Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 116


__ADS_3

Selamat berimajinasi


_________


Naresh sudah membuat dua omelet sembari menunggu Kinanti selesai untuk bersiap diri. Dua omelet pada dua piring mengingatkan dia pada kisah romansa ibu dan ayahnya dulu. Dalam usia yang masih terbilang tujuh tahun. Setiap pagi pada hari sabtu dan minggu adalah waktu yang tepat untuk melihat romansa itu.


Mesin pemindai ingatan kembali menyala menyebarkan ingatan masa lampau yang masih membekas. Ia masih ingat betul bagaimana sayang ayah di minggu pagi yang memasakkan omelet untuk ibu. Bahkan tak segan untuk mengelus calon adiknya yang berada di dalam kandungan. Sang ibu tersenyum bahagia seakan sentuhan ayah adalah hadiah yang paling indah. Momen itu yang sangat diingat oleh Naresh.


“Aku ingin seperti ayah yang di waktu minggu. Seluruh waktunya ayah habis untuk ibu.”


Naresh dikejutkan dengan suara paling berisik yang dicipatkan oleh Kinanti. Gadis itu berlarian seakan-akan dikejar oleh sesuatu, sampai Naresh harus menghampirinya. Ia menarik tangan Kinanti yang hendak keluar dari rumah.


“Kau harus sarapan dahalu sebelum bekerja!” seru Naresh sambil menyeret tangan gadis itu.


“Aku harus segera berangkat Kak atau nanti aku akan terlambat!” jawab Kinanti. Namun ia tidak berdaya dengan tarikan Naresh, mau tak mau ia harus mengikuti kemauan pria itu.


Naresh menarik lengan Kinanti dan mendudukannya pada kursi. Di hadapan gadis itu telah tersedia sepiring omelet dan segelas susu segar yang sangat menggugah selera.


“Perutmu harus terisi agar pekerjaanmu lebih semangat! Sekarang buka mulutmu.” Naresh mengomel seperti ibu-ibu yang setiap pagi di hadapkan dengan anaknya yang super rewel.


“Tapi, aku sudah terlambat, Kak!” protes Kinanti.


Naresh yang tak habis pikir dengan sifat keras kepala Kinanti. Ia memotong sedikit omeletnya dengan garpu, lalu menyodorkannya ke mulut Kinanti. “Buka mulutmu,” ucap Naresh.


Dengan kedongkolan hati, Kinanti membuka mulutnya dan menerima suapan omelet dari Naresh. Namun karena ia ingin mempercepat waktu, langsung saja ia merebut garpu dari tangan pria itu. “Aku bisa melakukannya sendiri, Kak.”


Akhirnya mereka menyantap omelet masing-masing. Naresh bisa tersenyum senang, sekian lama ia menunggu saat ini menikmati sarapan tanpa kesendirian. Berbeda dengan Kinanti yang memakan sarapannya dengan terburu-buru. Ia tahu bahwa dirinya sudah terlambat 10 menit dari jam yang seharusnya, ditambah ia harus memakan omelet ini.


Kinanti sudah menuju ke suapan terakhirnya. Satu omelet telah tandas menyisakan piring yang bersih dan licin. “Aku sudah selsai, bolehkah aku berangkat sekarang?” Kinanti sudah memasang kuda-kuda seakan harus berlari maraton.

__ADS_1


Naresh yang masih belum menyuap apapun tercengang. “Minum susunya dulu.”


Kinanti menghembuskan napas kasar. Bola matanya berputar karena kekesalannya udah mencapai ubun-ubun. Terpaksa ia harus meminum susu segar itu dalam dengan cepat. Naresh hanya tersenyum simpul melihat tingkah Kinanti dalam keterlambatannya.


Kinanti meletakkan gelas setelah isinya sudah terkuras habis. “Aku sudah selesai, bolehkah aku berangkat sekarang?”


Naresh menyadari ada kekhawatiran yang tersirat di raut wajah gadis itu. “Iya,” jawabnya singkat.


Setelah mendengar jawaban dari pria itu, dengan secepat kilat Kinanti melompat dari kursi dan berlari menuju pintu. Hanya tinggal beberapa langkah lagi tangannya akan menggenggam tuas pembuka pintu.


“Tunggu!” seru Naresh membuat langkah Kinanti terhenti.


“Apa lagi Kak? Aku sudah terlambat 20 menit!”


Naresh bangkit dari tempat duduknya lalu menghampiri Kinanti yang berdecak kesal tak kunjung keluar dari rumah ini. Terlebih keterlambatannya sudah melebihi batas wajar. Ia sangat takut jika Nyonya Fernando bisa marah besar. Naresh merapikan rambut Kinanti dengan pelan.


“Jangan khawatirkan itu.” Naresh tersenyum seperti bunga sakura yang mekar merekah di musim Hanami.


Naresh telah selesai merapikan rambut Kinanti yang sudah tersisir rapi. Ia menjangkau pipi gadis itu dengan kedua tangannya. “Jangan khawatirkan dia.”


Hanya ucapan itu yang keluar dari bibir pria yang menyetuh pipinya kini. Ia masih tak habis pikir dengan keadaan yang serba genting ini, dia masih saja membuat bualan untuk menengangkan perasaan Kinanti yang sudah tidak karuan karena membayangkan hal mengerikan tentang keterlambatan yang sudah tidak bisa ditolerir.


Tangan kanan Naresh menutu kedua mata Kinanti. Ia mendekatkan bibirnya pada menuju bibir mungil milik gadis inim dan ... cup. Naresh menyesap bibir milik Kinanti dengan perlahan tapi bergerilnya memainkan lidah. Dua bibir mereka anggun berayun dengan sedikit gigitan yang dirasakan oleh Kinanti. Naresh mendominasi semua gerakan, ia merasa ada rasa susu yang tertinggal. Hanya lima detik permainan bibir itu selesai. Naresh menarik kembali bibirnya dan membuka padangan Kinanti.


Gadis itu sedang berusahan menelan salivanya. Ia masih tidak percaya kejadia yang menimpanya baru saja. Lidahnya keluh, bibirnya merasa ada tekanan yang masih tertinggal dan warnanya lebih merah. Sekarang perasaannya lebih tidak karuan lagi. Debaran jantungnya memompa darah lebih kencang lagi.


“Sekarang jadi lebih tenang. Jangan risaukan nyonya besar itu, semuanya akan baik-baik saja,” ujar Naresh, “semoga harimu menyenangkan.”


Tangan pria itu sudah hilang dari wajah Kinanti. Ia tak bisa berkata, semua kosakatanya seakan lenyap tanpa sisa, pipinya memerah wujud adanya rasa malu dan canggung. Akhirnya ia segera berlari keluar dari rumah ini untuk menyembunyikan perasaan itu.

__ADS_1


Naresh hanya bisa melukis senyum di bibirnya, melihat punggung Kinanti yang sudah menghilang dari balik pintu. “Maaf ya adik ipar, semoga kamu tidak marah kepadaku.”


Kinanti berlari secepat yang ia bisa, ia sudah terlambat hampir 30 menit. Keterlambatan yang sangat ketelaluan untuk ukuran seorang pekerja. Ia harus menempuh sekitar 300 meter untuk sampai ke rumah utama. Sungguh luas sekali kediaman ini, pikir Kinanti.


Setelah berlari cukup lama, gadis itu sampai di depan kamar Nyonya Fernando. Ia masih mengatur napas, keringat sudah membasahi kening dan juga lehernya. Namun ada pemandangan yang tak biasa, para maid yang bertugas melayani nyonya besar masih berdiri di luar pintu.


“Mengapa masih di sini? Nyonya Fernando ....”


“Nyonya belum bangun,” jawab salah satu maid sebelum Kinanti menyelesaikan pertanyaanya.


Gadis itu tercengang karena jawaban dari maid itu. Tak biasanya nyonya terlambat bangun, bukankah dia tidak suka dengan keterlamabatan? Dia selalu mengatur semuanya tepat waktu!


Kinanti masih bergelut dengan pikirannya sendiri.


****


Naresh meletakkan gelas kosong yang isinya telah tandas habis. Susu segar yang nikmat telah membanjiri kerongkongannya. Ia tertawa sendiri karena ada potongan kejadian yang sudah ia rencanakan tadi malam. Sungguh pikirannya licik dan culas. Pria itu masih mengingat bagaimana ia meminta maid perempuan untuk mencampurkan sesuatu dalam hidangan makan malam di rumah yang besar itu.


“Maafkan aku adik ipar, semalam aku harus mencampurkan obat tidur dengan dosis yang lumayan banyak agar kamu terlelap hingga siang. Sekali lagi maafkan aku, sungguh aku tidak ingin mencelakaimu.” Naresh tertawa jika mengingat-ingat kemungkinan yang sudah terjadi.


“Jika aku tidak melakukan hal ini, mungkin kekasihku yang akan mendapat masalah. Aku berharap engkau baik-baik saja.”


________


Biasakan setelah selesai membaca kisah ini, pencet like, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author🤗


Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.😉


Terima kasih

__ADS_1


Salam Hangat,


Ilamy Harsa🍀


__ADS_2