ia buat sendiri.
Ia selalu menggemakan doa yang ia ucapkan untuk puan pujaannya. Ray berharap penduduk langit mendengar rintihan permintaannya. Ia berharap para penduduk langit dapat merayu Sang Maha Kuasa untuk menyatukan dia dan puspita hatinya.
Ray mengelap air mata yang meleleh. Ia mengeraskan rahangnya. “Kau yang membuatku kembali.”
Ray bangkit dan berjalan ke arah cermin yang memantulkan figur dirinya. Ia memandang bayangannya sendiri.
“Jika kau tidak bisa menjadi milikku, aku bisa mengambilmu dengan cara apapun. Kau perempuan yang malang Farah.”
Ray kemudian tertawa. Ia tertawa penuh makna, membuat para pelayan yang berada luar kamarnya bergidik penuh kengerian. Mereka sudah mendengar suara amarah Ray serta tangisannya. Sekarang mereka harus mendengar Tuan Mudanya tertawa.
***
__ADS_1
Ilham bertemu lagi dengan senja di Kota Zen. Ia masih terngiang-ngiang percakapannya dengan Akmal. Akhirnya Ilham mengaktifkan ponsel pintarnya. Ia mencoba membuka pesan Akmal, terlihat Akmal mengirim video. Ia mencoba membuka video itu.
Dalam video itu terlihat Farah sedang membawa nampan berisi dua gelas minuman. Ilham tersenyum melihat figur perempuan itu. Lalu Farah mengantarkan pesanan itu kepada salah seorang pelanggan. Ilham sepertinya mengenal sosok pelanggan itu. Ia sedikit terkejut ketika pelanggan itu meminta Farah untuk meminum salah satu minuman yang dia pesan. Ilham tercengang dengan kalimat yang diucapkan oleh pelanggan itu untuk Farah. Sedetik kemudian Ilham tahu, bahwa pelanggan itu Rayhan pemilik perusahaan kontruksi terbesar di Milepolis. Dan Ray adalah sahabat Ilham.
Ilham lalu melihat ada pesan baru yang di kirim oleh Akmal. Ia membaca pesan itu, ‘Mbak Farah selama ini menjadi target pak Ray. Segeralah pulang Pak’
Seketika mata Ilham nanar dengan pesan itu. Ia tahu bahwa Ray adalah pria yang suka mempermainkan wanita bahkan Ray tak segan menyiksanya kapan saja. Dan Ilham tidak ingin Farah diperlakukan seperti itu.
Apakah saat ke Kota Numa dia juga bersama Ray?
Pertanyaan itu muncul di kepala Ilham. Ia buru-buru menelpon manager di Kota Numa. Tersambung, Ilham lalu menanyakan perihal Farah yang datang ke Numa kemarin.
“Benar Pak Ilham, kemarin Nona Farah ke sini dia sendirian.”
Ucapan manager kedai di Numa sedikit memberikan perasaan kelegaan.
“Namun beberapa saat sebelum badai, ada seorang pria yang bernama Ray datang kemari untuk mencari Nona itu.”
Mata Ilham terbelalak. Seketika ada yang runtuh di dasar hatinya. Ia mematikan sambungan telepon itu. Ia harus pulang ke Kota Milepolis.
Bagiku Anneline itu istimewa. Namun Farah lebih berharga dari apapun!”
__ADS_1