Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 117


__ADS_3

Selamat berimajinasi


_________


Kian hari aroma kedekatan Naresh dan Kinanti makin tercium makin pekat menjalar hingga ke setiap sudut rumah ini. Tak hanya para maid, tapi hingga Nyonya Fernando. Tak tanggung-tanggung, setiap pagi Naresh akan selalu menyempatkan diri untuk menjemput Kinanti di mess maid perempuan. Tentu saja, Naresh tidak di larang masuk karena ia bukan dari golongan maid. Jika ada pekerjaan di luar kota, waktu yang hilang akan diganti dengan jalan-jalan di dekat kolam bunga seroja yang indah terutama saat disinari rembulan.


Kedekatan mereka bak kabar yang baik yang disambut antusiasme oleh para maid tak terkecuali oleh Tuan Fernando. Namun hanya satu yang sangat membenci kedekatan antara Naresh dan Kinanti, yaitu sang Nyonya Besar. Memang dia tidak secara terang-terangan menyatakan kecemburuan, bukan itu pangkal kebenciannya, tapi kemesraan yang mereka bangun. Nyonya Fernando sangat iri dengan cara mereka merajut memori yang indah.


Pernah satu waktu Nyonya Fernando melihat secara langsung mereka berbincang hangat dan sangat mesra walaupun Kinanti malu-malu. Terkadang aksi kejar-kejaran ketika timbul pertikaian di antara mereka. Nyonya Besar menginginkan hal itu, tapi momen itu tidak pernah terwujud. Kedekatan Kinanti dan Naresh mengingatkan dirinya saat menjadi gadis yang bernama Anneline.


Anneline. Nama yang sudah lama terhapus di rumah mewah ini. Gadis manis dengan kerudung yang indah. Entah sudah berapa lama ia menanggalkan kerudungnya, enam tahun yang lalu tepatnya. Rumah ini telah mengubah Nona Anneline menjadi Nyonya Fernando dengan ikatan yang sakral tapi tak pernah ia inginkan. Malah ia selalu berharap agar diberi kesempatan untuk membunuh waktu dan meminta takdir lamanya kembali. Namun, sayang sekali sepertinya itu keinginan yang sangat mustahil.


Nyonya Fernando berdiri manis dibalik bingkai jendela. Lagi-lagi ia menangkap sepasang kekasih yang sudah dipanah oleh Cupid, dewa cinta dalam mitologi klasik Romawi. Setidaknya itu yang dipikirkan oleh sang nyonya.


Tanpa ketukan, pintu kamar Nyonya Fernando dibuka oleh seorang maid perempuan. Ia tau siapa yang masuk tanpa mengalihkan pandangnnya dari jendela yang terbuka. Tuan Fernando dengan kursi khusus yang beroda yang penggunaanya tinggal tekan tombol, bisa berjalan sendiri tanpa ada yang mendorongnya.


Tuan Fernando datang dengan senyum yang sudah tersulam apik sebelum memasuki kamar ini. Ia melihat istrinya yang sedang duduk mengamati keadaan yang gelap di bingkai jendela. “Jangan terlalu malam, kau bisa sakit karena angin malam.” Fernando mengingatkan.


Tak ada jawaban dari Nyonya Fernando, raut wajahnya kian kesal karena seseorang yang ia benci hadir tanpa permisi. Namun apa boleh buat, ia tidak bisa mengabaikan orang yang berada di kursi roda itu.


“Langsung pada intinya, tidak perlu bertele-tele jelaskan apa maksud kedatanganmu,” ucapnya datar.

__ADS_1


Tuan Fernando tahu persis perwatakan istrinya. Ia sudah menduga sikap dingin Anneline yang selama enam tahun pernikahan ini. Ia juga menyadari bahwa dirinya sangat tidak sempurna, tidak bisa menjadi suami yang terbaik.


“Aku kesini ingin mengajakmu ke pesta, apakah ....”


“Boleh aku menolaknya?” Anneline langsung menyerbu pertanyaan sebelum Fernando menuntaskan ucapanya.


“Mengapa?” tanya Fernando.


“Aku hanya ingin di rumah saja. Bukankah kau dan Tuan Yori sudah cukup untuk memenuhi undangan itu?” Anneline memang tidak suka pergi dengan suaminya yang tidak sempurna, baginya ini adalah aib.


“Apakah pengorbanan dan kebungkamanku selama ini belum cukup?” Fernando terpaksa memakai siasat andalannya. Ia yakin bahwa istrinya tidak mungkin menolak perjanjian ini.


Anneline terdiam, matanya berubah menjadi amarah yang tertahan karena sengaja dikendalikan. Ia paham sekali jika suaminya sudah mengatakan hal ini, berarti mau tidak mau ia harus menurutinya. Perjanjian antara dirinya dan Fernando bisa menjadi bom, hanya tinggal menunggu waktu untuk meledak dan menghancurkan.


“Baik aku akan menerima ajakanmu! Tidak perlu mengancamku seperti itu, Tuan Fernando.” Anneline sangat geram, rasanya ia ingin mengambil pistol dan menembakkannya langsung ke dada suaminya. Ia sangat membenci ancaman ini.


“Terima kasih, aku akan kembali ke kamarku. Selama malam, semoga mimpi indah istriku,” ucapan Fernando begitu manis intonasinya. Sekarang ia telah menekan tombol agar kursi khususnya memutar rodanya sendiri untuk keluar dari kamar ini.


Sempurna, Nyonya Besar sendirian lagi di kamar ini. Amarahnya kian memuncak, ia tidak bisa berbuat banyak. Kekesalanya mencapai level tertinggi hingga vas bunga yang berisi bunga mawar merah yang segar itu terlempar mengenai cerimin besar yang menghadap dirinya. Anneline berteriak kalap, suaranya menggema hingga Fernando bisa mendengarnya meskipun jangkaunya sudah jauh. Ia juga mendengar suara pecahan kaca sebelum teriakan istrinya menyebar seperti angin.


“Aku tahu kau tidak bisa menolak permintaanku. Kau boleh marah Anneline, tapi jangan lupakan bahwa kenyataanya kau sudah bersanding denganku sebagai Nyonya Fernando.”

__ADS_1


***


Hujan turun lagi dalam satu hari ini. Di meja makan telah tersedia berbagai macam hidangan yang sangat lezat, makan malam di mulai. Ada tiga orang yang berada mengelilingi meja makan. Mereka bersenda gurau terutama dua pria yang umurnya sangat jauh berbeda. Pria tua dan pria muda, sekilas wajahnya tampak sama karena mereka bagai pinang dibelah dua. Hanya umur yang membedakan.


Seorang wanita paruh baya dengan pembantu yang berwajah kampung silih berganti menuangkan air pada gelas dan menyendokkan nasi. Hari ini pria tua itu sangat bergembira, bisnisnya maju pesat karena suntikan dana yang sangat besar, seolah masa depan mereka telah terjamin dengan kekayaan. Namun kebahagiaan ini hanya mampir sedikit pada diri wanita paruh baya itu. Ia pandai bersolek, tapi sepasang matanya mengatakan bahwa dirinya sedang bersedih.


Ritual makan malam dimulai. Mereka bertiga memulai dengan doa sebagai rasa syukur atas makanan yang masih bisa disajikan, dan Tuhan memang maha pemurah. Setelah selesai, bergantingan dengan suara sendok garpu beradu dengan piring. Mereka menyatap hidangan itu.


Gadis dengan rambut panjang setia menunggu ritual makan malam itu dari dalam mobil. Ia sangat sabar sekali, ia yakin kesabarannya akan berbuah manis. Tak lupa ia juga melihat kilauan samurai dengan sarungnya yang berwarna hitam. Gadis itu mengeluarkan pedang khas Jepang ang bentuknya agak melengkung. Matanya berbinar melihat katana-nya yang berbisik meminta tumbal.


“Pedang ini sungguh indah bukan?” Ia bertanya pada diri sendiri walaupun ada seorang sopir laki-laki yang masih duduk di kursi kemudi.


“Akan lebih indah lagi jika pedang ini dibasuh oleh darah.”


________


Biasakan setelah selesai membaca kisah ini, pencet like, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author


Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.


Terima kasih

__ADS_1


Salam Hangat,


Ilamy Harsa🍀


__ADS_2